Peradaban yang Ingin Menghentikan Musim Barangkali ketakutan terbesar manusia modern bukanlah kemiskinan, kegagalan, atau bahkan k...
Peradaban yang Ingin Menghentikan Musim
Barangkali ketakutan terbesar manusia modern bukanlah kemiskinan, kegagalan, atau bahkan kematian.
Ketakutan yang paling senyap justru adalah perubahan.
Kita menuntut kebahagiaan untuk menetap lebih lama dari batas waktunya. Memperlakukan masa muda seolah ia adalah hak mutlak, dan mengutuk usia tua sebagai sesuatu yang harus ditunda dengan segala cara.
Tanpa disadari, kita sedang membangun peradaban yang memusuhi pergantian musim.
Segala sesuatu yang arahnya tidak menguntungkan segera dilabeli sebagai gangguan. Bahkan, sering kali, sebagai ketidakadilan.
Padahal...
وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ
"Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia..."
(QS. Ali 'Imran: 140)
Tafsir Ibnu 'Asyur menangkap pergiliran ini bukan semata tentang pergantian kekuasaan atau status. Ini adalah ruang pendidikan Allah. Sebuah ruang di mana waktu dibiarkan menguji siapa yang rapuh saat kehilangan, dan siapa yang congkak saat kelimpahan.
Tetapi peradaban kita hari ini seolah kehilangan kesabaran untuk dididik.
Kita hidup dalam ilusi bahwa segalanya bisa (dan harus) dipercepat. Proses harus sesingkat hasil. Luka harus sembuh dalam sekali usap. Menunggu dipersepsikan sebagai kemunduran, dan jeda dianggap sebagai dosa ketidakproduktifan.
Alam semesta tidak pernah bekerja dengan kepanikan semacam itu.
Pohon tidak menangisi daun-daunnya yang gugur. Hujan tidak turun setiap hari agar akar belajar merengkuh bumi lebih dalam. Laut tidak pernah merasa kehilangan jati diri hanya karena ombaknya sedang surut.
Seluruh ciptaan tunduk pada ritme. Hanya manusia satu-satunya makhluk yang sering merasa ritmenya sendiri jauh lebih unggul daripada ketetapan Rabb-nya.
كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ
"Setiap waktu Dia berada dalam urusan-Nya."
(QS. Ar-Rahman: 29)
Quraish Shihab mengingatkan, ayat ini bercerita tentang pengaturan yang tak pernah jeda. Perubahan dalam hidup bukanlah tanda bahwa Tuhan meninggalkan kita. Justru sebaliknya, pergeseran keadaan adalah bukti pemeliharaan-Nya yang terus berjalan.
Kita sering mengira musim gugur adalah akhir. Kematian. Padahal, bagi sebatang pohon, melepaskan dedaunan adalah satu-satunya cara bertahan hidup agar esok ia bisa bertunas kembali dengan lebih tegak.
Imam Al-Ghazali pernah menyentuh akar dari kegelisahan ini. Menurut beliau, hati yang disandarkan pada dunia yang selalu berubah, niscaya akan terus ikut berubah dan terombang-ambing. Ketenangan sejati hanya akan mampir ketika hati itu dilabuhkan pada Yang Tidak Pernah Berubah.
Mungkin selama ini kita kelelahan bukan karena beban hidup yang selalu bertambah.
Mungkin kita lelah karena terus memaksa berlari mengejar ritme ekspektasi kita sendiri, dan menolak waktu yang dipilihkan Allah.
Tidak semua keterlambatan adalah penolakan.
Tidak semua kehilangan berarti hukuman.
Ada kalanya sebuah pintu ditutup rapat, bukan untuk mengunci kita di luar, melainkan agar kita berhenti mengetuk dan mulai membalikkan badan—melihat jalan lain yang selama ini tak pernah sudi kita tatap.
Ketika Hati Berhenti Memusuhi Waktu Allah
Pada akhirnya, setiap perjalanan akan membentur satu pertanyaan purba.
Apakah hidup ini baru layak disebut 'baik' jika ia tunduk sepenuhnya pada rancangan dan tenggat waktu kita?
Kita sering kali mengacaukan dua hal yang tampak serupa namun secara ontologis berlawanan: menerima kenyataan dan berdamai dengan ketetapan.
Menerima kenyataan sering kali hanyalah wujud kepasrahan yang lelah. Kita mengaku kalah karena realitas terlalu keras dan kita tidak punya pilihan lain. Namun, berdamai adalah sebuah keberanian.
Keberanian untuk meyakini bahwa di balik setiap skenario yang meleset dari harapan, bersemayam kebijaksanaan yang belum mampu dijangkau oleh rabunnya mata manusia.
وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
"...Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."
(QS. Al-Baqarah: 216)
Ayat ini bukan sekadar pelipur lara bagi mereka yang sedang gagal.
Ia adalah sebuah teguran epistemologis. Pengetahuan kita tentang masa depan, tentang apa yang benar-benar akan menyelamatkan kita kelak, teramat sangat dangkal. Kita menilai kebaikan hanya dari apa yang terasa nyaman hari ini, di detik ini.
Syed Muhammad Naquib al-Attas sering menekankan pentingnya menempatkan sesuatu pada tempatnya yang hakiki—inilah makna terdalam dari adab.
Dan barangkali, adab tertinggi seorang hamba kepada Penciptanya adalah adab terhadap waktu. Adab untuk tidak mendikte kapan sebuah doa harus diwujudkan. Adab untuk tidak merasa lebih tahu dari Yang Maha Merencanakan.
Peradaban modern mengukur kedewasaan dari seberapa rapi seseorang menyusun rencana, dan seberapa keras ia memaksakan dunia agar menuruti rencana tersebut.
Gelar, pencapaian, angka-angka di layar metrik. Semuanya harus terprediksi. Jika melenceng sedikit saja, kita merasa kehilangan kendali atas hidup.
Namun, di mata langit, kedewasaan memiliki timbangan yang sama sekali berbeda.
Kedewasaan bukanlah kemampuan untuk menolak datangnya musim gugur. Kedewasaan adalah keanggunan untuk tetap merawat akar, tepat di saat cabang-cabang kita telanjang ditinggalkan dedaunan.
Seseorang mungkin kehilangan pekerjaannya, namun ia menolak melacurkan kejujurannya. Ia mungkin ditinggalkan oleh orang-orang yang ia cintai, namun ia tidak membiarkan hatinya berkarat oleh dendam kepada takdir.
Di situlah letak kemenangan sejati. Kemenangan yang sunyi. Kemenangan yang luput dari riuh tepuk tangan manusia.
Alam tidak pernah memandang musim gugur sebagai sebuah kekalahan.
Pohon menggugurkan daunnya bukan karena ia menyerah pada kematian, melainkan karena ia sedang mengurangi beban. Ia sedang berhemat energi untuk bersiap menghadapi musim dingin yang membekukan. Apa yang secara kasat mata terlihat sebagai sebuah kehilangan, sesungguhnya adalah strategi bertahan hidup yang paling masuk akal.
Begitu pula jeda dalam hidup kita.
Tidak setiap pintu yang tertutup di depan wajah kita adalah bentuk penolakan. Kadang, ia adalah cara paling tegas agar kita tidak melangkah ke ruang yang akan menghancurkan kita.
Tidak setiap penantian adalah kesia-siaan. Terkadang, jeda adalah ruang operasi tempat jiwa kita dibedah, dipulihkan, dan dibesarkan kapasitasnya sebelum menerima karunia yang jauh lebih berat.
Mungkin selama ini kita terlalu lelah karena sibuk bertengkar dengan takdir.
Kita mengira kedamaian akan tiba setelah semua persoalan kita menguap. Padahal, kedamaian justru perlahan tumbuh tepat di detik ketika kita berhenti memusuhi waktu Allah,
Kedewasaan di Musim Gugur
Peradaban modern nyaris selalu mengukur kedewasaan melalui etalase pencapaian.
Gelar akademik, otoritas jabatan, hingga deret angka di rekening. Kita sejak kecil dilatih untuk percaya bahwa manusia yang utuh adalah manusia yang berhasil menaklukkan dunianya. Manusia yang tidak pernah gagal. Manusia yang selalu berada di musim semi.
Namun, bagaimana jika dunia menolak untuk ditaklukkan?
Bagaimana ketika kehidupan tiba-tiba memaksa kita memasuki musim gugur yang panjang dan dingin?
لِّكَيْلَا تَأْسَوْا۟ عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا۟ بِمَآ ءَاتَىٰكُمْ ۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
"(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu..."
(QS. Al-Hadid: 23)
Ayat ini secara diam-diam mempreteli kesombongan eksistensial kita.
Allah tidak meminta kita untuk tidak memiliki apa-apa. Allah hanya mengingatkan agar apa pun yang kita miliki—atau apa pun yang hilang dari genggaman—tidak sampai mendikte kedalaman jiwa kita.
Jauh di abad ke-20, dari balik kawat berduri kamp konsentrasi yang brutal, Viktor Frankl menemukan sebuah kebenaran yang selaras dengan pesan langit ini. Ketika seluruh gelar, harta, dan kebebasan fisiknya dirampas, Frankl menyadari ada satu ruang kemerdekaan manusia yang tidak akan pernah bisa disentuh oleh siapa pun.
Yaitu kebebasan untuk memilih sikap ketika berhadapan dengan takdir yang tak lagi bisa diubah.
Bagi Frankl, makna hidup justru sering kali ditemukan bukan saat kita merayakan keberhasilan, melainkan saat kita memikul penderitaan yang tak terelakkan dengan penuh martabat.
Di titik inilah makna kedewasaan yang sesungguhnya diuji.
Kedewasaan bukanlah kemampuan untuk mencegah datangnya badai. Kedewasaan adalah kemampuan menjaga hati tetap lurus ketika badai itu akhirnya menyapu bersih apa yang kita bangun.
Seseorang mungkin kehilangan mata pencahariannya, namun ia menolak memiskinkan rasa syukurnya. Ia mungkin harus berdiam dalam penantian yang melelahkan, namun ia tidak membiarkan jiwanya berkarat oleh keputusasaan.
Karena ia mulai memahami, musim gugur bukanlah sebuah kegagalan biologi.
Daun-daun yang luruh itu jatuh bukan karena pohonnya menyerah. Terkadang, Allah mengambil sesuatu dari kita bukan karena Ia murka. Melainkan karena genggaman kita terlalu erat pada dunia, dan Ia ingin membebaskan kita dari perbudakan materi yang diam-diam menyiksa kita.
Tidak setiap pintu yang tertutup adalah akhir perjalanan. Bisa jadi, Allah sedang memaksa kita mengalihkan pandangan menuju pintu lain yang selama ini luput dari perhatian kita.
Kita sering mengira bahwa kedamaian baru akan turun setelah seluruh persoalan kita tuntas. Padahal, kedamaian sejati justru tumbuh menyelinap di detik ketika kita menyadari bahwa Allah tetap membersamai kita, bahkan di tengah persoalan yang tak kunjung usai.
Mungkin, selama ini kita terlalu sibuk memohon agar Allah segera mengubah musim kehidupan kita.
Padahal yang sesungguhnya perlu diubah adalah cara kita memandang musim itu sendiri.
Pohon tidak pernah memprotes datangnya kemarau. Laut tidak pernah merajuk menolak surut. Seluruh alam patuh pada ritme yang digariskan Rabb-nya dengan keanggunan yang sunyi.
Maka, pertanyaan terakhir yang layak kita bawa tidur malam ini bukanlah, "Mengapa hidupku harus berubah?"
Melainkan...
"Apakah di setiap perubahan ini, hatiku berjalan semakin dekat kepada-Nya, atau justru berbalik menjauh?"
Sebab pada akhirnya, di sanalah kedewasaan seorang pejalan benar-benar dinilai.
(Selesai)
Catatan Rujukan
- Al-Qur'an al-Karim: QS. Ali 'Imran (3): 140, QS. Al-Baqarah (2): 216, QS. Ar-Rahman (55): 29, dan QS. Al-Hadid (57): 23.
- Ibnu 'Asyur: Tafsir At-Tahrir wa At-Tanwir — (Diskursus mengenai pergiliran waktu sebagai ruang pendidikan ilahiah).
- M. Quraish Shihab: Tafsir Al-Mishbah — (Refleksi atas pemeliharaan Allah yang terus berlangsung tanpa jeda).
- Imam Al-Ghazali: Pemikiran tasawuf tentang titik tumpu ketenangan hati dan bahaya menyandarkan diri pada dunia yang selalu berubah.
- Syed Muhammad Naquib al-Attas: Konsep Adab — (Penempatan sesuatu pada tempatnya yang hakiki, yang dalam esai ini ditarik menjadi 'adab terhadap waktu').
- Viktor E. Frankl: Man's Search for Meaning — (Eksplorasi tentang kebebasan terakhir manusia dalam merespons penderitaan dan takdir yang tak terelakkan).
Kategori Ekosistem: Refleksi Islam • Filsafat Kehidupan • Psikologi Makna • Tadabbur Al-Qur'an
Ditulis oleh: Robby Andoyo — Ekosistem Blog Kang Robby.