Perbudakan di Era Modern

Kebebasan adalah harapan setiap makhluk yang bernyawa. Kita sebagai manusia juga ingin hidup bebas tanpa menghilangkan nilai-nilai...




Kebebasan adalah harapan setiap makhluk yang bernyawa. Kita sebagai manusia juga ingin hidup
bebas tanpa menghilangkan nilai-nilai religiusitas yang kita anut. Demikian pula, Agama merupakan
panduan tunggal yang menjadi parameter kebebasan orang beriman. Jika kebebasan sudah dibatasi
dengan tindakan-tindakan yang mengarah pada pengekangan terhadap hak-hak dan kewajiban orang lain. Disitulah akan terjadi praktik perbudakan.

Berbicara tentang perbudakan. kita tentu sudah membaca berbagai bentuk paraktik perbudakan di masa lalu; sebuah produk pemikiran jahiliyah yang berusaha untuk dihilangkan, bahkan dihapuskan dalam ajaran islam sekaligus kepantasan zaman modern.

Allah swt mengatakan,

"… dan barangsiapa membunuh seorang mu’min karena tersalah ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman". (QS An-Nisa : 92)

"Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan , Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? melepaskan budak dari perbudakan". (QS Al-Balad : 10-13)

Dua ayat di atas adalah isyarat nyata untuk membebaskan perbudakan pada masa jahiliyah.
Zaman disaat nalar manusia berada pada titik terendah dalam sejarah peradaban suatu bangsa.
Tapi, Isyarat Al-Quran ini, masih saja diabaikan dalam perjalanan kekhilafaan Islam di masa lalu.
Praktik perbudakan akibat dampak dari peperangan dan penaklukkan wilayah musuh "enemy territory"
masih saja dilestarikan dan berdayakan oleh para pemenang perang di masa lalu.

Kita harus jujur bahwa hukum perbudakan sudah cukup lama diatur dalam Hukum Islam Klasik. Yaitu, pada zaman dahulu, ketika wajah masyarakat dunia masih berada pada fase kelabilan. Pada zaman itu, seorang Tuan tidak boleh memperlakukan budak yang dimilikinya secara semena-mena; menyiksa, menindas dan menyengsarakannya.  Seorang Budak juga tidak boleh memberontak terhadap perintah Tuannya. Itu karena pada masa jahiliyah orang "merdeka" menganggap budak ibarat harta yang bisa dibeli dengan suka rela. 

Pada suatu riwayat dikatakan, “Apabila seorang hamba sahaya melarikan diri dari Tuannya maka shalatnya tidak diterima Allah.”   ( HR. Muslim )

Allah SWT berfirman: "Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki. Maka Sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas." (QS. AL-Mu’minun: 5-7)

Kedua bukti ayat-ayat di atas bagi Saya sangat terikat dengan konteks dan zaman di turunkannya
Al-Quran. Karena itu, ayat-ayat seperti ini tidak bisa menjadi pembenar atas legalisasi perbudakan di dalam Ajaran Islam. Banyak orang yang salah menangkap pesan maha penting dari kitab suci (baca:Al-Quran); bahkan Mereka dengan bangga mendakwa bahwa perbudakan adalah bagian dari ajaran Islam. Ini suatu bentuk dari kemunduran nalar di zaman modern.

Ayat-Ayat Al-Quran dan hadist yang berbicara tentang perbudakan diperuntukkan kepada orang-orang yang hidup pada zaman jahiliyah; zaman dimana kedewasaan berpikir, semangat kebebasan dan persamaan hak-hak setiap manusia adalah sebuah keniscayaan.

Jika pada zaman sekarang, masih ada orang yang ingin menghidupkan kembali hukum perbudakan
seperti di masa lalu, percayalah, mereka bukanlah pembela Syariat Islam, Tapi sebenarnya  hanya
komunitas yang memiliki kedangkalan berpikir dan kemunduran bernalar terhadap kompleksitas
problem kehidupan.

Sebagai penutup dari tulisan ini, Saya ingin mengajak para pembaca untuk belajar bernalar
dengan benar. Kode Etik Perbudakan memang telah diatur dalam Hukum Islam. Tapi bukan berarti Ia adalah substansi dari  Ajaran Islam itu sendiri (baca: Islam Rahmatan Lil Alamin). Yang menjadi nilai substantif dari Ajaran Islam adalah semangat pembebasan terhadap praktik perbudakan di sepanjang sejarah peradaban Islam yang telah berlalu.

Jika kita mengkontekstualisasikan Ayat-ayat Al-Quran yang mengarah pada semangat pembebasan dalam praktik perbudakan, khususnya di Era Modern ini, kita tentu tidak mendapati lagi praktik perbudakan layaknya yang ada pada zaman jahiliyah. Tetapi bukan berarti perang melawan perbudakan sudah berakhir dan telah usai. Justru pada zaman sekarang praktik perbudakan yang dikemas secara elegan banyak terjadi di dalam kehidupan bermasyarakat. Mari kita ambil contoh, eksploitasi terhadap anak-anak, para buruh, karyawan dan pekerja di perusahaan-perusahaan besar yang mengupah mereka dengan bayaran yang "ala kadarnya" ; tidak sesuai dengan usaha  dan kompetensi yang mereka miliki.  Inilah salah satu bentuk dari praktik perbudakan di Era Modern.

Demikian pula, banyak Instansi Pendidikan, Yayasan dan Institusi yang mendoktrin para pegawainya dengan semboyan "semangat keikhlasan". Dengan tujuan agar institusi yang mereka bangun terlepas dari tekanan moral dalam memberi upah/bayaran  yang layak kepada para pegawainya. Ini adalah sebuah kesalahan yang dikemas secara religi; seolah-olah tampak lebih agamis. Kita harus sadar bahwa keikhlasan senantiasa beriring dengan profesionalitas seseorang. Jika kita mempekerjakan orang lain berdasarkan kompetensi,  keahlian dan keilmuan yang mereka miliki, tentu kita harus profesional dalam memberi upah kepada mereka.  Semakin kita menunjukkan profesionalitas dan kewajiban terhadap para pekerja kita, bisa dipastikan semakin besar keikhlasan yang akan kita peroleh dari mereka.

Nabi saw mengatakan,

" Berilah kepada setiap orang haknya masing-masing ( para pekerja)," ( Al-Hadist )

" Berilah Para pekerja upahnya sebelum keringat di badannya menetes 
(kering keringat dibajunya)   (Al-Hadist)


Hadist ini memuat pesan profesionalitas yang tinggi. Jika kita termasuk orang yang memiliki
wewenang dalam mengambil kebijakan di dalam institusi kita, baik itu Institusi Pendidikan atau lainnya,
sudah waktunya untuk melihat kembali, intropeksi diri, melihat kedalam; apakah keadilan dalam institusi yang kita pimpin sudah merata? atau kita hanya membiarkannya saja (baca: mengabaikan,tidak peduli) seperti halnya membiarkan air mengalir yang tidak kita ketahui dimana akhirnya?

Semoga bermanfaat


Robby Andoyo

COMMENTS

BLOGGER
Nama

Akhlak Islam Artikel Hikmah Artikel Inspirasi Artikel Islami Menarik Cerita Renungan Inspiratif Contact ME Dialog Agama Exchange Dofollow Links Falsafah Kehidupan Filosofi Kang Robby Ideologi Keberagaman Islam Moderat Kajian Islam Kajian Peradaban Kang Robby Kata Mutiara Islam Kata-Kata Hikmah Kitab Klasik Pengembangan Diri Progresif-Spiritualis Puisi Cinta Terbaru Puisi Inspiratif Puisi Islami Inspiratif Puisi Religi Ulama Klasik
false
ltr
item
Blog Kang Robby: Perbudakan di Era Modern
Perbudakan di Era Modern
https://3.bp.blogspot.com/-UIfDu_iNP8w/WXxYqKD92LI/AAAAAAAAAGU/vgO9Br8hdoYoxzsgtGfpZ7uYJzNfYmHAwCLcBGAs/s1600/islam-memuliakan-wanita.jpg
https://3.bp.blogspot.com/-UIfDu_iNP8w/WXxYqKD92LI/AAAAAAAAAGU/vgO9Br8hdoYoxzsgtGfpZ7uYJzNfYmHAwCLcBGAs/s72-c/islam-memuliakan-wanita.jpg
Blog Kang Robby
http://robbie-alca.blogspot.com/2017/07/perbudakan-di-era-modern.html
http://robbie-alca.blogspot.com/
http://robbie-alca.blogspot.com/
http://robbie-alca.blogspot.com/2017/07/perbudakan-di-era-modern.html
true
3328551387479627982
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy