Oleh: Robby Andoyo Di suatu malam, seorang hamba mengangkat kedua tangannya. Namun sebelum satu pun kata keluar dari bibirnya, hatinya ...
Oleh: Robby Andoyo
Di suatu malam, seorang hamba mengangkat kedua tangannya. Namun sebelum satu pun kata keluar dari bibirnya, hatinya lebih dahulu bertanya: Jika aku meminta sesuatu secara khusus, bukankah itu seperti memaksa Tuhan agar hidup berjalan sesuai keinginanku?
Pertanyaan itu membuatnya memilih doa yang lebih luas. Ia tidak menyebut pekerjaan tertentu yang diinginkan. Tidak menyebut seseorang yang ingin dimiliki. Tidak menentukan jalan hidup yang harus terbuka. Ia hanya memohon:
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ سَلَامَةً فِي الدِّينِ، وَعَافِيَةً فِي الْجَسَدِ، وَزِيَادَةً فِي الْعِلْمِ، وَبَرَكَةً فِي الرِّزْقِ، وَتَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ، وَرَحْمَةً عِنْدَ الْمَوْتِ، وَمَغْفِرَةً بَعْدَ الْمَوْتِ
Ya Allah, kami memohon keselamatan dalam agama, kesehatan dalam tubuh, tambahan ilmu, keberkahan rezeki, taubat sebelum kematian, rahmat ketika kematian, dan ampunan setelah kematian.
Ketika mengenang orang tua yang telah lebih dahulu pergi, doanya pun tidak diarahkan kepada sesuatu yang dapat ia kendalikan. Ia berkata:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَذُنُوبَ وَالِدَيْنَا، وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا
Ya Allah, ampunilah dosa kami dan dosa kedua orang tua kami, serta rahmatilah mereka sebagaimana mereka telah merawat kami ketika kecil.
Ia juga mendoakan mereka yang telah lebih dahulu beriman:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ
Ya Allah, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah lebih dahulu beriman.
Doa-doa seperti itu terasa lapang. Tidak menentukan bentuk masa depan. Tidak mengajari Allah apa yang harus diberikan. Ia menyebut kebutuhan, lalu menyerahkan bentuk akhirnya kepada Yang Maha Mengetahui.
Namun hidup mempunyai cara sendiri untuk memperlihatkan kepada kita betapa sulitnya menyerahkan sesuatu.
Dalam perjalanan hidup, selalu ada sesuatu yang kita inginkan dengan sangat. Kita meminta. Kita menunggu. Lalu diam-diam kita mulai mengukur kedekatan kita dengan Allah dari satu hal sederhana: apakah yang kuminta sudah diberikan atau belum?
Ketika Doa Diam-Diam Menjadi Tuntutan
Di sinilah doa dapat berubah tanpa kita sadari.
Bukan karena kita berhenti menyembah Allah, tetapi karena keinginan kita perlahan menyusup ke dalam cara kita memahami apa yang terjadi.
Seseorang berdoa agar mendapatkan pekerjaan tertentu. Ia sudah berusaha, mengikuti proses seleksi, dan berdoa setiap malam. Ketika perusahaan itu menolaknya, kecewa itu perlahan berubah menjadi pertanyaan: “Bukankah aku sudah meminta kepada Allah? Mengapa justru ditutup?”
Seorang ibu berdoa agar anaknya mengambil jalan hidup tertentu. Ketika sang anak memilih jalan berbeda, ia merasa seolah-olah doanya tidak didengar.
Seseorang berdoa agar hubungan yang sangat ia cintai dipertahankan. Ketika hubungan itu berakhir, ia merasa seperti kehilangan sesuatu yang seharusnya menjadi miliknya karena telah lama dimintanya dalam doa.
Perhatikan apa yang terjadi.
Doa masih berada di bibir, tetapi hati telah menetapkan bentuk yang harus datang.
Ukuran sederhananya terlihat dari cara kita menerima sesuatu yang berbeda dari permintaan. Jika kita masih mampu berkata, “Ya Allah, aku tidak memahami ini, tetapi Engkau mengetahui apa yang tidak kuketahui,” ruang berserah masih terbuka.
Sebaliknya, ketika penolakan terhadap hasil membuat kita berhenti berdoa, meninggalkan keyakinan, atau menganggap kasih sayang Allah berkurang hanya karena keinginan kita tidak terpenuhi, ada sesuatu yang perlu diperiksa kembali.
Kita mungkin tidak sedang mempertahankan doa.
Kita sedang mempertahankan skenario.
Al-Qur'an menyentuh akar persoalan itu:
كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌۭ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًۭٔا وَهُوَ خَيْرٌۭ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًۭٔا وَهُوَ شَرٌّۭ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 216)
Ibn 'Ashur dalam At-Tahrir wa At-Tanwir menjelaskan bahwa penutup ayat tersebut merupakan penegasan atas perbedaan antara pengetahuan Allah dan pengetahuan manusia. Allah mengetahui sesuatu sebagaimana adanya, sementara manusia dapat keliru menganggap apa yang menyenangkan sebagai sesuatu yang bermanfaat dan apa yang tidak menyenangkan sebagai sesuatu yang merugikan.
Ayat itu berbicara dalam konteks kewajiban berperang, tetapi penutupnya membawa pelajaran yang sangat luas: pengetahuan manusia tidak cukup untuk menjadi ukuran terakhir atas seluruh akibat dari sesuatu yang diinginkannya.
Ketika Keinginan Kita Tidak Mengetahui Seluruh Cerita
Semakin dalam seseorang mengenal doa, semakin halus pula ia memahami hubungan antara meminta dan menyerahkan.
Ia tetap boleh menginginkan sesuatu. Tetap boleh menyebutnya secara khusus. Tetap boleh menangis karenanya.
Yang perlu dilepaskan bukan keinginannya, melainkan keyakinan bahwa dirinya mengetahui seluruh kebaikan yang akan lahir dari keinginan tersebut.
Al-Qur'an bahkan mengingatkan:
وَيَدْعُ ٱلْإِنسَٰنُ بِٱلشَّرِّ دُعَآءَهُۥ بِٱلْخَيْرِ ۖ وَكَانَ ٱلْإِنسَٰنُ عَجُولًا
“Manusia berdoa untuk kejahatan sebagaimana ia berdoa untuk kebaikan. Dan manusia itu bersifat tergesa-gesa.” (QS. Al-Isra' [17]: 11)
Ayat ini menyentuh kelemahan yang sangat dekat dengan diri kita: keinginan yang tergesa-gesa dapat membuat seseorang meminta sesuatu sebelum memahami akibatnya.
Asy-Sya'rawi menjelaskan bahwa manusia dapat memohon sesuatu yang dianggapnya baik, sementara kenyataannya perkara itu dapat membawa keburukan baginya. Keterbatasan manusia membuatnya tidak selalu mampu membedakan antara apa yang diinginkan dan apa yang sungguh-sungguh membawa kebaikan.
Maka tidak semua keinginan layak dijadikan ukuran atas bagaimana Allah seharusnya menjawab doa.
Di sinilah hati mulai belajar tenang.
Bukan karena semua yang diinginkannya telah diperoleh, tetapi karena ia mulai memahami bahwa tidak semua yang diinginkannya harus menjadi miliknya.
“Aku Dekat”
Lalu Al-Qur'an membawa kita ke sebuah ayat yang sering terdengar begitu akrab hingga daya guncangnya hampir hilang.
Allah berfirman:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِي وَلْيُؤْمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
“Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi seruan-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh petunjuk.” (QS. Al-Baqarah [2]: 186)
Perhatikan susunannya.
Allah tidak menyuruh Nabi menjawab, “Katakan kepada mereka bahwa Aku dekat.”
Allah sendiri menjawab: “Maka sesungguhnya Aku dekat.”
Fakhruddin ar-Razi dalam Mafatih al-Ghaib membahas ayat ini secara panjang. Ia menjelaskan bahwa kedekatan Allah bukan kedekatan tempat, melainkan kedekatan yang berkaitan dengan ilmu, penjagaan, pendengaran terhadap doa, dan perhatian-Nya kepada hamba.
Namun ada bagian yang jauh lebih menyentuh untuk persoalan doa.
Ar-Razi melihat bahwa ayat ini tidak mengatakan, “Aku dekat setelah permintaanmu terpenuhi.” Kedekatan itu hadir ketika hamba memanggil-Nya.
Bahkan struktur ayat tersebut menarik: setelah menyebut bahwa Allah mengabulkan doa, manusia justru diperintahkan untuk memenuhi seruan Allah dan beriman kepada-Nya.
Seakan-akan Al-Qur'an sedang menggeser pusat perhatian kita.
Kita datang kepada Allah membawa permintaan.
Allah menerima kita dengan kedekatan.
Lalu Allah mengembalikan pertanyaan kepada kita: setelah engkau memanggil-Ku, apakah engkau juga bersedia mendengarkan panggilan-Ku?
Di situlah doa berhenti menjadi percakapan tentang apa yang ingin kita dapatkan.
Ia menjadi perjumpaan seorang hamba dengan Tuhannya.
Pengetahuan Kita Berhenti, Pengetahuan Allah Tidak
Fakhruddin ar-Razi ketika menafsirkan QS. Al-Baqarah [2]: 216 menegaskan bahwa manusia memiliki pengetahuan yang terbatas, sedangkan ilmu Allah sempurna. Karena itu manusia dapat menyukai sesuatu yang ternyata membawa keburukan dan membenci sesuatu yang ternyata mengandung kebaikan.
Ayat itu mengajarkan satu kerendahan hati yang sangat penting dalam doa: kita boleh mengetahui apa yang kita inginkan, tetapi tidak selalu mengetahui apa akibat terbaik dari keinginan tersebut.
Karena itu, seorang hamba tetap dapat berkata:
“Ya Allah, aku menginginkan ini. Aku berharap kepadanya. Aku akan berusaha mendapatkannya. Tetapi Engkau lebih mengetahui apakah ia baik bagiku.”
Kalimat seperti itu tidak mengecilkan harapan.
Ia justru membersihkan harapan dari kesombongan.
Sebab masalahnya bukan pada keinginan untuk memperoleh sesuatu. Masalahnya muncul ketika keinginan itu berubah menjadi keyakinan bahwa kita paling tahu apa yang seharusnya terjadi.
Ketika Doa Mengubah Cara Kita Berdiri
Di sinilah cara pandang terhadap doa mulai berbalik.
Kita sering meminta agar Allah mengubah keadaan.
Namun ada keadaan ketika yang lebih dahulu berubah justru diri kita.
Seseorang meminta pekerjaan, tetapi pintu itu belum terbuka. Dalam penantian, ia belajar bahwa harga dirinya tidak ditentukan oleh satu jabatan.
Seseorang meminta sebuah hubungan dipertahankan. Hubungan itu berakhir, tetapi dari sana ia belajar bahwa mencintai seseorang tidak berarti memilikinya.
Seseorang meminta jalannya dipercepat. Jalan itu justru melambat, dan perlambatan tersebut memaksanya melihat kembali arah yang selama ini ia tempuh tanpa pernah bertanya apakah benar-benar menuju tempat yang baik.
Di sinilah doa memiliki kedalaman yang sering luput kita lihat: ia tidak selalu mengubah keadaan di luar diri, tetapi dapat mengubah cara seorang hamba berdiri di dalam keadaan itu.
Yang semula hanya melihat kehilangan, mulai melihat pelajaran.
Yang semula hanya melihat penolakan, mulai belajar menerima.
Yang semula ingin mengendalikan hasil, mulai mengenal batas dirinya.
Dan dari sana lahir sebuah bentuk ketenangan yang tidak bergantung pada terpenuhinya seluruh keinginan.
Doa yang Tetap Berharap, tetapi Tidak Memaksa
Menyerahkan hasil bukan berarti berhenti berharap.
Seorang hamba tetap berusaha. Tetap mencari sebab. Tetap mengetuk pintu. Tetap meminta. Tetap menangis jika perlu.
Yang dilepaskan bukan ikhtiar.
Yang dilepaskan adalah tuntutan bahwa ikhtiar itu harus berakhir persis seperti yang telah dibayangkan.
Itulah perbedaan antara tawakal dan menyerah.
Orang yang menyerah berhenti berjalan.
Orang yang bertawakal tetap berjalan, tetapi tidak menganggap dirinya sebagai pemilik hasil perjalanan.
Ia mengetuk pintu Allah dengan sungguh-sungguh tanpa membawa cetak biru tentang apa yang harus keluar dari balik pintu itu.
Ia dapat berkata:
“Ya Allah, inilah yang kuharapkan. Bukakanlah jika ia baik bagiku. Jika bukan, jangan biarkan keinginanku membuatku gagal mengenali kebaikan yang Engkau pilihkan.”
Doa seperti ini bukan doa yang kehilangan keberanian.
Justru di dalamnya terdapat keberanian yang lebih dewasa: berani meminta dengan sungguh-sungguh, sekaligus berani menyerahkan keputusan terakhir kepada Allah.
Pada Akhirnya, Kita Tetap Seorang Hamba
Sepanjang hidup, kita dapat begitu sibuk menghitung apa yang belum diberikan sampai lupa melihat begitu banyak hal yang tidak pernah kita minta tetapi telah lebih dahulu memenuhi kehidupan.
Napas yang masih berjalan.
Kesempatan untuk bertaubat.
Orang-orang yang pernah hadir dan mencintai kita.
Kekuatan untuk bangun setelah jatuh.
Bahkan kemampuan untuk mengangkat tangan dan masih berkata, “Ya Allah,” setelah berkali-kali merasa tidak sanggup.
Maka jangan berhenti meminta.
Sebutkan kebutuhanmu. Ceritakan kesedihanmu. Mohonkan kesembuhan. Mohonkan rezeki. Mohonkan keselamatan keluarga. Mohonkan ampun bagi orang tua dan mereka yang telah lebih dahulu pergi.
Tetapi setelah itu, letakkan keinginanmu di tempat yang semestinya.
Di hadapan Allah.
Bukan di atas kehendak Allah.
Sebab seorang hamba boleh membawa seluruh keinginannya ke dalam doa, tetapi tidak pernah menjadi penguasa atas keputusan Tuhannya.
Doa mencapai kedewasaannya bukan ketika harapan menghilang.
Ia matang ketika harapan tetap hidup, tetapi hati tidak lagi memaksa Allah untuk mengikuti bentuk keinginan kita.
Pada saat itu, tangan masih terangkat. Ikhtiar masih berjalan. Air mata mungkin masih jatuh.
Tetapi di dalam hati telah tumbuh sesuatu yang lebih tenang:
kepercayaan bahwa Allah mengetahui apa yang tidak mampu kita lihat.
Dan mungkin di sanalah seorang hamba akhirnya memahami makna terdalam dari berdoa.
Kita tidak sedang datang kepada Tuhan untuk mengajari-Nya bagaimana menyelesaikan hidup kita.
Kita datang karena kita tahu kepada siapa seluruh ketidaktahuan itu harus diserahkan.
Kita meminta bukan karena Allah membutuhkan rincian keinginan kita, melainkan karena kita membutuhkan-Nya.
Ketika kesadaran itu tumbuh, doa tidak lagi menjadi tuntutan agar langit mengikuti kehendak kita.
Doa menjadi tempat kita meletakkan keinginan, usaha, ketakutan, dan harapan—lalu pulang dengan hati yang sedikit lebih lapang.
Karena pada akhirnya, yang paling kita perlukan bukan kehidupan yang selalu berjalan sesuai permintaan.
Kita membutuhkan hati yang tetap mengenal Allah ketika kehidupan berjalan di luar permintaan kita.
Dan di situlah doa benar-benar menemukan kedalaman ibadahnya.
Ekosistem Blog Kang Robby — Artikel Hikmah
Spiritualitas Reflektif; Filsafat Islam; Kesadaran Spiritual
Daftar Referensi
- Al-Qur'an: QS. Al-Baqarah [2]: 186 dan 216; QS. Al-Isra' [17]: 11.
- Muhammad ath-Thahir Ibn 'Ashur, At-Tahrir wa At-Tanwir, tafsir QS. Al-Baqarah [2]: 216.
- Muhammad Mutawalli Asy-Sya'rawi, Tafsir Asy-Sya'rawi / Khawatir Muhammad Mutawalli Asy-Sya'rawi, pembahasan QS. Al-Isra' [17]: 11 dan QS. Al-Baqarah [2]: 216.
- Fakhruddin ar-Razi, Mafatih al-Ghaib (At-Tafsir al-Kabir), tafsir QS. Al-Baqarah [2]: 186 dan QS. Al-Baqarah [2]: 216.
