Ketika Manusia Menuju Bulan, Mengapa Ia Masih Saling Membunuh?

  Di satu sisi, manusia sedang bersiap kembali menapaki ruang angkasa. Program Artemis membawa ambisi besar: mengirim manusia ke bulan, me...

 


Di satu sisi, manusia sedang bersiap kembali menapaki ruang angkasa. Program Artemis membawa ambisi besar: mengirim manusia ke bulan, membuka jalan bagi eksplorasi yang lebih jauh, bahkan menuju Mars. Ini bukan sekadar proyek teknologi, melainkan simbol pencapaian peradaban. Manusia ingin melampaui batas bumi, menembus langit, dan memahami semesta dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Namun di sisi lain, bumi justru dipenuhi oleh konflik yang tak kunjung usai. Perang, penindasan, dan kekerasan masih menjadi wajah nyata dari kehidupan manusia. Di berbagai belahan dunia, darah masih tumpah, bukan karena keterbatasan pengetahuan, tetapi karena kegagalan mengelola kekuasaan, kepentingan, dan kebencian.

Kontras ini menghadirkan pertanyaan yang menggelisahkan: bagaimana mungkin spesies yang mampu merancang misi ke bulan, masih terjebak dalam siklus kekerasan yang primitif? Apakah ini sekadar ironi, atau justru menunjukkan sesuatu yang lebih mendasar tentang hakikat manusia?

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah kebenaran.” (QS. Fussilat: 53)

Ayat ini mengisyaratkan dua arah pencarian manusia: ke luar, menuju semesta; dan ke dalam, menuju dirinya sendiri. Sains telah membawa manusia jauh dalam menjelajahi alam. Namun eksplorasi ke dalam diri sering tertinggal. Manusia memahami struktur bintang, tetapi gagal memahami dorongan destruktif dalam dirinya sendiri.

Peradaban modern sering mengukur kemajuan melalui teknologi. Semakin canggih alat yang diciptakan, semakin maju sebuah bangsa dianggap. Dalam kerangka ini, misi ke bulan adalah puncak prestasi. Namun ukuran ini menyisakan pertanyaan: apakah kemajuan teknologi selalu sejalan dengan kematangan moral?

Realitas menunjukkan sebaliknya. Teknologi berkembang pesat, tetapi konflik tetap terjadi. Bahkan dalam banyak kasus, teknologi justru memperbesar skala kehancuran. Perang tidak lagi menggunakan alat sederhana, melainkan sistem yang kompleks dan mematikan. Ini menunjukkan bahwa kemajuan intelektual tidak otomatis diikuti oleh kemajuan etis.

وَإِذَا تَوَلَّىٰ سَعَىٰ فِي الْأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ

“Dan apabila ia berpaling, ia berusaha membuat kerusakan di bumi serta merusak tanaman dan keturunan. Dan Allah tidak menyukai kerusakan.” (QS. Al-Baqarah: 205)

Ayat ini menggambarkan sisi lain manusia: potensi untuk merusak. Kemampuan berpikir dan mencipta tidak selalu mengarah pada kebaikan. Tanpa arah yang jelas, kemampuan itu bisa berubah menjadi alat kehancuran. Di sinilah terlihat bahwa masalah utama manusia bukan pada kurangnya pengetahuan, melainkan pada arah penggunaan pengetahuan tersebut.

Misi Artemis, dalam konteks ini, menjadi simbol yang menarik. Ia menunjukkan sejauh mana manusia bisa melangkah secara teknologis. Namun pada saat yang sama, minimnya perhatian global terhadap misi tersebut juga mencerminkan realitas lain: dunia sedang terlalu sibuk dengan konflik untuk memikirkan bintang.

Ketika perang mendominasi perhatian, pencapaian peradaban kehilangan gaungnya. Bukan karena ia tidak penting, tetapi karena kondisi manusia belum siap untuk mengapresiasinya. Peradaban tidak hanya diukur dari seberapa jauh manusia bisa pergi, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan sesamanya.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Ayat ini mengembalikan manusia pada orientasi dasarnya. Tujuan hidup bukan sekadar pencapaian teknologis, melainkan pengabdian yang melahirkan keseimbangan antara kemampuan dan tanggung jawab. Tanpa orientasi ini, kemajuan hanya akan menjadi akumulasi kekuatan tanpa arah.

Pada akhirnya, pertanyaan tentang mengapa manusia masih saling membunuh di tengah kemajuan peradaban tidak bisa dijawab hanya dengan sains. Ia menuntut refleksi yang lebih dalam tentang hakikat manusia itu sendiri. Manusia bukan sekadar makhluk yang mampu mencipta, tetapi juga makhluk yang harus belajar mengendalikan dirinya.

Langit mungkin berhasil dicapai, tetapi jika manusia gagal menaklukkan kebencian dalam dirinya, maka perjalanan itu hanya akan membawa peradaban semakin jauh dari kemanusiaan.

Manusia mungkin akan menapaki bulan, bahkan melampaui bintang. Namun ukuran sejati peradaban tetap sederhana: apakah ia membuat manusia semakin manusia, atau justru kehilangan kemanusiaannya.

COMMENTS

BLOGGER
Nama

Abed Al-jabiri adab AI Akademik Jurnal Akhlak Islam Alam Semesta Algoritma Artikel AI Artikel dakwah Artikel Film Artikel Hikmah Artikel Islami Menarik Artikel Musik Artikel Reflektif Cakrawala Sains Cerita Renungan Inspiratif Contact ME Ekonomi Islam Exchange Dofollow Links Falsafah Kehidupan Filosofi Kang Robby Filsafat Islam Filsafat Robby Fiqh and Ushul Al-Fiqh Fiqih Ibadah Fiqih Perlawanan hukum Islam Humor Sufi Ideologi Keberagaman Indonesia maju Islam Nusantara Jurnal Akademik Jurnal Dakwah Kajian Hadist Kajian Hadist Modern Kajian Islam Modern Kajian Sufistik Kang Robby Kang Robby 2025 Kata Mutiara Islam Kata-Kata Hikmah Kitab Klasik Masalah Kontemporer Mistik Islam Moralitas Neurosains Ngobrol Musik Pemikiran Iqbal Pemikiran Islam Pengembangan Diri Peradaban Puisi Cinta Terbaru Puisi Inspiratif Puisi Islami Inspiratif Puisi Religi Realitas Pesantren Revolusi Kesadaran Santri Modern Sistem Politik spiritualitas Tasawuf Teknologi Indonesia Ulama Klasik Zikir Modern
false
ltr
item
Blog Kang Robby: Ketika Manusia Menuju Bulan, Mengapa Ia Masih Saling Membunuh?
Ketika Manusia Menuju Bulan, Mengapa Ia Masih Saling Membunuh?
https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEgWLuZcgZcp_4nZgSr_bBt77GkczYf9R57sGB7k7Q-f-bCUG6rT3NJcve_EbZp3PHBYfC3wyHlYUkop6bMkuXw9ThKvtfBLfovB9ndsMCOgq4xhnNUmYDazf10dii4I01Z0WN68ubZQflcVMGYPKy-AsyJKlLY_ZWV6UsDUSmN52WfdDondVyLRiBK-1qzX
https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEgWLuZcgZcp_4nZgSr_bBt77GkczYf9R57sGB7k7Q-f-bCUG6rT3NJcve_EbZp3PHBYfC3wyHlYUkop6bMkuXw9ThKvtfBLfovB9ndsMCOgq4xhnNUmYDazf10dii4I01Z0WN68ubZQflcVMGYPKy-AsyJKlLY_ZWV6UsDUSmN52WfdDondVyLRiBK-1qzX=s72-c
Blog Kang Robby
https://robbie-alca.blogspot.com/2026/04/ketika-manusia-menuju-bulan-mengapa-ia.html
https://robbie-alca.blogspot.com/
https://robbie-alca.blogspot.com/
https://robbie-alca.blogspot.com/2026/04/ketika-manusia-menuju-bulan-mengapa-ia.html
true
3328551387479627982
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy