Membentuk Kesabaran Spiritual

Setelah beberapa hari yang lalu saya telah menulis tentang "menangkal yang radikal, melestarikan keberagaman" ,. Tiba saatnya s...


Setelah beberapa hari yang lalu saya telah menulis tentang "menangkal yang radikal, melestarikan keberagaman",. Tiba saatnya saya ingin menulis artikel spiritual yang bagi saya
sangat penting sekali karena ada suatu hal baru menurut Saya berkenaan dengan mekanisme
pembentukan kesabaran spiritual. Adapun perspektif keislaman akan mendominasi
kata demi kata dalam tulisan ini.

Kesabaran spiritual adalah upaya dalam mendidik hati agar terikat total kepada Tuhan
yang maha kuasa.


Nabi Muhammad SAW memiliki tingkat kesabaran spiritual yang luar biasa. Bahkan sebelum menjadi pembawa risalah Agama Islam, beliau terlibat dalam beberapa aksi sosial di masyarakat. Diantara sifat-sifat yang terpatri di dalam jiwa Rasulullah seperti, Kejujuran, loyalitas, integritas dan intelektualitas. ke-4 sifat-sifat ini hidup dan abadi sepanjang perjalanan Muhammad SAW.

Pertama. Kejujuran, sejak masih berusia muda Nabi Muhammad SAW dikenal dengan "Al-Amin" terpercaya, orang terpercaya adalah orang yang senantiasa jujur dalam hidupnya, tidak pernah sedikitpun terbesit dalam hati Nabi Muhammad SAW untuk berbohong. Sebagai contoh, Nabi Muhammad mempunyai rekam jejak yang baik dalam berdagang, tidak ada kebohongan dan penipuan sepanjang hidupnya. Bahkan dalam suatu riwayat beliau bersabda, " Man Gatsa fa laitsa Minna " Barangsiapa yang menipu ( dalam perdagangan ) bukan golongan kami.  Inilah bentuk dari kesabaran spiritual Muhammad SAW yang tetap mengedepankan nilai-nilai religiusitas  dalam setiap transaksi perdagangan yang dilakukannya.

Kedua. Loyalitas, loyalitas Nabi Muhammad SAW tidak perlu diragukan lagi, kesetiaan beliau dalam dakwah,  menyebarkan pesan kenabian "prophetic wisdom" dan menyeru kepada kebaikan mampu menghipnotis umatnya akan dalamnya  kesetiaaan Nabi Muhammad semasa hidupnya. Loyalitasnya kepada umat dengan terus membimbing,  menuntun dan mendidik mereka agar menjadi umat yang berkemajuan adalah bentuk dari kesabaran spiritual beliau demi menggapai cinta dari Tuhannya.

Ketiga. Integritas, Nabi Muhammad SAW memiliki integritas yang tinggi dalam menyeru kepada kemajuan peradaban. Kemajuan peradaban yang di mulai dari revolusi mental masyarakat Arab pada masa itu. Masyarakat Arab yang masih belum bisa "move on" dari sektarianisme, tribalisme dan fanatisme golongan digerakkan Muhammad SAW agar lebih fokus mengembangkan diri dan memajukan iklim perdagangan dimasa itu. Karena itu, pripsip-prinsip Islam seperti, keadilan, kejujuran dan keseimbangan diajarkan Nabi Muhammad kepada Mereka dengan teladan yang baik dan dakwah yang menggugah jiwa.

Keempat. Intelektualitas, Nabi Muhammad SAW adalah pribadi yang cerdas memahami gejala sosial  dalam internal umat Islam pada zamannya. Dan cara berfikir Nabi Muhammad SAW yang kontekstual mampu
membentuk masyarakat madani yang berkarakter hebat. Walaupun demikian, Muhammad SAW tidak lantas
berbuat berdasarkan keinginan pribadi saja, pada saat tertentu para sahabat-sahabatnya juga turut  andil dan berkontribusi dalam setiap permasalahan sosial dan keagamaan yang terjadi. Dari sini kita bisa melihat, betapa kesabaran spiritual Nabi Muhammad SAW sangat dalam, khususnya ketika setiap aspek  "akhlakul karimah" beliau sosialisasikan demi kemajuan peradaban bangsa bangsa Arab nantinya.

Jika kita menilik perjalanan Nabi Muhammad SAW semasa hidupnya, ada beberapa kesabaran spiritual
yang dipraktikkan Nabi Muhammad yang patut kita teladani, Seperti yang terjadi pada pristiwa di thaif,
krikil-krikil  dan batu-batu sengaja dilemparkan oleh orang-orang yang tidak suka dengan dakwah Nabi Muhammad SAW. Tapi beliau tidak sedikitpun terpovokasi dan tetap sabar. Bahkan beliau berdoa, " semoga akan lahir  generasi-generasi "rabbani" dari orang-orang yang membenci dakwah dan ajaran Islam ini". Pada suatu riwayat Nabi muhammad SAW bersabda, " Laitsa assadidu bissharaa'ti, Wa innama Assadidu alladzi yamliku nafsahu inda al-ghadabi". Bukanlah orang yang kuat itu kuat dalam bergulat, berkelahi dan bertarung, tapi orang yang paling kuat adalah orang yang masih bisa mengendalikan dirinya ketika Marah.

Sangat jelas, emosi yang tidak terkendali hanya akan merusak dan menebar "mafsadat" atau kerusakan di dalam intraksi sosial kemasyarakatan. Karena itu, Anjuran-anjuran nabi Mumammad SAW tentang "self-management" sangat banyak. Salahsatunya sabda beliau, " Assabru fi Sadmatil Ula ", Sabar itu ada pada hentaman pertama.

Mengapa sabar itu ada pada hentaman pertama? karena jika kita tidak bersabar saat pertama kali rasa amarah itu memuncak kita akan melakukan tindakan bodoh. Seperti membentak, menghina dan memukul, lalu kita mulai untuk bersabar. Itu bukan sabar namanya tapi menyadari kesalahan.

Beberapa kasus persekusi yang melibatkan oramas intoleran adalah bukti bahwa amarah yang tidak terkendali hanya akan membawa kerusakan. Seorang anak diadili dengan beberapa pukulan karena bagi mereka telah menghina dan melecehkan ulama. Kalau pun benar, tidak etis bagi warga sipil untuk bertindak tanpa payung hukum yang jelas. Seolah-olah Indonesia memakai hukum rimba, yang kuat berkuasa atas yang lemah, yang lemah makin tertindas dan terhina. Seperti tanggapan Presiden Joko Widodo, " Sangat berlawanan dengan asas-asas hukum negara,  jadi perorangan maupun kelompok-kelompok maupun organisasi apa pun tidak boleh main hakim sendiri,  tidak boleh,". Begitulah jokowi geram dengan praktik presekusi yang mencedrai hukum kita.

Adapun bentuk dari Kesabaran spiritual Nabi Muhammad SAW adalah semangat mendidik dan berpikir positif terhadap umatnya. Rasulullah sadar bahwa untuk mengajak orang pada jalan kebaikan, keadilan dan kebenaran tidaklah mudah.
Harus ada usaha maksimal dan semangat "positivisme" yang optimis bahwa segala sesuatu akan berakhir baik jika kita berfikir baik.  Namun, jika pada awalnya saja kita sudah pesimistis bagaimana mungkin harapan kita akan bisa tercapai dan terealisasikan. Kemampuan mendidik Muhammad SAW juga disesuaikan dengan kondisi umat pada zaman itu. Walaupun dalam suatu Riwayat Rasulullah SAW bersabda, " la farqa baina a'jami wal arabia illa bi taqwa " Tidak ada perbedaan antara non-arab dan arabi kecuali dengan ketaqwaan. Tapi tetap. Pada persoalan perbudakan rasulullah tidak memaksa umatnya untuk membebaskan praktik perbudakan karena kondisi sosial belum sanggup untuk merealisasikan " universal value" pada masa itu. Karena itu kita melihat banyak kajian-kajian hukum perbudakan dalam diskursus keislaman sarjana-sarjana Islam klasik masa lalu.

Setelah mengkaji track-record kesabaran spiritual Nabi Muhammad SAW, Saya akan menjelaskan 2 faktor penting yang menunjang Keterikatan seorang hamba kepada Tuhannya:

Pertama, faktor "emotional approach" melalui mekanisme interaksi sosial.

Pendekatan emosional yang baik dalam hidup bermasyarakat akan menciptakan kesabaran spiritual dimana seseorang mampu mencapai derajat "attaqwa abra taqarub" Bertaqwa melalui pendekatan diri kepada dzat yang maha kuasa. Pribadi yang mampu berintraksi sosial secara baik, tanggung jawab dan mengerti kondisi masyarakatnya. Seperti adat istiadat setempat, kultur budaya dan nilai-nilai moral yang terpatri di dalam suatu masyarakat, Dia akan mudah bergaul dan diterima di komunitas tersebut. Jika kita mampu berakhlak baik, menebar kasih sayang dan peduli derita orang lain, akan muncul kebahagiaan dalam diri kita. Inilah sebab yang dapat menjaga suasana hati agar nantinya bisa menjalani laku kesabaran spiritual.

Kedua  , faktor "spiritual approach" melalui mekanisme dzikir dan perenungan.

Setiap agama memiliki cara "spiritual approach" pendekatan spiritual. Karena saya beragama Islam, saya akan menjelaskan bagaimana sebenarnya mekanisme kesabaran spiritual melalui dzikir dan perenungan. Saya pernah menulis tentang " Menaklukkan Alam Material " tulisan sufistik yang bagi saya sangat berkaitan erat dengan tema ini. Dalam ajaran Islam, Dzikir dan "taffakur" perenungan adalah 2 "core value" nilai inti dari perjalanan spiritual seorang muslim. Seorang muslim tidak akan bisa mencapai derajat taqwa tanpa melalui proses dzikir dan perenungan yang maksimal. Itu karena segala hal yang ada di dunia ini bersifat material  dan keduniaan " material oriented" segalanya dikalkulasikan dengan materi dan keuntungan. Karena itu, demi membebaskan diri kita dari jerat belenggu alam ini, sudah waktunya kita merubah mindset kita tentang cara hidup yang baik. Salahsatu ajaran Rasulullah SAW, seorang muslim boleh saja berkerja keras berusaha untuk dunianya, Tapi, jangan pernah sekalipun memposisikan harta benda yang ia miliki di dalam relung hatinya. Jika itu terjadi, sangat sulit bagi Dia untuk mendekat sepenuhnya dengan Allah SWT. Bagaimana mungkin seseorang mampu melakukan dzikir dan perenungan yang berkualitas selama hatinya masih terjerat dan tersandera segala sesuatu yang bersifat material " material oriented". Inilah pendekatan spiritual melalui mekanisme  dzikir dan perenungan.

Pada bagian akhir dari tulisan ini, saya ingin memberikan gagasan tentang mekanisme pembentukan kesabaran spiritual. Ada 2 " core value " nilai inti dalam pembentukan kesabaran spiritual seseorang, diantaranya:

Pertama, Beragama dengan nalar dan hati

Hati adalah sentral dari terwujudnya kedekatan seorang hamba kepada penciptanya. Saya ingin menceritakan sedikit kisah. Ada seorang anak muda yang rajin ibadah, suatu hari Dia pergi salat terawih di masjid yang secara kebetulan melakukan  23 rakaat dengan bacaan yang panjang. Karena menurutnya bacaan imam terlalu panjang, maka anak muda itu pun merasa lelah. pada saat bersamaan, seorang kakek tua salat disampingnya dengan tenang tanpa sedikit pun terlihat lelah, lantas sang pemuda bertanya," Kek, kakek kok tidak tampak lelah kek". Dengan tersenyum Dia berkata, " Coba nak, salatlah dengan hatimu dan tanamkan keikhlasanmu untuk Tuhanmu, jangan kau salat dengan tenagamu. Ingat! salatlah dengan hatimu.

Ada kaitan yang erat antara nalar dan hati. Kemampuan bernalar dengan baik berpotensi menghasilkan sesuatu yang baik pula, lain halnya jika kemampuan bernalar terhadap gejala sosial di masyarakat lemah, Akan muncul makhluk-makhluk yang hobi mengkonsumsi berita hoax yang menumpulkan akal. Inilah mengapa Al-Quran sangat menekankan umat Islam untuk bernalar  " Al-Amru Bi Atta'kul " Perintah dalam menggunakan Akal. Ibn Rusyd seorang filusuf muslim yang populer di dunia barat, Meyakini bahwa penalaran terhadap sesuatu dengan akal tidak akan pernah bertentangan dengan printah wahyu. Karena Akal
yang dimaksimalkan perannya dalam hidup akan dapat membimbing manusia pada kemajuan peradaban yang cemerlang.

sebagai orang beriman, beragama dengan nalar yang baik dan keikhlasan hati yang utuh adalah sebuah kewajiban.  kita hidup di zaman yang dipenuhi dengan "Syubhah" asumsi-asumsi yang dipaksa menjadi fakta. Jika kita lengah, lemah dan enggan menggunakan akal dan hati, sudah dipastikan hidup kita telah usai, kita akan hidup layaknya "zombi" yang tidak berakal, dimanfaatkan orang lain hanya untuk kepentingan dan ambisi mereka sendiri.


Kedua,   Beragama dengan Semangat cinta dan kasih


Islam adalah agama cinta dan kasih. Cinta dan kasih di dalam agama Islam terwujud dalam nilai-nilai moral yang ada di dalam Al-quran. Kita ambil contoh, Di dalam Al-Quran terdapat perintah berdakwah dengan hikmah, kebijaksanaan dan nasehat yang baik. Tidak dengan kekerasan seperti tingkah laku ormas intoleran di negeri ini. Ada juga ayat Al-Quran yang mengatakan, " Barangsiapa yang menyelamatkan satu nyawa,
maka Ia telah menyelamatkan nyawa Umat manusia". Ini bukti bahwa tidak ada ajaran "ekstimisme" yang berpusat pada kehancuran dan kematian  umat manusia di dalam islam. Jika ada aksi terorisme dan ekstimisme yang mengatasnamakan Islam, itu tidak mewakili agama Islam. Karena kesalahan memahami semangat kitab suci bisa menjerumuskan seseorang kepada prilaku yang bertentangan dengan akal sehat dan semangat kemanusiaan. seorang yang beragama dengan semangat cinta kasih selalu berfokus pada pengembangan pribadi dan melihat orang lain sebagai saudara yang harus di ajak berkembang. Terus berusaha untuk berpikir positif dan percaya bahwa setiap manusia tidak ada yang tercipta menjadi penjahat hanya terkadang mereka belum sepenuhnya memiliki jati dirinya, butuh proses untuk menuju kedewasaan berpikir.


Robby Andoyo

COMMENTS

BLOGGER
Nama

Akhlak Islam Artikel Hikmah Artikel Islami Menarik Cerita Renungan Inspiratif Contact ME Exchange Dofollow Links Falsafah Kehidupan Filosofi Kang Robby Ideologi Keberagaman Kajian Islam Modern Kang Robby Kata Mutiara Islam Kata-Kata Hikmah Kitab Klasik Pengembangan Diri Puisi Cinta Terbaru Puisi Inspiratif Puisi Islami Inspiratif Puisi Religi Ulama Klasik
false
ltr
item
Blog Kang Robby: Membentuk Kesabaran Spiritual
Membentuk Kesabaran Spiritual
https://2.bp.blogspot.com/-3eExPKt8yyI/WTRcOrp9tqI/AAAAAAAADwQ/Ff3Xom-xuNgauaqUzVls3IzHagRvvzrjgCLcB/s320/3aaff629278b40ecf2f4de26495f92cc.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-3eExPKt8yyI/WTRcOrp9tqI/AAAAAAAADwQ/Ff3Xom-xuNgauaqUzVls3IzHagRvvzrjgCLcB/s72-c/3aaff629278b40ecf2f4de26495f92cc.jpg
Blog Kang Robby
http://robbie-alca.blogspot.com/2017/06/membentuk-kesabaran-spiritual.html
http://robbie-alca.blogspot.com/
http://robbie-alca.blogspot.com/
http://robbie-alca.blogspot.com/2017/06/membentuk-kesabaran-spiritual.html
true
3328551387479627982
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy