Persekusi yang dimaknai sebagai " Sikap pemburuan disertai aksi main hakim sendiri terhadap seseorang yang dianggap telah melakuka...
Persekusi yang dimaknai sebagai " Sikap pemburuan disertai aksi main hakim sendiri terhadap
seseorang yang dianggap telah melakukan perbuatan yang tidak pantas; baik itu dengan menghina
pribadi seseorang atau kelompok mayoritas tertentu". Tulisan ini hanya sebuah aspirasi
dan bentuk solidaritas Netizen Zaman Now yang saat ini tengah banyak membicarakan sikap
kontroversial sebagian kelompok/organisasi di Bali atas aksi demontrasi yang mereka lakukan
terhadap Penceramah Kondang asal Riau Ustadz Abdul Somad.
Setidaknya ada Tiga Blok Pendapat mengenai "seruan pencekalan"
Ustad Abdul Somad di Bali baru-baru ini.
Blok Pertama: Mereka menganggap Aksi pencekalan itu merupakan persekusi
terhadap Ulama. Bagi kelompok ini, Pemerintah harus turut andil dalam
menertibkan ormas-ormas yang menginisiasi aksi semacam ini.
Blok Kedua: Mereka tidak menganggap aksi demontrasi yang dilakukan salah satu
ormas di Bali sebagai Persekusi, melainkan ini adalah bentuk dari "suara keadilan".
Artinya, Jika sebuah aksi pencekalan dilakukan tanpa ada kontak fisik; tidak layak
sebuah aksi dinilai sebagai persekusi.
Blok Ketiga: Mereka tidak serta merta menganggap seruan pencekalan terhadap Ustadz
Abdul Somad di Bali sebagai persekusi, tapi juga tidak menyutujui sebagian kelompok
yang mengambil momentum ini untuk menghajar/memberi pelajaran terhadap seorang yang
divonis dan diasumsikan sebagai pendukung khilafah, anti-keragaman dan kebinekaan.
Jika kita mengamati pendapat blok pertama secara seksama, kita akan melihat adanya
semacam "pemujaan abadi" terhadap sosok dalam hal ini Ustadz Abdul Somad. Bagi komunitas
pengagum berat Sang Ustadz, tentu membela secara total/habis-habisan adalah harga mati.
Bagi komunitas ini, sang ustad tidak pernah salah, hanya terkadang orang-orang sekuler,
liberal yang selalu mencari perkara dan merendahkan Ustad yang kami cintai ini.
Mari kita ambil contoh, beberapa waktu lalu, ketika beredar video ustadz Abdul Somad
yang dianggap telah menghina Seorang artis dengan sebutan Pesek, jelek, buruk itu.
Seorang intelektual muda NU Zuhairi Misrawi menulis status,
"Somad itu adik kelas saya di Al-Azhar. Ilmunya biasa-biasa saja. Tidak istimewa. Kelebihannya cuma bisa melucu. Kalau soal keilmuan, masih banyak alumni Al-Azhar yang pinter, arif, dan tidak ngelunjak." unggah Zuhairi melalui akun fesbuknya pada Selasa, (21/11/17).
Kemudian Zuhairi Misrawi men-tag beberapa nama alumni mesir yang bagi dia sangat potensial dalam berdakwah. Setelah saya amati, dari beberapa komentar yang ada; masih banyak orang yang belum bisa menjaga lisan.
Berbagai macam sebutan yang menjurus pada penghinaan individu begitu mudah terucap,
dari lisan-lisan yang mengaku sebagai orang beriman. "sesat, liberal, sekuler"
adalah salah satu contoh. Jika hal ini diteruskan, tentu akan menimbulkan tingkat
sektarian yang tinggi di masyarakat. Orang yang dituduh "sesat, liberal, sekuler dlsb".
Tentu tidak akan terima. Maka solusi yang tepat dalam mengutarakan sebuah sanggahan
terhadap sebuah pendapat adalah dengan bantahan solutif dan tidak terkesan emosional.
Itulah yang Islam ajarkan kepada kita. Kelembutan Nabi dalam berdakwah dan mengajak
orang-orang pada jalan kebaikan harus selalu kita tanamkan dalam hati dan benak kita.
Jangan hanya karena kita "cinta buta" terhadap sosok tertentu membuat kita membenci
dan memupuk amarah kepada sesama.
Saya melihat, sudah waktunya blok pertama untuk bisa terlepas dari mengagumi seorang
secara berlebihan. Semua manusia, baik itu Kiai, ustadz berpotensi untuk melakukan
sebuah kesalahan. Dan jika itu terjadi, kita bertanggungjawab untuk memperbaikinya
dengan cara yang baik dan berakhlak. Nabi Muhammad adalah acuan tunggal dalam kita
bersikap. Kelembutan hatinya, ketaqwaannya dan orientasi hidupnya yang mulia harus
kita teladani sepanjang hidup kita.
Adapun terhadap blok ke-2 yang tidak percaya bahwa seruan pencekalan Ustad Abdul Somad
di Bali sebagai persekusi; dengan dalih " masyarakat kita tidak bodoh, ini adalah semacam
"suara keadilan" bagi masyarakat yang cinta keragaman". Kelompok ke-2 ini menganggap
video ceramah sang ustad selama ini sarat dengan isu-isu provokatif yang menghujam
salah satu kelompok dengan keras. Termasuk video yang membahas tentang kontestasi
Pemilihan Gubernur Jakarta yang lalu. Ustad Abdul somad banyak membahas kelompok
kelompok yang mendukung Gubernur Non Muslim sebagai liberal-sekuler.
Ada juga video Ustadz yang menyarankan seorang jamaah untuk senantiasa berada para poros
NU Garis lurus; lalu beliau menyebutkan beberapa kiai NU yang patut diikuti. Yang saya amati,
anjuran ini memicu terjadinya pro-kontra. Bahkan ada yang menganggap seruan ini tak lebih
hanyalah sebuah seruan untuk memecah belah NU. Bagi yang tidak sependapat dengan Sang Ustadz.
"Tidak ada yang namanya NU Garis Lurus, NU hanya satu. Jika ada gerakan NUGL,
sebenarnya mereka telah memisahkan diri dari kultur NU yang sarat dengan perbedaan".
Karena itu tidak heran, sebagian kalangan mencoba melakukan manuver terhadap isu ini,
dengan membuat "slogan baru" NUGL bukan NU Garis Lurus tapi NU Garis Lucu. Gerakan inilah
yang di era media sosial ini, telah bertransformasi menjadi "penyeimbang" dari banyaknya
gerakan-gerakan konservatif di dalam tubuh umat muslim saat ini. NU Garis Lucu mencoba
untuk menghadapi setiap serangan yang masuk ke Tubuh NU dengan "kelucuan-kelucuan genit"
yang sarat dengan pesan moral yang tinggi. Misalnya, seorang toko HTI saat Menghadapi
Abu Janda dalam acara ILC di TVONE Mengatakan,
" Tidak ada yang lebih paham Utsmani di Indonesia ini daripada Saya". Perkataan ini ditanggapi
oleh akun NU Garis Lucu, " Tak ada yang lebih paham sinetron turki daripada saya".
Menurut saya, NU Garis Lucu sebenarnya ingin mengutarakan, mengklaim diri sebagai orang yang
lebih paham daripada orang lain; hanya karena lebih banyak melakukan perjalanan merupakan sikap
yang tidak bijak. Sama halnya dengan orang yang setiap hari menonton sinetron turki, tidak mungkin serta merta menjadi orang yang lebih tahu segalanya tentang aspek budaya/adat yang ada di film itu. Pengetahuan kita tentu dibatasi dengan luasnya samudera Ilmu yang belum kita lalui/baca. Karena itu, tidak mendakwah diri sebagai orang yang paling tahu adalah pilihan bijak bagi kita semua.
Demikian pula, kelompok ke-3 bisa dikatakan mengambil posisi "Tawasuth" Netral atau sesuai dengan kondisi spesifik. Hal ini dibuktikan dengan adanya sikap menolak terhadap "seruan pencekalan" dakwah Ustad Abdul Somad di Bali.
Tapi yang menjadi catatan, dalam menolak aksi demontrasi kelompok ini mencoba berbaur atau mengambil berat terhadap "illat" yang menyebabkan seorang Ustad Abdul Somad ditolak untuk berdakwah. Setelah diketahui; adalah beberapa penggalan video-video Sang Ustad yang dianggap tidak mencerminkan sikap pendakwah yang baik; provokatif, anti-keberagaman.
Karena itu, kelompok kontra Ustadz Abdul Somad memberi syarat spesifik bagi Ustad Abdul Somad
agar bisa kembali berdakwah di Bali. Sarat pertama: Mencium bendera Merah Putih dan Kedua:
Menyanyikan Lagu Indonesia Raya.
Kita patut mengapresiasi langkah yang diambil kelompok ke-3 ini. Bukannya malah membantah setiap tuduhan yang dilayangkan orang-orang yang kontra dakwah Ustad Abdul Somad, tapi mereka dengan kelihaian bermusyawarah yang baik menerima semua sarat yang diajukan. Maka, kita melihat Ustad Abdul Somad yang dituduh sebagai Pendukung Khilafah dan Anti-kebinekaan mencium bendera merah putih sekaligus menyanyikan lagu Indonesia Raya. Sampai disini, Saya merasa kita tidak perlu meragukan loyalitas Sang Ustad terhadap NKRI.
Boleh saja kita tidak menyetujui banyak pendapat Sang Ustadz, Tapi bersikap kasar dan tidak beradab terhadap orang yang memiliki pandangan yang berbeda tidaklah baik. Perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Orang berbeda mungkin karena memiliki dasar berpikir dan sudut pandang yang berbeda. Karena itu, kita tidak boleh menuduh orang lain sebagai orang munafik atau hipokrit. Apalagi dengan langsung mengarahkan jari telunjuk kita terhadap satu kelompok.
Mengapa? Karena sikap seperti ini, selain hanya menunjukkan bahwa kita selalu berada di pihak
yang benar dan tidak mungkin salah, sikap ini juga akan memancing reaksi negatif dari kelompok
yang dituduh. Hal semacam inilah yang banyak terjadi di masyarakat. Kita menganggap kelompok
kita paling islami, tapi dengan mudah kita menuduh kelompok lain, khususnya orang-orang yang
bersikap kritis terhadap persoalan-persoalan agama kita, dianggap sesat, liberal dan sekuler.
Sebagai penutup, Persekusi bukan kita. Setiap perbedaan pendapat dan pandangan di masyarakat,
harus bisa diselesaikan secara baik. Bukan dengan kekerasan, kecaman dan intimidasi. Indonesia
adalah Negara Hukum. Hukum ini yang sebenarnya menjadi acuan kita dalam menyelesaikan setiap
perkara. Kita tidak boleh main hakim sendiri. Dalam menyikapi beberapa kelompok yang kontra
terhadap dakwah Ustadz Abdul Somad di Bali, yang pada akhirnya dapat ditangani oleh beberapa
pengurus NU disana. Semoga tidak terjadi hal seperti ini di tempat-tempat lain. Bagi para
penceramah, hendaklah bijak dalam menentukan tema pembicaraan. Jangan sampai tema yang kita
muat dalam dakwah bertendensi memecah bela persatuan umat islam di Indonesia.
Sebagai catatan, banyak para penceramah yang senantiasa menjawab setiap persoalan yang ditanya
oleh jamaahnya. Apapun persoalan pasti dijawab tanpa ragu. Yang jadi permasalahan adalah,
ketika pertanyaan yang diajukan berkaitan dengan isu-isu sensitif yang bisa menyebabkan
kesalahpahaman. Karena itu, bersikap hati-hati dan tidak menjawab pertanyaan dari jamaah
yang biasanya hanyalah "jebakan batman" saja, lebih baik dan itu bukanlah sebuah aib.
Bahkan salah satu Imam Mazhab pernah ditanya, 60 permasalahan Fikih, tapi hanya dijawab
6 permasalahan saja. Ketika ditanya, sang Imam mengatakan, " Ana La Addri" Saya Tidak Tahu.
Terakhir kali, mari kita hilangkan segala macam penyakit hati, kebencian dan dendam adalah
dua penyakit hati yang membunuh nalar berpikir kita sebagai manusia. Manusia pendendam yang
hidup dengan berjuta kebencian terhadap manusia lain pasti tidak akan pernah bahagia. Kita yang
beragama di zaman now harus mampu menahan diri untuk tidak memvonis orang lain sebagai
orang munafik/hipokrit hanya karena dalam beberapa pandangan agama kita memiliki perbedaan.
Ilmu Tuhan sangat luas dan kita tidak akan sanggup mengarungi segala lautan Ilmu
yang begitu luas itu. Saya teringat pesan Guru Saya,
" Walaupun engkau kerahkan semua tenagamu,
pikiranmu, hartamu untuk mendapatkan Ilmu.
Ilmu hanya akan memberimu sebatas kesanggupanmu,
dan itu hanya sedikit saja".
Atas dasar ini, kita tidak berhak menganggap diri kita paling berilmu dibanding orang lain,
apalagi sempat-sempatnya kita menuduh mereka dengan tuduhan yang tidak-tidak. Bahkan bertendensi menyinggung perasaan mereka. Yang menjadi catatan, banyak orang yang mengklaim pendapatnya paling benar dan menganggap pendapat lain salah dan menyesatkan. Padahal mereka tidak memiliki kompetensi apa-apa untuk membantah pendapat orang lain.
"Seseorang cenderung memusuhi sesuatu yang tidak dipahaminya" ( Imam Ali )
Robby Andoyo