Nafas menjadi zikir ketika kesadaran kepada Allah menyertai kehidupan, usaha, ambisi, dan keterbatasan manusia. Refleksi spiritual tentang iman dan ke
Oleh: Robby Andoyo
Nafas datang tanpa diminta, pergi tanpa ditahan, lalu kembali lagi sebelum manusia sempat menyadari bahwa hidup sedang berlangsung. Ia begitu dekat, begitu biasa, sampai-sampai manusia sering lupa bahwa setiap detiknya sedang menerima sesuatu yang tidak sepenuhnya berada dalam kuasanya.
Mungkin karena itu, zikir tidak selalu harus dibayangkan sebagai sesuatu yang hanya terjadi ketika lisan menyebut nama Allah. Zikir juga dapat tumbuh menjadi kesadaran yang menyertai keberadaan. Ketika tarikan nafas menghadirkan kesadaran akan Allah, dan hembusannya mengingatkan manusia kepada-Nya, nafas tidak lagi sekadar menjadi urusan tubuh. Ia menjadi ruang bagi seorang hamba untuk menyadari siapa dirinya, kepada siapa ia bergantung, dan ke mana seluruh kehidupannya akan kembali.
Ketika Nafas Mulai Mengingat
Nafas tidak menunggu manusia mengingatnya. Ia berlangsung ketika seseorang tidur, membaca, berpikir, menulis, bekerja, berlari, marah, menangis, bahkan ketika ia terlalu sibuk mengejar sesuatu sampai lupa bahwa dirinya sendiri sedang hidup.
Lisan bisa mengatakan sesuatu yang berbeda dari isi hati. Manusia dapat mengucapkan kata-kata yang indah, sementara pikirannya bergerak ke arah yang lain. Ia dapat menyebut nama Allah, tetapi sesaat kemudian bertindak seolah-olah seluruh kehidupan berada dalam kendalinya.
Nafas berlangsung dengan cara yang berbeda. Ia tidak sedang berpura-pura. Ia datang dan pergi sebagai bagian dari kenyataan biologis manusia, bahkan ketika manusia tidak memikirkannya.
Di sinilah kesadaran itu dapat dimulai.
Bukan karena nafas mempunyai kekuatan gaib. Bukan pula karena mengatur irama nafas otomatis membuat seseorang lebih dekat kepada Allah. Yang berubah adalah cara manusia menyadari kenyataan yang selama ini berlangsung begitu saja.
Ketika menarik nafas, seseorang mulai menyadari bahwa ia masih diberi kehidupan. Ketika menghembuskannya, ia menyadari bahwa kehidupan itu tidak sepenuhnya berada dalam genggamannya.
Ia dapat menyertakan zikir seperti:
حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ، وَنِعْمَ الْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ النَّصِيرُ
Cukuplah Allah bagi kami, dan Dia sebaik-baik tempat berserah. Dia sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.
Ungkapan zikir ini menggabungkan lafaz dari dua bagian Al-Qur'an, bukan kutipan satu ayat utuh: QS. Ali 'Imran [3]: 173 dan QS. Al-Anfal [8]: 40.
Ungkapan itu bukan rumus pernafasan yang menjanjikan keadaan spiritual tertentu. Ia adalah zikir yang dapat menyertai kesadaran seorang hamba: aku berusaha, aku berharap, aku menghadapi sesuatu yang tidak mudah, tetapi aku tidak berdiri sebagai penguasa mutlak atas kehidupanku sendiri.
Nafas menjadi jalan untuk mengingat. Bukan nafas yang disembah, bukan irama tubuh yang dianggap keramat, melainkan Allah yang disadari melalui kenyataan bahwa manusia sedang menerima kehidupan.
Terkadang, yang dibutuhkan bukan pengalaman luar biasa. Hanya kesadaran sederhana yang selama ini terlewatkan: aku sedang bernafas, dan Allah masih memberiku kehidupan.
Zikir yang Tidak Berhenti pada Lisan
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang. (QS. Al-Ahzab [33]: 41–42)
Perintah dzikran katsiran mengarahkan manusia kepada zikir yang banyak. Namun, banyaknya zikir tidak seharusnya berhenti pada persoalan hitungan. Ada pertanyaan lain yang layak diajukan: sejauh mana ingatan kepada Allah ikut hadir dalam cara seseorang menjalani kehidupannya?
Seseorang bisa menghabiskan waktu panjang dengan rangkaian zikir, tetapi masih perlu belajar menjaga kejujuran ketika bekerja. Ia dapat menghafal banyak doa, tetapi tetap harus berjuang agar tidak diperbudak oleh amarah, keinginan, dan ambisi.
Ini bukan alasan untuk meremehkan zikir lisan. Lisan mempunyai tempatnya. Amalan zikir yang diajarkan agama tetap bernilai dan tidak perlu dipertentangkan dengan kesadaran batin. Persoalannya muncul ketika manusia merasa bahwa banyaknya ucapan sudah cukup, sementara kehidupannya tidak pernah disentuh oleh makna yang diucapkannya.
Al-Qur'an juga menggambarkan orang-orang yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring, lalu menghubungkan zikir itu dengan pemikiran tentang penciptaan langit dan bumi.
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi. (Penggalan QS. Ali 'Imran [3]: 191)
Zikir dan berpikir hadir berdampingan. Ingatan kepada Allah tidak menjauhkan manusia dari kenyataan; ia dapat membuat manusia melihat kenyataan dengan lebih dalam.
Maka seseorang yang membaca, menulis, meneliti, mengajar, atau menciptakan sesuatu pun dapat menjaga kesadaran tentang Allah. Bukan berarti setiap aktivitas otomatis menjadi zikir hanya karena dilakukan oleh seorang Muslim. Kesadaran itu perlu dihidupkan: dalam niat, kejujuran, tanggung jawab, dan cara seseorang memperlakukan kehidupan yang dipercayakan kepadanya.
Zikir yang hidup bukan pelarian dari kenyataan. Ia justru membuat manusia melihat kenyataan dengan lebih dalam.
Ketika Manusia Menyadari Batasnya
Kesadaran terhadap nafas membawa manusia kepada sebuah kenyataan yang sulit dihindari: ia hidup, tetapi tidak menguasai seluruh syarat kehidupannya.
Manusia dapat merencanakan masa depan, membangun teknologi, memperluas pengetahuan, dan menciptakan kecerdasan buatan yang membantu banyak pekerjaan. Jangkauan tangannya bertambah. Kemampuannya mengolah informasi semakin luas. Hal-hal yang dahulu terasa mustahil perlahan menjadi mungkin.
Namun, ada sesuatu yang tidak berubah.
Manusia tetap tidak dapat memaksa orang yang dicintainya untuk hidup selamanya. Ia tidak bisa menjamin bahwa semua rencananya akan berhasil. Ia tidak sepenuhnya menguasai hati orang lain, tidak dapat membeli kembali waktu yang telah berlalu, dan tidak mempunyai kuasa mutlak untuk memerintahkan nafas terakhirnya agar menunggu.
Teknologi dapat memperbesar kemampuan manusia. Pengetahuan dapat memperluas kemungkinan. Kecerdasan buatan dapat membantu manusia berpikir dan bekerja dengan cara yang sebelumnya sulit dibayangkan. Namun, bertambahnya kemampuan tidak menghapus kenyataan bahwa manusia tetap makhluk yang bergantung.
Kita sering menyadari keterbatasan itu ketika sesuatu yang diharapkan tidak terjadi. Ketika usaha tidak menghasilkan apa yang diinginkan. Ketika orang yang dicintai pergi. Ketika kenyataan menolak mengikuti rencana yang telah disusun begitu lama.
Padahal, nafas sudah mengingatkan manusia tentang ketergantungan itu sejak awal. Hanya saja, selama semuanya berjalan sesuai keinginan, manusia mudah merasa bahwa dirinya mampu berdiri sendiri.
Di sinilah kalimat hasbunallahu wa ni'mal wakil menemukan kedalaman yang berbeda. Ia bukan ucapan untuk melarikan diri dari usaha. Ia adalah pengakuan bahwa usaha manusia mempunyai batas.
Aku berusaha, tetapi aku bukan penguasa atas hasilnya.
Aku berharap, tetapi tidak semua yang kuharapkan berada dalam kuasaku.
Aku masih hidup, tetapi kehidupan ini bukan milikku secara mutlak.
Kesadaran seperti itu tidak harus membuat manusia kehilangan keberanian. Justru sebaliknya, ia dapat membebaskan manusia dari beban yang tidak pernah sanggup dipikulnya: keinginan untuk mengendalikan segala sesuatu.
وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ
Allah berfirman:
أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَىٰ ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاءَ الْأَوْفَىٰ
(Yaitu) bahwa seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya, bahwa sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan, kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna. (QS. An-Najm [53]: 38–41)
Ayat ini membawa perhatian manusia kembali kepada sa'y—usaha yang benar-benar dijalani. Bukan sekadar keinginan yang disimpan, rencana yang disusun, atau gambaran keberhasilan yang terus dipelihara dalam pikiran, melainkan usaha yang menjadi bagian dari tanggung jawab manusia.
Dalam Mafatih al-Ghayb, Fakhruddin al-Razi menjelaskan QS. An-Najm [53]: 39 sebagai bagian dari pembahasan tentang tanggung jawab manusia atas amalnya. Ia menerangkan bahwa sa'y dalam ayat tersebut bermakna usaha atau amal, kemudian menyoroti penggunaan bentuk lampau sa'ā. Menurut penjelasannya, bentuk itu mengandung dorongan agar manusia sungguh-sungguh melaksanakan amal, bukan sekadar menggantungkan diri pada rencana dan janji yang belum diwujudkan. Al-Razi juga menjelaskan bahwa usaha manusia akan diperlihatkan dan diberi balasan oleh Allah.
Dari sini, refleksi tentang nafas dapat dikembangkan tanpa mengatasnamakan al-Razi untuk gagasan yang sebenarnya merupakan pengembangan penulis: manusia bertanggung jawab atas usahanya, tetapi tidak menguasai seluruh hasilnya. Ia memiliki sa'y, bukan seluruh hasil yang diharapkannya.
Manusia memiliki sa'y, tetapi tidak memiliki seluruh hasil.
Ia dapat berusaha membangun sesuatu, tetapi tidak bisa memastikan bahwa hasilnya akan persis seperti yang dibayangkannya. Ia dapat mengerahkan seluruh kemampuan, tetapi tetap berhadapan dengan kenyataan yang tidak sepenuhnya dapat ia atur.
Karena itu, kesadaran kepada Allah tidak semestinya mematikan ambisi. Ia membantu manusia menempatkan ambisi pada tempatnya.
Berusaha dengan sungguh-sungguh, tanpa menganggap diri sebagai pemilik mutlak keberhasilan. Berharap dengan penuh keseriusan, tanpa menjadikan harapan sebagai penguasa atas hati. Menerima keterbatasan, tanpa menjadikannya alasan untuk menyerah sebelum berusaha.
Tarikan nafas dapat mengingatkan: aku masih diberi kesempatan.
Hembusannya dapat mengingatkan: kesempatan ini tidak berada dalam genggamanku selamanya.
Di antara keduanya, manusia menjalani sesuatu yang sering dilupakan: berusaha tanpa menjadi tuhan bagi hasil usahanya sendiri.
Manusia Tetap Tempat Salah dan Lupa
Manusia adalah makhluk yang dapat mengetahui kebenaran, tetapi tetap melakukan kesalahan. Ia dapat memahami sesuatu hari ini, lalu melupakannya ketika amarah datang esok hari. Ia dapat berjanji untuk berubah, lalu kembali kepada kebiasaan yang sama ketika keinginannya mulai mendesak.
Dalam ungkapan yang sering dipakai untuk menggambarkan keterbatasan manusia, ia adalah:
مَحَلٌّ لِلْخَطَإِ وَالنِّسْيَانِ
Tempat terjadinya kesalahan dan kelupaan.
Ungkapan ini bukan ayat Al-Qur'an atau hadis yang sedang dikutip di sini, melainkan gambaran tentang kerentanan manusia. Kesadaran terhadap Allah tidak menghapus kerentanan itu seketika. Orang yang mengingat Allah pun tetap harus berjuang menghadapi dirinya sendiri.
Ambisi tidak tiba-tiba lenyap hanya karena seseorang mulai berzikir. Keinginan tidak menghilang hanya karena ia menyadari bahwa kehidupan berasal dari Allah. Tubuh tetap mempunyai kebutuhan, pikiran tetap mempunyai harapan, dan manusia tetap ingin melihat sesuatu yang diperjuangkannya menjadi kenyataan.
Keinginan untuk berhasil tidak selalu salah. Ambisi pun tidak selalu buruk. Manusia membutuhkan tujuan, membutuhkan usaha, dan membutuhkan alasan untuk bergerak. Yang berbahaya adalah ketika keinginan mulai menguasai seluruh ruang batin, sampai seseorang tidak lagi mampu melihat apa yang sedang dikorbankannya demi sesuatu yang ingin dimiliki.
Di sinilah manusia perlu jujur kepada dirinya sendiri.
Ketika membuka mata pada pagi hari, ia menyadari: aku ada.
Aku masih mempunyai kehidupan. Aku masih mempunyai harapan. Aku ingin keberadaanku tidak sia-sia. Aku ingin melakukan sesuatu yang berarti, meninggalkan sesuatu yang baik, dan menggunakan kesempatan yang masih tersedia.
Namun, aku juga dapat tersesat di dalam keinginanku sendiri.
Aku bisa terlalu takut kehilangan sampai kehilangan ketenangan. Aku bisa terlalu ingin berhasil sampai mengabaikan orang-orang yang seharusnya kujaga. Aku bisa terlalu mengejar kenyamanan sampai lupa bahwa tidak semua yang menyenangkan membawa kebaikan.
Manusia tidak selalu menjadi budak karena ia tidak mengetahui kebenaran. Terkadang, ia menjadi budak justru karena mengetahui apa yang benar, tetapi tidak sanggup melepaskan sesuatu yang terlalu ia inginkan.
Lalu nafas kembali berlangsung.
Di tengah amarah, ia masih bernafas. Di tengah ketakutan, ia masih bernafas. Ketika kecewa karena sesuatu tidak berjalan sesuai rencana, nafas tetap datang dan pergi. Bahkan ketika ambisi memenuhi pikiran dan hasrat mendesak agar segera dipuaskan, tubuh tetap menjalankan kehidupannya.
Mungkin di situlah sebuah kesadaran kecil dapat tumbuh:
Aku sedang bernafas.
Allah masih memberiku kehidupan.
Mengapa aku harus menjadi budak dari sesuatu yang sebenarnya tidak sepenuhnya kumiliki?
Pertanyaan itu tidak otomatis menyelesaikan semua persoalan. Manusia mungkin masih marah. Ia mungkin masih takut, masih kecewa, masih harus bekerja keras untuk mengendalikan dirinya. Namun, ia mulai mempunyai jarak antara keinginan dan keputusan, antara dorongan dan tindakan.
Ia tidak harus menuruti setiap hasrat hanya karena hasrat itu muncul. Ia tidak harus menganggap setiap kegagalan sebagai akhir kehidupannya. Ia tidak harus mempertahankan setiap ambisi seolah-olah tanpa ambisi itu dirinya tidak lagi berarti.
Nafas tidak menghapus pergulatan manusia. Nafas dapat mengingatkannya untuk kembali sadar di tengah pergulatan itu.
Jangan Sampai Nafas Menggantikan Allah
Ada satu hal yang perlu dijaga agar gagasan ini tidak berubah menjadi sesuatu yang berbeda dari tujuannya.
Nafas bukan sumber kekuatan spiritual yang berdiri sendiri. Mengatur ritme pernafasan tidak otomatis menghasilkan iman yang lebih dalam. Tubuh yang tenang belum tentu menandakan hati yang dekat kepada Allah. Teknik yang membuat seseorang merasa nyaman tidak dengan sendirinya menjadi zikir.
Karena itu, jangan sampai manusia terlalu sibuk memperhatikan nafas, tetapi justru melupakan Allah yang hendak diingatnya.
Nafas hanyalah pintu. Yang dicari bukan nafas. Yang dicari adalah kesadaran kepada Allah melalui kenyataan bahwa manusia sedang bernafas.
Tidak perlu membayangkan bahwa setiap tarikan dan hembusan harus selalu disertai lafaz tertentu agar kehidupan mempunyai nilai. Tidak pula perlu memaksa diri mencapai keadaan batin yang istimewa. Kesadaran dapat dimulai dengan sederhana: aku hidup, aku bergantung, dan aku tidak memiliki diriku secara mutlak.
Ketika pikiran kembali kacau, manusia dapat mengingatnya lagi.
Ketika amarah mulai mengambil alih, ia dapat berhenti sejenak dan menyadari apa yang sedang terjadi dalam dirinya.
Ketika harapan terasa begitu kuat hingga membuatnya lupa kepada batas, ia dapat kembali mengingat bahwa usaha adalah tanggung jawabnya, sedangkan hasil tidak sepenuhnya berada dalam kuasanya.
Bukan untuk menghindari kenyataan. Bukan untuk membuat diri merasa lebih suci daripada orang lain. Melainkan agar ia tidak kehilangan kesadaran di tengah kehidupan yang terus menuntutnya bergerak.
Allah masih memberiku nafas.
Kalimat itu tidak harus menjadi slogan. Ia dapat menjadi pengakuan yang membuat manusia berhenti sejenak, melihat dirinya dengan lebih jujur, lalu kembali menjalani tanggung jawabnya.
Ketika Zikir Masuk ke Dalam Kehidupan
Banyaknya zikir dan dalamnya kesadaran bukan dua hal yang perlu dipertentangkan. Lisan dapat berzikir, hati dapat belajar mengingat, dan kehidupan dapat menjadi tempat pembuktian apakah ingatan itu ikut memengaruhi cara manusia bertindak.
Seseorang dapat menyebut nama Allah, tetapi masih harus belajar agar tidak berdusta ketika bekerja. Ia dapat membaca wirid, tetapi masih perlu menjaga tangannya agar tidak merugikan orang lain. Ia dapat berbicara tentang ketundukan kepada Allah, tetapi tetap harus memeriksa apakah ambisinya telah membuatnya merasa lebih tinggi daripada manusia lain.
Bukan berarti setiap kekurangan membuktikan bahwa zikirnya tidak bernilai. Manusia memang sedang berjuang, dan perubahan tidak selalu terjadi sekaligus. Namun, zikir yang dihidupi seharusnya membuka ruang bagi seseorang untuk melihat kekurangannya, bukan menjadi alasan untuk merasa telah selesai dengan dirinya sendiri.
Ketika kesadaran kepada Allah menyertai nafas, ia dapat perlahan dibawa ke dalam kehidupan.
Dalam menulis, manusia belajar bertanggung jawab atas kata-katanya.
Dalam membaca dan mencari ilmu, ia menyadari bahwa pengetahuan yang dimilikinya tidak membuatnya menjadi pemilik seluruh kebenaran.
Dalam bekerja, ia mengingat bahwa kemampuan adalah amanah, bukan alasan untuk merendahkan orang lain.
Dalam mengejar cita-cita, ia tetap bersungguh-sungguh tanpa menyerahkan seluruh harga dirinya kepada keberhasilan.
Dalam menghadapi kegagalan, ia tidak harus berpura-pura tidak terluka. Ia hanya belajar bahwa kegagalan tidak menghapus seluruh makna usahanya.
Sebab yang menjadi tanggung jawabnya adalah sa'y—usaha yang dijalani dengan sungguh-sungguh. Bukan kemampuan untuk mengendalikan seluruh hasil.
Di sini zikir tidak lagi berhenti sebagai sesuatu yang terdengar. Ia mulai memengaruhi cara seseorang mengambil keputusan, memperlakukan orang lain, mengelola ambisi, dan menghadapi batas dirinya sendiri.
Zikir mulai meninggalkan lisan dan masuk ke cara hidup.
Bukan karena manusia telah menjadi sempurna, melainkan karena ia tidak lagi ingin menjalani kehidupan dalam keadaan lupa sepenuhnya kepada siapa ia bergantung.
Nafas yang Mengingat, Jiwa yang Tenang
Tubuh manusia akan berubah. Kekuatan yang dahulu dibanggakan perlahan berkurang. Wajah berubah, kemampuan menurun, dan ambisi yang pernah terasa begitu besar pada akhirnya harus berhadapan dengan keterbatasan.
Suatu hari, tubuh ini tidak lagi sanggup melakukan apa yang dahulu dianggap biasa. Nafas yang sekarang datang tanpa banyak disadari akan berhenti. Nama yang pernah dikenal banyak orang mungkin perlahan dilupakan. Raga kembali kepada tanah.
Jika seluruh makna kehidupan hanya diletakkan pada tubuh, kekuatan, pencapaian, dan segala sesuatu yang dapat hilang bersama waktu, manusia akan kesulitan menghadapi kenyataan bahwa semuanya mempunyai batas.
Namun, kehidupan tidak harus berhenti pada apa yang dapat disentuh oleh tubuh. Manusia juga mempunyai tanggung jawab batin: menjaga iman, memperbaiki amal, mengingat Allah, dan mengarahkan hidupnya kepada sesuatu yang melampaui kepentingan sesaat.
Allah berfirman:
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً فَادْخُلِي فِي عِبَادِي وَادْخُلِي جَنَّتِي
Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku. (QS. Al-Fajr [89]: 27–30)
Jiwa yang tenang bukan berarti manusia tidak lagi mempunyai keinginan. Ia bukan manusia yang berhenti berusaha, tidak mempunyai cita-cita, atau tidak pernah merasakan kesedihan. Ketenangan tidak harus berarti hilangnya seluruh pergulatan.
Manusia tetap boleh berharap. Ia tetap boleh membangun, berkarya, mengejar ilmu, dan memperjuangkan kehidupan yang lebih baik. Namun, ia belajar agar keinginan tidak menjadi tuhan yang ditaatinya tanpa batas. Ia berusaha tanpa merasa memiliki seluruh hasil. Ia menerima keterbatasan tanpa kehilangan kesungguhan.
Mungkin di situlah kesadaran kepada Allah menemukan tempatnya: bukan dengan membuat manusia berhenti menjadi manusia, melainkan dengan membuatnya lebih sadar ketika menjalani kehidupannya sebagai seorang hamba.
Tubuh akan berakhir. Tetapi selama kehidupan masih diberikan, manusia masih mempunyai kesempatan untuk memperbaiki arah, mengembalikan niat, dan belajar tunduk kepada Penciptanya.
Nafas yang mengingat bukan jaminan bahwa seseorang telah sampai kepada ketenangan. Ia adalah pengingat yang dapat menyertai perjalanan menuju ketundukan itu.
Ketika Nafas Menjadi Zikir
Tidak perlu menunggu berada di tempat yang sunyi. Tidak harus menunggu memegang tasbih atau duduk dalam sebuah majelis. Kesadaran itu dapat dimulai ketika seseorang menyadari nafasnya sendiri di tengah kehidupan yang sedang berlangsung.
Tarik nafas, dan sadari bahwa kehidupan masih diberikan.
Hembuskan nafas, dan ingatlah bahwa kehidupan itu tidak berada dalam genggaman mutlak manusia.
Kemudian jalani kembali apa yang memang harus dijalani.
Bekerja. Berpikir. Menulis. Mencintai. Berusaha. Menghadapi kegagalan. Mengendalikan amarah. Menjaga ambisi agar tidak berubah menjadi perbudakan bagi diri sendiri.
Manusia mungkin kembali lupa. Ia mungkin kembali dikuasai keinginan, kembali marah, kembali merasa bahwa segala sesuatu harus berjalan sesuai rencananya. Ia tetap manusia, tempat kesalahan dan kelupaan mungkin terjadi.
Namun, selama nafas masih diberikan, selalu ada kesempatan untuk menyadari kembali.
Nafas tidak pernah berhenti datang dan pergi selama kehidupan berlangsung. Dan setiap kali manusia menyadarinya, ia dapat menemukan kesempatan untuk mengingat Allah.
Yang berubah bukan cara ia bernafas.
Yang berubah adalah cara ia memandang keberadaannya sendiri.
Barangkali itulah saat ketika nafas benar-benar menjadi zikir: bukan ketika manusia berhasil membuat setiap tarikan nafas mengucapkan sesuatu, tetapi ketika setiap tarikan nafas membuatnya semakin sadar kepada siapa seluruh kehidupan ini akhirnya kembali.
Raga akan berhenti.
Nafas akan berakhir.
Tetapi kesadaran seorang hamba kepada Tuhannya tidak pernah dimaksudkan untuk berhenti bersama keduanya.
Yang fana adalah tubuh.
Yang dicari adalah jiwa yang pulang dalam ketundukan.
Dan selama nafas masih diberikan, kesempatan untuk mengingat belum selesai.
Rujukan Utama
- Al-Qur'an al-Karim. QS. Al-Ahzab [33]: 41–42; QS. Ali 'Imran [3]: 173 dan 191; QS. Al-Anfal [8]: 40; QS. An-Najm [53]: 38–41; serta QS. Al-Fajr [89]: 27–30.
- Fakhruddin al-Razi. Mafatih al-Ghayb , tafsir QS. An-Najm [53]: 39.
