Refleksi Keabadian Jiwa Oleh: Robby Andoyo Manusia menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mengejar sesuatu yang sejak awal tidak p...
Refleksi Keabadian Jiwa
Oleh: Robby Andoyo
Manusia menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mengejar sesuatu yang sejak awal tidak pernah berjanji untuk tinggal.
Harta bertambah, lalu berkurang. Tubuh tumbuh, kemudian menua. Kekuasaan datang, lalu berpindah tangan. Nama besar dipahat dalam ingatan manusia, kemudian perlahan tertutup oleh nama-nama yang datang sesudahnya.
Yang mengherankan bukan kefanaan itu sendiri.
Manusia mengetahuinya.
Yang mengherankan adalah manusia tetap mengejar yang fana seolah-olah di sanalah keabadian dapat ditemukan.
Sejak peradaban pertama membangun monumen hingga manusia modern membangun citra dirinya di ruang digital, ada kegelisahan yang sama: keinginan untuk tidak lenyap.
Manusia ingin sesuatu darinya tetap tinggal setelah tubuhnya pergi.
Karena itu ia mengumpulkan harta, membangun nama, mengejar kedudukan, meninggalkan karya, memperbanyak keturunan, dan mencari pengakuan.
Namun ada ironi yang lebih dalam.
Semakin manusia berusaha mengabadikan dirinya melalui dunia, semakin jelas bahwa dunia itu sendiri tidak pernah abadi.
Manusia yang Mengetahui Kefanaan, tetapi Tetap Mengejarnya
Apa yang membuat manusia mengejar kefanaan?
Mungkin karena manusia tidak sekadar ingin hidup. Ia ingin hidupnya berarti, dikenang, dan tidak berakhir begitu saja.
Keinginan itu pada dirinya sendiri tidak selalu salah. Manusia memang dipanggil untuk meninggalkan amal, ilmu, keturunan yang baik, dan manfaat. Yang menjadi persoalan adalah ketika sesuatu yang fana diberi beban untuk memenuhi kerinduan yang sebenarnya melampaui dunia.
Harta kemudian bukan lagi sekadar alat.
Nama bukan lagi sekadar identitas.
Jabatan bukan lagi sekadar amanah.
Kenikmatan bukan lagi sekadar karunia.
Semuanya perlahan berubah menjadi tempat bergantung.
Di sinilah manusia mulai tertipu oleh apa yang dimilikinya sendiri.
Al-Ghazali, dalam Ihya' 'Ulum ad-Din, membedakan antara dunia sebagai sesuatu yang dimanfaatkan dan keterikatan hati kepada dunia. Kritiknya bukan terhadap keberadaan dunia, melainkan terhadap cinta dunia ketika ia membuat manusia lupa kepada tujuan akhir kehidupan. Dunia dapat menjadi sarana menuju Allah, tetapi dapat pula berubah menjadi penghalang ketika hati menjadikannya tujuan.
Karena itu, masalah manusia bukan selalu karena ia memiliki terlalu banyak.
Kadang-kadang masalahnya adalah karena yang dimiliki telah memiliki hatinya.
Jiwa yang Masih Mampu Menegur Dirinya
Al-Qur'an menyebut satu keadaan jiwa yang sangat menarik: jiwa yang mencela dirinya sendiri.
Allah SWT berfirman:
وَلَا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ
“Dan Aku bersumpah demi jiwa yang selalu menyesali dirinya sendiri.”
QS. Al-Qiyamah [75]: 2.
Dalam At-Tahrir wa At-Tanwir, Ibn Asyur menjelaskan an-nafs al-lawwamah sebagai jiwa yang mencela pemiliknya atas kekurangan dalam ketaatan dan kebaikan. Ia menghubungkannya dengan kesadaran manusia untuk menilai kembali perbuatannya dan merasakan penyesalan atas apa yang telah dilakukan.
Di sini terdapat sesuatu yang sangat manusiawi.
Manusia dapat jatuh, tetapi masih memiliki kemampuan untuk menyadari bahwa dirinya telah jatuh.
Ia dapat tersesat, tetapi masih mendengar suara batin yang mengatakan bahwa jalan itu bukan jalan pulang.
Jiwa yang menegur dirinya belum selesai.
Justru teguran itu dapat menjadi pintu kembali.
Ketika Dunia Menjadi Terlalu Bising
Orang beriman pun tidak selalu kebal terhadap kefanaan.
Ia mengetahui bahwa harta akan ditinggalkan, tetapi dapat gelisah ketika hartanya berkurang.
Ia mengetahui bahwa jabatan akan berakhir, tetapi dapat terluka ketika kedudukannya berpindah.
Ia mengetahui bahwa tubuh akan kembali kepada tanah, tetapi dapat menghabiskan hidupnya untuk memenuhi seluruh keinginan tubuh.
Pengetahuan tentang kebenaran tidak selalu berarti kemenangan atas keinginan.
Kelalaian sering datang tanpa suara.
Bukan dengan mengatakan bahwa Allah tidak ada.
Melainkan dengan membuat dunia terasa terlalu penting untuk ditinggalkan.
Kesibukan bertambah. Keinginan bertambah. Pengakuan bertambah. Kepemilikan bertambah.
Lalu tanpa disadari, perhatian manusia kepada dunia menjadi lebih besar daripada perhatiannya kepada akhir perjalanan.
Ibn Khaldun memperlihatkan dalam Al-Muqaddimah bagaimana kemakmuran dan kemewahan yang berkembang dalam kehidupan peradaban dapat melahirkan ketergantungan kepada berbagai kebutuhan dan kenikmatan. Dalam analisisnya mengenai masyarakat menetap, kemewahan yang berkembang dapat mengubah kebiasaan dan melemahkan karakter yang sebelumnya menopang kekuatan sosial.
Pelajarannya bukan bahwa kemajuan atau kemakmuran itu buruk.
Pelajarannya adalah bahwa sesuatu yang pada awalnya menjadi fasilitas dapat perlahan berubah menjadi kebutuhan yang memperbudak.
Dan ketika kebutuhan terus bertambah, manusia dapat kehilangan kemampuan untuk bertanya apakah semua yang dikejarnya memang layak dikejar.
Yang Dicari Jiwa Tidak Pernah Berupa Dunia yang Lebih Banyak
Apa sebenarnya yang dicari manusia ketika ia terus menambah sesuatu yang sudah dimilikinya?
Ia mungkin sedang mencari rasa aman.
Mencari pengakuan.
Mencari makna.
Atau diam-diam mencari sesuatu yang tidak dapat diberikan oleh benda apa pun: ketenangan.
Masalahnya, manusia sering mencari ketenangan melalui penambahan.
Lebih banyak uang.
Lebih banyak harta.
Lebih banyak pengikut.
Lebih banyak penghargaan.
Lebih banyak pengalaman.
Padahal jiwa yang gelisah tidak selalu membutuhkan lebih banyak.
Kadang-kadang ia membutuhkan lebih sedikit.
Lebih sedikit kebisingan.
Lebih sedikit kesombongan.
Lebih sedikit keterikatan.
Lebih sedikit keinginan untuk menguasai sesuatu yang sejak awal bukan miliknya.
Jiwa yang Pulang kepada Tuhannya
Pada akhirnya, Al-Qur'an tidak menggambarkan tujuan tertinggi jiwa sebagai kepemilikan atas dunia.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً فَادْخُلِي فِي عِبَادِي وَادْخُلِي جَنَّتِي
“Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surga-Ku.”
QS. Al-Fajr [89]: 27–30.
Ibn Asyur menjelaskan an-nafs al-mutma'innah sebagai jiwa yang telah memperoleh ketenangan dan tidak lagi berada dalam keguncangan keraguan. Dalam penjelasannya, ketenangan itu berkaitan dengan keteguhan iman dan keyakinan terhadap kebenaran yang dibawa wahyu.
Karena itu, “irji'i ila rabbiki” bukan sekadar ungkapan tentang kematian.
Ia adalah arah seluruh perjalanan.
Jiwa tidak dipanggil kembali kepada harta yang pernah dikumpulkannya.
Tidak kepada nama yang pernah dibangunnya.
Tidak kepada jabatan yang pernah dimilikinya.
Tidak kepada manusia yang pernah memujinya.
Ia dipanggil kembali kepada Rabb-nya.
Keabadian Bukan Milik Manusia
Di sinilah satu perbedaan teologis menjadi penting.
Dalam Islam, keabadian mutlak bukan milik jiwa.
Allah-lah Yang Awal dan Yang Akhir. Jiwa adalah makhluk. Ia mengalami kematian, kemudian dibangkitkan untuk kehidupan akhirat.
Karena itu, yang dapat disebut “keabadian jiwa” bukanlah keabadian dalam sifat ketuhanan, melainkan kelanjutan kehidupan jiwa setelah kematian sesuai dengan ketetapan Allah.
Perbedaan ini membuat manusia kembali ke tempatnya.
Manusia bukan pusat keabadian.
Manusia adalah makhluk yang akan kembali kepada Yang Mahaabadi.
Maka seluruh kebesaran yang dibangun manusia pada akhirnya memiliki batas.
Harta berhenti di dunia.
Tubuh kembali menjadi tanah.
Jabatan berpindah.
Nama perlahan dilupakan.
Bahkan sejarah pun suatu hari akan selesai dibaca.
Yang tidak pernah berakhir adalah Allah.
Malam yang Membuka Kembali Kesadaran
Ada saat ketika manusia tidak dapat lagi bersembunyi di balik kesibukannya.
Malam telah sunyi.
Layar telah padam.
Orang-orang telah berhenti berbicara.
Tidak ada lagi tepuk tangan.
Tidak ada lagi penilaian manusia.
Tinggal seseorang bersama dirinya sendiri.
Di dalam keheningan seperti itu, pertanyaan yang selama siang hari tertutup oleh kesibukan dapat muncul kembali:
Untuk apa semua yang selama ini dikejar?
Mengapa sesuatu yang begitu diinginkan terasa biasa setelah dimiliki?
Mengapa manusia terus membutuhkan sesuatu yang baru setelah memperoleh sesuatu yang lama diimpikannya?
Mungkin karena sesuatu yang fana memang tidak pernah diciptakan untuk menjadi tempat terakhir bagi jiwa.
Dunia boleh dicintai.
Harta boleh dimiliki.
Karya boleh dibangun.
Peradaban boleh dikembangkan.
Kenikmatan boleh disyukuri.
Tetapi semuanya harus tetap berada di tangan, bukan mengambil alih hati.
Ketika Jiwa Berhenti Mengejar
Lalu apa yang sebenarnya tersisa ketika seluruh kefanaan itu mulai terlepas satu demi satu?
Bukan jumlah harta.
Bukan panjang usia.
Bukan banyaknya manusia yang mengenal nama seseorang.
Yang tersisa adalah manusia itu sendiri di hadapan Allah.
Di sanalah seluruh kebesaran manusia menjadi kecil.
Dan kebesaran Allah tampak sebagaimana adanya: tidak bergantung kepada apa pun.
Manusia dapat membangun istana, tetapi akan meninggalkannya.
Manusia dapat mengukir nama dalam sejarah, tetapi sejarah pun memiliki batas.
Manusia dapat menguasai banyak hal, tetapi tidak pernah memiliki satu detik pun secara mutlak.
Allah tidak membutuhkan semua itu.
Allah Mahabesar. Allah Mahamulia. Tidak ada kebesaran makhluk yang dapat mengurangi kebesaran-Nya.
Mungkin karena itu manusia yang berdosa tidak selalu benar-benar melupakan Allah.
Kadang-kadang ia hanya terlalu lama mengejar kefanaan hingga kefanaan itu menutupi hatinya.
Dan mungkin perjalanan pulang tidak selalu dimulai dari manusia yang telah menjadi sempurna.
Kadang-kadang ia dimulai dari sebuah malam yang sunyi.
Saat manusia berhenti mengejar.
Berhenti membuktikan.
Berhenti mengumpulkan.
Lalu diam.
Dalam diam itu, jiwa mendengar kembali sesuatu yang sebenarnya tidak pernah hilang:
semua yang dikejar akan berlalu, tetapi Allah tidak pernah pergi.
Di situlah manusia memahami bahwa yang abadi bukanlah dunia yang berhasil dimilikinya.
Yang abadi adalah Allah.
Dan kemuliaan manusia bukan karena ia berhasil menjadi abadi, melainkan karena ia mengetahui kepada siapa ia harus kembali.
Daftar Referensi
Al-Qur'an, QS. Al-Qiyamah [75]: 2; QS. Al-Fajr [89]: 27–30.
Ibn Asyur, Muhammad ath-Thahir ibn Muhammad ibn Muhammad ath-Thahir ibn Asyur. At-Tahrir wa At-Tanwir, tafsir QS. Al-Qiyamah [75]: 2 dan QS. Al-Fajr [89]: 27–30.
Al-Ghazali, Abu Hamid. Ihya' 'Ulum ad-Din, khususnya Kitab Dham al-Dunya dan pembahasan keterikatan hati kepada dunia.
Ibn Khaldun, Abdurrahman ibn Khaldun. Al-Muqaddimah, khususnya pembahasan tentang kemewahan, kehidupan menetap, kebutuhan, dan perubahan masyarakat.
Ekosistem: Spiritualitas Reflektif; Filsafat Islam; Kesadaran Spiritual; Peradaban dan Makna