Al-Quran adalah kitab umat Islam, di dalamnya memuat ajaran syariat Universal dan ajaran syariat yang terikat oleh ruang dan waktu. Aj...
Al-Quran adalah kitab umat Islam, di dalamnya memuat ajaran syariat Universal dan ajaran syariat yang terikat oleh ruang dan waktu. Ajaran Islam yang bersifat universal berlaku sepanjang hidup manusia. Sedangkan, ajaran Islam yang terikat oleh kondisi dan masa tertentu harus dikontekstualisasikan agar bisa melebur dalam nilai modernitas dan semangat zaman. Saya pernah menulis artikel berjudul "Perbudakan di Era Modern" ini merupakan ajaran Islam yang berhasil dikontekstualisasikan dengan semangat zaman dan melebur dalam denyut nadi peradaban.
Praktik perbudakan secara formal mungkin sudah tidak ada lagi, tetapi semangat melawan perbudakan tidak akan pernah berhenti sepanjang manusia hidup.
Jadi, orang yang masih percaya bahwa hukum perbudakan pasti akan bangkit kembali; adalah bagian dari manusia yang "mabuk" agama, memiliki semangat keislaman yang tinggi, tapi kurang literasi; untuk tidak mengatakan kurang membaca literatur-literatur modern.
Mari kita ambil contoh. ISIS berupaya untuk menerapkan kembali hukum perbudakan secara brutal dan tidak manusiawi. Seperti menjadikan "qabilah" suku Yazidi sebagai "budak" bahkan para wanita-wanita dari suku Yazidi banyak dipaksa untuk melayani nafsu bejat mereka. Mengapa? Karena mereka menganggap telah menerapkan kembali hukum perbudakan yang sudah lama hilang. Sehingga, perbuatan yang tidak manusiawi, jauh dari kepantasan zaman modern sudah tidak lagi dianggap bertentangan dengan ajaran agama yang mereka anut.
Tentunnya, pemahaman seperti ini tidak berdasar dan sangat tidak sesuai dengan ajaran Islam yang memuliakan manusia, bukan malah merendahkannya dan memperlakukannya secara jahat.
Lantas, bagaimana cara kita memanfaatkan ayat-ayat Al-Quran yang berkaitan tentang hukum perbudakan? Apakah harus ada perbudakan dulu baru kita mengambil manfaat dari nash-nash dan hadis Nabi Muhammad saw?
Inilah tantangan kita; menjadi muslim di era modern. Dimana permasalahan-permasalahan semakin kompleks, malah terkadang untuk menjawab hukum dari persoalan-persoalan kekinian tidak bisa diselesaikan secara singkat; melalui mekanisme langsung terhadap ayat-ayat kitab suci. Tetapi harus dengan penalaran analogis "qiyas" atau dengan metode penalaran rasional lain berbasis wahyu yang terangkum dalam Ilmu Hukum Islam "usul al-fiqh" atau Dasar Ilmu Fikih.
Ayat-ayat tentang perbudakan hendaklah dimaknai sebagai motivasi untuk melakukan perang terhadap segala bentuk perbudakan. Di era modern ini, eksploitasi terhadap para buruh, karyawan dan para pekerja adalah bentuk dari perbudakan di era modern, yang wajib kita tentang sampai kapanpun. Sikap ini adalah manifestasi dari penerapan shariah universal; keadilan, kebebasan dan keseimbangan. Ajaran shariah seperti inilah yang abadi dan selaras dengan suara modernitas dan semangat zaman.
Jika kita mencari titik temu antara Al-Quran dan peradaban. Kita akan menjumpai fakta-fakta yang unik dan menakjubkan. Mulai dari begitu banyak karya tafsir yang ditulis oleh sarjana Islam dari generasi yang berbeda, ada Tafsir Klasik yang banyak menjurus pada corak pemahaman literalis/harfiah, ada juga Tafsir Modern yang memiliki ciri khas: kekinian, kontekstual dan kaya dengan cakrawala pemahaman yang selaras dengan ilmu pengetahuan dan sains.
Misalnya, Tafsir Klasik Imam Al-Qurtuby. Ditulis dengan jumlah halaman yang masif, ada juga Tafsir Fakhruddin ar-razi "Mafatihul ghoib" yang terdiri dari 8 jilid, di dalamnya terdapat praktik ijtihad dan penerapan kaidah bahasa Arab sekaligus kesusastraannya. adapun Tafsir Modern seperti Tafsir Ibn Ashur " Al-Tahrir wa Al-Tanwir". yang bermakna "Pembebasan dan pencerahan". Sebagai Ulama yang memiliki kedalaman pemahaman terhadap literatur-literatur Islam klasik, Ibn Ashur secara total menerapkan pola pikir kritis-reformis dalam Tafsirnya. Ini yang membedakan tafsirnya dengan karya tafsir ulama pada zamannya.
Ada juga Muhammad Asad, masyhur melalui Tafsir "The Messenge" sebuah tafsir yang mempunyai visi intelektualitas yang dalam, tafsir ini mencoba mendudukkan masalah sektarianisme dan isu-isu keagamaan yang kerap terjadi di masyarakat modern. Dalam tafsirnya, Asad tidak melihat kebenaran pada satu sisi saja; melainkan melihatnya dari setiap dimensi yang berbeda dan mencoba mengambil hikmah dari kisah-kisah yang ada di dalam Al-Quran. Dan Asad sendiri menghabiskan waktu tak kurang dari 17 Tahun untuk menyelesaikan Tafsirnya ini.
Walaupun sudah ada ribuan tafsir yang ditulis Sarjana Islam otoritatif, tetap saja sebuah tafsir terhadap text-text kitab suci tidak akan pernah bisa merangkum seluruh cakrawala makna text itu sendiri. Mengapa? Karena akan ada saja hal-hal "elusive" (difficult to find) pada setiap text-text itu. Begitu pula, Tafsir Kitab suci juga sangat terikat oleh zaman dimana Tafsir itu ditulis. Dan kita bisa melihat semacam pendekatan budaya dan metode ilmu pengetahuan tertentu di dalam Tafsir klasik maupun Tafsir Kontemporer.
Begitulah para Sarjana Islam mendedikasikan hidupnya untuk berkutat dalam text-text kuno; mengambil hikmah, pelajaran penting sebagai cikal bakal untuk membangun peradaban.
Demikian pula, Berbagai disiplin Ilmu pengetahuan terlahir dari proses "Taakull" Berfikir, menelaah lebih jauh tentang Alquran dan segala bentuk keajaiban didalamnya. Diantaranya, Ilmu Nahwu (sintaks), Sharaf (morfologi) dan Balaghah (science of Arabic eloquence). Ada juga disiplin ilmu yang tidak dapat dipisahkan dari Al-Quran, karena ia berkaitan erat; memiliki hubungan khas sebagai refrensi primer Ilmu-ilmu tersebut. Contohnya, Ilmu Fiqh dan Usul-Fiqh, Ilmu Teologi, Filsafat dan Tasawwuf.
Berdasarkan fakta ini, dapat kita simpulkan bahwa Alquran tidak saja telah menjadi inspirasi
tunggal dalam terwujudnya ribuan tafsir dalam kurun waktu yang lama, tetapi Alquran secara nyata telah membentuk peradaban Islam yang begitu cemerlang; melahirkan banyak sarjana-sarjana di berbagai disiplin ilmu. Itulah mengapa kita harus menjadikan Al-quran sebagai inspirasi, sumber gagasan, panduan moral etik dan pembuka cakrawala berpikir kita.
Pada saat ini, peradaban manusia semakin maju. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi juga telah membentuk perspektif baru tentang alam dan hakikat kehidupan manusia. Jika kita menjadikan kitab suci sebagai kontrol terhadap sains dan teknologi, bisa dipastikan, akan terjadi diskontinuitas; ketidaksinambungan diantara keduanya.
Mengapa? Karena kitab suci tidak berfokus pada aspek sains; melainkan berfokus pada sisi religiusitas manusia yang terdalam (orientasi keselamatan jiwa di akhirat kelak). Itulah mengapa wilayah agama berbeda dengan sains. Semua itu karena kompleksitas kehidupan manusia pada abad ke-7 tidak serumit kehidupan pada abad ini. Walaupun text ayat suci Al-Quran bersfat abadi, tapi beberapa ajaran di dalamnya sangat terikat oleh ruang dan waktu tertentu; yaitu pada masa diturunkannya kitab suci.
atas dasar itu, para ulama bahu-membahu mencari seluk-beluk "asbabun nujul" Sebab turunnya ayat, agar ayat suci bisa dipahami secara komprehensif dan sesuai konteks pada zamannya.
Mari kita ambil contoh, Pada abad ke-7 belum ada teknologi "artificial intelligence" Kecerdasan buatan. Oleh sebab itu, Al-Quran tidak memuat ajaran tentang masalah ini. Dan diskursus ulama klasik terhadap persoalan ini juga tidak pernah ada. Jadi, inilah yang saya maksud dengan wilayah sains sangat berbeda dengan doktrin apapun dalam kitab suci. Berkaitan tentang sains, prinsip Islam sangat jelas; yaitu, selama penjelajahan teknologi memberikan sumbangsih dan manfaat bagi manusia, selama itu pula ia diperkenankan dan harus didukung. Hal ini berlaku terhadap segala bentuk dari penyingkapan sains mutakhir seperti, eksplorasi planet lain sebagai tempat tinggal dan rumah baru bagi manusia nanti. Dalam doktrin keagamaan Islam, semua ciptaan bersumber dari sang pencipta.
Maka, penjelajahan luar angkasa demi mencari planet baru yang layak huni tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Justru kemajuan berpikir seperti ini merupakan manifestasi dari ajaran Islam Universal; Keseimbangan alam semesta serta menjaga keberlangsungan hidup ras manusia di planet lain.
Sebagai penutup dari Tulisan ini, Saya yakin bahwa setiap peradaban besar yang ada di dunia ini, bersumber pada sesuatu yang luar biasa: Text-text kuno para filsuf dan karya-karya literatur klasik sang pemahat peradaban seperti Socrates, Plato, aristoteles. Disisi lain, Filsuf Muslim juga memberikan sumbangsih yang besar bagi peradaban modern. Ibn Sina, Ibn Rusyd dan lain sebagainya. Sebagai manusia yang hidup di era modern, tentunya tantangan kita semakin besar dan luar biasa berat; yaitu bagaimana kita bisa menjadi bagian dari pencipta sejarah bukan malah terjerumus dalam kejumudan berpikir, ketakutan melangkah maju kedepan dan tidak sanggup untuk terlibat pada pengembangan di ranah sains dan teknologi.
Jika kita hanya berpangkutangan, mudah menyerah, pesimistis dan cenderung memiliki mentalitas yang lemah dan tidak konsisten. Bersiaplah kita akan menjadi manusia yang tertindas, terbelakang dan masuk dalam kelompok yang dikenal dengan sampah peradaban.
Semoga bermanfaat
Robby Andoyo