Ketika Ambisi Kehilangan Rahmat

  Oleh: Robby Andoyo Saya pernah melihat sebuah masjid yang membuat saya lebih banyak diam daripada kagum. Bangunannya ada. Tana...

 


Oleh: Robby Andoyo

Saya pernah melihat sebuah masjid yang membuat saya lebih banyak diam daripada kagum.

Bangunannya ada. Tanahnya ada. Bentuknya ada.

Tetapi setelah bertahun-tahun, tempat itu seperti kehilangan sesuatu yang jauh lebih penting daripada bangunan itu sendiri: kehidupan.

Lima tahun berlalu sejak sebuah proses pembangunan yang dahulu dibicarakan dengan bahasa kebaikan. Namun yang tampak kemudian justru ruang yang lebih menyerupai tempat parkir daripada rumah yang dipenuhi manusia untuk bersujud.

Saya tidak tahu seluruh persoalan di baliknya. Saya juga tidak ingin menjadi hakim atas siapa pun.

Tetapi ada satu pertanyaan yang sulit saya lepaskan:

Kalau sebuah kebaikan harus dibangun dengan mengorbankan manusia lain, lalu setelah dibangun justru kehilangan manusia yang menghidupkannya, sebenarnya apa yang sedang kita bangun?

Pertanyaan itu membawa saya kepada sesuatu yang lebih besar daripada sebuah masjid.

Tentang ambisi.

Tentang keberkahan.

Tentang keterbatasan manusia.

Dan tentang sesuatu yang sering terlambat kita sadari: tidak semua yang berhasil kita bangun otomatis menjadi kebaikan yang berhasil kita hidupkan.

Kebaikan Tidak Hanya Dinilai dari Apa yang Berdiri

Manusia menyukai sesuatu yang bisa dilihat.

Bangunan yang besar mudah dipotret. Angka mudah dilaporkan. Tanah mudah diukur. Dana mudah dihitung. Jumlah peserta mudah dicatat.

Maka kita sering membawa cara berpikir yang sama ketika berbicara tentang kebaikan.

Semakin besar, semakin baik.

Semakin megah, semakin berhasil.

Semakin ramai, semakin berkah.

Padahal hubungan antara besar dan berkah tidak sesederhana itu.

Keberkahan bukan sesuatu yang bisa dipastikan hanya karena sebuah proyek telah selesai.

Kita bisa membangun sebuah masjid, tetapi tidak bisa memerintahkan hati manusia untuk mencintainya.

Kita bisa menyediakan ruang untuk beribadah, tetapi tidak bisa memproduksi kekhusyukan.

Kita bisa membuat program keagamaan, tetapi tidak bisa memaksa ilmu yang disampaikan menjadi perubahan dalam kehidupan seseorang.

Di situlah kata berkah menjadi penting.

Ia mengingatkan manusia bahwa ada wilayah kehidupan yang tidak sepenuhnya tunduk kepada perencanaan kita.

“Semoga Mendapatkan Berkah” Bukan Kalimat Kosong

Di tengah dunia yang semakin menyukai sesuatu yang dapat dihitung, kalimat seperti “semoga mendapatkan berkah” kadang terdengar terlalu sederhana.

Seolah-olah ia hanya ucapan religius yang tidak memiliki hubungan dengan logika kehidupan.

Saya justru melihat sebaliknya.

Ketika seseorang berkata semoga pekerjaannya berkah, ia sebenarnya sedang mengakui bahwa kerja keras saja tidak menjamin seluruh kebaikan yang ia harapkan.

Ia tetap harus berusaha.

Tetapi ia juga tahu bahwa hidup memiliki wilayah yang tidak bisa dipaksa.

Kita bisa berobat, tetapi tidak menentukan sendiri kapan tubuh sembuh.

Kita bisa mendidik, tetapi tidak menentukan sepenuhnya akan menjadi apa seseorang kelak.

Kita bisa merencanakan masa depan, tetapi tidak memiliki seluruh kejadian yang akan datang.

Kita bahkan bisa sangat serius menjaga sebuah proyek kebaikan, tetapi tidak pernah bisa memastikan bagaimana manusia akan menerimanya bertahun-tahun kemudian.

Berusaha bukan berarti menguasai hasil.

Kesadaran terhadap batas itulah yang membuat seorang beriman dapat bekerja keras tanpa mabuk oleh perasaan bahwa segala sesuatu berada di tangannya.

Ketika Cara Mencapai Tujuan Tidak Lagi Dipertanyakan

Ambisi sebenarnya tidak selalu buruk.

Tanpa ambisi, manusia mungkin tidak akan membangun sekolah, rumah sakit, perpustakaan, pesantren, masjid, atau berbagai bentuk pelayanan yang dibutuhkan masyarakat.

Masalahnya muncul ketika besarnya tujuan membuat kita merasa cara apa pun menuju tujuan itu dapat dibenarkan.

Di situlah manusia perlu berhenti.

Karena orang yang sedang mengejar kebaikan bisa menjadi begitu yakin terhadap tujuannya sampai tidak lagi mendengar manusia yang berada di sepanjang jalan menuju tujuan itu.

Padahal mereka bukan angka dalam proposal.

Bukan hambatan administratif.

Bukan bagian kecil dari sebuah proyek.

Mereka adalah manusia.

Mereka memiliki rumah. Mereka memiliki kenangan. Mereka memiliki kehidupan yang tidak bisa begitu saja dihapus hanya karena sebuah rencana dianggap lebih besar.

Maka persoalan spiritualnya bukan sekadar:

“Apakah tujuan kita baik?”

Pertanyaan yang lebih sulit adalah:

“Apakah cara kita menuju tujuan itu masih mencerminkan kebaikan yang kita klaim?”

Masjid yang Sepi Mengajarkan Sesuatu yang Tidak Bisa Diajarkan Bangunan

Saya tidak menulis ini untuk mengatakan bahwa sebuah masjid yang sepi pasti salah.

Masjid bisa saja sepi karena banyak keadaan yang tidak kita ketahui. Tidak adil mengambil kesimpulan hanya dari apa yang terlihat.

Tetapi pemandangan itu tetap bisa menjadi cermin.

Sebuah bangunan keagamaan mengingatkan saya bahwa tempat ibadah bukan hanya persoalan menyediakan ruang.

Ia membutuhkan manusia yang merasa memiliki hubungan dengan ruang itu.

Ia membutuhkan kepercayaan. Ia membutuhkan masyarakat. Ia membutuhkan orang-orang yang datang bukan karena dipaksa oleh kemegahan bangunan, tetapi karena hatinya menemukan alasan untuk bersujud di sana.

Sebuah masjid dapat selesai secara konstruksi tetapi belum selesai secara sosial.

Dan sebuah masjid dapat berdiri secara fisik tetapi belum tentu hidup secara spiritual.

Yang satu membutuhkan tukang.

Yang lainnya membutuhkan manusia.

Manusia Memiliki Batas

Ada sesuatu yang semakin saya sadari: manusia memiliki hasrat untuk menguasai.

Kita ingin memastikan. Ingin mengatur. Ingin menentukan. Ingin agar apa yang sudah direncanakan berjalan persis seperti yang dibayangkan.

Padahal raga manusia sendiri tidak selalu patuh kepada keinginannya.

Tubuh bisa sakit.

Rencana bisa gagal.

Orang yang kita harapkan bisa berubah arah.

Hasil yang kita perjuangkan bisa datang dalam bentuk yang sama sekali berbeda.

Dan pada suatu titik, manusia dipaksa mengakui:

Ada sesuatu yang tidak bisa diusahakan sampai tuntas oleh manusia.

Bukan karena manusia malas. Bukan karena manusia tidak boleh berusaha. Tetapi karena manusia memang memiliki batas.

Kesadaran terhadap batas itu bukan kelemahan iman.

Justru ia bisa menjadi awal dari tawakal.

Kita melakukan bagian kita.

Lalu kita mengakui bahwa kehidupan tidak pernah sepenuhnya menjadi milik kita.

Ketika Kehendak Manusia Bertemu dengan Kehendak Allah

Allah berfirman:

ÙˆَÙ…َا تَØ´َاءُونَ Ø¥ِÙ„َّا Ø£َÙ† ÙŠَØ´َاءَ اللَّÙ‡ُ ۚ Ø¥ِÙ†َّ اللَّÙ‡َ Ùƒَانَ عَÙ„ِيمًا Ø­َÙƒِيمًا

“Dan kamu tidak mampu menghendaki, kecuali apabila Allah menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (QS. Al-Insan [76]: 30)

Ayat ini menempatkan kehendak manusia pada tempatnya.

Kita memiliki kehendak. Kita membuat keputusan. Kita bekerja. Kita memilih.

Tetapi kita bukan penguasa mutlak atas kehidupan.

Kesadaran seperti ini penting karena ambisi yang tidak mengenal batas dapat berubah menjadi keinginan untuk mengendalikan kenyataan.

Padahal manusia bukan Tuhan.

Mungkin salah satu bentuk kedewasaan jiwa adalah mengetahui kapan harus berusaha sekuat tenaga dan kapan harus berkata:

“Ya Allah, selebihnya aku serahkan kepada-Mu.”

Manusia Salah. Manusia Lupa. Maka Jalan Pulang Harus Tetap Ada

Manusia memang tempat salah dan lupa.

Kita bisa salah membaca keadaan. Kita bisa terlalu percaya pada penilaian sendiri. Kita bisa mengejar sesuatu dengan niat yang awalnya baik, lalu perlahan berubah.

Kita bisa kehilangan kewaspadaan.

Dan ketika kesadaran itu datang, yang dibutuhkan bukan keputusasaan.

Yang dibutuhkan adalah jalan pulang.

Allah berfirman:

Ø¥ِÙ†َّ اللَّÙ‡َ ÙŠُØ­ِبُّ التَّÙˆَّابِينَ ÙˆَÙŠُØ­ِبُّ الْÙ…ُتَØ·َÙ‡ِّرِينَ

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang banyak bertaubat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah [2]: 222)

Taubat menjadi indah justru karena manusia memang bisa tersesat.

Ia bukan penghinaan terhadap manusia. Ia pengakuan bahwa manusia tidak selalu mampu menjaga dirinya sendiri.

Maka ketika kehilangan kendali terjadi, seorang hamba tidak harus berpura-pura kuat.

Ia dapat berhenti.

Mengakui.

Memohon ampun.

Lalu mencoba kembali.

Hikmah Tidak Selalu Datang dari Orang yang Lebih Tua

Saya semakin menyadari bahwa kebijaksanaan tidak selalu datang dari tempat yang kita anggap tinggi.

Kadang ia datang dari seorang anak kecil.

Satu percakapan sederhana.

Satu pertanyaan yang polos.

Satu cara melihat dunia yang belum terlalu dipenuhi kepentingan.

Orang dewasa sering merasa bahwa semakin banyak yang diketahui, semakin tinggi pula posisi dirinya untuk mengajari orang lain.

Padahal mungkin salah satu tanda bahwa seseorang mulai matang adalah ketika ia kembali mampu mendengarkan.

Anak kecil dapat mengajarkan sesuatu yang sering hilang dari orang dewasa: kemampuan melihat sesuatu tanpa terlalu banyak kepentingan di belakangnya.

Dan di sana saya kembali diingatkan bahwa ilmu seharusnya membuat manusia semakin rendah hati, bukan semakin sulit menerima kemungkinan bahwa dirinya masih harus belajar.

Hidup Bisa Berjalan Tanpa Pernah Benar-Benar Dihidupi

Inilah yang akhirnya membawa saya kepada persoalan yang lebih dekat dengan diri sendiri.

Manusia bisa menghabiskan bertahun-tahun dalam rutinitas tanpa pernah benar-benar bertanya apa yang sedang terjadi di dalam dirinya.

Bangun.

Bekerja.

Makan.

Berbicara.

Membuka layar.

Tidur.

Kemudian semuanya diulang.

Secara biologis, hidup berjalan.

Tetapi secara batin, belum tentu.

Karena itu manusia membutuhkan sesuatu yang mengembalikan kesadarannya secara berkala.

Menulis.

Membaca Al-Qur'an.

Berdoa.

Membaca Yasin dan mendoakan keberkahan untuk orang tua dan keluarga.

Menyisihkan waktu untuk berpikir.

Menjaga amal yang mungkin tidak diketahui siapa pun.

Bukan karena semua aktivitas itu otomatis membuat seseorang menjadi lebih baik.

Tetapi karena manusia membutuhkan jeda untuk kembali bertemu dengan dirinya sendiri.

Amalan rutin adalah cara sederhana untuk mencegah hidup berubah menjadi sekadar pengulangan hari.

Yang Perlu Dibangun Mungkin Bukan Lagi Bangunannya

Setelah melihat semua itu, saya tidak merasa memiliki kemampuan untuk menyelesaikan persoalannya.

Saya hanya bisa merasa sedih.

Mendoakan.

Lalu menjadikannya bahan muhasabah.

Karena terlalu mudah menunjuk sesuatu di luar diri dan berkata:

“Lihat, mereka telah salah.”

Padahal pertanyaan yang lebih berat adalah:

“Apa yang sedang saya bangun di dalam diri saya sendiri?”

Apakah saya sedang membangun pengetahuan?

Apakah saya sedang membangun ketulusan?

Apakah saya sedang membangun hubungan dengan Allah?

Apakah saya sedang membangun kebiasaan yang membuat hidup lebih berarti?

Atau jangan-jangan saya hanya sedang memperbesar sesuatu yang bisa dilihat orang lain?

Karena manusia juga bisa memiliki “bangunan” di dalam dirinya yang tampak kokoh dari luar tetapi kosong ketika tidak ada yang melihat.

Rahmat Adalah Ujian bagi Sebuah Kebaikan

Mungkin inilah yang akhirnya saya pahami dari kegelisahan sederhana itu.

Kebaikan tidak cukup hanya memiliki tujuan yang baik.

Ia juga membutuhkan cara yang manusiawi.

Ia membutuhkan kepekaan.

Ia membutuhkan kerendahan hati.

Ia membutuhkan kesediaan untuk berhenti ketika cara kita mulai melukai sesuatu yang seharusnya kita jaga.

Dan ia membutuhkan kesadaran bahwa manusia tidak pernah menjadi pemilik mutlak atas hasil pekerjaannya.

Karena itu, ambisi tidak harus dimatikan.

Ambisi hanya perlu dikembalikan ke tempatnya.

Ia boleh membantu manusia membangun.

Tetapi ia tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti melihat manusia.

Ia boleh mendorong kita mencapai sesuatu.

Tetapi ia tidak boleh membuat kita merasa memiliki kendali atas segala sesuatu.

Ia boleh membuat kita bekerja keras.

Tetapi ia harus tetap bersedia tunduk kepada kehendak Allah.

Ketika Lelah Membangun Membuat Kita Lupa untuk Menghidupkan

Saya akhirnya tidak ingin mengingat masjid itu hanya sebagai bangunan yang sepi.

Saya ingin mengingatnya sebagai pertanyaan.

Pertanyaan tentang diri saya sendiri.

Tentang semua ambisi yang pernah saya miliki.

Tentang semua sesuatu yang pernah saya anggap harus selesai.

Tentang semua usaha yang pernah saya pikir akan menghasilkan sesuatu persis seperti yang saya bayangkan.

Dan tentang betapa sering manusia lupa bahwa kehidupan bukan hanya perkara membangun.

Kita juga harus belajar menghidupkan.

Menghidupkan ilmu.

Menghidupkan doa.

Menghidupkan kasih sayang.

Menghidupkan keluarga.

Menghidupkan hubungan dengan Allah.

Dan mungkin yang paling sulit:

menghidupkan kesadaran di dalam diri sendiri.

Sebab pada akhirnya, kita semua akan meninggalkan apa pun yang kita bangun.

Bangunan akan ditinggalkan.

Jabatan akan ditinggalkan.

Nama akan perlahan dilupakan.

Bahkan tubuh sendiri akan kita tinggalkan.

Yang tersisa adalah bagaimana kita menjalani semua itu sebagai seorang hamba.

Maka saya tidak ingin terlalu sibuk bertanya seberapa besar sesuatu yang telah berhasil saya bangun.

Saya ingin lebih sering bertanya:

Apakah semua yang saya bangun membuat saya semakin dekat kepada Allah, atau justru semakin jauh dari-Nya?

Karena mungkin ada bangunan yang belum selesai tetapi penuh keberkahan.

Dan mungkin ada bangunan yang sudah selesai, tetapi masih menunggu manusia untuk menghidupkannya.

Dan mungkin, tanpa kita sadari, keadaan itu juga sedang terjadi di dalam diri kita sendiri.

Kita sibuk membangun kehidupan, sementara jiwa kita masih menunggu untuk dihidupkan.

COMMENTS

BLOGGER
Nama

Abed Al-jabiri adab AI Akademik Jurnal Akhlak Islam Al-Qur'an Alam Semesta Algoritma Algoritma Budaya Artificial Super Intelligence Artikel AI Artikel dakwah Artikel Film Artikel Futuristik Artikel Hikmah Artikel Islami Menarik Artikel Musik Artikel Reflektif Bediuzzaman Said Nursi Cakrawala Sains Catatan Intelektual Cerita Renungan Inspiratif Civilizational Spirit Contact ME Diskursus Peradaban Ekonomi Islam Ekosistem Illahi Ekosistem Kesadaran Spiritual Ekosistem Reflektif Ekosistem Sains Exchange Dofollow Links Falsafah Kehidupan Fikih Kontemporer Filosofi Kang Robby Filsafat Agama Filsafat AI Filsafat Bola Filsafat Ilmu Filsafat Islam Filsafat Kehidupan Filsafat Ketuhanan Filsafat Modern Filsafat Musik Filsafat Peradaban Filsafat Politik Filsafat Robby Fiqh and Ushul Al-Fiqh Fiqih Ibadah Fiqih Perlawanan Geopolitik Modern hukum Islam Humor Sufi Ibadah Artistik Ideologi Keberagaman Ikonik Reflektif Spiritual Indonesia maju Islam Modern Islam Nusantara Islam Simbolik Islamisasi Ilmu Jurnal Akademik Jurnal Dakwah Kajian Hadist Kajian Hadist Modern Kajian Islam Modern Kajian Sufistik Kang Robby Kang Robby 2025 Kata Mutiara Islam Kata-Kata Hikmah Kesalehan Simbolik Khusyuk & Spiritualitas Kitab Klasik Krisis Eksistensial Krisis Integritas Kritik Institusi Agama Kritik Kapitalisme Religius Kritik Peradaban Kritik Sosial Keagamaan Literasi Digital Literasi Islam Masalah Kontemporer Mistik Islam Modernitas Moralitas Motivasi Modern Narsisme Kekuasaan Negara Modern Neurosains Ngobrol Musik Pemikiran Iqbal Pemikiran Islam Pendidikan Pesantren Pengembangan Diri Peradaban Peradaban AI Peradaban Islam Peradaban Politik Phycological Warfare Psikologi Modern Puisi Cinta Terbaru Puisi Inspiratif Puisi Islami Inspiratif Puisi Religi Realitas Pesantren Refleksi Idul Adha Refleksi Institusi Refleksi Islam Refleksi Islam Kontemporer Refleksi Peradaban Refleksi Politik Refleksi Spiritual Refleksi Teknologi Reflektif Spiritual Revolusi Kesadaran Risalah Nur X Blog Kang Robby Santri Modern Sistem Politik spiritualitas Tafsir Aesthetic Tasawuf Tasawuf Modern Teknologi dan Peradaban Teknologi Indonesia Ulama Klasik Zikir Modern
false
ltr
item
Blog Kang Robby: Ketika Ambisi Kehilangan Rahmat
Ketika Ambisi Kehilangan Rahmat
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjrH0TQLlFKM7V-WYTalqA745UMNLspz5OqOm1CH1DV8tN3cE0e1UEn_2toUTtW0kFDIqgPSwhUJLOGTkAZslSMG4OKNDRy2Z9-oxzQPjmLDk82cVQEkJrQXInl-w4zoPWBf_QiLvcqCixzQlT2qG6OZiz6ycIy1BdR_oXJRQPak5N4FbfUF7DhP3sc8s9f/s1600/image.png
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjrH0TQLlFKM7V-WYTalqA745UMNLspz5OqOm1CH1DV8tN3cE0e1UEn_2toUTtW0kFDIqgPSwhUJLOGTkAZslSMG4OKNDRy2Z9-oxzQPjmLDk82cVQEkJrQXInl-w4zoPWBf_QiLvcqCixzQlT2qG6OZiz6ycIy1BdR_oXJRQPak5N4FbfUF7DhP3sc8s9f/s72-c/image.png
Blog Kang Robby
https://robbie-alca.blogspot.com/2026/10/ketika-ambisi-kehilangan-rahmat.html
https://robbie-alca.blogspot.com/
https://robbie-alca.blogspot.com/
https://robbie-alca.blogspot.com/2026/10/ketika-ambisi-kehilangan-rahmat.html
true
3328551387479627982
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy