Era Digital adalah alam bebas berbasis kemajuan teknologi yang terus bergerak dan berubah. Bahkan, Kehadiran internet yang sudah kita ni...
Era Digital adalah alam bebas berbasis kemajuan teknologi yang terus bergerak dan berubah.
Bahkan, Kehadiran internet yang sudah kita nikmati saat ini, telah banyak merubah pola
intraksi sosial di antara kita. Dahulu, mungkin sumber informasi primer kita adalah koran.
Tapi itu tidak berlaku lagi sekarang. Karena kecepatan informasi di era digital ini begitu
menakjubkan. Hal ini terwujud dalam media baru berbasis internet yang menyediakan berita-berita
aktual, tajam dan terpercaya. Detik.com, kompas.com adalah dua media online yang memiliki pengunjung ribuan bahkan jutaan dengan page view yang tak terhingga.
Demikian pula, internet yang merupakan "core value" Nilai inti dari segala kemajuan di era digital,
membuat dunia ini telah banyak berubah. Beberapa tahun yang lalu, sumber informasi berbasis video
hanya bisa kita jumpai dalam program-program Televisi. Tapi sekarang, ada Youtube. Yang bukan hanya memuat berbagaimacam informasi terkini, Tapi Platform ini mampu memberikan fitur-fitur yang menarik dan sesuai dengan semangat zaman modern. Misalnya, fitur Live yang disediakan Youtube begitu populer bagi generasi millenial saat ini.
Sebagai orang yang beriman, kita harus mempunyai panduan/tata cara 'bergaul' di era digital seperti
sekarang ini. Mengapa? Karena ketika zaman berubah, kita juga harus bisa merubah pola bernalar kita. Jangan sampai kita hidup di abad ke-21 tapi pemikiran kita layaknya manusia pada abad ke-7. Bahkan, boleh jadi lebih primitif lagi. Tulisan ini sedikit banyak akan memberikan tata cara berislam di era digital.
Pertama, Berislam dengan cerdas, penuh kehati-hatian.
Menjadi muslim tidak hanya cukup dengan menjalani segala macam ibadah ritual saja. Tapi kita juga
dituntut untuk lebih cerdas dalam bersikap dan hati-hati dalam menyikapi setiap persoalan disekitar kita. Beberapa abad yang lalu, mungkin sangat sulit bagi suatu aib yang dilakukan seseorang untuk diketahui orang lain, Mengapa? Karena pada saat itu manusia masih 'buta' teknologi. Tapi saat ini, suatu aib begitu mudah tersebar dan menjadi "viral" booming di tengah-tengah masyarakat.
Seperti "Hot Issue" Berita panas terbaru yang berkaitan dengan kasus "video sex" sejoli yang berasal
dari Universitas Indonesia dengan inisial HA. Bisa dipastikan kedua sejoli yang terekam dalam adegan syur itu pasti menyesali perbuatannya. Tapi apalah daya, penyesalan pasti datang terlambat. Terkadang akal "blank" ketika harus menghadapi hasrat keduniawian. Jika hal itu terjadi, hidup kita pasti tidak bahagia. Kenikmatan semu mungkin pada awalnya sangat membahagiakan, tetapi ketika kita sudah tersadar, barulah kenikmatan itu menjadi penyesalan yang sangat menyakitkan.
Artinya, kita harus senantiasa waspada dalam hidup ini. Berislam harus cerdas dalam segala hal, dan
lebih berhati-hati terhadap segala perkara maksiat yang ada di lingkungan kita. Jangan karena merasa
tidak ada orang yang tahu kita merasa perlu mengabadikan perbuatan-perbuatan yang tidak pantas; maksiat. Orang Islam boleh saja percaya bahwa setiap perbuatan yang dilakukannya pasti dicatat oleh kedua malaikat rakib dan a'tid. Tapi di era digital dan dunia internet. Setiap perbuatan seseorang yang diabadikan melalui 'jepretan kamera' dan video setelah itu di "upload" unggah di Internet, akan tersimpan 'abadi' dan tidak akan hilang sampai ada yang menghapusnya. Walaupun demikian, jejak dan rekaman digital yang sudah "viral" di internet bisa dengan mudah deteksi apalagi 'rekaman' itu berpotensi menghebohkan netizen.
Karena itulah, berinternetlah secara positif, jangan pernah mengabadikan momen-momen terburukmu di dunia internet. Maka, kelak engkau akan menyesali setiap unggahanmu yang tidak mendidik dan tidak berguna itu.
"Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya"
Banyak hal-hal positif yang bisa kita perbuat di era digital saat ini. Salah satunya adalah, dengan
membuat platform baru, baik itu berupa website yang mengupas tuntas permasalahan-permasalahan sosial beserta solusinya, atau membuat aplikasi android yang bermanfaat bagi orang lain. Misalnya, software "ngaji", ceramah agama, maktabah syamila dan lain sebagainya. Dengan demikian, kita bisa menjadi pribadi yang bukan hanya memiliki kesalehan pribadi saja, tapi juga peduli terhadap gejala-gejala sosial yang kerap hadir dalam hidup kita.
Dalam hal aktif di era digital, kita juga harus berhati-hati dengan isu yang bermuatan SARA. Bukan hanya mengupas tuntas secara sepihak permasalahan SARA bisa merenggangkan solidaritas kemanusiaan, tapi juga dapat membuat seorang harus mendekam di penjara. Banyaknya kasus 'penistaan agama' adalah bukti konkrit mengapa kita harus mawasdiri terhadap persoalan SARA ini. Banyak orang yang memiliki semangat keislaman tinggi tapi minim literasi, emosional, "ngamukan" dan "sumbu pendek".
Misalnya, Kasus yang menimpa salah seorang yang berafiliasi dengan partai politik yang kerap mengidentikkan diri dengan Islam. Fajar agustanto. Menurut media-media masa mainstream, Fajar Agustanto adalah pendiri portal berita suaranews yang sudah "tercyduk" dan ditetapkan menjadi tersangka oleh kepolisian. Inilah salah satu contoh orang yang tidak sepenuhnya berhati-hati dalam menyampaikan informasi melalui portal berita di internet.
Kedua, Berislam dengan ketawadhuan
Tawadhu' bisa dimaknai sebagai sikap tidak sombong, tidak berbangga diri dan tidak angkuh terhadap orang lain. Orang yang bisa hidup dalam ketawadhu'an adalah orang yang sudah memahami dirinya sendiri. Mengapa?
Karena semakin tawadhu' seseorang, ia akan menginspirasi orang-orang disekitarnya. Sarjana-sarjana
Islam di masa lalu sarat dengan sikap tawadhu' di dalam hidupnya. Apalagi terhadap orang yang dianggap memiliki pemahaman agama yang luas, orang-orang di masa lalu berduyun-duyun mendatangi orang tersebut, dan belajar tentang Islam yang damai, 'rahmatan lil alamin'.
Hal ini sangat kontras dengan cara berislam kita di era digital. Beberapa abad yang lalu, Fatwa ulama
hanya bisa disampaikan melalui "face to face" tatap muka dan menghadiri kajian keislaman ulama. tapi di era digital saat ini, fatwa tidak lagi harus dibatasi dengan jarak dan tempat. Dengan kemajuan teknologi, seseorang bisa bertanya tentang permasalahan agama kepada ulama-ulama otoritatif yang ada diberbagai belahan dunia. Apakah pola intraksi seperti ini tepat? Tentu, jawabannya harus berdasarkan bukti-bukti yang valid dan mudah dipahami.
Menurut saya, kita tidak bisa sesuka hati meminta seseorang untuk berfatwa atas masalah yang kita alami. Apalagi ulama yang kita minta berfatwa itu bukanlah ulama yang hidup di masyarakat kita. Misalnya, seseorang meminta fatwa atas boleh tidaknya memilih pemimpin non muslim dalam kontestasi politik di indonesia. Tentu yang lebih memahami persoalan adalah ulama-ulama di Negara Indonesia, bukan ulama Islam yang hidup di negara lain.
Sebagai penutup. Kita manusia tidak bisa menghindar dari jejak atau rekaman di era digital. Saya yakin zaman sekarang sangat sulit mendapatkan orang yang tidak menggunakan media sosial. Facebook, Youtube, twitter, Instagram, Telegram dan lain sebagainya. Adapun konsekuensi dari aktif menggunakan platform- platform media digital ini, jejak hidup kita akan abadi di dalam internet. Misalnya, walaupun kita sudah menghapus account Facebook yang kita miliki, itu tidak lantas menghilangkan jejak/rekaman kita di Internet.
Karena kita diperbolehkan untuk menghidupkan kembali account Facebook kita. Intinya apa? Tidak ada jejak yang hilang di Internet walaupun kita telah menghapusnya.
Jika kita mencoba memberi tamsil nyata. Segala hal yang kita unggah di Internet Ibarat diary dan catatan hidup kita. Diary yang berbentuk kertas/buku bisa kapanpun rusak. Tapi diary online yang sudah berintegrasi dengan Internet. Seperti facebok mustahil bisa rusak apalagi hancur. Atas dasar inilah kita harus menggunakan internet secara positif dan tidak semena-mena. Dalam hidup ini, segala sesuatu memiliki aturan yang harus diikuti.
Jika kita mengabaikan aturan-aturan yang sudah ditetapkan, bisa dipastikan kita akan menyesal seumur hidup kita. Sebagaimana orang yang telah mengabadikan momen private dalam bentuk "videosex" tentu setelah video itu tersebar, hidup yang mereka jalani akan semakin sulit dan butuh waktu lama untuk masyarakat bisa melupakannya.
Semoga bermanfaat
Robby Andoyo