Kehidupan umat manusia semakin hari semakin komplek. Disamping itu, perkembangan zaman yang semakin maju saat ini menuntut manusia untuk...
Kehidupan umat manusia semakin hari semakin komplek. Disamping itu, perkembangan zaman
yang semakin maju saat ini menuntut manusia untuk senantiasa mengenali diri mereka sendiri.
Sebagai orang beragama, mengenal diri sendiri harus dimulai dengan menelaah nilai-nilai
dari ajaran agama yang kita anut. Berbeda dengan "New atheism" Atheisme baru yang menganggap
bahwa pengenalan terhadap diri sendiri tidak perlu dimulai dari memahami ajaran agama
yang kita anut.
Mari kita ambil contoh, Sebagai seorang muslim, mengenal diri sendiri harus dimulai
dengan mempelajari halal dan haram dalam Islam. Karena tidak semua yang disukai dalam hidup ini
dibolehkan secara agama. Misalnya, Mabuk-mabukan dan minum-minuman keras, Berzina dan melakukan praktik perdagangan yang bercampur dengan kejahatan dan kezaliman. Semua itu haram hukumnya atau dilarang dalam Islam. Oleh karenanya, seberapa dalam pun seseorang mencintai minuman keras, jika ia beragama Islam, perbuatan semacam itu sudah seharusnya dihindari.
Didalam masyarakat kita, orang-orang awam yang berpikiran sederhana, menjalankan ritual ibadah
dengan sepenuh hati; itulah sebenarnya orang-orang yang mampu mengenali diri mereka sendiri
secara utuh. Orang-orang awam ini, walaupun secara intelektualitas dan kemampuan literasinya
tidak begitu baik, tapi mereka memiliki keimanan dan tingkat pengendalian diri yang "epic" Indah.
Karena itulah, pada tulisan kali ini Saya akan menjabarkan tentang bagaimana
cara beragama ala orang awam ini, yang oleh sebagian kalangan intelektual Islam dipandang
sebagai jalan beragama orang-orang yang tidak bermutu dan jauh dari cahaya ilmu pengetahuan.
Apakah beragama ala orang-orang awam bertentangan dengan ajaran Islam?
Dalam definisi Saya, Orang awam adalah orang yang tidak mempunyai kemampuan "extracting" Merangkum hukum Syariat. Itu karena orang-orang awam tidak mempunyai "malakah" atau bakat seperti: tidak mampu berbicara bahasa arab, apalagi memahami kaidah-kaidah "annahwiyah wa Sharfiah". Mereka juga adalah orang yang beragama lebih mendekati kearah "taklid" mengikuti seorang alim tanpa mengetahui asal Ilmunya secara terperinci. Itu bukan berarti orang-orang awam ini tidak memiliki ilmu agama sama sekali, tapi mereka orang-orang awam menjadikan ilmu agama sebagai "ilmu laku" yang mengalir didalam dirinya. Setelah mengalir dalam aliran darah mereka, Ilmu yang sudah menjadi laku itu bedampak signifikan terhadap perkembangan sosiologis di masyarakat.
Jika kita membaca karya Imam Ghazali; Ihya ulumiddin dengan bahasa arab, orang awam cukup mendengarkan kajian-kajian Ihya ulumuddin melalui seorang alim dengan bahasa yang mereka pahami seperti bahasa Jawa dan lain-lainya. atau mereka hanya memiliki sedikit Bab dari rangkuman kitab Ihya Ulumuddin Imam Al-Ghazali dengan bahasa tertentu.
Artinya, keberadaan Orang-orang awam selalu lebih mendominas dibanding orang-orang yang memiliki intelektualitas keagamaan yang mumpuni. Pada zaman Nabi Muhammad SAW, tidak semua sahabat adalah orang yang mempunyai kemampuan berpikir sistematis. Sebagian sahabat Nabi, adalah sosok yang sederhana yang mengamalkan Islam dengan cara yang sederhana pula. Tidak semua sahabat nabi seorang pemikir handal, penghafal Al-Quran dan mampu memahami nash-nash Al-Quran
dengan baik. Tapi yang patut diyakini, setiap sahabat nabi mempunyai Ilmu hikmah; iaitu
ilmu kebaikan yang sudah "mendaging" didalam prilaku kehidupan mereka sehari-hari.
Begitu banyak narasi hadist yang mengatakan bahwa beragama ala orang awam tidak melanggar syariat. Tentunya narasi ini tidak bisa dipahami secara "letterlick" Harfiah. Melainkan, harus dengan pemahaman yang utuh. Misalnya, hadist nabi Muhammad SAW yang kembali diterangkan Imam Al-Ghazali dalam bukunya Ihya Ulumuddin.
"Kebanyaakan Penduduk/ahli syurga adalah orang-orang bodoh"
Artinya, Bodoh dalam hadist ini tidak bisa dimaknai sebagai "istihza'" atau penghinaan. Tapi orang-orang bodoh disini adalah manifestasi dari mereka yang berpikir sederhana dan mempunyai keikhlasan yang paripurna dalam ibadah kepada Allah SWT. Orang-orang Awam ini tidak pernah berkonflik dengan doktrin agama dan ajarannya. Itu karena cara mereka berpikir begitu sederhana. Selama ajaran agama itu tidak membatasi rasa kemanusiaan. orang-orang Awam akan dengan patuh mengikuti ajaran tersebut tanpa sedikitpun hasrat untuk membantah.
Hal ini sangat kontras sekali dengan cara beragama sebagian kaum Intelek. Mereka cenderung memiliki semacam keraguan pada setiap doktrin agama dan ajarannya. Oleh karena itu, segala yang hadir atasnama agama, Kaum Intelek akan berusaha merasionalisasikannya.
Misalnya, Mengapa Islam melarang minum-minuman keras?
Bagi sebagian Filsuf dan Kaum Intelektual. Minuman keras dilarang karena memiliki dampak sosial yang merusak. Misalnya, Mabuk-mabukkan, selain membuat akal tidak bisa berpikir dengan baik, juga menyebabkan kerugian kepada orang lain. Orang mambuk yang berkendara akan berpoteni menyebabkan terjadi kecelakaan di jalan lalu lintas.
Tapi jika manusia baik itu Muslim atau non-muslim mampu mengendalikan diri dari prilaku mabuk-mabukan ini,
tidak akan terjadi sedikitpun dampak sosiologis di masyarakat. Karena itu, Sebagian kaum intelektual
dahulu mengganggap minuman keras tidak haram tapi prilaku mabuk-mabukanlah sebenarnya yang wajib dihindari.
Apakah pemikiran sebagian kaum intelektual ini dapat dibenarkan?
Tentu tidak. Orang yang beragama terikat dengan syariat agama itu sendiri. Agama Islam misalnya, ketika orang Islam dilarang
mengkonsumsi "khamar" minuman anggur yang difermentasi memiliki sifat memabukkan. Itu artinya seorang yang bergama Islam
harus secara patuh menghindari segala bentuk minuman yang membuat diri mabuk dan lepas kendali. Di dalam Islam sendiri,
seringkali Nash-Nash atau ayat-ayat Al-Quran mengisyaratkan sesuatu atas dasar sebab tertentu.
Sebagai contoh, Islam melarang umatnya untuk mendekati Zina.
" Janganlah kalian mendekati Zina" Al-Quran.
Mengapa Allah SWT tidak secara explisit melarang Zina, tapi melarang seseorang untuk mendekati zina. Itu karena manusia sebenarnya sangat mudah tergoda. mustahil akan ada orang yang ketika bagun dari tidurlangsung berzina atau melakukan maksiat tanpa adanya "muqadimah" pendahuluan yang menyebabkan terjadinya maksiat. Begitupula dengan prilaku mabuk-mabukan itu, manusia mungkin mampu mengendalikan prilaku tersebut, tapi itu bersifat temporal. Ada satu masa dimana orang yang gemar mabuk-mabukan akan lepas kendali dan merugikan orang yang hidup disekitar mereka.
Sebagai penutup, Setiap orang yang beragama memiliki cara beragama mereka sendiri. Saat Saya menulis tentang beragama ala orang awam, bukan berarti Saya tidak sepakat dengan beragama cara kaum intelek yang mengedepankan rasionalitas dalam berpikir. Tulisan ini hanyalah sebuah pesan damai dari cara beragama ala orang awam. Itu karena tidak semua orang sanggup menjadi cendikiawan dan pemikir Islam handal seperti Prof Quraish Shihab, Dr Ahmad Toyyib, Said Aqil Siradj, Nasaruddin Umar dan Ulama-ulama pemikir lainnya.
Jadi, menjalani laku beragama secara awam juga bisa mengantarkan kita menuju Syurga yang kekal dan abadi. Tentu untuk menuju syurga harus dimulai dengan kualitas ketaqwaan yang kita miliki. Boleh saja orang menganggap kita soleh dan tidak ada tanding, tapi tetap saja yang berhak menilai seberapa soleh dan bainya diri kita hanya Allah SWT. Itulah mengepa sebagai manusia kita harus tawadu dan tidak boleh sombong. Karena kesombongan merupakan racun yang bisa membunuh diri kita sendiri.
Robby Andoyo