Episode 12 Ekosistem Islam Modern: Di Antara Sains dan Tuhan Ketika Ajakan Berpikir Disalahpahami sebagai Pengingkaran Oleh: Robb...
Episode 12 Ekosistem Islam Modern: Di Antara Sains dan Tuhan
Ketika Ajakan Berpikir Disalahpahami sebagai Pengingkaran
Oleh: Robby Andoyo
Ada pertanyaan yang kadang lebih ditakuti daripada jawaban yang salah: bagaimana jika setelah berpikir, saya tidak lagi melihat sesuatu dengan cara yang sama?
Di titik itulah persoalan berpikir berubah menjadi persoalan keberanian.
Seseorang dapat mengaku mencintai kebenaran, tetapi belum tentu siap ketika kebenaran menuntutnya memeriksa kembali sesuatu yang selama ini dianggap selesai. Ia dapat meminta orang lain berpikir, tetapi diam-diam berharap hasil pemikiran itu tetap berada di dalam batas kesimpulan yang sudah ia miliki.
Ketegangan antara sains dan agama sering kali lahir dari ruang semacam ini. Bukan semata-mata karena sains sedang menyerang Tuhan, melainkan karena manusia kadang menganggap setiap pertanyaan sebagai ancaman terhadap keyakinan yang telah mapan.
Padahal Tuhan tidak menjadi lebih kecil hanya karena manusia menemukan sesuatu yang sebelumnya tidak diketahuinya.
Dan iman tidak semestinya menjadi rapuh hanya karena akal diajak bekerja lebih jujur.
Ketika Pertanyaan Dianggap Sebagai Ancaman
Dalam banyak perdebatan keagamaan, seseorang yang mengajukan pertanyaan kritis terlalu cepat diberi label. Ketika mempertanyakan penafsiran tertentu, ia dianggap mempertanyakan wahyu. Ketika menerima temuan ilmiah yang tidak sesuai dengan pembacaan literal seseorang, ia dicurigai sedang meninggalkan agama. Bahkan ketika ia hanya mengatakan “saya belum tahu”, kalimat itu kadang terdengar seperti pengkhianatan.
Padahal “saya belum tahu” dapat menjadi salah satu bentuk kejujuran intelektual yang paling mahal.
Orang yang tidak tahu tetapi mengaku tahu sedang membangun pengetahuan di atas kepastian palsu. Sebaliknya, orang yang berani mengakui keterbatasan pengetahuannya sedang membuka ruang bagi pencarian yang lebih jujur.
Al-Qur'an tidak membangun manusia dengan cara mematikan pertanyaan. Ia berulang kali mengarahkan perhatian kepada tanda-tanda, meminta manusia memperhatikan, menimbang, mengingat, dan menggunakan akal.
Karena itu, persoalan Islam modern bukan sekadar bagaimana membuat umat beragama semakin banyak berbicara tentang sains.
Persoalan yang lebih mendasar adalah: apakah kita memiliki keberanian intelektual untuk menerima kenyataan ketika kenyataan tidak segera sesuai dengan dugaan kita?
Antara Menolak Sains dan Memaksa Wahyu
Ketika agama berhadapan dengan sains, setidaknya ada dua ekstrem yang perlu dihindari.
Yang pertama adalah menolak temuan ilmiah hanya karena hasilnya terasa mengganggu pemahaman keagamaan yang telah lama dipegang.
Yang kedua bergerak ke arah berlawanan: setiap penemuan ilmiah segera dicari padanannya dalam ayat Al-Qur'an, seolah-olah kemuliaan wahyu harus dibuktikan kembali oleh setiap teori yang lahir dari laboratorium.
Keduanya memiliki persoalan yang sama: ketidakjujuran terhadap batas metode.
Sains bekerja melalui pengamatan, pengujian, penalaran, pemodelan, dan koreksi terhadap kesalahan. Ia berurusan dengan gejala yang dapat diteliti melalui metode empiris dan selalu membuka kemungkinan penyempurnaan ketika bukti baru ditemukan.
Karena itu, sains tidak membutuhkan pembelaan agama untuk menjadi sains.
Demikian pula wahyu tidak membutuhkan setiap teori ilmiah untuk menjadi benar agar Al-Qur'an tetap menjadi wahyu.
Ketika sebuah teori berubah, ayat tidak ikut berubah. Yang mungkin berubah adalah pemahaman manusia terhadap ayat tersebut.
Di sinilah kedewasaan intelektual mulai bekerja: mengetahui kapan sebuah pernyataan sedang berbicara tentang fakta empiris, kapan ia merupakan penafsiran, dan kapan ia merupakan klaim teologis atau filosofis.
Agama tidak perlu menjadi musuh sains. Sains juga tidak perlu dijadikan mesin pembuktian agama.
Keduanya justru dapat ditempatkan pada wilayah kerja masing-masing tanpa harus saling merendahkan.
Wahyu Tidak Meminta Kita Berhenti Melihat
Al-Qur'an memberikan sebuah perintah yang sederhana, tetapi konsekuensinya luas:
قُلِ انظُرُوا مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
“Katakanlah, ‘Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi.’” (QS. Yunus: 101)
Dalam At-Tahrir wa At-Tanwir, Ibn 'Asyur membaca perintah unzuru dalam konteks ajakan memperhatikan tanda-tanda yang terdapat pada ciptaan dan mengambil pelajaran darinya. Perhatian terhadap alam bukan sekadar pandangan mata, tetapi bagian dari proses manusia mengenali tanda-tanda kekuasaan dan keesaan Allah.
Yang menarik bukan hanya objek yang diperintahkan untuk diperhatikan, tetapi tindakan intelektual di baliknya.
Wahyu tidak menyuruh manusia menutup mata terhadap alam agar iman tetap aman.
Justru alam diperintahkan untuk diperhatikan.
Langit boleh diteliti. Bumi boleh diselidiki. Kehidupan boleh dipelajari. Materi boleh dibongkar hingga batas yang dapat dicapai oleh instrumen manusia.
Jika penelitian menghasilkan pengetahuan baru, maka yang berubah adalah pengetahuan kita tentang alam.
Bukan Tuhan.
Sains Menjelaskan Mekanisme, Bukan Mengadili Transendensi
Salah satu sumber kegaduhan terbesar terjadi ketika metode sains diberi tugas yang sebenarnya tidak dirancang untuk dikerjakannya.
Sains dapat menyelidiki bagaimana galaksi terbentuk, bagaimana organisme berkembang, bagaimana materi berinteraksi, bagaimana tubuh bekerja, atau bagaimana suatu fenomena berlangsung berdasarkan hukum-hukum alam yang dapat diamati.
Namun kemampuan menjelaskan mekanisme tidak dengan sendirinya menghasilkan jawaban metafisis tentang makna terdalam keberadaan.
Menjelaskan bagaimana sesuatu berlangsung tidak otomatis menjawab mengapa ada sesuatu daripada tidak ada apa-apa.
Di sisi lain, kehati-hatian yang sama harus diterapkan ketika sains belum mampu menjelaskan sesuatu.
Kalimat “sains belum tahu” tidak otomatis berarti “maka jawabannya pasti ini.”
Ketidaktahuan bukan bukti bagi sembarang kesimpulan.
Tuhan tidak perlu dijadikan tambalan bagi setiap celah pengetahuan manusia.
Jika suatu hari sebuah celah berhasil dijelaskan melalui penelitian, Tuhan tidak menjadi lebih kecil karena manusia menemukan mekanismenya.
Justru di sinilah iman yang matang memiliki ketenangan yang berbeda: ia tidak panik setiap kali pengetahuan berkembang.
Kejujuran yang Lebih Sulit daripada Menjawab
Kecanggihan intelektual kadang justru terlihat dari kesediaan untuk berhenti—bukan berhenti berpikir, melainkan berhenti mengklaim sesuatu yang belum dapat dipertanggungjawabkan.
Al-Qur'an menyatakan:
وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
“...dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (QS. Al-Isra': 85)
Ayat ini datang dalam konteks pertanyaan tentang ruh. Dalam At-Tahrir wa At-Tanwir, Ibn 'Asyur menjelaskan keterbatasan pengetahuan manusia dibandingkan keluasan perkara yang dapat diketahui.
Keterbatasan itu bukan penghinaan terhadap akal.
Justru ia menempatkan akal pada ukuran yang sehat.
Akal yang sehat mengetahui kekuatannya.
Akal yang matang juga mengetahui batasnya.
Karena itu, mengatakan “saya belum tahu” bukan berarti menyerah kepada kebodohan. Ia dapat menjadi bentuk disiplin intelektual: tidak mengubah dugaan menjadi fakta, tidak mengubah kemungkinan menjadi kepastian, dan tidak mengubah ketakutan menjadi dalil.
Di zaman ketika informasi bergerak lebih cepat daripada kemampuan manusia memeriksanya, kerendahan hati semacam ini bukan kelemahan. Ia adalah bentuk ketahanan intelektual.
Ketika Ayat Dipaksa Menjadi Laboratorium
Ada kecenderungan lain yang tampak religius tetapi menyimpan persoalan yang sama.
Setiap penemuan baru segera dicari ayat yang dianggap cocok. Setelah ditemukan kemiripan, kesimpulan pun diumumkan: Al-Qur'an telah mengatakan semuanya sejak berabad-abad lalu.
Persoalannya bukan pada kemungkinan bahwa ayat memiliki keluasan makna yang kemudian menjadi semakin menarik ketika manusia memperoleh pengetahuan baru.
Persoalannya muncul ketika teori ilmiah yang masih berkembang dipaksakan menjadi makna utama ayat, lalu ketika teori tersebut berubah, pembacaan terhadap ayat ikut runtuh.
Ini justru menempatkan wahyu pada posisi yang tidak perlu.
Al-Qur'an bukan buku teks fisika, biologi, atau kosmologi.
Ia berbicara tentang petunjuk, tanggung jawab, ketauhidan, keadilan, kehidupan, kematian, kebajikan, kerusakan, dan arah keberadaan.
Ketika Al-Qur'an mengarahkan perhatian kepada alam, manusia didorong untuk membaca tanda-tanda kebesaran Allah, bukan diperintahkan mengubah setiap ayat menjadi persamaan matematis.
Wahyu tidak kehilangan kemuliaannya karena tidak dipaksa menjadi jurnal ilmiah.
Justru dengan menempatkan masing-masing pada tempatnya, kita sedang belajar menghormati keduanya.
Doa dan Kesalahpahaman tentang Sebab
Persoalan yang sama muncul dalam cara sebagian orang memahami doa.
Doa kadang diperlakukan seperti formula mekanis: mengucapkan kalimat tertentu, kemudian berharap realitas tunduk secara otomatis kepada keinginan manusia.
Pada sisi lain, ketika realitas tidak berubah sebagaimana yang diharapkan, doa dianggap gagal.
Kedua cara berpikir tersebut sama-sama menyempitkan makna doa.
Al-Qur'an menyatakan:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
“Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan memperkenankan bagimu.’” (QS. Ghafir: 60)
Doa dalam Islam bukan kontrak sederhana antara permintaan manusia dan hasil yang harus mengikuti keinginannya.
Ia adalah pengakuan bahwa manusia tidak berdiri sebagai pusat mutlak dari keberadaan.
Karena itu, berdoa tidak harus dipertentangkan dengan ikhtiar. Seseorang dapat memohon kesembuhan sekaligus pergi kepada dokter. Ia dapat memohon rezeki sekaligus bekerja. Ia dapat memohon jalan keluar sekaligus berpikir, belajar, dan mengambil keputusan.
Doa tidak membuat ikhtiar menjadi tidak perlu.
Dan ikhtiar tidak membuat doa menjadi tidak bermakna.
Di antara keduanya terdapat kesadaran yang lebih dalam: manusia bertindak di dalam dunia yang tidak sepenuhnya berada di bawah kendalinya.
Ketika Sains Mengatakan “Tidak Tahu”
Salah satu pelajaran paling berharga dari tradisi ilmiah adalah kesediaan menunda kepastian.
Sebuah pertanyaan yang belum terjawab tidak harus segera diberi jawaban yang menyenangkan.
Jika bukti belum cukup, kesimpulan dapat ditunda.
Jika teori belum matang, ia dapat dikoreksi.
Jika data tidak mendukung sebuah klaim, klaim itu harus ditinjau kembali.
Sikap seperti ini tidak identik dengan ateisme.
Ia adalah disiplin metodologis.
Sains tidak memiliki instrumen yang dirancang untuk mengukur Tuhan sebagai objek empiris. Karena itu, ketika seseorang mengatakan bahwa sains tidak dapat menemukan Tuhan melalui metode laboratorium, pernyataan itu tidak sama dengan mengatakan bahwa sains telah membuktikan Tuhan tidak ada.
Di sini kita membutuhkan ketelitian bahasa.
Tidak terbukti secara empiris tidak otomatis berarti terbukti tidak ada.
Demikian pula belum dapat dijelaskan oleh sains tidak otomatis berarti telah terbukti sebagai mukjizat.
Di antara dua kesalahan itu terdapat ruang yang sangat luas bernama kejujuran intelektual.
Iman Tidak Membutuhkan Ketakutan terhadap Pertanyaan
Pada akhirnya, persoalan ini kembali kepada sesuatu yang lebih dalam daripada sains.
Ia kembali kepada cara kita memahami iman.
Jika iman hanya dapat bertahan ketika semua pertanyaan dilarang, maka yang sedang dilindungi mungkin bukan iman, melainkan konstruksi pemikiran yang takut diuji.
Sebaliknya, jika seseorang menganggap setiap pertanyaan sebagai bukti bahwa agama telah gugur, ia juga sedang membuat kesalahan yang serupa.
Pertanyaan tidak selalu datang untuk menghancurkan.
Kadang-kadang pertanyaan datang untuk membersihkan.
Ia membersihkan keyakinan dari prasangka. Membersihkan pengetahuan dari kesombongan. Membersihkan tafsir dari kebiasaan. Membersihkan agama dari klaim manusia yang terlalu mudah berbicara atas nama Tuhan.
Al-Qur'an menyatakan:
أَفَأَنتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّىٰ يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ
“Maka apakah engkau hendak memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman?” (QS. Yunus: 99)
Ibn 'Asyur menjelaskan ayat ini dalam konteks ketidakmampuan Nabi memaksa manusia menjadi beriman, meskipun beliau sangat menginginkan mereka menerima petunjuk. Penerimaan terhadap petunjuk tidak lahir dari pemaksaan manusia terhadap manusia.
Keyakinan yang dipaksakan mungkin menghasilkan kepatuhan lahiriah, tetapi tidak otomatis menghasilkan pembenaran yang hidup di dalam hati.
Karena itu, tugas kita bukan membuat manusia takut untuk berpikir.
Tugas kita adalah menghadirkan ruang di mana berpikir dapat membawa seseorang semakin dekat kepada kejujuran.
Yang Perlu Ditakuti Bukan Pertanyaan
Barangkali yang perlu dicemaskan bukanlah pertanyaan yang datang dari sains.
Bukan pula akal yang bekerja dengan jujur.
Yang lebih patut dicemaskan adalah ketika seseorang sudah memiliki jawaban sebelum pertanyaan selesai diajukan.
Ketika fakta ditolak hanya karena mengganggu keyakinan.
Ketika ayat dipaksa mengikuti teori.
Ketika teori dipaksa menjadi bukti ketuhanan.
Ketika ketidaktahuan ditutupi dengan kepastian palsu.
Ketika seseorang berkata “ini kebenaran”, padahal yang sebenarnya ia maksud adalah “ini adalah cara saya memahami kebenaran.”
Di titik itulah agama dan ilmu sama-sama kehilangan sesuatu yang sangat penting: kerendahan hati di hadapan kenyataan.
Islam tidak membutuhkan manusia yang takut terhadap pengetahuan.
Islam juga tidak membutuhkan manusia yang menggunakan agama untuk membenarkan segala sesuatu yang ingin ia percayai.
Yang dibutuhkan adalah manusia yang sanggup berdiri di antara wahyu dan realitas dengan kejujuran yang sama.
Penutup: Berpikir Tanpa Kehilangan Tuhan
Berpikir bukanlah pengingkaran.
Bertanya bukanlah pembangkangan.
Mengatakan “saya belum tahu” bukanlah kekalahan.
Dan menerima temuan ilmiah tidak dengan sendirinya berarti meninggalkan Tuhan.
Sebaliknya, menolak kenyataan hanya karena ia tidak sesuai dengan dugaan kita juga bukan bentuk kesetiaan kepada Tuhan.
Tuhan tidak membutuhkan kebohongan intelektual untuk tetap menjadi Tuhan.
Wahyu tidak membutuhkan cocoklogi untuk tetap menjadi wahyu.
Dan iman tidak seharusnya membutuhkan ketakutan terhadap sebuah pertanyaan agar tetap hidup.
Yang perlu kita bangun adalah keberanian untuk membedakan: mana fakta, mana tafsir; mana bukti, mana dugaan; mana wilayah sains, mana pertanyaan metafisis; mana suara wahyu, dan mana suara kita sendiri yang selama ini terlalu percaya diri berbicara atas nama wahyu.
Sebab pada akhirnya, persoalannya bukan apakah manusia boleh berpikir tentang Tuhan.
Persoalannya adalah apakah manusia cukup rendah hati untuk menerima bahwa setelah berpikir, ia mungkin harus memperbaiki cara berpikirnya sendiri.
Di situlah pencarian kebenaran menjadi lebih sunyi.
Tidak ada sorak kemenangan.
Tidak ada kebutuhan untuk mengalahkan pihak lain.
Hanya seorang manusia yang berdiri di hadapan keluasan ciptaan, membawa akal yang terbatas, pengetahuan yang sedikit, dan hati yang masih belajar.
Lalu ia melihat langit.
Ia meneliti bumi.
Ia membaca wahyu.
Ia bertanya.
Ia menemukan sesuatu.
Kemudian ia menyadari bahwa penemuan terbesar bukanlah ketika ia berhasil membuat semua jawaban tunduk kepada pikirannya.
Penemuan terbesar mungkin justru ketika ia mengerti bahwa kebenaran tidak pernah menjadi lebih kecil hanya karena dirinya belum mampu memahami seluruhnya.
Dan mungkin, di situlah akal akhirnya menemukan kedewasaannya: bukan ketika ia merasa telah mengetahui segala sesuatu, melainkan ketika ia mampu berpikir sedalam mungkin tanpa kehilangan kerendahan hati di hadapan Tuhan.
Daftar Referensi
- Al-Qur'an al-Karim. QS. Yunus: 99–101; QS. Al-Isra': 36 dan 85; QS. Ghafir: 60.
- Muhammad ath-Thahir ibn 'Asyur. At-Tahrir wa At-Tanwir. Pembahasan QS. Yunus: 99–101 dan QS. Al-Isra': 85.
- Filsafat ilmu modern. Digunakan sebagai kerangka untuk memahami batas metode empiris, pengujian klaim, ketidakpastian ilmiah, dan pembedaan antara penjelasan mekanistik dengan pertanyaan metafisis.
Ekosistem: Islam Modern; Filsafat Islam; Sains dan Agama; Akal dan Wahyu; Literasi Peradaban.