Pendahuluan Fenomena menarik muncul dalam lanskap pemikiran umat Islam Indonesia: sebagian kalangan Sunni yang selama ini dikena...
Pendahuluan
Fenomena menarik muncul dalam lanskap pemikiran umat Islam Indonesia: sebagian kalangan Sunni yang selama ini dikenal kritis terhadap Syiah, justru menunjukkan simpati terhadap Iran dalam konflik geopolitik melawan Amerika dan Israel. Pergeseran ini memunculkan pertanyaan mendasar: apakah ini bentuk hipokrisi, atau justru tanda evolusi kesadaran umat?
Pertanyaan ini tidak bisa dijawab secara dangkal. Ia menyentuh lapisan terdalam dari identitas keagamaan, konstruksi sosial, hingga dinamika politik global yang membentuk cara berpikir umat Islam hari ini.
Sejarah Ketegangan Sunni–Syiah: Antara Teologi dan Politik
Relasi Sunni dan Syiah tidak lahir dari ruang hampa. Ia merupakan produk sejarah panjang yang melibatkan konflik politik pasca wafatnya Nabi Muhammad. Seiring waktu, konflik ini mengalami teologisasi, sehingga perbedaan politik berubah menjadi perbedaan akidah yang tajam.
Dalam konteks Indonesia, narasi tentang “bahaya Syiah” sempat menguat, terutama dalam diskursus dakwah dan gerakan keagamaan tertentu. Namun, narasi tersebut kini mengalami tantangan serius ketika realitas geopolitik global menghadirkan musuh bersama yang lebih nyata.
Geopolitik Menggeser Teologi
Dalam konflik Iran versus Amerika–Israel, banyak umat Islam Indonesia melihat Iran bukan sebagai representasi Syiah, tetapi sebagai simbol perlawanan terhadap dominasi global. Di titik ini, terjadi pergeseran paradigma: dari konflik teologis menuju solidaritas kemanusiaan dan politik.
Al-Qur’an sendiri memberikan prinsip universal tentang keadilan yang melampaui identitas kelompok:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penegak keadilan karena Allah.” (QS. An-Nisa: 135)
Ayat ini menegaskan bahwa keadilan tidak boleh tunduk pada sentimen kelompok, termasuk mazhab. Ketika Iran dipersepsikan sebagai pihak yang dizalimi, simpati muncul bukan karena kesamaan akidah, tetapi karena dorongan moral untuk membela keadilan.
Hipokrisi atau Evolusi?
Di sinilah letak perdebatan utama. Sebagian pihak menilai sikap ini sebagai bentuk inkonsistensi: dahulu mengkritik Syiah, kini justru membela Iran. Namun, pandangan ini terlalu menyederhanakan kompleksitas realitas.
Ada kemungkinan lain yang lebih substansial: ini adalah bentuk evolusi kesadaran. Umat mulai mampu membedakan antara kritik teologis dan sikap politik. Mereka tidak lagi melihat dunia dalam kerangka hitam-putih berbasis mazhab, melainkan dalam spektrum yang lebih luas dan kontekstual.
Al-Qur’an juga mengingatkan pentingnya berpikir rasional dan tidak terjebak dalam fanatisme:
أَفَلَا تَعْقِلُونَ
“Tidakkah kalian menggunakan akal?” (QS. Al-Baqarah: 44)
Seruan ini menunjukkan bahwa iman tidak boleh dipisahkan dari akal sehat. Justru keduanya harus berjalan beriringan dalam membaca realitas.
Bahaya Polarisasi Sektarian di Era Global
Pengkotakan dunia Islam dalam kategori Sunni dan Syiah, jika tidak dikelola secara bijak, berpotensi melahirkan konflik horizontal yang tidak produktif. Di era global, tantangan umat tidak lagi bersifat internal semata, tetapi juga eksternal dan struktural.
Polarisasi sektarian justru melemahkan posisi umat dalam menghadapi ketidakadilan global. Energi yang seharusnya digunakan untuk membangun peradaban, habis dalam konflik identitas yang tidak berujung.
Padahal, Al-Qur’an telah memberikan peringatan tegas:
وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ
“Janganlah kalian berselisih, yang menyebabkan kalian menjadi lemah dan hilang kekuatan.” (QS. Al-Anfal: 46)
Menuju Kesadaran Baru Umat Islam Indonesia
Fenomena dukungan terhadap Iran dari kalangan Sunni Indonesia bisa dibaca sebagai titik awal menuju kesadaran baru. Kesadaran yang tidak lagi terjebak dalam dikotomi lama, tetapi mampu membaca realitas secara lebih objektif dan rasional.
Ini bukan berarti menghapus perbedaan teologis, melainkan menempatkannya secara proporsional. Perbedaan tetap diakui, tetapi tidak dijadikan alasan untuk menolak keadilan atau solidaritas kemanusiaan.
Kesimpulan
Perdebatan tentang hipokrisi atau evolusi sebenarnya mencerminkan transisi penting dalam cara berpikir umat Islam Indonesia. Di satu sisi, terdapat ketegangan antara warisan sejarah dan realitas modern. Di sisi lain, muncul peluang untuk membangun paradigma baru yang lebih inklusif dan rasional.
Di era modern, pengkotakan konflik berdasarkan label Sunni dan Syiah tidak lagi relevan sebagai kerangka utama. Keduanya pada hakikatnya merupakan konstruksi sejarah yang sangat dipengaruhi oleh dinamika politik masa lalu. Menjadikannya sebagai kacamata tunggal dalam membaca dunia hanya akan mempersempit wawasan dan memperdalam perpecahan.
Seorang Muslim di era kontemporer dituntut untuk melampaui batas-batas tersebut. Keimanan tidak cukup berdiri di atas loyalitas identitas, tetapi harus berpijak pada akal sehat, keadilan, dan tanggung jawab moral universal. Dunia hari ini tidak bisa lagi diatur dengan logika “hukum rimba”, di mana yang kuat selalu benar dan yang berbeda selalu salah.
Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk berpikir terbuka, kemampuan untuk memilah antara teologi dan politik, serta komitmen terhadap nilai-nilai kemanusiaan global. Di titik inilah umat Islam dapat bertransformasi: dari sekadar pewaris konflik masa lalu, menjadi aktor peradaban yang membawa rahmat bagi seluruh dunia.
“Peradaban tidak runtuh karena perbedaan, tetapi karena ketidakmampuan manusia memahami perbedaan dengan akal yang jernih dan hati yang adil.”