Peradaban modern sedang mengalami perubahan besar dalam cara manusia memandang kebenaran. Jika pada masa lalu manusia menc...
Peradaban modern sedang mengalami perubahan besar dalam cara manusia memandang kebenaran. Jika pada masa lalu manusia mencari jawaban hidup melalui wahyu, tradisi, dan otoritas spiritual, maka manusia modern mulai memindahkan pusat keyakinannya ke laboratorium, data, teknologi, dan kecerdasan buatan.
Sains perlahan tidak lagi diposisikan sekadar alat untuk memahami alam, tetapi mulai ditempatkan sebagai otoritas tertinggi dalam menentukan makna hidup manusia.
Fenomena ini melahirkan apa yang dalam filsafat modern disebut sebagai saintisme, yaitu keyakinan bahwa hanya sains yang mampu menjelaskan seluruh realitas kehidupan manusia. Segala sesuatu di luar sains dianggap ilusi, dogma, atau ketidaktahuan.
Padahal, sejak awal, sains tidak pernah lahir untuk menggantikan agama. Sains diciptakan untuk memahami mekanisme alam, bukan untuk mengambil alih seluruh wilayah eksistensi manusia.
Masalah mulai muncul ketika sebagian manusia modern menganggap laboratorium lebih suci daripada ruang kontemplasi, dan data dianggap lebih mutlak daripada kebijaksanaan.
Di titik inilah sains perlahan berubah menjadi “agama baru”.
Kekecewaan terhadap Agama dan Lahirnya Saintisme
Tidak sedikit orang meninggalkan agama bukan karena mereka telah memahami seluruh filsafat kehidupan, melainkan karena kecewa terhadap praktik keberagamaan yang sempit, fanatik, penuh penghakiman, dan kehilangan nilai kemanusiaan.
Ketika agama hanya dipahami sebagai ritual tanpa jiwa, maka sebagian manusia modern mulai mencari “penyelamat” baru. Mereka menemukan sains sebagai simbol rasionalitas dan kebebasan berpikir.
Namun tragedinya, banyak orang tidak sadar sedang berpindah dari satu bentuk dogma menuju dogma lainnya.
Dulu mereka menerima sesuatu secara mutlak karena “kata agama”. Kini mereka menerima sesuatu secara mutlak karena “kata sains”.
Padahal sains sendiri terus berubah.
Teori ilmiah yang dianggap mutlak hari ini dapat runtuh beberapa abad kemudian. Dalam sejarah ilmu pengetahuan, manusia berkali-kali menyaksikan perubahan paradigma besar.
Apa yang dulu dianggap pasti, akhirnya direvisi.
Apa yang dulu diyakini absolut, ternyata tidak sepenuhnya benar.
Kesadaran inilah yang seharusnya melahirkan kerendahan hati intelektual.
Al-Qur’an dan Kritik terhadap Kesombongan Pengetahuan
Al-Qur’an sejak awal telah mengingatkan manusia agar tidak terjebak dalam kesombongan ilmu.
Allah berfirman:
وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
“Tidaklah kalian diberi pengetahuan melainkan hanya sedikit.” (QS. Al-Isra: 85)
Ayat ini bukan anti ilmu pengetahuan. Justru Islam memiliki tradisi intelektual yang sangat kuat. Namun Al-Qur’an mengingatkan bahwa seluas apa pun pengetahuan manusia, tetap ada keterbatasan yang tidak mampu dijangkau akal.
Kesalahan terbesar manusia modern bukan mempelajari sains, melainkan mengubah sains menjadi sumber kesombongan eksistensial.
Manusia mulai merasa mampu menjelaskan seluruh realitas tanpa membutuhkan nilai spiritual.
Padahal ilmu pengetahuan tidak pernah benar-benar mampu menjawab pertanyaan paling mendasar dalam hidup:
Mengapa manusia harus bermoral?
Mengapa manusia merasa hampa meskipun hidup nyaman?
Mengapa manusia takut kehilangan makna hidup?
Mengapa manusia tetap mencari cinta, ketenangan, dan harapan?
Sains bisa menjelaskan reaksi biologis otak ketika manusia jatuh cinta, tetapi sains tidak mampu mengukur nilai kesetiaan.
Sains bisa memetakan aktivitas saraf ketika manusia berdoa, tetapi sains tidak mampu membuktikan kedalaman spiritual seseorang.
Yuval Noah Harari dan Masa Depan Agama Data
Pemikir modern Yuval Noah Harari pernah menjelaskan bahwa masa depan dunia sedang bergerak menuju apa yang disebutnya sebagai “agama data” atau dataisme.
Dalam pandangan ini, manusia perlahan menyerahkan otoritas hidup kepada algoritma, data, dan sistem kecerdasan buatan.
Keputusan manusia modern semakin ditentukan oleh mesin:
Apa yang harus ditonton.
Apa yang harus dibeli.
Siapa yang harus dicintai.
Bahkan apa yang harus dipercaya.
Di era digital, manusia tidak lagi sekadar menggunakan teknologi. Manusia mulai tunduk kepada teknologi.
Inilah paradoks terbesar peradaban modern.
Manusia yang dulu ingin bebas dari otoritas agama justru akhirnya menyerahkan hidup kepada otoritas algoritma.
Di zaman dulu manusia bekerja untuk uang. Di zaman sekarang, manusia bekerja untuk algoritma — bahkan tanpa sadar.
Kalimat ini bukan sekadar kritik teknologi, tetapi kritik terhadap peradaban yang kehilangan kesadaran spiritual.
Ketika manusia tidak lagi memiliki pusat makna, maka apa pun yang dianggap memberi kepastian akan dipuja.
Dulu manusia menyembah berhala batu.
Kini manusia menyembah data, angka, dan validasi digital.
Muhammad Asad dan Keseimbangan antara Akal dan Wahyu
Penafsir kontemporer Muhammad Asad memiliki pendekatan menarik dalam memahami hubungan antara akal dan wahyu.
Menurut Muhammad Asad, Islam tidak pernah memusuhi rasionalitas. Al-Qur’an justru berkali-kali mendorong manusia berpikir, merenung, dan menggunakan akal secara serius.
Allah berfirman:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ
“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang berakal.” (QS. Ali ‘Imran: 190)
Bagi Muhammad Asad, akal adalah anugerah besar, tetapi akal tetap memiliki batas.
Ketika manusia memaksa akal untuk menjawab seluruh misteri kehidupan secara absolut, maka manusia justru jatuh pada bentuk kesombongan baru.
Di sinilah wahyu hadir bukan untuk mematikan akal, melainkan untuk membimbing arah moral dan spiritual manusia.
Karena manusia tidak hidup hanya dengan logika.
Manusia hidup dengan makna.
Dan makna tidak selalu bisa diukur melalui angka.
Krisis Terbesar Peradaban Modern
Krisis terbesar dunia modern sesungguhnya bukan kekurangan teknologi.
Dunia modern justru kelebihan teknologi tetapi kekurangan kebijaksanaan.
Manusia mampu menciptakan kecerdasan buatan, tetapi gagal memahami kehampaan dirinya sendiri.
Manusia mampu menjelajah luar angkasa, tetapi tidak mampu memahami kedalaman jiwanya.
Manusia mampu terhubung dengan miliaran orang melalui internet, tetapi semakin sulit terhubung dengan dirinya sendiri.
Inilah sebabnya mengapa depresi, kecemasan, dan kehilangan makna semakin meningkat di tengah kemajuan peradaban.
Karena manusia modern terlalu sibuk mengejar informasi, tetapi kehilangan kontemplasi.
Terlalu sibuk mengejar validasi, tetapi kehilangan keheningan.
Terlalu sibuk mengejar kecanggihan, tetapi kehilangan arah hidup.
Penutup
Sains bukan musuh agama.
Dan agama tidak seharusnya menjadi musuh akal.
Masalah muncul ketika manusia mengubah salah satunya menjadi alat kesombongan.
Sains sangat penting bagi kemajuan manusia.
Namun ketika sains diperlakukan sebagai jawaban mutlak atas seluruh eksistensi manusia, maka manusia sedang membangun bentuk dogma baru dengan wajah modern.
Peradaban yang sehat bukan peradaban yang mematikan spiritualitas demi rasionalitas, ataupun mematikan rasionalitas demi fanatisme.
Peradaban yang sehat adalah peradaban yang mampu menjaga keseimbangan antara ilmu, kebijaksanaan, moralitas, dan kesadaran spiritual.
Karena pada akhirnya, manusia tidak hanya membutuhkan pengetahuan untuk hidup.
Manusia juga membutuhkan makna untuk bertahan.
“Ketika manusia kehilangan makna spiritual, maka apa pun yang memberi ilusi kepastian akan diperlakukan seperti Tuhan.”