Episode 13 Ekosistem Islam Modern Oleh: Robby Andoyo Sebelum kehidupan diberi nama oleh filsafat, sebelum ilmu pengetahuan menyu...
Episode 13 Ekosistem Islam Modern
Oleh: Robby Andoyo
Sebelum kehidupan diberi nama oleh filsafat, sebelum ilmu pengetahuan menyusun teori tentang pikiran, terdapat pengalaman yang jauh lebih tua: seseorang membuka mata lalu mengetahui bahwa dirinya sedang berada di dunia.
Ia tidak hanya bernapas. Ia mengetahui bahwa dirinya bernapas.
Ia tidak sekadar terluka. Ia dapat bertanya mengapa luka itu terasa.
Ia tidak sekadar menuju kematian. Ia mengetahui bahwa kematian sedang menunggu di ujung perjalanan.
Dari kemampuan sederhana untuk menoleh kepada diri sendiri, lahirlah rangkaian pertanyaan yang tidak pernah benar-benar selesai: siapa aku, untuk apa aku hidup, mengapa aku menderita, apa arti kematian, dan kepada siapa seluruh perjalanan ini bermuara?
Sepanjang sejarah, manusia bukan hanya menjalani kehidupan. Ia juga mengamati dirinya sendiri ketika menjalani kehidupan.
Lantas, apakah merasa ada merupakan sebuah kesalahan?
Persoalan menjadi tajam ketika rasa sadar terhadap keberadaan justru dibaca sebagai sumber penderitaan. Jika kemampuan untuk mengetahui kematian membuat kita takut, jika kemampuan untuk memikirkan makna membuat kita gelisah, jika kemampuan untuk mengingat luka membuat kita kembali merasakan sakit, bukankah lebih baik kesadaran itu dikurangi?
Pertanyaan tersebut terdengar masuk akal sampai kita menyadari satu hal:
rasa sakit yang lahir dari kemampuan memahami kehidupan tidak otomatis membuktikan bahwa kemampuan memahami kehidupan itu sendiri tidak berguna.
Ketika Kesadaran Dianggap sebagai Beban Evolusi
Peter Wessel Zapffe adalah salah satu pemikir yang membawa persoalan ini ke wilayah filsafat pesimisme secara ekstrem.
Dalam esainya The Last Messiah (1933), Zapffe menggambarkan kemampuan reflektif manusia sebagai semacam kelebihan yang melampaui kebutuhan biologis. Makhluk ini tidak hanya hidup, tetapi mengetahui bahwa ia hidup; tidak hanya mengalami kematian, tetapi mampu mengantisipasinya; tidak hanya menderita, tetapi mampu bertanya mengenai alasan penderitaan.
Bagi Zapffe, kemampuan tersebut dapat menjadi sumber tragedi. Kesadaran membuka terlalu banyak kemungkinan bagi kegelisahan, sementara kehidupan biologis tetap bergerak menuju kematian. Dari ketegangan itulah lahir pesimisme eksistensial yang melihat kesadaran sebagai beban yang sulit ditanggung.
Di sini Zapffe menyentuh sebuah kenyataan yang tidak perlu disangkal: kemampuan reflektif memang dapat memperdalam penderitaan.
Tetapi dari sini kita harus berhenti sejenak.
Sebab terdapat perbedaan antara menjelaskan mengapa sesuatu menyakitkan dan menyimpulkan bahwa sesuatu itu tidak bernilai.
Jika kesadaran dapat memperbesar rasa sakit, itu adalah persoalan psikologis dan eksistensial.
Jika kemudian disimpulkan bahwa keberadaan yang sadar menjadi kesalahan, itu sudah menjadi keputusan filosofis.
Keduanya tidak sama.
Ketika Pesimisme Berhenti Terlalu Cepat
Pesimisme mempunyai jasa ketika ia menolak optimisme palsu. Ia mengingatkan bahwa kematian nyata, kehilangan nyata, dan penderitaan tidak dapat dihapus hanya dengan kalimat motivasi.
Namun pesimisme kehilangan ketajamannya ketika diagnosis terhadap luka berubah menjadi vonis terhadap kehidupan.
Rasa sakit bukan bukti bahwa hidup tidak bernilai.
Kegelisahan bukan bukti bahwa pikiran harus dimatikan.
Kesadaran terhadap kematian bukan bukti bahwa kehidupan adalah kesalahan.
Justru kemampuan untuk mengetahui keterbatasan memungkinkan seseorang memperbaiki cara hidupnya.
Ia dapat mengakui kesalahan karena ia mampu melihat dirinya sendiri.
Ia dapat menyesal karena ia mampu membandingkan dirinya sekarang dengan nilai yang seharusnya ia jalani.
Ia dapat berubah karena ia tidak sepenuhnya terkurung dalam keadaan dirinya hari ini.
Dengan demikian, masalahnya bukan sekadar bahwa seseorang sadar terhadap keberadaannya.
Masalah yang lebih dalam adalah ketika kesadaran itu tidak memiliki arah.
Di titik inilah wahyu memasuki persoalan dengan cara yang berbeda.
Dari “Mengapa Ini Menyakitkan?” Menuju “Untuk Apa Aku Diberi Ini?”
Zapffe membantu kita melihat sebuah pertanyaan: mengapa kemampuan reflektif dapat membuat kehidupan terasa berat?
Al-Qur’an membawa pertanyaan itu lebih jauh: jika kemampuan tersebut merupakan bagian dari penciptaan, untuk apa ia diberikan?
Perubahan pertanyaan ini sangat menentukan.
Pesimisme memusatkan perhatian pada beban.
Wahyu mengajak melihat beban bersama kemuliaan, kemampuan, tanggung jawab, batas, dan tujuan.
Al-Qur’an tidak perlu menyangkal bahwa hidup dapat terasa berat. Ia justru memberi kerangka agar beratnya kehidupan tidak diterjemahkan menjadi kesimpulan bahwa keberadaan diri tidak berguna.
Manusia Diciptakan dalam Sebaik-baik Takwim
Allah berfirman:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”
QS At-Tin [95]: 4
Ibn ‘Ashur menjelaskan bahwa sumpah dalam awal Surah At-Tin diarahkan kepada penegasan tentang penciptaan manusia dalam ahsan taqwim. Pembahasan ayat ini berada dalam konteks kesempurnaan susunan penciptaan manusia dan kesiapan yang melekat padanya.
Ayat ini tidak mengatakan bahwa setiap perjalanan hidup akan terasa sempurna.
Ia berbicara tentang bagaimana manusia diciptakan.
Karena itu, penderitaan yang muncul dalam perjalanan tidak dapat begitu saja dijadikan bukti bahwa rancangan keberadaan manusia merupakan kegagalan.
Yang perlu ditanyakan bukan mengapa kita memiliki kemampuan untuk merasa dan berpikir, tetapi bagaimana kemampuan tersebut digunakan.
Diberi Jalan untuk Memilih
Al-Qur’an kemudian menyebut salah satu unsur penting dalam perjalanan tersebut:
وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ
“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.”
QS Al-Balad [90]: 10
Ibn ‘Ashur mengaitkan ayat ini dengan rangkaian pemberian kemampuan kepada manusia: mata sebagai alat persepsi, lisan dan bibir sebagai alat ekspresi, kemudian petunjuk terhadap dua jalan. Dalam konteks surah, kemampuan tersebut menjadi dasar teguran terhadap kesombongan dan kelalaian manusia terhadap kekuasaan Allah.
Di sini terdapat sesuatu yang sangat penting.
Manusia tidak hanya diberi kemampuan untuk mengalami dunia.
Ia juga diberi kemampuan untuk menentukan arah.
Dan kemampuan menentukan arah mengandung kemungkinan salah.
Karena itu, kehidupan tidak pernah dijanjikan sebagai ruang tanpa rasa sakit. Ia merupakan ruang tempat pilihan memperoleh konsekuensi.
Kesadaran tidak selalu membuat jalan menjadi lebih ringan.
Tetapi tanpa kemampuan untuk memilih, pertanyaan tentang arah kehidupan bahkan tidak akan memiliki makna.
Kemuliaan yang Tidak Boleh Dihapus oleh Rasa Sakit
Lalu Al-Qur’an memberikan pernyataan yang jauh lebih eksplisit tentang kedudukan Bani Adam:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا
“Dan sungguh, Kami telah memuliakan Bani Adam, Kami angkut mereka di darat dan di laut, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.”
QS Al-Isra’ [17]: 70
Ibn ‘Ashur menjelaskan bahwa ayat ini berbicara tentang Bani Adam sebagai keseluruhan jenis manusia dan menghimpun lima bentuk karunia: takrim, penundukan sarana perjalanan di darat, penundukan sarana perjalanan di laut, rezeki dari yang baik, dan keutamaan atas banyak makhluk.
Yang sangat penting, kemuliaan itu tidak dipahami sebagai sekadar keindahan tubuh.
Dalam uraian Ibn ‘Ashur, manusia memiliki kekhususan yang berkaitan dengan akal, kemampuan mengelola kehidupan, menerima pengetahuan dan petunjuk melalui para rasul, serta memanfaatkan apa yang ditundukkan Allah baginya.
Dengan demikian, Al-Qur’an tidak membaca kemampuan manusia untuk mengetahui dirinya sebagai alasan untuk merendahkan keberadaannya.
Justru terdapat takrim di dalam struktur keberadaan itu.
Rasa sakit tidak membatalkan kemuliaan.
Kelemahan tidak menghapusnya.
Kegagalan pun tidak menjadikan seseorang tanpa nilai.
Allah Tidak Menuntut di Luar Kesanggupan
Namun kemuliaan tidak berarti manusia harus mampu menanggung segala sesuatu tanpa batas.
Al-Qur’an memberikan batas yang sangat jelas:
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
QS Al-Baqarah [2]: 286
Ibn ‘Ashur menjelaskan bahwa kalimat ini menegaskan bahwa Allah tidak menjadikan manusia dibebani dengan sesuatu yang berada di luar wus‘-nya. Ia menghubungkan pernyataan tersebut dengan kemudahan agama serta hasil iman, ketundukan, dan ketaatan.
Ini penting bagi seseorang yang sedang merasa tidak berguna.
Wahyu tidak berkata bahwa engkau harus selalu kuat.
Wahyu tidak mengatakan bahwa setiap luka harus segera selesai.
Yang ditegaskan adalah bahwa Allah tidak memperlakukanmu sebagai makhluk tanpa batas.
Karena itu, meminta pertolongan bukan kelemahan.
Beristirahat bukan kegagalan.
Mengakui keterbatasan bukan penghinaan terhadap diri.
Manusia memiliki batas, dan batas tersebut tidak membatalkan kemuliaannya.
Kalau Begitu, Untuk Apa Semua Ini?
Di sinilah pertanyaan terakhir harus diajukan.
Jika kita memiliki kemampuan berpikir, merasakan, memilih, menderita, belajar, dan memperbaiki diri, apakah semua itu bergerak tanpa tujuan?
Al-Qur’an memberikan jawaban yang sangat singkat:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
QS Adz-Dzariyat [51]: 56
Dalam At-Tahrir wa At-Tanwir, Ibn ‘Ashur membahas ayat ini dalam konteks penegasan tujuan penciptaan jin dan manusia untuk beribadah kepada Allah, sekaligus menunjukkan bahwa Allah tidak membutuhkan rezeki atau makanan dari makhluk-Nya. Penyebutan tujuan tersebut mengarahkan keberadaan makhluk kepada hubungan penghambaan kepada Sang Pencipta, bukan kepada pemenuhan kebutuhan Allah.
Maka keberadaan manusia tidak berhenti pada kesadaran bahwa “aku ada”.
Kesadaran itu harus bergerak menuju pertanyaan yang lebih tinggi:
“Untuk siapa keberadaanku?”
Di sinilah wahyu menyelesaikan persoalan yang tidak dapat diselesaikan oleh pesimisme semata.
Pesimisme dapat menjelaskan mengapa seseorang merasa terasing dari keberadaannya.
Wahyu memberi arah agar keberadaan itu tidak berhenti pada keterasingan.
Manusia Tidak Perlu Memusuhi Dirinya Sendiri
Seseorang yang merasa tidak berguna sering kali sedang melakukan kesalahan yang lebih dalam daripada sekadar merendahkan diri.
Ia sedang mengubah satu pengalaman menjadi identitas.
“Aku gagal” berubah menjadi “aku adalah kegagalan”.
“Aku terluka” berubah menjadi “aku adalah luka”.
“Aku tidak mampu melakukan ini” berubah menjadi “aku tidak berguna”.
Padahal seluruh kesimpulan tersebut melampaui fakta yang tersedia.
Kesalahan adalah sesuatu yang dilakukan.
Kelemahan adalah sesuatu yang dimiliki.
Kegagalan adalah sesuatu yang dialami.
Tidak satu pun dari ketiganya secara otomatis menjadi hakikat seseorang.
Di sinilah takrim QS Al-Isra’ ayat 70 menjadi sangat kuat: nilai dasar Bani Adam tidak dimulai dari daftar keberhasilan pribadi.
Allah terlebih dahulu menyatakan:
“Kami telah memuliakan Bani Adam.”
Baru setelah itu kehidupan bergerak dengan segala ujian, pilihan, kesalahan, perjalanan, dan tanggung jawabnya.
Kepercayaan Diri yang Lahir dari Wahyu
Karena itu, percaya diri sebagai manusia tidak berarti menganggap diri sempurna.
Kepercayaan diri yang sehat justru lahir ketika seseorang mampu melihat dirinya secara utuh.
Aku punya kekurangan.
Aku pernah gagal.
Aku memiliki luka.
Aku memiliki batas.
Tetapi semua itu tidak cukup untuk membatalkan kenyataan bahwa Allah telah memuliakanku sebagai bagian dari Bani Adam.
Ini bukan kesombongan.
Ini pengenalan diri yang lebih jujur.
Seseorang tidak perlu menjadi luar biasa untuk merasa memiliki nilai.
Ia perlu memahami bahwa nilai dirinya tidak semata-mata ditentukan oleh produktivitas, pengakuan sosial, jabatan, kekayaan, atau keberhasilan yang sedang terlihat.
Ketika ukuran-ukuran tersebut runtuh, kemuliaan yang diberikan Allah tidak ikut runtuh.
Kesadaran yang Menemukan Tuhan
Pada akhirnya, mungkin persoalan terbesar bukan bahwa manusia merasa ada.
Persoalannya adalah ketika ia merasa ada tanpa mengetahui ke mana keberadaan itu harus diarahkan.
Di situlah kesadaran dapat berubah menjadi ruang yang gelap.
Ia melihat dirinya, tetapi tidak melihat tujuan.
Ia mengetahui luka, tetapi tidak menemukan makna.
Ia mengenal kematian, tetapi tidak mengetahui kepada siapa ia akan kembali.
Wahyu tidak meminta kita mematikan kemampuan tersebut.
Wahyu menuntunnya.
QS At-Tin menunjukkan kualitas penciptaan.
QS Al-Balad menunjukkan jalan pilihan.
QS Al-Isra’ menunjukkan kemuliaan.
QS Al-Baqarah menunjukkan batas beban.
QS Adz-Dzariyat menunjukkan tujuan.
Lima ayat itu membentuk satu gerak yang utuh:
engkau diciptakan dengan kemampuan, diberi jalan untuk memilih, dimuliakan, tidak dibebani di luar kesanggupan, lalu diarahkan kepada penghambaan kepada Allah.
Maka rasa sakit tidak lagi harus dibaca sebagai bukti bahwa keberadaanmu sia-sia.
Ia dapat menjadi bagian dari perjalanan seorang makhluk yang sedang belajar mengenal batas, memilih arah, memperbaiki diri, dan kembali kepada Tuhannya.
Pesimisme benar ketika mengingatkan bahwa kesadaran dapat terasa berat.
Tetapi ia keliru jika berhenti pada kesimpulan bahwa karena berat, maka kesadaran itu tidak bernilai.
Sebab sesuatu yang berat tidak selalu tidak berguna.
Benih juga harus menembus tanah sebelum tumbuh.
Dan jiwa kadang harus melewati pertanyaan yang dalam sebelum menemukan arah pulang.
Maka jangan meminta maaf karena merasa ada.
Jangan membenci dirimu hanya karena engkau mampu melihat kelemahanmu.
Jangan menjadikan luka sebagai nama dirimu.
Dan jangan menyerahkan penilaian tentang nilai keberadaanmu kepada dunia yang ukurannya berubah setiap zaman.
Allah telah berbicara lebih dahulu.
“Dan sungguh, Kami telah memuliakan Bani Adam.”
Di hadapan kalimat itu, seseorang tidak perlu menjadi sempurna untuk kembali berdiri.
Ia hanya perlu menyadari bahwa dirinya belum selesai.
Belum selesai belajar.
Belum selesai memperbaiki diri.
Belum selesai berjalan.
Dan yang paling penting:
belum selesai pulang kepada Allah.
Karena itu, persoalan terdalam bukanlah apakah kita merasa ada.
Persoalannya adalah apa yang kita lakukan setelah mengetahui bahwa kita ada.
Merasa ada bukanlah kesalahan.
Yang berbahaya adalah merasa ada tanpa pernah mencari makna dari keberadaan itu.
Dan mungkin di situlah keberanian paling sunyi seorang manusia dimulai:
bukan keberanian untuk menghapus dirinya, tetapi keberanian untuk mengenal dirinya, menerima keterbatasannya, menjaga kemuliaannya, lalu membawa seluruh kesadarannya kembali kepada Allah.
Daftar Referensi
Al-Qur’an, QS At-Tin [95]: 4.
Al-Qur’an, QS Al-Balad [90]: 10.
Al-Qur’an, QS Al-Isra’ [17]: 70.
Al-Qur’an, QS Al-Baqarah [2]: 286.
Al-Qur’an, QS Adz-Dzariyat [51]: 56.
Muhammad al-Tahir Ibn ‘Ashur, At-Tahrir wa At-Tanwir, tafsir QS At-Tin [95]: 4; QS Al-Balad [90]: 10; QS Al-Isra’ [17]: 70; QS Al-Baqarah [2]: 286; QS Adz-Dzariyat [51]: 56.
Peter Wessel Zapffe, The Last Messiah, 1933.
Ekosistem: Islam Modern; Filsafat Islam; Kesadaran Eksistensial; Al-Qur’an dan Kehidupan.
