Memiliki “rasa” adalah hal yang sangat penting dalam mewujudkan dan menggapai sesuatu. Apapun itu, ketika “rasa” hilang, keotentikan ...
Memiliki “rasa” adalah hal yang sangat penting dalam
mewujudkan dan menggapai sesuatu. Apapun itu, ketika “rasa” hilang, keotentikan
sesuatu itu akan pupus dan berakhir. Dalam hubungan cinta misalnya, ketika “rasa”
tidak hadir dalam intraksi antara pria dan wanita, kemungkinan berakhirnya
hubungan hanya tinggal menunggu waktu. Saat kita mengerjakan pekerjaan yang
berat, kita akan merasa pekerjaan itu sangat mudah dan menyenangkan, jika kita
memiliki “rasa” dan niat yang tulus.
Jadi, bagaimana jika konsep “rasa” ini kita wujudkan dalam
beragama.
Apakah orang yang beragama akan semakin baik jika beragama dengan “rasa”?
Menurut saya, orang beragama harus mempunyai “rasa”.
Walaupun basis dari agama sebenarnya adalah keyakinan, tapi “rasa” sendiri
harus senantiasa ada dalam setiap intraksi manusia terhadap manusia lainnya.
Karena hanya dengan “rasa” kita akan menjadikan agama yang kita anut bermanfaat
untuk semua orang.
Jika kita beragama dengan rasa, Masalah perbedaan keyakinan
bukan menjadi penghalang untuk berintraksi secara baik terhadap orang lain.
Karena pada dasarnya, hubungan antar manusia bersandar pada “rasa” bukan pada
pilihan keyakinan dan ideologi.
Apa yang sudah hilang dari sekelompok umat beragama saat ini
adalah “rasa” dalam beragama. Agama yang seharusnya menjadi kontrol terhadap
prilaku seseorang, malah dijadikan sebagai alat untuk membenci,memecah-belah
dan berprilaku rasis. Begitu banyak contoh yang bisa kita dapatkan dari kecenderungan
beragama tanpa “rasa” ini.
Sebagai contoh, pada 14 January 2020, jagad Twitter dipenuhi
dengan ungkapan kata “Kafir”. Adapun yang memicu Isu ini semakin berkembang
adalah adanya postingan video tentang anak-anak SD di Yogyakarta yang diberi
Pendidikan Pramuka berupa Yel-yel “Islam Yes, Kafir No”.Beredarnya video ini
membuat masyarakat resah. Terlebih Wali murid, merasa bahwa hal seperti ini bisa
menimbulkan konflik antar agama. Lebih parah lagi, sikap seperti ini bisa
mendidik anak-anak SD berprilaku intoleran terhadap orang yang berbeda.
Ironisnya, sekelompok orang berpandangan, sikap seperti ini
bukanlah masalah yang harus dibesar-besarkan. Terhadap orang-orang yang
berpikir demikian, kita hanya bisa “mengelus dada”. Apapun agama anda. Di zaman
sekarang ini, kita harus bisa menghilangkan sikap merendahkan orang lain
melalui acuan ajaran agama yang kita anut.
Misalnya, Dalam hadist dikatakan, “Malaikat tidak akan
memasuki rumah jika didalamnya terhadap patung.” Jika ada orang yang menjadikan
narasi hadist Nabi SAW ini sebagai acuan untuk merendahkan doktrin agama orang
lain, itu berarti ia beragama bukan dengan “rasa”.
Mengapa?
Karena orang yang beragama degan “rasa” akan membung
jauh-jauh pemikiran untuk menjelek-jelekkan agama orang lain. Mereka lebih focus
terhadap pengembangan diri dan mempelajari ajaran-ajaran agama universal dan
menerapkannya untuk kebaikan seluruh umat manusia.
Jika Anda beragama Islam, Jangan pernah sekalipun Anda mengatakan
kepada orang Kristen bahwa mereka menyembah patung salib. Mereka pastinya
dengan sangat emosional akan menentang Anda. Atau bahkan melakukan “counter
attack” serangan balik dengan berkata, dan kalian tidak ada bedanya dengan para
penyembah batu. Karena kalian rela menghabiskan puluhan juta hanya untuk
berjumpa batu.
Artinya apa? Mari kita beragama dengan “rasa” apa yang
menurut kita bisa menyakiti hati orang yang berbeda dengan kita, itu juga
menyakiti hati kita sendiri. Jika orang lain tidak suka agama mereka
direndahkan, begitupula diri kita sendiri, akan marah bahkan mengamuk jika
agama dan identitas keagamaan kita diusik orang lain.
Sebagai penutup, terkadang, terhadap sesama penganut agama
sekalipun memperlakukan saudara seiman tanpa “rasa”. Menganggap bahwa keislaman
yang dianutnya adalah yang paling sempurna dan menuduh saudara seiman dengan
sebutan munafiq dan berkhianat. Tentu ini adalah sebuah sikap yang tidak benar.
Apalagi hanya karena perbedaan orientasi politik, madzhab dan golongan, segala
cara ditempuh hanya untuk merendahkan orang lain dan menaikkan diri sendiri.
Inilah bentuk dari beragama tanpa “rasa”. Orang yang beragama seperti ini tidak
akan bisa memiliki ketenangan batin, walaupun setiap hari menjalani rutinitas
peribadatan, jika hati dalam beragama dipenuhi dengan “rasa” keinginan
membinasakan orang lain, Agama yang dianut hanya akan membuat ia semakin
beringas dan lepas kendali.
Semoga kita bisa menjadi pribadi yang Bergama dengan rasa.
Beragama yang berfokus terhadap kualitas ibadah yang kita miliki, tanpa harus
bertengkar dan berdebat yang tidak perlu
dengan orang lain. Begitupula, orang yang beragama dengan rasa, tidak akan
pernah menjadikan ajaran-ajaran agama yang berkaitan dengan pembelajaran akhlak
sebagai tolak ukur untuk menjustifikasi orang lain, apalagi saudara seiman.
Tetapi, ajaran-ajaran agama yang berupa pembelajaran akhlak
harus dilihat sebagai sumber “auto-critic” koreksi diri agar bisa menjadi lebih
baik dalam hidup. Yang ada saat ini, ketika mendengar kata “munafik” misalnya,
tanggan kita menuding orang lain “munafiq” hanya karena berbeda pandangan
politik dan keagamaan.
Terimakasih
Semoga Bermanfaat
Robby Andoyo