Ketika Kemampuan Bertambah, tetapi Segalanya Tetap Bukan Milik Kita Oleh: Robby Andoyo Kecerdasan buatan memperpendek jarak...
Ketika Kemampuan Bertambah, tetapi Segalanya Tetap Bukan Milik Kita
Oleh: Robby Andoyo
Kecerdasan buatan memperpendek jarak antara keinginan dan kemungkinan. QS. An-Najm ayat 24–26 mengingatkan bahwa bertambahnya kemampuan manusia tidak berarti ia memiliki kuasa mutlak atas kenyataan.
QS. An-Najm 53:24–26 mengingatkan bahwa manusia tidak memperoleh segala yang diinginkannya, dunia dan akhirat tetap milik Allah, bahkan makhluk yang memiliki kedudukan tinggi tidak bertindak di luar izin-Nya. Di tengah peradaban AI, ayat ini menemukan relevansi yang tajam: semakin besar kemampuan manusia untuk mewujudkan keinginannya, semakin penting kemampuan untuk membedakan antara sesuatu yang bisa dilakukan dan sesuatu yang layak dilakukan.
Ketika AI Mulai Menjawab Keinginan Manusia
Sebuah kalimat dapat berubah menjadi gambar.
Sebuah gagasan dapat berubah menjadi kode.
Ribuan halaman dapat diringkas dalam beberapa detik.
Data yang terlalu besar untuk dibaca manusia dapat dipetakan menjadi pola.
Suara dapat ditiru. Wajah dapat direkonstruksi. Bahasa dapat diterjemahkan. Sebagian pekerjaan intelektual yang dahulu membutuhkan waktu berjam-jam kini dapat dipercepat menjadi beberapa menit.
AI tidak hanya memberi manusia alat baru.
Ia mengubah jarak antara keinginan dan kemungkinan.
Dan perubahan jarak itu jauh lebih besar daripada sekadar kemajuan teknologi.
Ketika sesuatu yang dahulu sulit dilakukan menjadi mudah, manusia tidak hanya mendapatkan kemampuan baru. Ia juga mendapatkan godaan baru untuk menganggap bahwa segala sesuatu yang mampu diwujudkan memang pantas diwujudkan.
Di titik inilah QS. An-Najm menyentuh zaman kita dengan cara yang tidak terduga:
أَمْ لِلْإِنسَانِ مَا تَمَنَّىٰ
“Atau apakah manusia akan mendapat segala yang dicita-citakannya?”
(QS. An-Najm 53:24)
Pertanyaan itu terdengar sederhana sampai manusia memiliki teknologi yang semakin mampu memenuhi keinginannya.
Justru sekarang pertanyaan itu menjadi semakin tajam.
Apakah karena manusia semakin mampu mendapatkan sesuatu, maka sesuatu itu otomatis menjadi miliknya?
Keinginan Bukan Hak atas Kenyataan
Ibn ‘Ashur memahami ayat ini dalam konteks penolakan terhadap anggapan bahwa manusia memperoleh apa yang diinginkannya hanya karena ia menginginkannya. Keinginan manusia tidak menjadi penentu mutlak atas kenyataan. Manusia tetap harus mencari kebenaran melalui tanda dan dalil, meskipun kebenaran itu tidak selalu sesuai dengan apa yang ia sukai.
Di sinilah ayat tersebut bertemu dengan persoalan AI.
AI dapat membantu manusia menemukan cara.
Tetapi ia tidak otomatis menentukan arah.
Ia dapat menjawab bagaimana sebuah kampanye dibuat lebih persuasif, tetapi tidak menentukan apakah persuasi itu sedang digunakan untuk menjelaskan atau memanipulasi.
Ia dapat membantu perusahaan memprediksi perilaku konsumen, tetapi tidak menentukan apakah seluruh keinginan konsumen harus terus dipelihara demi keuntungan.
Ia dapat membantu seseorang membangun citra digital yang sempurna, tetapi tidak dapat menjadikan kehidupan di balik citra itu jujur.
Ia dapat menghasilkan jawaban yang terdengar sangat meyakinkan, tetapi kelancaran bahasa bukan ukuran kebenaran.
Karena itu, problem AI bukan hanya apakah mesin akan menjadi semakin pintar.
Problem yang lebih dalam adalah apakah manusia akan menjadi semakin bijaksana ketika kemampuannya untuk memenuhi keinginan meningkat drastis.
Dari “Bisa” Menuju “Boleh”
Inilah batas yang sering hilang dalam pembicaraan tentang teknologi.
Manusia terbiasa bertanya:
Bisakah ini dilakukan?
AI membuat jawabannya semakin sering menjadi:
Bisa.
Tetapi Al-Qur'an memaksa manusia bergerak satu langkah lebih jauh:
Setelah bisa, lalu apa?
Apakah ia benar?
Apakah ia adil?
Apakah ia membawa kemaslahatan?
Apakah manusia sedang menggunakan teknologi, atau justru sedang dipimpin oleh keinginannya sendiri yang diperbesar teknologi?
Perbedaan antara pertanyaan-pertanyaan tersebut tampak kecil.
Akibatnya bisa sangat besar.
Karena sebuah peradaban dapat menjadi sangat hebat dalam menjawab pertanyaan “bagaimana?”, tetapi tetap gagal menjawab pertanyaan “untuk apa?”
Dan ketika kemampuan menjawab bagaimana berkembang jauh lebih cepat daripada kebijaksanaan menjawab untuk apa, teknologi tidak lagi sekadar menjadi alat.
Ia menjadi pengganda dari seluruh kecenderungan manusia—termasuk keserakahannya.
Yang Bertambah Adalah Kemampuan, Bukan Kepemilikan
Setelah mempertanyakan keinginan manusia, Al-Qur'an tidak membiarkannya menggantung:
فَلِلَّهِ الْآخِرَةُ وَالْأُولَىٰ
“Maka milik Allah-lah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia.”
(QS. An-Najm 53:25)
Dalam konteks ayatnya, Ibn ‘Ashur menghubungkan pernyataan ini dengan penegasan bahwa urusan dunia dan akhirat berada dalam kekuasaan Allah. Keinginan manusia tidak berdiri sebagai kekuatan yang menentukan seluruh hasil kehidupan.
Kalimat ini menjadi sangat menarik ketika dibawa ke zaman AI.
Manusia dapat memiliki model.
Manusia dapat memiliki data.
Manusia dapat memiliki mesin.
Manusia dapat memiliki algoritma yang semakin canggih.
Tetapi manusia tidak memiliki seluruh akibat dari apa yang ia ciptakan.
Ia dapat merancang sistem rekomendasi, tetapi tidak sepenuhnya mengendalikan manusia yang dibentuk oleh rekomendasi tersebut.
Ia dapat menciptakan teknologi yang meningkatkan produktivitas, tetapi tidak dapat memastikan bahwa tambahan produktivitas otomatis menghasilkan kehidupan yang lebih bermakna.
Ia dapat membangun sistem yang memprediksi masa depan, tetapi prediksi tidak pernah berubah menjadi kepemilikan atas masa depan.
Inilah paradoks kecanggihan: semakin besar kemampuan manusia memperkirakan kenyataan, semakin jelas bahwa kenyataan tetap tidak sepenuhnya tunduk kepada manusia.
Bahkan yang Dekat dengan Kekuasaan Tidak Memilikinya
Ayat berikutnya memperdalam batas tersebut:
وَكَم مِّن مَّلَكٍ فِي السَّمَاوَاتِ لَا تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا إِلَّا مِنۢ بَعْدِ أَن يَأْذَنَ اللَّهُ لِمَن يَشَاءُ وَيَرْضَىٰ
“Dan betapa banyak malaikat di langit, syafaat mereka sedikit pun tidak berguna kecuali setelah Allah mengizinkan bagi siapa yang Dia kehendaki dan Dia ridhai.”
(QS. An-Najm 53:26)
Dalam konteks rangkaian ayat ini, contoh malaikat memperlihatkan bahwa kedudukan yang tinggi sekalipun tidak berarti memiliki kewenangan mandiri di hadapan Allah. Syafaat tidak berjalan hanya karena ada pihak yang memiliki kedudukan; ia tetap berada dalam izin dan keridaan Allah.
Jika bahkan malaikat tidak memiliki kekuasaan mandiri semacam itu, manusia tentu tidak memperoleh kedaulatan hanya karena berhasil menciptakan teknologi yang luar biasa.
Dan di sinilah ayat ini terasa semakin dekat dengan manusia yang hidup bersama AI.
Kita sedang membangun sistem yang dapat membantu menentukan apa yang kita baca, apa yang kita lihat, siapa yang kita temui, produk apa yang kita beli, pekerjaan apa yang kita prioritaskan, bahkan sebagian keputusan yang dahulu sepenuhnya berada di tangan manusia.
Masalahnya bukan bahwa mesin mengambil alih seluruh kehidupan.
Masalah yang lebih halus adalah ketika manusia mulai menyerahkan arah hidup kepada sesuatu yang sebenarnya hanya dirancang untuk mengoptimalkan tujuan tertentu.
Algoritma dapat mengoptimalkan perhatian.
Perusahaan dapat mengoptimalkan keuntungan.
AI dapat mengoptimalkan efisiensi.
Tetapi kehidupan manusia tidak identik dengan satu fungsi optimasi.
Ketika Keinginan Akhirnya Terlalu Mudah Dipenuhi
Selama ini manusia mungkin mengira masalah terbesarnya adalah ketika teknologi tidak mampu memberikan apa yang ia inginkan.
Padahal mungkin masalah yang jauh lebih berbahaya muncul ketika teknologi terlalu mampu memberikannya.
Bayangkan manusia yang dapat membuat hampir semua citra dirinya dalam hitungan detik.
Ia dapat memperindah wajah, memperhalus suara, menyusun kata-kata, membangun persona, membuat portofolio, memproduksi opini, bahkan menghasilkan karya tanpa harus menguasai seluruh proses pembuatannya.
Ia semakin dekat dengan versi dirinya yang ia inginkan.
Tetapi pertanyaannya berubah.
Jika manusia akhirnya dapat membuat hampir semua hal tampak seperti yang ia inginkan, bagaimana ia masih dapat mengenali sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya tetapi tetap benar?
Inilah persoalan yang lebih dalam daripada kecemasan bahwa AI akan menggantikan pekerjaan.
AI mungkin menggantikan sebagian pekerjaan manusia.
Tetapi ujian yang lebih sunyi adalah apakah manusia masih sanggup menerima kenyataan yang tidak dapat dioptimalkan.
Kematian tidak dapat dioptimalkan.
Kehilangan tidak dapat dioptimalkan.
Kegagalan tidak dapat dihapus hanya dengan prompt.
Kebenaran tidak selalu dapat dibuat nyaman.
Dan takdir tidak menjadi tunduk hanya karena manusia memiliki teknologi yang semakin canggih.
AI dapat memperpendek jarak antara manusia dan keinginannya. Al-Qur'an justru mengingatkan bahwa tidak semua keinginan layak menjadi tujuan, dan tidak semua tujuan yang berhasil dicapai merupakan kemenangan.
Di situlah kecanggihan teknologi berhadapan dengan kedalaman jiwa.
Ketika Peradaban Harus Belajar Melepaskan
Manusia boleh menggunakan AI.
Bahkan manusia perlu menggunakannya dengan serius untuk pendidikan, penelitian, pelayanan publik, kesehatan, ilmu pengetahuan, kreativitas, dan berbagai pekerjaan yang dapat memberi manfaat.
Masalahnya bukan pada besarnya kemampuan.
Masalahnya muncul ketika kemampuan tersebut membuat manusia lupa bahwa ia tetap bukan pemilik mutlak atas hidupnya.
Karena itu, tawakal tidak menjadi semakin tidak relevan di tengah teknologi.
Justru sebaliknya.
Semakin banyak hal yang dapat dihitung, semakin manusia membutuhkan kemampuan menerima sesuatu yang tidak dapat dihitung.
Semakin banyak hal yang dapat diprediksi, semakin ia perlu menyadari bahwa prediksi bukan kepastian.
Semakin banyak keinginan yang dapat diwujudkan, semakin penting baginya untuk mengetahui kapan harus berhenti menginginkan.
Dan semakin besar kemampuan untuk mengendalikan sesuatu, semakin penting kesadaran bahwa hidup tidak pernah sepenuhnya berada di bawah kendali.
Ukuran Kemajuan yang Lebih Sunyi
QS. An-Najm 53:24–26 tidak menyuruh manusia menjadi lemah.
Ayat-ayat itu justru menempatkan kekuatan manusia pada tempat yang benar.
Manusia boleh berusaha.
Boleh berpikir.
Boleh mencipta.
Boleh membangun teknologi.
Boleh menggunakan AI untuk memperluas manfaat ilmu.
Tetapi ia tidak boleh mengubah keberhasilan teknologinya menjadi ilusi bahwa ia telah memperoleh kedaulatan atas kehidupan.
Sebab kemampuan bukan kepemilikan.
Prediksi bukan kepastian.
Keinginan bukan kebenaran.
Dan kecerdasan bukan kebijaksanaan.
Mungkin justru di situlah manusia akan menemukan ukuran kemajuan yang lebih dewasa.
Bukan pada seberapa banyak yang akhirnya dapat ia lakukan.
Melainkan pada seberapa jernih ia mengetahui apa yang tidak seharusnya ia lakukan, apa yang tidak perlu ia miliki, dan apa yang harus ia serahkan kembali kepada Allah.
Karena pada akhirnya, pertanyaan Al-Qur'an tetap berdiri di hadapan manusia—bahkan ketika manusia telah memiliki mesin yang mampu melakukan hal-hal yang dahulu hanya ada dalam imajinasi:
“Atau apakah manusia akan mendapat segala yang dicita-citakannya?”
Jawabannya datang bukan untuk mematikan cita-cita.
Ia datang untuk menyelamatkan manusia dari cita-citanya sendiri.
Karena mungkin bahaya terbesar sebuah peradaban bukan ketika manusia tidak mampu mendapatkan apa yang ia inginkan, melainkan ketika ia akhirnya mampu mendapatkannya—tanpa lagi bertanya apakah ia seharusnya menginginkannya.
Referensi
Al-Qur’an, QS. An-Najm [53]: 24–26.
Ibn ‘Ashur, Muhammad ath-Thahir. At-Tahrir wa At-Tanwir, tafsir QS. An-Najm [53]: 24–26.
