Episode 3 — Ekosistem Islam Modern Pengetahuan belum pernah sedekat ini dengan manusia. Sebuah pertanyaan dapat dijawab dalam hitu...
Episode 3 — Ekosistem Islam Modern
Pengetahuan belum pernah sedekat ini dengan manusia.
Sebuah pertanyaan dapat dijawab dalam hitungan detik. Sebuah bahasa dapat diterjemahkan seketika. Sejarah, teori, penelitian, tafsir, filsafat, dan berbagai macam informasi dapat hadir di layar tanpa menuntut perjalanan panjang sebagaimana yang dahulu diperlukan.
Kemudahan itu adalah kemajuan.
Tetapi kemajuan pengetahuan melahirkan pertanyaan yang lebih sunyi:
Ketika mengetahui menjadi semakin mudah, apakah pengetahuan masih mengalami proses yang membuatnya menjadi bagian dari manusia?
Manusia dapat mengetahui kemiskinan tanpa pernah duduk di rumah orang miskin. Dapat mempelajari kesedihan tanpa pernah menemani seseorang yang sedang berduka. Dapat membaca teori keadilan tanpa pernah berhadapan dengan ketidakadilan. Dapat menguasai bahasa tentang spiritualitas tanpa pernah membiarkan pengetahuan itu mengganggu kesombongan dirinya sendiri.
Informasi bertambah.
Tetapi kedalaman belum tentu.
Pengetahuan Memiliki Tubuh
Manusia tidak hadir di dunia sebagai pikiran yang melayang tanpa tubuh.
Ia melihat, mendengar, menyentuh, bergerak, merasakan sakit, mengalami keterbatasan, berhadapan dengan manusia lain, lalu perlahan memahami dunia melalui seluruh keterlibatan itu.
Seorang guru tidak hanya mengetahui keadaan kelas dari teori pendidikan. Ia membaca wajah murid, menangkap perubahan suasana, mendengar nada suara, dan merasakan ketika sebuah kelas mulai kehilangan perhatian.
Seorang dokter tidak hanya mengetahui penyakit dari buku. Ia berhadapan dengan tubuh manusia, mendengar keluhan, mengamati gejala, menyentuh, menimbang, lalu mengambil keputusan.
Seorang ibu sering mengetahui kesedihan anaknya sebelum anak itu mampu menjelaskannya dengan kata-kata.
Pengetahuan semacam ini tidak berdiri di luar kehidupan.
Ia menubuh.
Ia masuk ke dalam cara manusia melihat, merasakan, menilai, memilih, dan bertindak.
Manusia Belajar dari Keterbatasan Dirinya
Al-Qur'an menggambarkan manusia sebagai makhluk yang memulai kehidupannya tanpa pengetahuan, kemudian diberi perangkat untuk mengenal dunia.
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْـًٔا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَـٰرَ وَالْأَفْـِٔدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
QS. An-Naḥl [16]: 78
“Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani agar kamu bersyukur.”
Dalam at-Taḥrīr wa at-Tanwīr, Ibn ‘Āsyūr menjelaskan ayat ini dalam kerangka keadaan awal manusia yang tidak memiliki pengetahuan yang diperoleh sebelumnya, kemudian Allah memberikan sarana yang memungkinkan manusia memperoleh pengetahuan. Pendengaran dan penglihatan menjadi jalan penerimaan terhadap dunia, sementara al-af'idah berkaitan dengan kemampuan memahami dan mengolah apa yang diterima. Penyebutan perangkat-perangkat tersebut sekaligus mengarahkan manusia kepada kesadaran bahwa kemampuan mengetahui merupakan nikmat yang harus digunakan secara benar.
Menariknya, Al-Qur'an tidak memulai pembicaraan tentang pengetahuan dari manusia yang sudah mengetahui.
Ia memulainya dari manusia yang tidak tahu.
Manusia mengetahui karena ia diberi kemampuan untuk menerima, mengalami, dan memahami.
Karena itu, pengetahuan manusia sejak awal tidak terpisah dari keberadaannya.
Ketika Informasi Tidak Lagi Menjadi Pengalaman
Masalah zaman digital bukan sekadar banyaknya informasi.
Masalah yang lebih dalam adalah jarak antara mengetahui dan mengalami.
Seseorang dapat mengetahui sebuah bencana melalui layar tanpa pernah menginjak tanah yang hancur akibat bencana tersebut.
Dapat membaca ribuan halaman tentang penderitaan tanpa pernah menggenggam tangan seseorang yang sedang kehilangan.
Dapat mempelajari etika tanpa pernah berada dalam situasi ketika kejujuran membuat dirinya rugi.
Pengetahuan itu tidak otomatis salah.
Bahkan bisa sangat akurat.
Tetapi akurasi informasi tidak selalu menghasilkan kedalaman manusia.
Di sinilah persoalan embodiment menjadi penting: pengetahuan manusia tidak hanya berada dalam apa yang mampu dijelaskan, tetapi juga dalam bagaimana sesuatu yang diketahui hadir dalam pengalaman dan tindakan.
Al-Qur'an Tidak Membebaskan Pengetahuan dari Tanggung Jawab
Al-Qur'an memberikan batas yang sangat tegas:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ ۚ إِنَّ ٱلسَّمْعَ وَٱلْبَصَرَ وَٱلْفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًا
QS. Al-Isrā' [17]: 36
“Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.”
Ibn ‘Āsyūr menjelaskan bahwa lā taqfu bermakna larangan mengikuti atau menetapkan sesuatu tanpa dasar pengetahuan yang layak. Karena itu, ayat ini tidak hanya berbicara tentang benar atau salahnya sebuah informasi, tetapi tentang disiplin manusia dalam memperlakukan apa yang didengar, dilihat, dan dipahami. Pendengaran, penglihatan, dan fu'ād disebut sebagai sarana إدراك yang sekaligus berada dalam pertanggungjawaban. Manusia bukan hanya ditanya tentang apa yang diketahuinya, tetapi juga tentang bagaimana perangkat pengetahuannya digunakan.
Di sini pengetahuan bertemu dengan etika.
Manusia tidak boleh memperlakukan informasi sebagai sesuatu yang bebas dari akibat.
Apa yang didengar dapat melahirkan keputusan.
Apa yang dilihat dapat membentuk penilaian.
Apa yang diyakini dapat menentukan tindakan.
Karena itu, pengetahuan yang matang selalu membawa manusia menuju tanggung jawab.
AI dan Pertanyaan tentang Pengetahuan
Perkembangan AI membuat persoalan tersebut semakin menarik.
AI mampu membantu manusia mencari, membandingkan, menyusun, menerjemahkan, dan mengolah pengetahuan dalam skala yang sangat besar.
Kemampuan itu tidak perlu disangkal agar manusia tetap dapat mempertahankan keunikan pengalaman manusia.
Justru di sinilah pertanyaan filosofisnya muncul.
Apakah kemampuan menghasilkan pengetahuan sama dengan mengalami dunia yang menjadi objek pengetahuan?
AI dapat menjelaskan rasa sakit.
Manusia merasakan sakit.
AI dapat menyusun penjelasan tentang kehilangan.
Manusia menjalani kehilangan.
AI dapat membantu menjelaskan tanggung jawab.
Manusia menanggung akibat ketika tanggung jawab itu diabaikan.
Perbedaannya tidak perlu dijadikan alasan untuk merendahkan teknologi.
Perbedaannya justru penting agar manusia tidak salah memahami dirinya sendiri.
Teknologi dapat memperluas kemampuan mengetahui.
Tetapi manusia tetap harus menjalani kehidupan yang lahir dari pengetahuan tersebut.
Ilmu Tidak Berhenti pada Banyaknya yang Diketahui
Al-Qur'an bahkan mengajarkan manusia untuk meminta tambahan ilmu.
وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا
QS. Ṭāhā [20]: 114
“Dan katakanlah, ‘Wahai Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.’”
Dalam at-Taḥrīr wa at-Tanwīr, Ibn ‘Āsyūr menempatkan doa ini dalam konteks perintah agar Nabi tidak tergesa-gesa mengikuti bacaan wahyu sebelum wahyu itu selesai disampaikan. Setelah itu beliau diperintahkan memohon tambahan ilmu. Dengan demikian, tambahan ilmu dalam ayat ini tidak berdiri sebagai slogan umum tentang kecerdasan, tetapi terkait dengan penerimaan wahyu secara tepat dan kebutuhan manusia untuk terus bertambah dalam pengetahuan tentang wahyu dan petunjuk Allah.
Ada kerendahan hati intelektual di dalamnya.
Semakin jauh manusia berjalan dalam ilmu, semakin ia sadar bahwa pengetahuan tidak pernah selesai.
Masalah peradaban bukan hanya ketika manusia tidak tahu.
Masalah yang lebih berbahaya adalah ketika manusia mengetahui sebagian lalu merasa telah mengetahui semuanya.
Mengetahui Tidak Sama dengan Memahami
Al-Qur'an juga membedakan antara sekadar menerima sesuatu dan memahami maknanya.
وَتِلْكَ ٱلْأَمْثَـٰلُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ ۖ وَمَا يَعْقِلُهَآ إِلَّا ٱلْعَـٰلِمُونَ
QS. Al-'Ankabūt [29]: 43
“Perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia, tetapi tidak ada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.”
Dalam pembacaan Ibn ‘Āsyūr, ya'qiluhā menunjuk pada kemampuan menangkap makna dan maksud yang terkandung dalam perumpamaan, bukan sekadar mengetahui bentuk lahiriahnya. Karena itu, ilmu berkaitan dengan kemampuan memahami pesan yang berada di balik sesuatu yang tampak.
Ini penting dalam zaman ketika jawaban dapat diperoleh dengan sangat cepat.
Memiliki jawaban belum tentu memahami pertanyaan.
Mampu mengutip belum tentu memahami makna.
Mampu menjelaskan belum tentu mampu menjalani konsekuensinya.
Informasi dapat memenuhi ingatan.
Pemahaman harus masuk lebih jauh.
Ukuran Ilmu Ada pada Apa yang Dilakukannya terhadap Manusia
Al-Qur'an memberikan ukuran yang lebih tajam lagi:
إِنَّمَا يَخْشَى ٱللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ ٱلْعُلَمَـٰٓؤُا۟ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ
QS. Fāṭir [35]: 28
“Sesungguhnya yang benar-benar takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Maha Pengampun.”
Ibn ‘Āsyūr menjelaskan bahwa penggunaan innamā memberi penekanan pada hubungan antara ilmu dan khashyah. Yang dimaksud bukan sekadar mengetahui keberadaan Allah, tetapi pengetahuan yang mengenalkan manusia kepada keagungan-Nya sehingga melahirkan rasa tunduk dan takut untuk menyimpang. Ilmu dengan demikian tidak berhenti sebagai pengetahuan mental; ia menghasilkan keadaan batin yang memengaruhi sikap manusia.
Di titik ini, gagasan tentang ilmu yang menubuh menemukan bentuk yang sangat jelas dalam horizon Al-Qur'an.
Ilmu bergerak.
Dari pengetahuan menuju kesadaran.
Dari kesadaran menuju sikap.
Dari sikap menuju tindakan.
Dan tindakan kembali membentuk kehidupan.
Ketika Pendidikan Hanya Menghasilkan Orang yang Tahu
Di sinilah pendidikan modern menghadapi persoalan yang lebih serius daripada sekadar rendahnya literasi.
Sebuah institusi pendidikan dapat menghasilkan orang-orang yang mampu menjawab ujian, menulis makalah, mengutip teori, menggunakan teknologi, bahkan berbicara tentang moralitas.
Tetapi pertanyaan akhirnya sederhana:
Apakah apa yang dipelajari telah mengubah cara mereka hidup?
Orang yang belajar tentang keadilan tetapi tetap menikmati ketidakadilan yang menguntungkan dirinya menghadapi masalah.
Orang yang belajar tentang amanah tetapi menyalahgunakan kepercayaan menghadapi masalah.
Orang yang mempelajari etika tetapi menganggap manipulasi sebagai strategi menghadapi masalah.
Orang yang menguasai agama tetapi semakin sulit mengakui kesalahan juga menghadapi masalah.
Masalahnya bukan selalu kurang ilmu.
Bisa jadi ilmu itu belum pernah menubuh.
Islam Modern dan Krisis Pengetahuan
Karena itu, kebangkitan intelektual Islam tidak cukup diukur dari berapa banyak buku yang diterbitkan, konferensi yang diselenggarakan, jurnal yang dihasilkan, atau informasi keagamaan yang beredar.
Semua itu penting.
Tetapi ada pertanyaan yang lebih dalam:
Manusia seperti apa yang lahir dari semua pengetahuan tersebut?
Ilmu tentang keadilan harus terlihat ketika berhadapan dengan yang lemah.
Ilmu tentang amanah harus terlihat ketika tidak ada pengawasan.
Ilmu tentang perbedaan harus terlihat ketika berhadapan dengan orang yang tidak sepakat.
Ilmu tentang Allah harus terlihat dalam kesadaran bahwa manusia tidak pernah menjadi pemilik mutlak atas pengetahuannya.
Ilmu yang hanya bertambah di kepala tetapi tidak mengubah cara hidup akan menjadi semacam benda asing di dalam diri.
Dimiliki, tetapi tidak menghidupi.
Pengetahuan Harus Memiliki Jalan Pulang
Peradaban masa depan mungkin tidak akan kekurangan informasi.
Justru manusia akan hidup di tengah arus pengetahuan yang semakin deras.
Karena itu, persoalan terbesar mungkin bukan lagi bagaimana mendapatkan informasi.
Persoalannya adalah bagaimana manusia tetap memiliki kemampuan untuk mengalami, memahami, menimbang, dan bertanggung jawab atas apa yang diketahuinya.
AI dapat membantu memperluas kemampuan manusia.
Buku dapat memperluas cakrawala manusia.
Universitas dapat memperluas pengetahuan manusia.
Guru dapat membuka jalan bagi pemahaman manusia.
Tetapi tidak satu pun dari semuanya dapat menjalani kehidupan menggantikan manusia.
Manusia tetap harus berjalan dengan kakinya sendiri.
Tetap harus merasakan akibat pilihannya.
Tetap harus memperbaiki kesalahannya.
Tetap harus menghadapi keterbatasan tubuhnya.
Tetap harus mempertanggungjawabkan apa yang telah diketahuinya.
Maka mungkin ukuran kemajuan pengetahuan tidak cukup dengan pertanyaan:
Seberapa banyak yang berhasil diketahui?
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Seberapa dalam pengetahuan itu mengubah manusia yang memilikinya?
Pengetahuan yang hanya tinggal di layar akan tetap menjadi informasi.
Pengetahuan yang hanya tinggal di kepala akan mudah menjadi kebanggaan.
Tetapi pengetahuan yang masuk ke dalam kesadaran, membentuk sikap, mengarahkan tindakan, dan mengubah cara manusia hadir di dunia telah melewati batas informasi.
Ia telah menjadi ilmu yang hidup.
Karena itu, mungkin masalah terbesar manusia modern bukan kekurangan pengetahuan.
Masalahnya adalah terlalu banyak mengetahui tanpa cukup mengalami, memahami, dan menjalani.
Peradaban dapat memiliki mesin yang semakin cerdas.
Dapat memiliki perpustakaan yang semakin luas.
Dapat memiliki akses pengetahuan yang hampir tanpa batas.
Tetapi semua itu tidak otomatis menghasilkan manusia yang lebih dalam.
Pada akhirnya, pengetahuan tetap harus memiliki jalan pulang.
Dari pikiran menuju kesadaran.
Dari kesadaran menuju tindakan.
Dari tindakan menuju kehidupan.
Jika perjalanan itu terputus, ilmu hanya menjadi sesuatu yang diketahui.
Jika perjalanan itu selesai, ilmu menjadi sesuatu yang membentuk manusia.
Dan mungkin di situlah peradaban diuji: bukan pada seberapa banyak pengetahuan yang berhasil dikumpulkannya, tetapi pada seberapa dalam pengetahuan itu mampu menubuh dalam manusia yang menjalankannya.
Ekosistem: Islam Modern; Filsafat Islam; Pengetahuan dan Peradaban; AI dan Manusia
Daftar Referensi
Ibn ‘Āsyūr, Muḥammad al-Ṭāhir. At-Taḥrīr wa at-Tanwīr. Tafsir QS. An-Naḥl [16]:78; QS. Al-Isrā’ [17]:36; QS. Ṭāhā [20]:114; QS. Al-‘Ankabūt [29]:43; QS. Fāṭir [35]:28.
Al-Qur’an al-Karīm.
Hardiman, F. Budi. Karya-karya mengenai filsafat, tubuh, pengetahuan, dan fenomenologi.
Heidegger, Martin. Sein und Zeit.
Merleau-Ponty, Maurice. Phénoménologie de la perception.
Oleh: Robby Andoyo
Robby Andoyo adalah penulis reflektif di Blog Kang Robby yang menulis tentang peradaban modern, spiritualitas, AI, filsafat Islam, budaya digital, dan krisis makna dengan pendekatan estetis, filosofis, dan kontemplatif.