Media sosial adalah rumah baru bagi generasi zaman now. Kita saat ini mau tidak mau, harus menerima dengan lapang dada bahwa hidup ya...
Media sosial adalah rumah baru bagi generasi zaman now. Kita saat ini mau tidak mau,
harus menerima dengan lapang dada bahwa hidup yang kita jalani sudah cukup banyak
berubah. Banyak orang mungkin tidak menyadari hal ini. Media sosial yang dahulu
hanya menjadi "selingan" hidup. Tapi tidak saat ini. Media sosial bisa dikatakan,
telah bertransformasi menjadi "jiwa" dalam intraksi sosial kita sehari-hari.
Kehadiran "raksasa internet" Google dan Facebook banyak merubah pola pergaulan
mainstream menjadi lebih terbuka dan sangat bebas. Tapi, kita harus sadar,
ketika hendak bermedia sosial, kita tidak bisa lepas dari etika dan akhlak.
dalam hal apapun. Adab, akhlak dan etika harus lebih diperioritaskan daripada
sikap emosional dan keegoisan diri sendiri. Karena itu, pada tulisan kali ini,
Saya akan membahas sedikit bagaimana cara kita untuk bisa bersikap cerdas di media sosial.
Malam tadi dalam acara ILC (Indonesia Lawyers Club) yang mengangat tema 212 Perlukah reuni?
Menghadirkan sejumlah narasumber yang kontroversial. Adanya sosok seperti Abu janda, Denny
Siregar, Felix Siaw menjadikan dialog malam tadi semakin membuat para pemirsa TV ONE tidak
bisa lepas dari layar kaca. Baik itu Abu Janda, Denny Siregar dan Felix Siaw. Mereka semua
bisa dikatakan "pejuang medsos masa kini" walaupun dalam setiap aksi perjuangannya, mereka
tentu memiliki perbedaan yang signifikan. Abu Janda yang populer dengan "parodi-parodi nakal".
Bagi yang "baper" mungkin sangat mungkin menuduh Abu Janda sudah keluar dari agamanya. Sosok
Abu Janda mungkin kontroversial bagi sebagian kalangan, tapi kita harus jujur bahwa dia
adalah salah satu dari sekian orang yang berani secara terang-terangan "Memblender" Nalar
manusia yang menjadikan ayat kitab suci sebagai pembenar dalam sebuah aksi terorisme.
Denny Siregar berbeda. Sebagai pengagum Imam Ali ia adalah pribadi yang hidup dalam kata-kata.
Sejumlah tulisannya di media sosial banyak diminati orang. Walaupun ada sebagian kalangan
yang menganggap tulisan-tulisan bang Denny terkesan "berat sebelah" khususnya ketika ia
menganalisa berbagai langkah politik Presiden Joko Widodo. Terlepas dari itu, sebagai
pegiat media sosial ia menyadari bahwa tidak semua orang menyukai dirinya. Itu tidak
masalah. Yang menjadi masalah adalah; saat persekusi dijadikan solusi dalam "menggebuk"
setiap perbedaan yang terjadi.
Felix siaw termasuk pegiat media sosial yang memiliki basis masa facebook yang cukup banyak.
terbukti dengan 4 juta followersnya dan intraksi dalam kolom komentar yang masif semakin
membuat Ustad Felix siaw populer di masyarakat. Saya masih ingat bagaimana sosok ustad
yang satu ini pernah mempopulerkan bahwa Foto Selfie itu haram;karena bisa menyebabkan
seseorang menjadi ria' dan takabbur. Bagi saya tidak ada yang salah jika ustad felix
berpendapat seperti itu. Tapi pendapat semacam itu tidak bisa diumbar di ruang publik.
Mengapa? Terbukti setelah beredarnya "selfie itu haram" bermacam-macam "meme" dan tulisan-
tulisan yang menyerang pribadi ustad felix siaw semakin banyak. Menurut saya, sikap ini
tidak baik. Alangkah baiknya jika apa yang difatwakan tidak menimbulkan kegaduhan dan
menjamurnya bermacam-macam persepsi di masyarakat.
Demikian pula, Ustad Felix Siaw bisa dikatakan bagian dari organisasi HTI yang sudah
dilarang pemerintah melalui Perppu Ormas. HTI mungkin secara formal, sudah berhenti
beroprasi. Tapi orang-orang yang sudah terlanjur menyelami lautan Ideologi ini masih banyak.
Walaupun banyak tokoh-tokoh dan cendikiawan Muslim yang menyerang Konsep Negara Khilafah.
Hal itu tidak membuat para pendukung ideologi khilafah menyerah dan merasa kalah.
Saya tidak akan larut dalam perdebatan soal khilafah. Biarlah itu menjadi pembahasan
lain dari tulisan-tulisan saya selanjutnya.
Kembali pada Acara Malam tadi, secara menyeluruh perdebatan yang terjadi pada acara itu
masih dalam tahap yang normal. Denny siregar yang biasanya "garang", penuh dengan ide
saat acara malam tadi tidak terlalu banyak berargumen. Bahkan dalam postingannya di Facebook.
berkenaan dengan acara ILC malam tadi, ia seperti orang yang sedang berpresentasi saja.
Karena itu, banyak kalangan khususnya mereka yang tidak menyukai model tulisan denny,
malam tadi bukti bahwa seorang denny siregar tidak ada apa-apanya. Benarkah demikian?
Tidak. Bagi Saya menang kalah dalam perdebatan itu relatif.
Seperti halnya para pemuja Ideologi Khilafah yang diserang begitu masif tapi tetap teguh
dalam pendirian mereka. Begitulah iklim setiap perdebatan. Menang dan kalah tidak
menjadi persoalan. Yang terpenting bagaimana cara kita menyikapi perdebatan yang sudah usai.
Inilah yang sangat disayangkan, berbagai macam tuduhan yang kejam disematkan kepada orang-orang yang tidak menyetujui sebuah gagasan. Kita boleh berbeda tapi ketika perbedaan itu mengarah
pada "penistaan" terhadap pribadi seseorang, haruslah sama-sama kita hindari.
Inilah yang saya maksud dengan cerdas bermedia sosial. Kita harus bisa menempatkan diri sebagai orang yang masih bernalar dengan benar. Nalar yang baik akan memproduksi adab dan akhlak yang mulia. Misalnya, Dengan menyadari bahwa kita sama-sama umat beragama. Orang beragama memiliki panduan hidup. Dan saya yakin tidak ada ajaran agama yang melihat manusia lain bagaikan iblis yang menyesatkan. Kecuali, orang-orang dalam kalangan tertentu yang terbukti telah melakukan kerusakan dan meresahkan masyarakat luas: Seperti aksi-aksi terorisme terhadap siapa saja, atas nama apa saja dan dilakukan oleh orang dengan jubah agama apa saja.
Sebagai penutup, Mari kita cerdas bermedia sosial. Tulisan ini hanyalah "makanan ringan"
sebagai wujud dari keikutsertaan saya dalam mengamati realitas yang terjadi di dunia media sosial
baru-baru ini. Saya tidak habis pikir banyak kalangan yang belum bisa menjaga lisan: berkata kasar,
merendahkan orang lain dan menghina secara membabi buta. Kita boleh tidak menyetujui pendapat
seseorang. Tapi kita tidak berhak menista orang-orang yang memiliki pandangan yang berbeda
dengan diri kita sendiri. Itulah kehidupan. Perbedaan pandangan politik, ideologi, keagamaan
adalah sebuah keniscayaan. Tapi yang perlu menjadi catatan. Jika salah satu perbedaan itu bisa
merugikan orang lain. Atau bahkan bisa mengancam kerukunan dalam suatu negara. Perbedaan itu
harus dilawan dengan cara yang bijak. Bukan dengan cara yang kasar dan tidak beradab.
Semoga Bermanfaat
Robby Andoyo