Tafsir QS Asy-Syu‘arā’ ayat 75–85 tentang tawakal, kecemasan menghadapi kehidupan, batas kendali manusia, kecerdasan buatan,AI
TAFSIR AESTHETIC — EPISODE 5
Oleh: Robby Andoyo
Manusia sering kali bukan takut kepada kematian, melainkan kepada kemungkinan-kemungkinan yang mengiringi kehidupan. Takut kehilangan, takut sakit, takut gagal, takut masa depan berubah, takut sesuatu yang dicintai tiba-tiba pergi. Kita bahkan dapat menghabiskan hari ini untuk menderita karena sesuatu yang belum terjadi.
Ibrahim menunjukkan jalan yang berbeda. Ia tidak berani karena merasa dirinya kuat. Ia berani karena percaya kepada Tuhannya.
Di situlah tawakal menemukan maknanya: bukan menyerahkan hidup karena manusia tidak mampu berbuat apa-apa, tetapi karena ia tahu kepada siapa seluruh hidupnya bergantung.
Ketika Ibrahim Meminta Mereka Melihat Kembali
Ibrahim tidak memulai perdebatan dengan ceramah panjang. Ia bertanya:
قَالَ أَفَرَءَيْتُم مَّا كُنتُمْ تَعْبُدُونَ
“Dia (Ibrahim) berkata, ‘Apakah kamu memperhatikan apa yang kamu sembah?’” (QS. Asy-Syu‘arā’ [26]: 75).
Pertanyaan itu bukan sekadar permintaan untuk melihat. Ibn ‘Āshūr menjelaskan bahwa susunan afarā’aytum berfungsi menarik perhatian kepada sesuatu yang seharusnya disadari dan menimbulkan keheranan terhadap keadaan objek yang mereka sembah.
Ibrahim sedang memaksa mereka melihat kembali sesuatu yang selama ini mereka terima tanpa pemeriksaan.
Kemudian ia menghubungkannya dengan warisan nenek moyang:
أَنتُمْ وَءَابَاؤُكُمُ ٱلْأَقْدَمُونَ
“Kamu, dan nenek moyang kamu yang terdahulu?” (QS. Asy-Syu‘arā’ [26]: 76).
Manusia sering merasa aman karena sesuatu telah dilakukan oleh orang-orang sebelum dirinya. Sesuatu dianggap benar karena telah lama dilakukan. Sesuatu dianggap layak dipercaya karena diwariskan.
Tetapi kebenaran tidak menjadi benar hanya karena ia tua.
Ibrahim mengembalikan manusia kepada pertanyaan yang lebih mendasar:
Kepada siapa sebenarnya hidup ini bergantung?
Kepercayaan Diri yang Tidak Berasal dari Diri Sendiri
Di sinilah keberanian Ibrahim berbeda dari kepercayaan diri manusia modern.
Manusia sering membangun rasa percaya diri dari apa yang ia miliki: ilmu, uang, jabatan, teknologi, jaringan, kesehatan, pengalaman, bahkan kemampuan berpikir.
Ibrahim menunjukkan bentuk kepercayaan diri yang lain.
Ia berani karena ia percaya kepada Tuhannya.
Setelah menolak segala sesembahan selain Allah, ia menjelaskan siapa Rabb yang menjadi sandarannya:
الَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهْدِينِ
“Yang telah menciptakan aku, maka Dia yang memberi petunjuk kepadaku.” (QS. Asy-Syu‘arā’ [26]: 78).
Allah yang menciptakan adalah Allah yang memberi petunjuk. Karena itu tawakal Ibrahim tidak lahir dari berhenti berpikir. Ia lahir dari kesadaran bahwa akal, kemampuan memahami, dan jalan menuju kebenaran pun berada dalam lingkup petunjuk-Nya.
Tawakal tidak meminta manusia berhenti berpikir.
Kita berpikir. Kita belajar. Kita menghitung. Kita merencanakan. Kita bekerja. Kita menggunakan teknologi.
Tetapi setelah semua itu dilakukan, kita tidak menjadikan kemampuan kita sebagai Tuhan.
Allah yang Memberi Makan, Allah yang Menyembuhkan
Ibrahim kemudian menyebut sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan:
وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ
“Dan yang memberi makan dan minum kepadaku.” (QS. Asy-Syu‘arā’ [26]: 79).
Lalu:
وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ
“Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku.” (QS. Asy-Syu‘arā’ [26]: 80).
Ada keindahan yang sangat halus di sini.
Ibrahim mengatakan: “apabila aku sakit”, bukan “apabila Dia membuatku sakit”. Ibn ‘Āshūr memperhatikan penyandaran sakit kepada diri Ibrahim sebagai bentuk adab kepada Allah, sekaligus memperhatikan sebab-sebab lahiriah dalam penyandaran tersebut. Penjelasan ini dapat ditelusuri dalam tafsir Ibn ‘Āshūr atas QS. Asy-Syu‘arā’ ayat 80.
Ini bukan penolakan terhadap sebab.
Dokter tetap diperlukan. Obat tetap diminum. Tubuh tetap dirawat. Penyakit tetap dihadapi dengan ikhtiar.
Tetapi sebab tidak pernah menjadi Tuhan.
Obat adalah sebab. Dokter adalah sebab. Teknologi adalah sebab. Kesembuhan tetap berada dalam kehendak Allah.
Di situlah tawakal menjadi dewasa: kita tidak membuang sebab, tetapi kita juga tidak menggantungkan hati sepenuhnya kepada sebab.
Ketika Kemampuan Membuat Manusia Takut Kehilangan Kendali
Manusia modern mempunyai kemampuan yang luar biasa.
Kita dapat menghitung lebih cepat, memprediksi lebih jauh, mengobati penyakit dengan teknologi yang semakin maju, menyimpan jutaan informasi, bahkan menggunakan kecerdasan buatan untuk membantu membaca data dan menyelesaikan berbagai persoalan.
Semua itu adalah kemampuan.
Tetapi kemampuan yang semakin besar dapat melahirkan kesombongan yang semakin halus.
Kesombongan spiritual.
Bukan selalu dalam bentuk merasa mampu menggantikan Allah. Lebih halus dari itu: manusia mulai merasa bahwa selama ia memiliki cukup pengetahuan, cukup uang, cukup teknologi, dan cukup kemampuan, ia dapat membuat hidup sepenuhnya aman.
Padahal kehidupan tidak pernah menjanjikan itu.
AI dapat membantu manusia memprediksi kemungkinan, tetapi tidak menghapus ketidakpastian.
AI dapat membantu manusia menyelesaikan masalah, tetapi tidak memberikan kepemilikan atas takdir.
AI dapat memperbesar kemampuan manusia, tetapi tidak menjadikan manusia penguasa mutlak atas kehidupan dan kematian.
Semakin besar kemampuan manusia, semakin penting ia mengetahui batas kemampuannya.
Kemampuan mengetahui bukan kemampuan menguasai.
Dan kemampuan menguasai sebagian kecil kehidupan tidak pernah berarti manusia memiliki kehidupan itu.
Kita Tidak Pernah Menjadi Pemilik Mutlak Kehidupan
Ibrahim melanjutkan:
وَالَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحْيِينِ
“Dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali).” (QS. Asy-Syu‘arā’ [26]: 81).
Kehidupan dan kematian ditempatkan dalam satu rangkaian.
Kita sering ingin menerima kehidupan, tetapi menolak kenyataan bahwa kehidupan memiliki batas.
Kita ingin sehat, tetapi takut sakit.
Kita ingin hidup panjang, tetapi takut tua.
Kita ingin mencintai, tetapi takut kehilangan.
Kita ingin memiliki, tetapi takut sesuatu yang kita miliki akan pergi.
Akibatnya, manusia dapat menghabiskan hidup untuk mempertahankan sesuatu yang sejak awal memang tidak pernah menjadi miliknya secara mutlak.
Penyebutan kematian lalu kehidupan kembali mengarahkan pandangan kepada kehidupan akhirat. Kematian bukan sekadar titik yang memutus perjalanan, tetapi bagian dari rangkaian eksistensi menuju kehidupan berikutnya.
Maka mungkin masalah terbesar kita bukan bahwa kita terlalu takut kepada kematian.
Mungkin kita terlalu takut kepada kehidupan yang tidak bisa kita kendalikan.
Jangan Menjalani Hari Esok Sebelum Ia Datang
Manusia dapat menderita karena sesuatu yang belum terjadi.
Ia belum kehilangan, tetapi sudah berduka.
Belum sakit, tetapi sudah takut.
Belum gagal, tetapi sudah merasa hancur.
Belum kehilangan pekerjaan, tetapi sudah kehilangan ketenangan.
Kecemasan membuat manusia membayar harga yang mahal untuk sesuatu yang bahkan belum tentu terjadi.
Karena itu tawakal bukan berarti mengatakan, “Aku tidak peduli apa yang terjadi.”
Tawakal mengatakan:
Aku akan mengerjakan apa yang harus kukerjakan hari ini. Tentang apa yang belum terjadi, aku serahkan kepada Allah.
Jika kematian belum datang, hiduplah.
Jika kehilangan belum terjadi, cintailah.
Jika sakit belum tiba, syukurilah kesehatan.
Jika masa depan belum terbuka, kerjakan apa yang berada di hadapanmu.
Jangan biarkan sesuatu yang belum terjadi merampas kehidupan yang sedang Allah berikan sekarang.
Tawakal Bukan Menyerah
Tawakal memang mengandung kepasrahan. Tetapi ia bukan kepasrahan orang yang berhenti berusaha.
Tawakal adalah manifestasi dari kepercayaan seorang hamba kepada Sang Pencipta.
Karena itu manusia tetap berjalan.
Tetap bekerja.
Tetap menjaga kesehatan.
Tetap belajar.
Tetap merencanakan masa depan.
Tetap berobat ketika sakit.
Tetap memperbaiki kesalahan.
Namun hatinya tidak menggantungkan keselamatan terakhir kepada semua itu.
Ia menggunakan sebab, tetapi tidak diperbudak oleh sebab.
Ia berusaha, tetapi tidak menyembah hasil.
Ia merencanakan, tetapi tidak memaksa Allah mengikuti rencananya.
Ketika Bahkan Kesalahan Masih Membuka Pintu Pulang
Lalu Ibrahim mengatakan:
وَالَّذِي أَطْمَعُ أَن يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ
“Dan yang sangat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari Kiamat.” (QS. Asy-Syu‘arā’ [26]: 82).
Setelah menyebut penciptaan, petunjuk, makanan, minuman, penyakit, kesembuhan, kematian, dan kehidupan kembali, Ibrahim sampai pada sesuatu yang sangat manusiawi: ia masih membutuhkan ampunan.
Penggunaan kata aṭma‘u memperlihatkan harapan yang disertai kerendahan hati. Ibrahim tidak berbicara seolah-olah ampunan merupakan sesuatu yang menjadi haknya. Ia berharap kepada Allah.
Di sini tawakal mencapai kedalaman yang lain.
Tawakal bukan perasaan bahwa kita sudah aman.
Tawakal justru membuat kita semakin sadar bahwa kita membutuhkan Allah.
Setelah Semua Kemampuan, Ibrahim Masih Meminta
Setelah itu Ibrahim berdoa:
رَبِّ هَبْ لِي حُكْمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ
“Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh.” (QS. Asy-Syu‘arā’ [26]: 83).
Ḥukm tidak tepat dipersempit hanya menjadi “ilmu”. Dalam pembacaan Ibn ‘Āshūr, ia berkaitan dengan hikmah dan kenabian serta permohonan akan kesempurnaan yang terus bertambah dalam amanah tersebut.
Ibrahim sudah berdiri di hadapan kaumnya. Tetapi kedekatan dengan Allah tidak membuatnya merasa telah selesai.
Justru semakin dekat kepada-Nya, semakin sadar bahwa dirinya membutuhkan petunjuk.
Yang Ingin Ditinggalkan Bukan Nama, tetapi Kebenaran
Ibrahim kemudian berkata:
وَاجْعَل لِّي لِسَانَ صِدْقٍ فِي الْآخِرِينَ
“Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang yang datang kemudian.” (QS. Asy-Syu‘arā’ [26]: 84).
Lisān ṣidq berkaitan dengan penyebutan yang baik dan pujian yang baik bagi Ibrahim di tengah generasi setelahnya. Penjelasan kebahasaan ini dapat ditelusuri dalam tafsir Ibn ‘Āshūr atas QS. Asy-Syu‘arā’ ayat 84.
Namun ayat ini tidak harus dibaca sebagai ambisi untuk dikenang.
Seorang manusia yang telah menyerahkan hidup kepada Allah tidak sedang sibuk membangun monumen bagi dirinya.
Yang ia harapkan adalah agar kebenaran yang ia jalani tidak mati bersamanya.
Bukan nama kita yang harus panjang umur, tetapi kebenaran yang pernah kita perjuangkan tetap mempunyai suara setelah kita pergi.
Dan Pada Akhirnya, Surga
Ibrahim melanjutkan:
وَاجْعَلْنِي مِن وَّرَثَةِ جَنَّةِ النَّعِيمِ
“Dan jadikanlah aku termasuk orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan.” (QS. Asy-Syu‘arā’ [26]: 85).
Sesudah semua yang ia lakukan, Ibrahim tidak meminta dunia untuk menjadi miliknya.
Ia meminta agar akhirnya menjadi bagian dari kehidupan yang Allah janjikan.
Rangkaian ini terasa utuh: Allah menciptakan, membimbing, memberi makan, memberi minum, menyembuhkan, mematikan, menghidupkan kembali, dan membuka harapan akan ampunan. Lalu manusia menjalani hidupnya dalam kesadaran kepada-Nya.
Kita Tidak Perlu Menguasai Kehidupan
Mungkin selama ini kita terlalu lelah karena ingin menguasai sesuatu yang memang bukan milik kita.
Kita ingin memastikan semuanya aman.
Memastikan anak-anak selalu baik.
Memastikan kesehatan tidak berubah.
Memastikan pekerjaan tidak hilang.
Memastikan orang yang kita cintai tidak pergi.
Memastikan masa depan sesuai rencana.
Memastikan hidup tidak memberikan kejutan.
Padahal hidup bukan kontrak yang menjanjikan semua itu.
Hidup adalah amanah.
Dan amanah tidak harus dikuasai untuk dapat dijalani dengan baik.
Kita hanya perlu menjaganya selama ia berada di tangan kita.
Ketika berupa kesehatan, kita menjaganya.
Ketika berupa kesempatan, kita menggunakannya.
Ketika berupa orang yang kita cintai, kita menyayanginya.
Ketika berupa amanah, kita menunaikannya.
Dan ketika sesuatu akhirnya harus pergi, kita belajar melepaskannya kepada Pemiliknya.
Ketika Kita Tidak Lagi Takut kepada Kehidupan
Tidak takut kepada kehidupan bukan berarti tidak pernah cemas.
Bukan berarti tidak menangis.
Bukan berarti tidak takut ketika penyakit datang atau ketika kematian mendekat.
Manusia tetap manusia.
Tetapi ada perbedaan antara takut yang membuat kita lari dan takut yang membuat kita kembali.
Ketika seluruh hidup telah dikembalikan kepada Allah, rasa takut tidak lagi menjadi pusat kehidupan.
Kita tetap berjalan meskipun tidak mengetahui seluruh jalan.
Kita tetap berusaha meskipun tidak menguasai hasil.
Kita tetap mencintai meskipun tahu segala sesuatu yang kita cintai dapat pergi.
Kita tetap hidup meskipun tahu suatu hari akan mati.
Karena kita tahu: yang menciptakan kehidupan tidak akan menjadikan kehidupan tanpa arah.
Dan mungkin inilah ketenangan yang selama ini kita cari.
Bukan kehidupan tanpa masalah.
Bukan masa depan tanpa ketidakpastian.
Bukan tubuh yang tidak pernah sakit.
Bukan orang-orang yang tidak pernah pergi.
Melainkan hati yang tahu kepada siapa ia bersandar ketika semuanya tidak lagi dapat dikendalikan.
Kita tidak harus menguasai kehidupan untuk dapat mencintainya.
Kita tidak harus mengetahui seluruh masa depan untuk dapat menjalaninya.
Kita tidak harus mampu mempertahankan semuanya untuk dapat bersyukur atas apa yang pernah Allah titipkan.
Jika kematian belum datang, hiduplah.
Jika kehilangan belum terjadi, cintailah.
Jika sakit belum tiba, syukurilah.
Jika masa depan belum terbuka, kerjakan apa yang berada di hadapanmu.
Jangan biarkan sesuatu yang belum terjadi merampas kehidupan yang sedang Allah berikan sekarang.
Dan ketika suatu hari seluruh kemampuan kita berhenti, ketika ilmu tidak lagi mampu menjawab, ketika teknologi tidak lagi dapat membantu, ketika harta dan manusia tidak lagi dapat menjadi sandaran, semoga hati kita tidak menemukan kekosongan.
Semoga yang tersisa hanyalah kesadaran Ibrahim:
bahwa kita pernah diciptakan, dibimbing, diberi makan, diberi minum, disembuhkan, diberi hidup, dan suatu hari akan dikembalikan kepada-Nya.
Lalu ketika semua kesombongan runtuh, semua kemampuan berhenti, dan kehidupan tidak lagi dapat kita genggam—
semoga yang tinggal di dalam hati hanyalah Allah, dan permohonan seorang hamba agar diampuni.
Barangkali pada saat itulah kita benar-benar tidak lagi takut kepada kehidupan.
Karena kita akhirnya mengerti:
kehidupan memang tidak pernah menjadi milik kita.
Ia hanya pernah dititipkan kepada kita oleh-Nya.
Rujukan Tafsir
Muhammad al-Ṭāhir Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, tafsir QS. Asy-Syu‘arā’ [26]: 75–85.
