Episode 3 — Ekosistem Tafsir Aesthetic Oleh: Robby Andoyo Kebenaran tidak selalu kehilangan tempat karena manusia tidak menge...
Episode 3 — Ekosistem Tafsir Aesthetic
Oleh: Robby Andoyo
Kebenaran tidak selalu kehilangan tempat karena manusia tidak mengetahuinya. Terkadang, manusia mengetahui sesuatu yang benar, tetapi tidak lagi bersedia menanggung konsekuensi dari kejujuran. Dalam keadaan seperti itu, kebohongan tidak harus menghancurkan kebenaran. Ia hanya perlu menemukan manusia yang bersedia memberinya tempat.
Persoalan ini membawa kita kepada tujuh ayat dalam Surah Asy-Syu'ara', ayat 217–223. Rangkaian ayat tersebut mempertemukan perintah bertawakal kepada Allah, kesadaran bahwa Dia melihat dan mengetahui, serta penjelasan mengenai para pendusta yang menjadi sasaran turunnya setan dalam konteks bantahan Al-Qur'an terhadap tuduhan bahwa wahyu berasal dari setan.
Di antara kedua bagian itu, terdapat ruang refleksi yang penting bagi kehidupan manusia: hubungan antara kesadaran kepada Allah, kejujuran, dan tanggung jawab atas sesuatu yang dipercaya serta disampaikan kepada orang lain.
Namun, hubungan itu tidak boleh dibangun dengan menghapus konteks wahyu. Ayat-ayat Al-Qur'an memiliki susunan makna dan konteks pembicaraannya sendiri. Refleksi peradaban justru memperoleh kedalaman ketika berangkat dari pembacaan yang teliti, bukan ketika teks dipaksa untuk membenarkan gagasan yang telah kita miliki sebelumnya.
1. Bertawakal kepada Yang Maha Perkasa dan Maha Penyayang
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَتَوَكَّلْ عَلَى الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ
Wa tawakkal 'alal-'azīzir-raḥīm.
Artinya: "Dan bertawakallah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa, Maha Penyayang."
(QS. Asy-Syu'ara' [26]: 217)
Perintah tawakal membuka rangkaian ayat ini dengan dua nama Allah: Al-'Aziz dan Ar-Rahim. Keduanya menghadirkan pengenalan kepada Allah melalui kekuasaan dan kasih sayang-Nya.
Dalam penafsirannya atas ayat ini, Ibn 'Asyur menghubungkan perintah tawakal dengan konteks ayat sebelumnya. Rasulullah diperintahkan untuk berlepas diri dari perbuatan orang-orang yang menentang beliau dan menyerahkan urusannya kepada Allah. Nama Al-'Aziz menunjukkan kekuasaan Allah, sedangkan Ar-Rahim menunjukkan rahmat-Nya kepada Rasul-Nya.
Dengan demikian, tawakal dalam rangkaian ayat ini bukan sikap pasif di hadapan kehidupan. Ia merupakan penyerahan urusan kepada Allah tanpa menjadikan pertentangan dengan manusia sebagai alasan untuk kehilangan arah penghambaan.
Manusia tetap berusaha, mengambil keputusan, dan menanggung konsekuensi tindakannya. Akan tetapi, ia tidak menjadikan dirinya sebagai pusat kendali atas segala sesuatu.
Dalam kehidupan peradaban, persoalan muncul ketika manusia mulai mempercayai kekuatannya sendiri secara berlebihan. Kekuasaan, jabatan, pengetahuan, pengaruh, dan dukungan massa dapat membuat seseorang merasa bahwa masa depannya bergantung sepenuhnya pada kemampuannya mempertahankan posisi.
Ketika kepentingan menjadi pusat kehidupan, kebenaran dapat diperlakukan sebagai sesuatu yang harus menyesuaikan diri. Sesuatu yang mendukung kepentingan diterima, sedangkan sesuatu yang mengancamnya dicurigai, disembunyikan, atau ditolak.
Di sinilah tawakal memiliki relevansi spiritual yang mendalam. Ketergantungan kepada Allah dapat menjadi dasar bagi manusia untuk tidak menjadikan kepentingannya sebagai ukuran terakhir bagi setiap tindakan.
Manusia yang menyadari keterbatasan dirinya tidak harus mengubah kebohongan menjadi pembenaran hanya untuk menyelamatkan kedudukan. Ia tidak harus mengorbankan kejujuran hanya karena kebenaran dapat mendatangkan kerugian.
Namun, tawakal tidak otomatis membuat seseorang selalu jujur. Ia harus diwujudkan dalam pilihan, tindakan, dan kesediaan memperbaiki diri ketika kepentingan pribadi bertentangan dengan kebenaran.
Tawakal bukan sekadar pengakuan bahwa Allah berkuasa. Ia mengajak manusia menempatkan ambisi dan kepentingannya di bawah kesadaran tentang siapa yang sesungguhnya menjadi tempat bergantung.
2. Ketika Manusia Berdiri di Hadapan Pengetahuan Allah
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ
Allażī yarāka ḥīna taqūm.
Artinya: "Yang melihat engkau ketika engkau berdiri."
(QS. Asy-Syu'ara' [26]: 218)
Allah melanjutkan:
وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ
Wa taqallubaka fis-sājidīn.
Artinya: "Dan (melihat) perubahan gerakan badanmu di antara orang-orang yang sujud."
(QS. Asy-Syu'ara' [26]: 219)
Dalam At-Tahrir wa At-Tanwir, Ibn 'Asyur menjelaskan ayat 218 dengan menyoroti perhatian khusus Allah kepada Rasul-Nya. Ungkapan bahwa Allah melihat Nabi ketika berdiri mengandung makna perhatian dan penerimaan terhadap pengabdian beliau.
Pada ayat 219, Ibn 'Asyur menjelaskan gerakan Nabi di antara orang-orang yang bersujud sebagai salat beliau bersama kaum Muslim di masjid. Rangkaian ini memperlihatkan hubungan antara perhatian kepada Rasul dan perhatian kepada umat yang mengikutinya.
Penjelasan tersebut perlu dipahami terlebih dahulu sebelum kita bergerak menuju refleksi yang lebih luas. Ayat-ayat ini berbicara dalam konteks perhatian Allah kepada Rasul-Nya. Adapun perenungan mengenai penampilan lahiriah, integritas, dan kehidupan batin merupakan pengembangan reflektif yang perlu dibedakan dari penafsiran langsung.
Di hadapan manusia, seseorang dapat memilih bagian dirinya yang ingin diperlihatkan. Ia dapat membangun citra, mengatur perkataan, menampilkan kesalehan, dan menyusun penjelasan yang membuat tindakannya terlihat benar.
Kemampuan menampilkan diri bukanlah bukti bahwa seluruh kehidupan batinnya sejalan dengan apa yang ditampilkan.
Gerakan tubuh dapat terlihat. Perkataan dapat didengar. Reputasi dapat dibangun. Akan tetapi, citra yang berhasil dipertahankan di hadapan manusia tidak dapat dijadikan ukuran mutlak atas keadaan batin seseorang.
Di sinilah ibadah menghadapi pertanyaan yang lebih dalam daripada sekadar keteraturan lahiriah: apakah penghambaan kepada Allah ikut membentuk cara seseorang memperlakukan kebenaran ketika tidak ada keuntungan yang dapat diperoleh dari kejujuran?
Pertanyaan ini tidak dimaksudkan untuk menghakimi kualitas iman orang lain. Ia justru mengembalikan perhatian kepada diri sendiri.
Betapa mudahnya manusia memeriksa kesalahan orang lain, tetapi begitu sulit ketika pemeriksaan yang sama harus diarahkan kepada kepentingannya sendiri. Kita dapat menuntut keterbukaan dari orang lain sambil menyembunyikan sesuatu yang merugikan diri kita. Kita dapat mengutuk manipulasi ketika menjadi korbannya, tetapi mencari pembenaran ketika manipulasi menguntungkan kita.
Persoalannya bukan bahwa manusia tidak memiliki pengetahuan tentang benar dan salah. Persoalannya adalah apakah pengetahuan tersebut tetap memiliki kekuatan ketika berhadapan dengan sesuatu yang ingin dipertahankan.
Kesadaran kepada Allah seharusnya tidak berhenti sebagai pengetahuan tentang sifat-Nya. Ia semestinya turut memengaruhi keberanian manusia untuk tidak menjadikan kepentingan pribadi sebagai ukuran terakhir bagi tindakannya.
3. Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Innahū huwas-samī'ul-'alīm.
Artinya: "Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui."
(QS. Asy-Syu'ara' [26]: 220)
Ibn 'Asyur menjelaskan bahwa sifat Allah sebagai Maha Mendengar berkaitan dengan perkataan Nabi, sedangkan sifat Maha Mengetahui berkaitan dengan tekad beliau untuk bertawakal. Dengan demikian, ayat ini terhubung langsung dengan perintah untuk berlepas diri dari perbuatan kaum yang menentang dan menyerahkan urusan kepada Allah.
Hubungan kedua sifat tersebut dengan konteks ayat menjadi titik berangkat yang penting. Setelah itu, kita dapat mengembangkan refleksi mengenai keterbatasan pengetahuan manusia, tanggung jawab atas perkataan, dan kesediaan memeriksa kembali sesuatu yang dipercayai. Refleksi tersebut merupakan pengembangan kontemporer, bukan penafsiran langsung Ibn 'Asyur mengenai informasi digital.
Dalam kehidupan manusia, mendengar dan mengetahui merupakan dua hal yang tidak selalu berjalan bersama. Seseorang dapat mendengar banyak hal tanpa memahami maknanya. Ia dapat menerima informasi tanpa memeriksa kebenarannya. Ia bahkan dapat mengetahui sebagian fakta, tetapi sengaja mengabaikan bagian yang mengganggu kepentingannya.
Manusia memiliki keterbatasan dalam mengetahui. Ia tidak selalu memiliki seluruh informasi, tidak selalu memahami konteks, dan dapat keliru ketika menyimpulkan sesuatu. Karena itu, kejujuran intelektual menuntut kesediaan untuk mengakui batas pengetahuan.
Yang berbahaya bukanlah semata-mata ketidaktahuan. Ketidaktahuan dapat menjadi awal pencarian. Kekeliruan pun dapat diperbaiki ketika seseorang bersedia memeriksa kembali pemahamannya.
Persoalan menjadi lebih berat ketika seseorang tidak lagi bersedia membedakan antara apa yang diketahuinya, apa yang diduganya, dan apa yang ingin dipercayai demi kepentingannya sendiri.
Ketika batas-batas itu dihapus, dugaan dapat disampaikan sebagai fakta. Kecurigaan dapat diperlakukan sebagai bukti. Cerita yang belum terverifikasi dapat berubah menjadi tuduhan yang menyebar luas.
Manusia mungkin berhasil membuat orang lain mempercayai penjelasannya. Namun, keberhasilan meyakinkan orang lain tidak dengan sendirinya menjadikan penjelasan itu benar.
Kesadaran bahwa Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui mengingatkan manusia bahwa penilaian sosial bukanlah ukuran tertinggi bagi kebenaran. Ia juga menuntut kerendahan hati: manusia tidak berhak menyamakan keterbatasan pengetahuannya dengan pengetahuan Allah yang sempurna.
4. Siapa yang Menjadi Tempat Turunnya Setan?
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
هَلْ أُنَبِّئُكُمْ عَلَىٰ مَنْ تَنَزَّلُ الشَّيَاطِينُ
Hal unabbi'ukum 'alā man tanazzalusy-syayāṭīn.
Artinya: "Maukah Aku beritakan kepadamu, kepada siapa setan-setan itu turun?"
(QS. Asy-Syu'ara' [26]: 221)
Allah berfirman:
تَنَزَّلُ عَلَىٰ كُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ
Tanazzalu 'alā kulli affākin atsīm.
Artinya: "Mereka turun kepada setiap pendusta yang banyak berdosa."
(QS. Asy-Syu'ara' [26]: 222)
Allah melanjutkan:
يُلْقُونَ السَّمْعَ وَأَكْثَرُهُمْ كَاذِبُونَ
Yulqūnas-sam'a wa aktsaruhum kāżibūn.
Artinya: "Mereka menyampaikan hasil pendengaran mereka, sedangkan kebanyakan mereka orang-orang pendusta."
(QS. Asy-Syu'ara' [26]: 223)
Ketiga ayat ini tidak berdiri sendiri. Ibn 'Asyur menjelaskan bahwa pembicaraan mengenai pihak yang menjadi tempat turunnya setan berkaitan dengan bantahan sebelumnya terhadap tuduhan bahwa Al-Qur'an berasal dari setan. Setelah menolak tuduhan tersebut, rangkaian ayat ini menjelaskan keadaan para kahin yang mengaku menerima berita dari setan.
Dalam penjelasannya, Ibn 'Asyur menerangkan bahwa para kahin itu berdusta dalam klaim dan pemberitaan mereka. Sebagian dapat menyampaikan satu informasi yang benar, tetapi kemudian mencampurkannya dengan banyak kebohongan; sebagian lainnya berdusta mengenai penerimaan informasi tersebut sejak awal.
Karena itu, ayat-ayat ini harus dibaca sesuai konteksnya. Kita tidak boleh menyamakan begitu saja para kahin yang dibicarakan dalam ayat dengan setiap orang modern yang pernah menyebarkan informasi keliru.
Namun, konteks tersebut membuka ruang refleksi mengenai hubungan antara klaim, informasi, dan kejujuran. Refleksi mengenai manipulasi informasi di zaman modern merupakan pengembangan penulis berdasarkan persoalan moral yang dapat direnungkan, bukan perluasan makna ayat yang dinisbatkan langsung kepada Ibn 'Asyur.
Dalam refleksi kehidupan manusia, terdapat perbedaan antara melakukan kekeliruan lalu memperbaikinya dan menjadikan pendustaan sebagai cara untuk mempertahankan kepentingan.
Orang yang keliru masih dapat membuka dirinya terhadap koreksi. Ia dapat memeriksa ulang informasi, mengakui kesalahan, dan mengubah kesimpulan ketika menemukan alasan yang lebih kuat.
Sebaliknya, ketika kebohongan terus dipertahankan meskipun kebenaran mulai terlihat, persoalannya tidak lagi semata-mata terletak pada kekurangan informasi. Ada sesuatu yang sedang dilindungi: kehormatan, kedudukan, keuntungan, pengaruh, atau gambaran diri yang tidak ingin runtuh.
Kita tidak dapat menetapkan keadaan batin orang lain hanya berdasarkan penampilan luarnya. Namun, kita dapat memeriksa tindakan, bukti, konsistensi perkataan, dan kesediaannya mempertanggungjawabkan apa yang disampaikan.
Di sinilah kejujuran menjadi persoalan moral yang mendasar. Ia bukan hanya kemampuan mengucapkan sesuatu yang benar ketika kebenaran itu menguntungkan, melainkan kesediaan untuk tidak sengaja menyimpangkan kenyataan demi memperoleh keuntungan.
5. Mendengar Tidak Berarti Membawa Kebenaran
Ungkapan yulqūnas-sam' dalam penjelasan Ibn 'Asyur berkaitan dengan para kahin yang mengaku mendengarkan berita dari setan. Beliau menjelaskan bahwa pengakuan tersebut merupakan bagian dari pendustaan mereka, dan bahwa sebagian dari mereka mencampurkan informasi yang sedikit dengan kebohongan yang jauh lebih banyak.
Konteks ini tidak boleh dihapus ketika kita menghubungkannya dengan kehidupan modern. Ayat tersebut berbicara mengenai para kahin dan bantahan terhadap tuduhan bahwa Al-Qur'an berasal dari setan. Adapun pembahasan mengenai verifikasi informasi, penyebaran kabar di media sosial, dan tanggung jawab komunikasi merupakan refleksi kontemporer yang dikembangkan dari pembacaan tersebut.
Seseorang dapat menerima informasi dari pihak lain. Namun, penerimaan itu tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa informasi tersebut benar. Begitu pula, menyampaikan sesuatu yang telah didengar tidak otomatis menjadikan seseorang pembawa kebenaran.
Informasi memiliki perjalanan. Ia diterima, dipahami, ditafsirkan, dipilih, lalu disampaikan kembali. Dalam perjalanan tersebut, konteks dapat hilang, dugaan dapat berubah menjadi kepastian, dan kepentingan dapat memengaruhi cara suatu peristiwa diceritakan.
Di era digital, perjalanan itu berlangsung semakin cepat. Satu potongan video dapat beredar tanpa penjelasan yang memadai. Satu tuduhan dapat menjangkau ribuan orang sebelum pihak yang dituduh memperoleh kesempatan menjelaskan. Satu narasi dapat diulang berkali-kali hingga terasa benar, bukan karena bukti yang mendukungnya semakin kuat, melainkan karena manusia semakin terbiasa mendengarnya.
Kecepatan penyebaran tidak sama dengan kekuatan bukti. Banyaknya orang yang mempercayai suatu informasi tidak otomatis membuktikan kebenarannya. Pengulangan pun tidak dapat menggantikan pemeriksaan.
Karena itu, tanggung jawab manusia tidak berhenti pada pertanyaan, "Dari siapa saya mendengar informasi ini?" Ia juga perlu bertanya, "Apa bukti yang mendukungnya? Apakah konteksnya utuh? Apakah ada informasi yang belum saya ketahui? Dan apakah saya bersedia mengoreksi diri jika ternyata keliru?"
Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan prinsip kehati-hatian dalam kehidupan modern, bukan klaim bahwa ayat ini secara langsung membicarakan teknologi digital.
Al-Qur'an memiliki konteks wahyu yang harus dihormati. Refleksi peradaban yang bertanggung jawab justru berangkat dari ketelitian membaca konteks itu sebelum mengembangkan relevansinya bagi zaman sekarang.
6. Ketika Kebohongan Mendapatkan Tempat dalam Peradaban
Kebohongan tidak selalu bertahan karena pendustanya mampu membuktikan sesuatu. Dalam kehidupan sosial, kebohongan juga dapat bertahan ketika orang lain terus memberikan ruang kepadanya.
Ada orang yang menyebarkan kabar tanpa memeriksa kebenarannya. Ada yang mengetahui bahwa suatu informasi belum terverifikasi, tetapi tetap menyebarkannya karena sesuai dengan keyakinannya. Ada pula yang memahami bahwa sebuah narasi menyesatkan, tetapi memilih mempertahankannya karena narasi itu menguntungkan kelompok atau kepentingannya.
Ketiganya tidak selalu memiliki tingkat pengetahuan, niat, dan tanggung jawab yang sama. Karena itu, kita tidak boleh menyamakan setiap kekeliruan dengan kebohongan yang disengaja.
Namun, ketika ketidakpedulian terhadap kebenaran menjadi kebiasaan, kehidupan bersama menghadapi persoalan yang lebih dalam daripada sekadar kesalahan informasi.
Kepercayaan mulai kehilangan dasarnya. Masyarakat semakin sulit membedakan laporan dari propaganda, kritik dari fitnah, dan bukti dari cerita yang hanya terdengar meyakinkan.
Dalam keadaan demikian, orang yang berbicara dengan penuh keyakinan dapat lebih dipercaya daripada orang yang berhati-hati. Mereka yang menawarkan jawaban sederhana dapat mengalahkan mereka yang berusaha menjelaskan persoalan secara utuh. Sementara itu, pihak yang berkepentingan memperoleh kesempatan untuk membentuk kenyataan sosial melalui pengulangan narasi.
Persoalan ini tidak hanya menyangkut media sosial. Ia dapat muncul dalam lembaga pendidikan, organisasi, lingkungan keagamaan, dunia politik, tempat kerja, dan ruang keluarga.
Di mana pun manusia berkumpul, terdapat kemungkinan bahwa kepentingan bersama digunakan untuk membenarkan sesuatu yang seharusnya diperiksa secara kritis.
Dalam lingkungan yang sehat, loyalitas tidak menghapus tanggung jawab untuk berkata benar. Kecintaan terhadap kelompok tidak membebaskan anggotanya dari kewajiban memeriksa kesalahan. Penghormatan kepada pemimpin tidak mengharuskan seseorang membenarkan setiap keputusannya.
Justru ketika suatu kelompok merasa memiliki tujuan yang benar, kejujuran menjadi semakin penting. Tujuan yang dianggap mulia tidak otomatis membuat setiap cara untuk mencapainya menjadi benar.
Peradaban tidak hanya membutuhkan manusia yang mampu mengumpulkan dan menyebarkan informasi. Ia membutuhkan manusia yang bersedia mempertanggungjawabkan informasi tersebut, mengakui batas pengetahuannya, dan menghentikan penyebaran sesuatu ketika mengetahui bahwa informasi itu keliru.
Tanpa tanggung jawab seperti itu, pengetahuan dapat kehilangan fungsinya sebagai jalan menuju pemahaman. Ia dapat berubah menjadi alat untuk memenangkan pertentangan.
Dan ketika kemenangan menjadi lebih penting daripada kebenaran, manusia tidak lagi bertanya apakah sesuatu itu benar. Ia hanya bertanya apakah sesuatu itu berguna bagi pihaknya.
7. Persoalan yang Tidak Berhenti pada Orang Lain
Mudah untuk membaca pembahasan tentang kebohongan sambil membayangkan wajah orang-orang yang pernah mengecewakan kita. Kita mengingat pemimpin yang tidak jujur, tokoh yang memanipulasi informasi, kelompok yang mempertahankan kepentingannya, atau seseorang yang menyebarkan tuduhan tanpa bukti.
Namun, jika pembacaan berhenti pada kesalahan orang lain, kita mungkin hanya menjadikan kebenaran sebagai alat untuk memperkuat penilaian yang sudah kita miliki.
Kita mengutuk kebohongan yang merugikan diri sendiri, tetapi apakah kita juga berani memeriksa informasi yang menguntungkan keyakinan kita?
Kita menuntut orang lain mengakui kesalahan, tetapi apakah kita bersedia melakukan hal yang sama ketika pengakuan itu meruntuhkan citra diri?
Kita meminta bukti ketika seseorang menuduh pihak yang kita bela, tetapi apakah kita tetap meminta bukti ketika tuduhan yang sama diarahkan kepada pihak yang tidak kita sukai?
Di sinilah kejujuran menjadi lebih sulit daripada sekadar mengetahui perbedaan antara benar dan salah. Ia menuntut konsistensi ketika kepentingan pribadi mulai ikut berbicara.
Manusia tidak selalu berdusta dengan menciptakan cerita yang sepenuhnya palsu. Terkadang, ia hanya memilih bagian kenyataan yang mendukung dirinya, menghilangkan bagian yang mengganggu, lalu menyusun penjelasan yang membuat tindakannya tampak dapat dibenarkan.
Ia mungkin masih menggunakan bahasa moral. Ia mungkin tetap berbicara tentang agama, keadilan, pengabdian, dan kebenaran. Namun, kata-kata tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa ia telah bersedia tunduk kepada tuntutan maknanya.
Inilah alasan mengapa kesadaran spiritual tidak seharusnya berhenti pada penampilan. Penghambaan kepada Allah tidak dapat direduksi menjadi sesuatu yang terlihat oleh manusia, sebagaimana keadaan batin seseorang juga tidak boleh kita putuskan hanya berdasarkan dugaan.
Yang dapat kita lakukan adalah memeriksa diri sendiri dan mempertanggungjawabkan tindakan kita.
Sebab, seseorang dapat sangat yakin sedang membela kebenaran, padahal yang sebenarnya ia pertahankan adalah harga diri, kepentingan, atau keinginannya untuk tidak pernah terlihat salah.
Kesediaan mengakui kemungkinan bahwa diri sendiri keliru bukanlah kelemahan intelektual. Justru di situlah pengetahuan memperoleh ruang untuk tumbuh dan kejujuran mendapatkan kesempatan untuk bekerja.
8. Apa Makna Tujuh Ayat Ini bagi Kehidupan Modern?
Tujuh ayat dalam QS Asy-Syu'ara' [26]: 217–223 tidak boleh diperlakukan sebagai kumpulan slogan yang dapat dilepaskan dari konteksnya. Rangkaian tersebut memiliki struktur pembicaraan yang jelas: perintah bertawakal kepada Allah, penegasan bahwa Allah melihat dan mengetahui, lalu penjelasan tentang pihak yang menerima setan dalam konteks pembelaan terhadap kebenaran wahyu.
Dari pembacaan yang memperhatikan konteks itu, kita dapat mengembangkan beberapa refleksi bagi kehidupan modern.
Pertama, kesadaran kepada Allah perlu tercermin dalam tanggung jawab moral. Pengetahuan tentang Allah Yang Maha Melihat dan Maha Mengetahui semestinya mendorong manusia untuk memeriksa hubungannya dengan kejujuran, tanpa merasa berhak menghakimi keadaan batin orang lain.
Kedua, menerima informasi tidak sama dengan mengetahui kebenaran. Manusia tetap perlu memeriksa sumber, bukti, konteks, dan batas pengetahuannya sebelum menyampaikan suatu informasi sebagai fakta.
Ketiga, kepentingan tidak boleh menjadi ukuran terakhir bagi kebenaran. Keuntungan, kedudukan, loyalitas kelompok, dan reputasi tidak dapat menggantikan pertanggungjawaban moral atas perkataan dan tindakan.
Keempat, kesalahan dan pendustaan yang disengaja harus dibedakan. Manusia dapat keliru karena keterbatasan pengetahuan. Kesediaan memperbaiki kekeliruan merupakan bagian penting dari kejujuran. Sebaliknya, mempertahankan informasi yang diketahui menyesatkan demi kepentingan sendiri merupakan persoalan moral yang berbeda.
Kelima, kebenaran membutuhkan manusia yang bersedia bertanggung jawab. Informasi yang benar dapat kehilangan pengaruh apabila manusia memilih mengabaikannya, sedangkan informasi yang keliru dapat memperoleh pengaruh luas apabila terus disebarkan tanpa pemeriksaan.
Kelima refleksi ini bukan pengganti tafsir atas ayat-ayat tersebut. Ia merupakan upaya menghubungkan pesan yang dibaca secara kontekstual dengan persoalan etika dan kehidupan peradaban saat ini.
9. Ketika Kebenaran Tidak Lagi Membutuhkan Pembenaran Diri
Manusia tidak selalu dapat mengendalikan bagaimana orang lain menilai dirinya. Ia tidak dapat memastikan bahwa setiap kejujuran akan mendatangkan penghargaan, bahwa setiap pengakuan kesalahan akan diterima, atau bahwa setiap penjelasan yang benar akan segera dipercaya.
Namun, ketidakpastian itu tidak menghapus tanggung jawabnya.
Ia tetap dapat memilih untuk tidak menyebarkan sesuatu yang belum diketahui kebenarannya. Ia dapat mengakui kesalahan tanpa menyusun pembenaran baru. Ia dapat menolak keuntungan yang hanya mungkin diperoleh melalui penyesatan. Ia dapat memperbaiki pernyataannya ketika menemukan bukti yang lebih kuat.
Pilihan-pilihan tersebut mungkin tidak selalu menghasilkan kemenangan sosial. Bahkan, kejujuran dapat membuat seseorang kehilangan kesempatan, pengaruh, atau kedudukan yang selama ini dipertahankannya.
Namun, di situlah perbedaan antara memperjuangkan kebenaran dan sekadar menggunakan kebenaran menjadi terlihat.
Orang yang hanya menggunakan kebenaran akan mempertahankannya selama kebenaran itu menguntungkan. Ketika keadaan berubah, ia mencari alasan untuk meninggalkannya.
Sementara itu, orang yang sungguh-sungguh berusaha hidup jujur harus bersedia membiarkan kebenaran memeriksa dirinya sendiri.
Ia tidak kebal terhadap kesalahan. Ia tidak selalu memiliki jawaban. Ia pun tidak selalu mampu melepaskan seluruh kepentingannya. Namun, ia tidak menjadikan keterbatasan tersebut sebagai alasan untuk berhenti memperbaiki diri.
Dalam kerangka tawakal, manusia tidak harus menguasai seluruh hasil kehidupannya. Ia tetap bertanggung jawab atas pilihan yang berada dalam jangkauannya, tanpa berpura-pura memiliki kendali mutlak atas segala sesuatu.
Barangkali, salah satu ujian terberat dalam kehidupan spiritual bukanlah ketika manusia tidak mengetahui apa yang benar, melainkan ketika ia mulai mengetahui bahwa dirinya keliru, sementara mengakui kekeliruan itu terasa terlalu mahal.
Pada saat seperti itu, yang sedang diuji bukan hanya kecerdasannya dalam memahami kenyataan. Yang diuji adalah kesediaannya untuk tidak menjadikan dirinya sendiri sebagai pengecualian dari tuntutan kebenaran.
Penutup: Siapa yang Menjaga Kebenaran di Dalam Diri Kita?
Kebenaran tidak kehilangan nilainya hanya karena manusia menolaknya. Namun, kebenaran dapat kehilangan tempat dalam kehidupan ketika manusia berhenti bersedia mengikutinya.
Sebuah masyarakat mungkin memiliki banyak informasi, tetapi tetap kesulitan membedakan bukti dari tuduhan. Sebuah lembaga mungkin berbicara tentang integritas, tetapi gagal memeriksa kepentingan yang mengatur keputusannya. Seseorang mungkin mengucapkan kata-kata yang benar, tetapi tidak bersedia membiarkan kata-kata itu membatasi tindakannya sendiri.
Karena itu, persoalan kebenaran tidak cukup diselesaikan dengan mencari siapa yang salah. Ia juga menuntut pemeriksaan terhadap cara kita mengetahui, mempercayai, menyampaikan, dan mempertahankan sesuatu.
QS Asy-Syu'ara' [26]: 217–223 mengajak pembaca kembali memperhatikan hubungan antara tawakal kepada Allah, pengetahuan-Nya yang sempurna, dan penjelasan Al-Qur'an tentang pendustaan dalam konteks wahyu.
Ketika rangkaian itu direnungkan dalam kehidupan modern, kita menemukan sebuah pertanyaan yang tidak mudah dijawab dengan menunjuk kesalahan orang lain.
Jika Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui, mengapa manusia masih begitu sibuk membangun pembenaran bagi sesuatu yang ingin dipertahankannya?
Mungkin karena manusia tidak selalu menginginkan kebenaran dengan kesungguhan yang sama seperti ketika ia menginginkan kemenangan. Ia ingin perkataannya dipercaya, keputusannya dibenarkan, dan kedudukannya tetap aman. Sementara itu, kejujuran terkadang meminta sesuatu yang tidak ingin ia berikan: kesediaan untuk mengakui bahwa dirinya salah.
Dan ketika pengakuan itu terus dihindari, manusia dapat menghabiskan hidupnya bukan untuk menemukan kebenaran, melainkan untuk menjaga agar kebohongannya tidak terbongkar.
Barangkali, kebenaran tidak selalu kehilangan penjaganya ketika tidak ada lagi orang yang membelanya. Ia mulai kehilangan tempat ketika manusia tidak lagi bersedia membiarkan kebenaran mengoreksi dirinya sendiri.
Referensi
Al-Qur'an al-Karim. Surah Asy-Syu'ara' [26]: 217–223.
Ibn 'Asyur, Muhammad al-Tahir. Al-Tahrir wa al-Tanwir. Penafsiran Surah Asy-Syu'ara', ayat 217–223.
Catatan: Refleksi mengenai etika informasi dan kehidupan peradaban merupakan pengembangan kontemporer penulis. Refleksi tersebut dibedakan dari penjelasan tafsir dan tidak dimaksudkan sebagai kutipan langsung dari Ibn 'Asyur.
