Harapan dan mimpi membuat manusia terus berjalan. Kisah Nabi Yusuf mengajarkan hubungan antara kemungkinan masa depan, ikhtiar, iman, dan takdir Allah
Kadang seseorang bangun pagi tanpa tahu apa yang sebenarnya sedang ia tunggu. Hari kemarin belum tentu menyenangkan. Masalah yang sama masih ada. Beberapa rencana bahkan sudah tidak lagi berjalan seperti yang diharapkan. Tetapi ia tetap bangun dan menjalani hari.
Mengapa?
Mungkin karena di dalam hidup selalu ada sesuatu yang belum selesai.
Ada pekerjaan yang masih ingin dituntaskan. Ada orang yang masih ingin ditemui. Ada ilmu yang belum selesai dipelajari. Ada anak yang ingin dilihat tumbuh. Ada doa yang belum berhenti dipanjatkan. Atau hanya sebuah keinginan sederhana yang belum sempat diwujudkan.
Semuanya belum terjadi.
Namun justru karena belum terjadi, kemungkinan masih terbuka.
Selama napas masih diberikan, hidup belum selesai memberi kesempatan.
Kita sering mencari alasan besar untuk bersyukur atas kehidupan. Padahal alasannya kadang begitu dekat: kita masih bernapas. Masih bisa melihat, berpikir, bergerak, mencintai, belajar, memperbaiki kesalahan, dan memilih apa yang akan dilakukan setelah hari ini.
Hidup sendiri sudah merupakan anugerah.
Dari sini, harapan menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar perasaan menyenangkan. Manusia memiliki kemampuan untuk melihat sedikit lebih jauh daripada keadaan yang sedang dihadapinya.
Ia membayangkan rumah sebelum rumah itu berdiri. Menulis buku sebelum buku itu selesai. Menanam pohon yang mungkin baru akan memberikan teduh bertahun-tahun kemudian. Mendidik anak untuk masa depan yang belum bisa ia lihat.
Manusia tidak hanya hidup dari apa yang sudah terjadi. Ia juga hidup dari kemungkinan tentang apa yang belum terjadi.
Mungkin di situlah salah satu sisi paling manusiawi dari manusia: kemampuan membayangkan sesuatu yang belum ada.
Karena itu, mimpi tidak selalu berarti seseorang sedang melarikan diri dari kenyataan. Memang ada mimpi yang digunakan untuk menghindari kehidupan. Tetapi ada pula mimpi yang justru membuat seseorang sanggup menghadapi kehidupan yang berat.
Yang membedakan bukan semata-mata mimpinya.
Melainkan manusia yang membawanya.
Mimpi dapat menjadi tempat bersembunyi. Tetapi mimpi juga dapat menjadi alasan untuk bekerja lebih keras.
Al-Qur’an memperlihatkan sesuatu yang menarik melalui kisah Yusuf.
Ketika masih muda, Yusuf berkata kepada ayahnya:
إِذْ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِي سَاجِدِينَ
“Ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, ‘Wahai ayahku, sesungguhnya aku melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan; aku melihat semuanya bersujud kepadaku.’” (QS Yusuf 12:4)
Yusuf melihat sesuatu yang jauh melampaui keadaan dirinya ketika itu. Ia belum mengetahui apa artinya. Ayahnya justru memintanya merahasiakan mimpi tersebut dari saudara-saudaranya.
Kemudian Ya‘qub mengatakan bahwa Allah akan memilih Yusuf, mengajarinya penafsiran berbagai peristiwa, dan menyempurnakan nikmat-Nya kepadanya.
Dalam tafsirnya, Ibn ‘Ashur memberi perhatian pada hubungan antara mimpi Yusuf dan apa yang kemudian Allah tetapkan bagi kehidupannya. Dalam konteks kenabian, mimpi tersebut bukan sekadar pengalaman tidur biasa. Ia menjadi bagian dari sesuatu yang baru akan tersingkap maknanya kemudian. Bahkan, mimpi itu dapat menjadi penguat bagi Yusuf ketika menghadapi kesulitan yang belum ia ketahui akan datang.
Tetapi di sinilah kita perlu berhati-hati.
Al-Qur’an tidak mengajarkan bahwa setiap mimpi adalah pesan tentang masa depan. Tidak semua mimpi harus dicari tafsirnya, apalagi dijadikan kepastian tentang apa yang akan terjadi.
Kisah Yusuf memiliki kedudukan yang khusus.
Yang menarik justru bukan hanya mimpinya, tetapi jarak yang begitu panjang antara mimpi itu dan kenyataan yang akhirnya terjadi.
Sebab setelah mimpi tersebut, kehidupan Yusuf tidak menjadi lebih mudah.
Ia justru dibawa oleh saudara-saudaranya ke sebuah tempat yang tidak pernah ia bayangkan.
Sebuah sumur.
Seorang anak yang baru saja melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan dalam tidurnya kini berada di dasar sumur.
Kalau kehidupan hanya dinilai dari apa yang tampak saat itu, tidak ada yang menunjukkan bahwa masa depan yang baik sedang menantinya.
Tetapi manusia memang sering tergesa-gesa membaca hidup hanya dari halaman yang sedang terbuka.
Ketika sesuatu gagal, kita mengira jalan telah tertutup. Ketika rencana berubah, kita merasa arah kehidupan telah salah. Ketika doa belum mendapatkan jawaban, kita mudah menganggap bahwa tidak ada lagi yang bisa diharapkan.
Padahal kita tidak pernah melihat seluruh perjalanan.
Ketika Yusuf berada di Mesir, Al-Qur’an mengatakan:
وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَىٰ أَمْرِهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
“Allah berkuasa atas urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS Yusuf 12:21)
Ayat ini tidak berarti setiap penderitaan pasti berakhir sesuai mimpi manusia. Tidak pula berarti semua kegagalan pasti merupakan jalan rahasia menuju keberhasilan yang kita inginkan.
Tetapi kisah Yusuf memperlihatkan bagaimana masa depan dapat terbentuk melalui rangkaian peristiwa yang ketika sedang berlangsung belum dapat dipahami seluruhnya.
Ia dijual.
Ia tinggal di rumah orang lain.
Ia difitnah.
Ia dipenjara.
Tidak satu pun dari keadaan itu tampak seperti jalan menuju kedudukan yang pernah tergambar dalam mimpinya.
Namun justru di sinilah manusia belajar sesuatu yang sulit: jalan hidup tidak selalu menjelaskan dirinya ketika sedang dilalui.
Ada perkara yang baru masuk akal setelah kita melewatinya.
Bahkan di dalam penjara, kisah tentang mimpi kembali muncul.
Dua pemuda yang bersama Yusuf di penjara melihat mimpi dan meminta Yusuf menjelaskan maknanya. Di tempat yang membatasi tubuh mereka, kehidupan batin mereka tetap bergerak. Mereka masih memikirkan sesuatu yang belum mereka pahami.
Yusuf kemudian menafsirkan mimpi mereka. Tetapi ia tidak berhenti pada penafsiran. Ia menggunakan kesempatan itu untuk berbicara tentang Allah dan tauhid.
Ada sesuatu yang menarik di sini.
Keterbatasan keadaan tidak selalu berarti berakhirnya kemungkinan.
Manusia masih dapat berpikir, berharap, dan mengambil keputusan. Bahkan dalam ruang yang sempit, kehidupan batin tetap bisa menemukan jalan.
Namun Al-Qur’an juga tidak mengajarkan manusia untuk hidup hanya dengan harapan.
Ketika raja Mesir bermimpi tentang tujuh sapi gemuk yang dimakan tujuh sapi kurus serta tujuh bulir hijau dan bulir-bulir kering, persoalannya menjadi lebih besar. Mimpi itu berkaitan dengan masa depan sebuah negeri.
Yusuf menjelaskan bahwa akan datang tujuh tahun masa subur, kemudian tujuh tahun masa sulit.
Tetapi yang menarik bukan hanya penafsirannya.
Yang lebih penting adalah apa yang dilakukan setelah masa depan itu diketahui.
Yusuf tidak berhenti pada penafsiran. Ia justru menyusun cara menghadapinya.
تَزْرَعُونَ سَبْعَ سِنِينَ دَأَبًا فَمَا حَصَدتُّمْ فَذَرُوهُ فِي سُنبُلِهِ إِلَّا قَلِيلًا مِّمَّا تَأْكُلُونَ
“Kamu bercocok tanamlah tujuh tahun sebagaimana biasa; kemudian apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan pada tangkainya, kecuali sedikit untuk kamu makan.” (QS Yusuf 12:47)
Ibn ‘Ashur memperhatikan kata dā’ban, yang menunjukkan kesinambungan usaha. Masa kelimpahan tidak boleh dilewati tanpa persiapan karena masa sulit akan datang.
Di sini mimpi menemukan bentuknya yang lebih dewasa.
Mimpi tidak membuat manusia berhenti bekerja.
Ia justru membuat hari ini menjadi penting.
Kalau hari esok mungkin berat, hari ini harus dipersiapkan. Kalau sebuah cita-cita ingin diwujudkan, kehidupan hari ini harus dijalani dengan disiplin. Kalau seseorang mempunyai visi tentang masa depan, ia tidak boleh membenci kenyataan hanya karena kenyataan itu belum menyerupai visinya.
Ia harus bekerja di dalam kenyataan.
Barangkali inilah yang sering hilang ketika orang berbicara tentang mimpi. Kita senang membicarakan keberanian untuk bermimpi, tetapi lupa bahwa setiap mimpi memiliki harga yang harus dibayar dalam kehidupan nyata.
Waktu.
Kesabaran.
Ilmu.
Kegagalan.
Disiplin.
Kadang kehilangan.
Mimpi tidak membayar harga perjalanan. Manusialah yang harus menjalaninya.
Karena itu, tidak semua mimpi harus dipertahankan dalam bentuk yang sama.
Ada mimpi yang berubah ketika manusia bertumbuh. Ada keinginan yang ternyata tidak baik bagi dirinya. Ada jalan yang harus ditinggalkan. Ada cita-cita yang tidak tercapai, tetapi justru membuka pintu kepada sesuatu yang lebih bermakna.
Iman membuat manusia mampu membedakan antara bersungguh-sungguh mengejar sesuatu dan memaksa Allah memberikan sesuatu sesuai keinginannya.
Kita boleh mempunyai passion.
Kita boleh memiliki visi.
Kita boleh bekerja keras.
Tetapi kita tetap seorang hamba.
Masa depan bukan milik kita.
Karena itu, mimpi tidak boleh berubah menjadi kesombongan terhadap takdir.
Yusuf sendiri baru memahami makna mimpinya setelah perjalanan yang panjang.
Ketika keluarganya akhirnya datang dan berada di hadapannya, ia berkata:
وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّوا لَهُ سُجَّدًا وَقَالَ يَا أَبَتِ هَٰذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِن قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا
“Dia menaikkan kedua orang tuanya ke atas singgasana, dan mereka semua tunduk bersujud kepadanya. Dia berkata, ‘Wahai ayahku, inilah tafsir mimpiku yang dahulu. Sungguh, Tuhanku telah menjadikannya kenyataan.’” (QS Yusuf 12:100)
Ada sesuatu yang sangat dalam pada ayat ini.
Yusuf tidak hanya melihat kenyataan yang sedang berlangsung. Ia melihat kembali perjalanan hidupnya.
Mimpi itu baru benar-benar menemukan maknanya setelah waktu berjalan begitu jauh.
Sumur yang dahulu tampak seperti kehancuran bukan akhir.
Perpisahan dengan keluarga bukan akhir.
Perbudakan bukan akhir.
Fitnah bukan akhir.
Penjara bukan akhir.
Semua itu merupakan bagian dari perjalanan yang baru dapat dilihat secara utuh ketika Yusuf telah sampai pada titik yang dahulu hanya hadir sebagai mimpi.
Mungkin kehidupan kita juga demikian.
Tidak semua hal yang sedang kita jalani harus langsung kita pahami hari ini.
Ada kegagalan yang baru terasa maknanya bertahun-tahun kemudian. Ada pertemuan yang baru terasa penting setelah seseorang pergi. Ada pekerjaan yang dahulu kita anggap kecil, tetapi ternyata membentuk kemampuan yang kita perlukan di masa depan.
Ada doa yang tidak dikabulkan dalam bentuk yang kita inginkan, tetapi mengubah arah kehidupan.
Dan ada mimpi yang tidak pernah menjadi kenyataan sebagaimana yang kita bayangkan, tetapi tetap membuat kita tumbuh menjadi manusia yang berbeda.
Karena itu, saya tidak ingin mengatakan bahwa setiap mimpi pasti akan menjadi kenyataan.
Itu bukan janji Al-Qur’an.
Saya juga tidak ingin mengatakan bahwa seseorang harus terus mengejar apa pun yang pernah ia impikan, meskipun keadaan sudah menunjukkan bahwa jalan itu harus ditinggalkan.
Tidak.
Yang lebih sederhana adalah ini: selama manusia masih hidup, kemungkinan belum seluruhnya tertutup.
Mimpi boleh berubah.
Jalan boleh berubah.
Hasil akhirnya boleh berbeda dari bayangan.
Tetapi selama napas masih diberikan, masih ada sesuatu yang dapat dilakukan.
Masih bisa meminta ampun.
Masih bisa belajar.
Masih bisa memperbaiki hubungan.
Masih bisa menolong seseorang.
Masih bisa menyelesaikan pekerjaan yang tertunda.
Masih bisa menanam sesuatu yang belum sempat dipanen.
Masih bisa menjadi manusia yang sedikit lebih baik daripada dirinya kemarin.
Mungkin itu sebabnya manusia membutuhkan mimpi.
Bukan karena setiap mimpi akan menjadi milik kita.
Bukan pula karena masa depan harus selalu sesuai dengan keinginan.
Tetapi karena kemampuan membayangkan sesuatu yang belum terjadi membuat manusia tidak berhenti pada keadaan yang sedang ia hadapi.
Iman kemudian memberikan arah kepada harapan itu.
Seorang mukmin tidak harus berkata, “Aku yakin masa depanku akan sesuai dengan keinginanku.”
Ia dapat mengatakan sesuatu yang lebih tenang:
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi, tetapi aku tahu kepada siapa aku menyerahkan perjalanan ini.
Di sana passion tetap mempunyai tempat. Visi tetap mempunyai tempat. Kerja keras tetap mempunyai tempat. Tetapi semuanya berada di bawah kesadaran bahwa manusia merencanakan, sementara Allah menentukan.
Kita boleh berjalan dengan sungguh-sungguh tanpa merasa memiliki seluruh hasilnya.
Kita boleh bermimpi tanpa menjadikan mimpi sebagai kepastian.
Kita boleh berharap tanpa memaksa kehidupan mengikuti kehendak kita.
Pada akhirnya, mungkin manusia tidak selalu membutuhkan kepastian untuk terus berjalan.
Kadang cukup satu kemungkinan kecil.
Satu pekerjaan yang belum selesai.
Satu manusia yang masih ingin kita bahagiakan.
Satu ilmu yang masih ingin kita pelajari.
Satu kebaikan yang belum sempat dilakukan.
Satu doa yang masih ingin kita ulangi.
Atau sebuah mimpi yang belum kita mengerti mengapa pernah hadir dalam hidup kita.
Selama napas masih diberikan, jangan terlalu cepat menganggap cerita telah selesai.
Kita tidak pernah melihat seluruh jalan.
Kita hanya sedang berada di salah satu bagiannya.
Mungkin suatu hari nanti kita akan menoleh ke belakang dan menyadari bahwa beberapa hal yang dahulu terasa seperti akhir ternyata hanyalah jalan menuju sesuatu yang belum dapat kita lihat.
Yang belum terjadi memang belum menjadi kenyataan.
Tetapi ia masih mungkin.
Dan selama kemungkinan itu masih ada, manusia masih mempunyai alasan untuk berjalan.
Mungkin bukan karena kita sudah melihat masa depan.
Mungkin karena Allah belum selesai memperlihatkan makna perjalanan kita.
Oleh: Robby Andoyo
Pertanyaan Reflektif
Apakah setiap mimpi merupakan petunjuk dari Allah?
Tidak. Kisah mimpi Nabi Yusuf memiliki kedudukan khusus dalam konteks kenabian. Tidak setiap mimpi manusia merupakan petunjuk ilahi atau gambaran masa depan. Mimpi tidak boleh dijadikan kepastian, sumber hukum, atau dasar untuk mengambil keputusan penting tanpa pertimbangan agama dan akal sehat.
Apakah bermimpi tentang masa depan berarti seseorang sedang melarikan diri dari kenyataan?
Tidak selalu. Mimpi dapat menjadi pelarian apabila digunakan untuk menghindari tanggung jawab dan keadaan yang harus dihadapi. Namun, mimpi juga dapat memberi arah, menumbuhkan keberanian, dan mendorong seseorang bekerja menghadapi kenyataan. Ukurannya bukan sekadar apa yang diimpikan, melainkan bagaimana seseorang memperlakukannya.
Bagaimana hubungan mimpi dengan ikhtiar dalam kisah Nabi Yusuf?
Kisah Nabi Yusuf memperlihatkan bahwa mimpi tidak berhenti pada penafsiran. Ketika menjelaskan mimpi raja Mesir, Yusuf juga memberikan langkah konkret untuk menghadapi masa sulit: bercocok tanam, menyimpan hasil panen, dan mengatur persediaan. Harapan masa depan harus diterjemahkan menjadi tanggung jawab pada masa kini.
Apakah seseorang harus terus mengejar mimpi yang pernah dimilikinya?
Tidak. Ada mimpi yang perlu diperjuangkan, ada yang perlu diperbaiki, dan ada pula yang harus ditinggalkan. Kesungguhan mengejar cita-cita tidak berarti memaksakan kehendak. Iman membantu manusia menimbang apakah sesuatu masih layak diperjuangkan atau justru perlu dilepaskan.
Bagaimana tetap berharap ketika kenyataan tidak sesuai dengan keinginan?
Dengan membedakan harapan dari kepastian. Manusia dapat merencanakan, berusaha, dan berdoa tanpa merasa berhak menentukan hasil. Ketika satu jalan tertutup, masih ada tanggung jawab dan kebaikan yang dapat dilakukan. Tawakal bukan berarti berhenti berjalan, melainkan menjalani ikhtiar sambil menyerahkan hasil kepada Allah.
Rujukan
Seluruh ayat yang dibahas merujuk pada Surah Yusuf, khususnya ayat 4, 6, 21, 36, 43, 47, dan 100. Penjelasan tafsir merujuk pada karya Muhammad al-Tahir Ibn ‘Ashur, At-Taḥrīr wa At-Tanwīr, pada pembahasan ayat-ayat tersebut. Teks tafsir dapat ditelusuri melalui tafsir QS Yusuf ayat 4, ayat 6, ayat 21, ayat 36, ayat 43, ayat 47, dan ayat 100.
