Islam dan Amanat Kekuasaan

Islam memandang kekuasaan sebagai amanat yang harus ditunaikan dengan penuh integritas. Setiap pemimpin yang diberi mandat untuk memega...



Islam memandang kekuasaan sebagai amanat yang harus ditunaikan dengan penuh integritas.
Setiap pemimpin yang diberi mandat untuk memegang kendali kekuasaan harus komitmen
dalam mewujudkan keadilan bagi segenap rakyatnya. Tidak ada istilah "berat-sebelah",
orang-orang lemah ditindas, tapi orang-orang kuat dan dekat dengan penguasa dibela
walaupun telah terbukti melakukan tindakan yang melanggar hukum. Sikap "berat-sebelah"
inilah sebenarnya yang merusak tatanan sosial di dalam suatu Negara. Negara dengan sistem apapun, jika kekuasaan sudah menjadi "tool" alat untuk menekan orang-orang lemah, maka kita akan melihat suatu Negara yang "keropos" dari dalam, stabilitas keamanan yang terancam dan tidak kondusif.

Pada akhirnya orang-orang lemah yang tertindas ini akan bergerak, membela diri dan berjuang menuntut keadilan. Jika cara mereka sesuai dengan hukum yang berlaku; tidak berjuang dengan kekerasan, itu adalah pilihan jalan perjuangan yang benar. Tetapi, jika mereka meniti jalan kekerasan, merusak tatanan sosial di masyarakat;  menghancurkan fasilitas umum, bahkan melakukan aksi anarkis dan pemberontakan terhadap pemerintah yang sah; hal ini sangat tidak diperkenankan dan harus dihindari.

Dalam hal  amanat kekuasaan, Al-Quran mengungkapnya pada Surah An-Nissa
Ayat 58-59 yang terjemahannya sebagai berikut:

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya,  dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu  menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu.  Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.(4: 58)


Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya),  dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu,  maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya),  jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.  Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.(4: 59)

Kedua ayat diatas berkaitan dengan situasi politik yang ada di Madinah saat itu. Inilah fondasi
penting dan cikal bakal terwujudnya masyarakat agamis "mujtama' Islami" pada masa kenabian. Adapun prinsip yang dapat kita ambil dari kedua ayat tersebut; adalah pertama: Kekuasaan adalah amanat yang harus ditunaikan. Kedua: Keadilan harus diteggakkan dalam kondisi apapun. Kita akan membahas lebih dulu prihal Kekuasaan adalah amanat. Bagi seorang muslim "mindset" kekuasaan adalah amanat akan senantiasa tertanam dalam jiwanya, doktrin Islam sendiri mengatakan, setiap hal yang dimiliki seseorang didunia ini akan dipertanggungjwabkan diakhirat nanti.

Allah swt berfirman,

"Wa LaTaqfu Ma Laysa Laka Bihi `Ilmun 'Inna As-Sam`a Wa Al-Basara
Wa Al-Fu'uada Kullu 'ulaika Kana `Anhu Masulan
"

Artinya:

Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui, karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggung jawabannya. 
(QS 17 Al Isra' ayat 36) 

Sangat jelas, dalam kondisi apapun seorang muslim akan mawas diri; tidak terperdaya nafsu jabatan dan terkikis imannya oleh syahwat kekuasaan. Karena bagi orang beriman, ia percaya segala perbuatan yang dilakukannya akan mendapat balasan pada hari pembalasan.

Lantas, Siapa yang mengamanatkan? Apakah kita menjalankan amanat Tuhan saja, yang terangkum dalam kitab suci; atau Amanat dari manusia juga wajib kita laksanakan?

Dalam hal ini, kita bisa memaknai frasa "amanat" secara dualisme; yaitu amanat dari Tuhan dan dari rakyat. Amanat dari Tuhan berupa ajaran-ajaran universal untuk kebaikan manusia di bumi ini, sedangkan amanat dari manusia adalah hasil dari intraksi sosial di dalam masyarakat. Dengan kata lain, amanat dari Tuhan bersifat primer, amanat dari rakyat bersifat sekunder. Keduanya memiliki hubungan yang tidak bisa dipisahkan; sebagai kesatuan yang harus ditunaikan dengan penuh integritas.

Demikian pula, Frasa "ulil amri minkum" menurut Muhammad Asad, seorang Mufassir kontemporer, dimaknai sebagai "those who have been entrusted with authority" Orang-orang dari kalangan kalian yang mendapatkan amanat kekuasaan. "authority" yang diterjemahkan dengan amanat kekuasaan sangat menarik. Menurut Asad, memilih pemimpin Negara berdasarkan agamanya sangat diperioritaskan. Negara Mayoritas muslim lebih utama dipimpin seorang muslim. Hal ini berlaku terhadap bangsa-bangsa lain di Negara tertentu yang Islam tidak menjadi agama mayoritas.

Karena pada dasarnya, seorang pemimpin Negara tidak hanya menjadi teladan bagi rakyat saja, tetapi Ia juga harus memahami kondisi keagamaan setiap rakyatnya.

Pada Zaman sekarang banyak terjadi "politisasi" atas ayat kitab suci yang tidak sesuai dengan tempatnya.  Misalnya, kewajiban untuk taat kepada Pemimpin dimaknai sebagai keharusan untuk patuh secara total, tanpa ada semacam keharusan untuk tetap kritis terhadap pemimpin; pemerintah. Padahal, sikap kritis yang konstuktif sangat diperlukan demi terwujudnya keseimbangan dalam tatanan hidup bernegara.

Thomas Jefferson pernah mengatakan,

"Ketika Pemerintah takut pada Rakyat, disana ada Kebebasan.
Ketika Rakyat takut pada Pemerintah, disana ada Tirani."

Dalam ayat ini juga, Ketaatan kepada Pemimpin "ulil amri" diikat dengan sesuatu kondisi atau syarat tertentu. Para prinsipnya, ketika syarat-syarat itu terpenuhi, pemimpin itu baru layak untuk dipatuhi. Tentunya, syarat-syarat itu bersifat universal; mencakup sejauh mana pemimpin itu bisa menghadirkan keadilan dan kesejahteraan pada rakyatnya.

Bukan syarat-syarat yang cenderung eksklusif untuk kalangan mayoritas saja. Apalagi hanya untuk kepentingan satu golongan. Karena itu, tidak semua aspirasi rakyat harus disalurkan dan dipenuhi oleh pemimpin, ada saatnya pemimpin harus tegas. Misalnya, terhadap aspirasi-asirasi yang memicu terjadinya konfik horizontal dan sikap intoleransi. Aspirasi seperti ini tidak masuk dalam syarat-syarat yang wajib dipenuhi walaupun mereka melakukan aksi berjilid-jilid dengan membawa-bawa simbol agama.

Demikian pula, Islam tidak memandang prinsip "rule of ruler" Aturan penguasa. Tetapi yang menjadi prinsip dasar Negara dalam Islam itu "rule of law" aturan hukum. Aturan hukum inilah yang dikaji secara komprehensif oleh sarjana Islam klasik, hingga para sarjana Islam di era modern. Kita akan menjumpai berbagai literatur-literatur tentang aturan hukum yang terus dikembangkan; mulai dari aturan hukum pidana, moral etik sampai hukum tata negara. Dengan ini dapat kita simpulkan, bahwa Islam tidak memandang "person" Seseorang dalam hal kepemimpinannya, tapi Islam melihat sejauh mana Pemimpin itu tunduk dan patuh terhadap hukum yang ada. Atas dasar ini, "anarchy" pemberontakan, sikap brutal dan kudeta terhadap pemimpin secara brutal tidak diperkenankan dalam Islam. Hal ini memicu terjadinya kerusakan yang lebih besar.

Sebagai penutup dari tulisan ini, Mari kita menjadi muslim yang cerdas dan beakhlak baik.
Pada zaman sekarang banyak orang yang mabuk "agama". Sangat berbeda orang yang menanamkan nilai religiusitas kedalam jiwanya, dengan orang-orang yang hanya menjadikan "simbol agama" menjadi tujuannya. Orang yang tidak paham tujuan beragama cenderung melihat formalitas ajaran agama sebagai sesuatu kewajiban.

Seperti pada zaman sekarang, banyak orang-orang yang menganggap hidup di Negara Demokrasi adalah suatu kesalahan. Bahkan bagi mereka ini adalah bentuk dari kesesatan. Padahal, Cinta kepada tanah air adalah bagian dari iman itu sendiri. Dengan mencintai tanah air, kita memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi. Dengan begitu kita akan bersemangat untuk menjaga keutuhan negara ini sepenuh hati. Hanya dengan sikap cinta tanah air kita akan bebas menghirup udara pagi, mendengar kicauan burung yang merdu dan kita juga leluasa menjalankan ritual ibadah kita. Karena pentingnya nasionalisme ini, Hadrasus Syech Hasyim Asy'ari senantiasa menggaungkan doktrin Islam tentang cinta tanah air:

"Hubbul Watani Minal Iman" Cinta tanah air adalah bagian dari Iman.

Coba bayangkan, Negara-negara yang masih dalam kondisi keamanan yang tidak stabil.
Seperti Suriah, Afganistan, Irak dlsb. Apa yang mereka cari dengan saling "gontok-gontokan" berperang memelawan keegoisan masing-masing, selain kehancuran yang membuat semua elemen-elemen di masyarakat itu menderita.

Bagi kalangan Jihadis, mereka menganggap pemerintah dalam sistem Negara Demokrasi sebagai "thaghut". karena tidak menerapkan hukum syariat sebagai hukum Negara. Hal ini bermula dari tafsir quran modern  yang dipopulerkan oleh sayyid Qutb. Padahal, Mufasir Modern Seperti Muhammad Asad, memaknai "thaghut"  sebagai (the powers of evil) "kuasa-kuasa jahat". Dengan demikian, sangat tidak tepat menyebut pemimpin di negara demokrasi dengan "thaghut". Karena pada dasarnya, yang dikritik Al-Quran adalah prilaku korup dalam peradilan.

Hal seperti inilah yang dimaknai dengan "thaghut". Menyimpang dari jalan keadilan. Misalnya, hakim-hakim korup yang berbuat semena-mena, menerima suap dan berlaku tidak adil.

Begitu pula, konsep jihad dizaman dulu dan sekarang sudah berbeda. Jika pada zaman dulu, angkat senjata dan memerangi musuh adalah jihad terbesar. Hal ini bisa dipahami karena negara yang dijajah pasti menderita. Pada zaman sekarang, kita tidak lagi harus berperang angkat senjata. Setiap Negara memiliki batas wilayah "territory" yang harus dihargai oleh bangsa lain. Karena itu, mari kita menjaga amanat Tuhan, menjaga bumi dari kerusakan dan kehancuran. Adapun cara terbaik untuk menggapai itu semua adalah dengan menyadari bahwa kita hadir di dunia ini bukan untuk menunggu kematian. Tapi menjadikan bumi tempat terbaik bagi manusia dan semua makhluk Allah swt.

Semoga Bermanfaat

Robby Andoyo 

COMMENTS

BLOGGER
Nama

Akhlak Islam Artikel Hikmah Artikel Islami Menarik Cerita Renungan Inspiratif Contact ME Exchange Dofollow Links Falsafah Kehidupan Filosofi Kang Robby Ideologi Keberagaman Kajian Islam Modern Kang Robby Kata Mutiara Islam Kata-Kata Hikmah Kitab Klasik Pengembangan Diri Puisi Cinta Terbaru Puisi Inspiratif Puisi Islami Inspiratif Puisi Religi Ulama Klasik
false
ltr
item
Blog Kang Robby: Islam dan Amanat Kekuasaan
Islam dan Amanat Kekuasaan
https://1.bp.blogspot.com/-gUp-DZXXj3o/WdfXgcCWo0I/AAAAAAAAD8M/AxFeDGFAlDs5tVC7SyheTzKEn2NKUMbZACLcBGAs/s320/wallpaper-282.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-gUp-DZXXj3o/WdfXgcCWo0I/AAAAAAAAD8M/AxFeDGFAlDs5tVC7SyheTzKEn2NKUMbZACLcBGAs/s72-c/wallpaper-282.jpg
Blog Kang Robby
http://robbie-alca.blogspot.com/2017/10/islam-dan-amanat-kekuasaan.html
http://robbie-alca.blogspot.com/
http://robbie-alca.blogspot.com/
http://robbie-alca.blogspot.com/2017/10/islam-dan-amanat-kekuasaan.html
true
3328551387479627982
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy