Series Ekosistem Kesadaran Spiritual — Episode 14 Sesuatu tidak selalu menjadi benar karena terus dilakukan. Kadang ia hanya menja...
Series Ekosistem Kesadaran Spiritual — Episode 14
Sesuatu tidak selalu menjadi benar karena terus dilakukan. Kadang ia hanya menjadi terasa wajar karena terlalu sering dibiarkan.
Di sebuah institusi pendidikan, misalnya, ada praktik yang pada awalnya masih terasa mengganggu hati. Nilai seorang peserta didik dinaikkan karena kedekatan dengan seseorang yang memiliki pengaruh. Kehadiran yang sebenarnya tidak terpenuhi kemudian dicatat seolah-olah lengkap. Kesalahan administratif sengaja ditutup agar laporan terlihat baik. Seorang mahasiswa yang melakukan pelanggaran akademik tidak diproses karena dianggap “anak orang penting”.
Pada awalnya, sebagian orang mungkin masih merasa tidak nyaman. Ada yang bertanya dalam hati, ada yang berbisik kepada rekan kerja, bahkan ada yang menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak seharusnya terjadi. Namun ketika praktik yang sama terus berlangsung, suara keberatan mulai melemah. Yang dahulu disebut ketidakadilan berubah menjadi “kebijakan khusus”. Yang dahulu dianggap manipulasi berubah menjadi “penyesuaian”. Yang dahulu memalukan akhirnya hanya disebut “cara kerja lembaga”.
Di sinilah sebuah institusi mulai kehilangan sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar aturan: kemampuan untuk merasa bahwa ada sesuatu yang keliru.
Al-Qur’an memberikan ukuran yang sangat tegas tentang keadilan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan karena Allah dan saksi-saksi yang adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena itu lebih dekat kepada takwa. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Ma’idah: 8).
Quraish Shihab menjelaskan bahwa perintah menjadi qawwāmīn mengandung kesungguhan untuk melaksanakan tugas secara sempurna dan menegakkan kebenaran karena Allah. Keadilan tidak boleh bergantung pada siapa yang sedang dinilai, disukai, dibenci, dekat, atau memiliki pengaruh. Bahkan terhadap diri sendiri pun keadilan tetap harus ditegakkan. Dalam konteks institusi pendidikan, maknanya menjadi sangat tajam: lembaga yang mendidik manusia tidak boleh menjadikan kedekatan, jabatan, hubungan keluarga, atau kepentingan internal sebagai alasan untuk mengubah ukuran benar dan salah. Ketika standar akademik dapat dinegosiasikan berdasarkan siapa seseorang, pendidikan perlahan kehilangan fungsi moralnya.
Yang Salah Tidak Selalu Berubah Menjadi Benar
Kesalahan dan rasa bersalah adalah dua hal yang berbeda. Sebuah tindakan dapat tetap salah meskipun hati manusia sudah tidak lagi merasa terganggu olehnya.
Inilah bagian yang sering luput. Manusia mengira bahwa hilangnya rasa bersalah berarti masalahnya sudah selesai. Padahal bisa jadi yang hilang bukan kesalahannya, melainkan sensitivitas terhadap kesalahan itu.
Seseorang yang pertama kali menerima keuntungan dari manipulasi mungkin merasa gelisah. Ia masih mencari alasan untuk membenarkan dirinya. Namun ketika hal yang sama terjadi berkali-kali, ia tidak lagi membutuhkan pembenaran. Ketika semua orang di sekelilingnya melakukan hal serupa, ia mulai menganggapnya sebagai bagian dari kehidupan.
Yang berubah bukan selalu kesalahannya. Yang berubah adalah ukuran batin manusia dalam mengenali kesalahan.
Al-Qur’an menggambarkan keadaan yang jauh lebih berbahaya:
أَفَمَن زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآهُ حَسَنًا ۖ فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَن يَشَاءُ وَيَهْدِي مَن يَشَاءُ ۖ فَلَا تَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرَاتٍ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا يَصْنَعُونَ
“Maka apakah orang yang diperindah baginya keburukan perbuatannya sehingga dia memandangnya sebagai sesuatu yang baik, sama dengan orang yang mendapat petunjuk? Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk siapa yang Dia kehendaki. Maka janganlah engkau membinasakan dirimu karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (QS. Fathir: 8).
Al-Qurtubi menjelaskan gambaran ayat ini sebagai keadaan ketika keburukan telah dihiasi sedemikian rupa sehingga pelakunya melihatnya sebagai sesuatu yang baik. Persoalannya bukan lagi sekadar melakukan perbuatan buruk, tetapi perubahan cara memandang perbuatan tersebut. Ketika keburukan sudah terlihat baik oleh pelakunya, kemampuan untuk melakukan koreksi dari dalam menjadi semakin sulit.
Bayangkan sebuah institusi yang selama bertahun-tahun membiarkan laporan keuangan dimanipulasi. Pada tahun pertama, seseorang mungkin masih mengatakan, “Ini tidak benar.” Tahun berikutnya, ia mulai berkata, “Semua lembaga juga melakukan penyesuaian.” Beberapa tahun kemudian, orang yang menolak ikut serta justru dianggap tidak memahami budaya organisasi.
Kesalahannya belum berubah. Angkanya tetap dimanipulasi. Tetapi rasa salahnya telah menghilang.
Di titik itu, kerusakan tidak lagi berada pada satu tindakan. Ia sudah masuk ke dalam cara berpikir.
Dari Kesalahan Menjadi Kebiasaan
Kerusakan moral jarang datang dengan suara keras. Sering kali ia datang sebagai sesuatu yang kecil, praktis, dan mudah dimaafkan.
Pertama, sesuatu dianggap salah.
Kemudian dilakukan sekali karena alasan tertentu.
Lalu dilakukan berulang kali.
Setelah itu mulai dicari pembenarannya.
Berikutnya orang lain ikut melakukannya.
Akhirnya, tidak ada lagi yang merasa perlu mempertanyakannya.
Di titik terakhir itulah masalah menjadi jauh lebih serius.
Karena normalisasi bukan berarti kebenaran telah lahir.
Ia hanya berarti banyak orang telah berhenti mempertanyakannya.
Al-Qur’an menyimpan gambaran yang sangat kuat tentang masyarakat yang berhadapan dengan batas moral, kemudian mencari jalan untuk melewatinya:
وَسْأَلْهُمْ عَنِ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ حَاضِرَةَ الْبَحْرِ إِذْ يَعْدُونَ فِي السَّبْتِ إِذْ تَأْتِيهِمْ حِيتَانُهُمْ يَوْمَ سَبْتِهِمْ شُرَّعًا وَيَوْمَ لَا يَسْبِتُونَ لَا تَأْتِيهِمْ ۚ كَذَٰلِكَ نَبْلُوهُم بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ
“Tanyakanlah kepada mereka tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, ketika datang kepada mereka ikan-ikan yang berada di sekitar mereka bermunculan di permukaan air, padahal pada hari-hari yang bukan Sabtu ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami menguji mereka disebabkan mereka selalu berlaku fasik.” (QS. Al-A’raf: 163).
Al-Qurtubi menjelaskan kisah Ashhab as-Sabt sebagai gambaran pelanggaran terhadap larangan melalui cara yang secara lahiriah berusaha menghindari bentuk langsung dari larangan tersebut. Dalam riwayat yang dikemukakannya, ikan datang berlimpah pada hari Sabat, lalu sebagian mereka membuat perangkap agar ikan masuk pada hari yang dilarang dan mengambilnya setelah hari tersebut berlalu. Dari sini terlihat bagaimana pelanggaran dapat bergerak dari tindakan langsung menuju rekayasa yang membuat pelanggaran terasa seolah-olah tidak lagi menjadi pelanggaran.
Pelajaran yang relevan bukan sekadar tentang ikan, hari Sabat, atau sebuah masyarakat pada masa lampau. Ada sesuatu yang lebih dekat dengan kehidupan sekarang: manusia dapat menggunakan kecerdasan bukan untuk meninggalkan kesalahan, tetapi untuk mencari bentuk baru agar kesalahan tersebut terlihat dapat diterima.
Manipulasi laporan disebut strategi administrasi.
Ketidakadilan disebut kebijakan internal.
Memberi keuntungan kepada orang dekat disebut membantu jaringan.
Menutup pelanggaran disebut menjaga nama baik lembaga.
Pada akhirnya, bahasa dapat menjadi tempat persembunyian bagi kesalahan.
Ketika sebuah keburukan diberi nama yang lebih nyaman, manusia tidak perlu lagi merasa sedang melakukan keburukan.
Pembiasaan yang Mengikis Nilai
Manusia sering tidak kehilangan nilai dalam satu malam.
Nilai bisa terkikis melalui pembiasaan kecil yang terus-menerus.
Hari pertama masih terasa mengganjal.
Hari kesepuluh mulai biasa.
Bulan berikutnya tidak lagi dipikirkan.
Beberapa tahun kemudian, generasi berikutnya bahkan mungkin tidak tahu bahwa dahulu hal tersebut pernah dianggap bermasalah.
Di situlah kesalahan berubah menjadi budaya.
Karena itu Rasulullah ﷺ tidak menggambarkan manusia sebagai makhluk yang tidak pernah salah. Beliau justru memberikan jalan yang berbeda:
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
“Setiap anak Adam banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang banyak melakukan kesalahan adalah mereka yang banyak bertobat.” Hadis ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dan dinilai hasan oleh sejumlah ulama hadis.
Hadis tersebut tidak memberikan manusia izin untuk hidup dalam kesalahan. Justru sebaliknya. Ia membedakan antara manusia yang jatuh lalu kembali dan manusia yang jatuh lalu menjadikan tempat jatuhnya sebagai rumah.
Ada satu kisah Nabi ﷺ yang jauh lebih kuat untuk memahami pentingnya kejujuran dalam memutus rantai pembiasaan: kisah Ka‘b bin Malik ketika tidak ikut dalam ekspedisi Tabuk. Ka‘b memiliki kesempatan untuk membuat alasan yang menyelamatkan dirinya di hadapan manusia. Namun ia memilih berkata jujur kepada Rasulullah ﷺ. Kejujuran itu membawa konsekuensi yang berat, tetapi pada akhirnya ia menjadi bagian dari kisah taubat yang diabadikan dalam Al-Qur’an.
Pesannya sangat dalam. Kejujuran kadang membuat seseorang terlihat buruk untuk sementara waktu. Kebohongan justru bisa membuat seseorang terlihat baik untuk sementara waktu. Tetapi ketika kebohongan dipelihara, manusia tidak hanya menyembunyikan kesalahan; ia mulai kehilangan kemampuan untuk berhadapan dengan dirinya sendiri.
Karena itu Al-Qur’an berkata:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan jadilah bersama orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah: 119).
Quraish Shihab menjelaskan bahwa perintah tersebut bukan hanya menyangkut kebenaran dalam ucapan, tetapi juga kebenaran dalam perbuatan. Kejujuran tidak berhenti pada kalimat yang keluar dari mulut; ia harus terlihat dalam perilaku dan keadaan seseorang. Dalam konteks sebuah lingkungan, orang-orang yang hidup dalam kejujuran juga menciptakan lingkungan yang membantu manusia tetap mengenali batas antara benar dan salah.
Toleransi Bukan Normalisasi
Memahami kesalahan seseorang berbeda dengan menganggap kesalahan itu benar.
Memahami mengapa seseorang berbohong tidak berarti kebohongan harus dibenarkan.
Memahami mengapa seseorang melakukan korupsi tidak berarti korupsi menjadi wajar.
Memahami kelemahan manusia tidak berarti standar kebenaran harus dihapus.
Toleransi masih mampu mengatakan, “Aku memahami keadaanmu, tetapi perbuatan itu tetap perlu diperbaiki.”
Normalisasi mengatakan sesuatu yang berbeda: “Karena semua orang melakukannya, tidak ada lagi yang perlu dipersoalkan.”
Perbedaannya sederhana, tetapi sangat menentukan.
Toleransi masih mempertahankan ukuran.
Normalisasi mulai menghapus ukuran.
Ketika Lingkungan Mulai Menghargai yang Seharusnya Dikoreksi
Di sinilah persoalannya berubah dari masalah pribadi menjadi persoalan peradaban.
Seseorang mungkin masih memiliki nurani. Tetapi jika setiap hari ia berada dalam lingkungan yang memberikan penghargaan kepada kebohongan, manipulasi, kepentingan pribadi, dan kepatuhan buta, lama-kelamaan nurani itu akan menghadapi tekanan yang tidak kecil.
Orang yang jujur dianggap naif.
Orang yang mempertanyakan prosedur dianggap merepotkan.
Orang yang menolak permainan dianggap tidak bisa bekerja sama.
Sementara orang yang pandai menyesuaikan diri dengan kesalahan justru dianggap paling mengerti keadaan.
Pada titik tertentu, sistem tidak lagi sekadar membiarkan kesalahan. Sistem mulai memberikan insentif kepada kesalahan.
Dan ketika itu terjadi, manusia tidak perlu lagi diajari untuk berbuat salah. Lingkungan akan mengajarinya sendiri.
Itulah mengapa ekosistem memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kesadaran. Manusia tidak hanya dibentuk oleh apa yang diajarkan kepadanya, tetapi juga oleh apa yang berulang kali dilihatnya tanpa koreksi.
Yang Paling Berbahaya Bukan Lagi Kesalahannya
Yang paling berbahaya bukan ketika manusia melakukan sesuatu yang salah.
Yang lebih berbahaya adalah ketika ia tidak lagi membutuhkan alasan untuk melakukannya.
Pada tahap awal, manusia masih mencari pembenaran.
“Terpaksa.”
“Cuma sekali.”
“Tidak ada yang dirugikan.”
“Semua orang juga begitu.”
“Ini cuma formalitas.”
Namun setelah terlalu lama dilakukan, alasan-alasan itu pun tidak lagi diperlukan.
Kesalahan telah menjadi kebiasaan.
Kebiasaan telah menjadi budaya.
Budaya kemudian dianggap sebagai kewajaran.
Dan sesuatu yang dianggap wajar tidak lagi terasa membutuhkan pertobatan.
Di sinilah Al-Qur’an menghadirkan gambaran tentang orang beriman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetar hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah imannya, dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.” (QS. Al-Anfal: 2).
Quraish Shihab menjelaskan bahwa wajilat qulubuhum menggambarkan hati yang dipenuhi rasa takut dan tunduk kepada Allah. Getaran itu bukan sekadar ketakutan yang membuat seseorang lumpuh, tetapi kesadaran mendalam yang membuat manusia semakin mengenal Allah, semakin tunduk, dan semakin berhati-hati dalam menjalani kehidupan.
Al-Qurtubi juga menjelaskan bahwa al-wajal adalah rasa takut yang hadir ketika Allah disebut, dan ia berkaitan dengan kekuatan iman serta perhatian manusia kepada Tuhannya. Ia bahkan mengutip gambaran bahwa ketika seseorang hendak melakukan kezaliman lalu diingatkan, “Bertakwalah kepada Allah,” hatinya semestinya tersentak dan menahan diri.
Di sinilah spiritualitas memperoleh maknanya yang lebih dalam.
Spiritualitas bukan hanya kemampuan memperbanyak ibadah ketika hati sedang tenang. Ia juga merupakan kemampuan untuk tetap merasa tidak nyaman ketika sesuatu yang salah mulai mendapatkan tempat di dalam kehidupan.
Bayangkan seseorang yang setiap pagi masih membaca doa, setiap pekan masih menghadiri majelis, masih berbicara tentang amanah, masih membagikan nasihat tentang kejujuran, tetapi pada saat yang sama mulai menganggap manipulasi kecil sebagai sesuatu yang biasa karena semua orang di sekelilingnya melakukannya.
Yang hilang bukan aktivitas keagamaannya.
Yang hilang adalah getaran ketika nilai agama bertabrakan dengan kepentingan dirinya.
Di situlah spiritualitas dapat berubah menjadi rutinitas yang tidak lagi menyentuh pusat kesadaran.
Ketika Peradaban Kehilangan Rasa Tidak Nyaman
Sebuah masyarakat tidak tiba-tiba kehilangan standar moral.
Standar itu dapat melemah melalui terlalu banyak kompromi kecil yang tidak pernah diselesaikan.
Satu kebohongan dimaafkan.
Satu ketidakadilan dibiarkan.
Satu manipulasi dianggap sepele.
Satu pelanggaran ditutup demi nama baik.
Satu orang yang berani mengingatkan justru disingkirkan karena dianggap mengganggu kenyamanan.
Lalu semuanya berulang.
Sampai suatu hari, generasi berikutnya tumbuh di dalam lingkungan tersebut dan menganggapnya sebagai keadaan normal.
Ia tidak merasa sedang mewarisi sebuah kesalahan.
Ia merasa sedang mewarisi sebuah sistem.
Padahal sistem yang diwariskan tanpa pernah diperiksa dapat membuat kesalahan memperoleh umur yang jauh lebih panjang daripada manusia yang pertama kali melakukannya.
Karena itu, persoalan kesadaran spiritual bukan hanya bagaimana manusia rajin melakukan kebaikan.
Persoalan yang lebih sunyi adalah apakah manusia masih mampu terganggu ketika keburukan mulai terlihat biasa.
Apakah masih ada sesuatu di dalam dirinya yang berkata, “Ini tidak benar,” ketika seluruh ruangan sudah berhenti mempertanyakannya?
Apakah masih ada keberanian untuk mengakui kesalahan ketika pengakuan membuat seseorang kehilangan posisi, keuntungan, atau penghormatan?
Apakah masih ada jarak antara apa yang sering dilakukan dan apa yang sebenarnya benar?
Penutup: Ketika Ukuran Mulai Bergeser
Masalah terbesar bukan lagi apakah masih ada kesalahan.
Masalahnya adalah apakah masih ada sesuatu di dalam diri manusia yang mampu mengenalinya sebagai kesalahan.
Sebab manusia dapat hidup bertahun-tahun bersama sesuatu yang salah jika sesuatu itu terus diberi nama yang benar, terus dibiarkan oleh lingkungan, terus dilakukan oleh banyak orang, dan akhirnya tidak lagi mengusik hati.
Kesalahan tidak membutuhkan banyak orang untuk menjadi kesalahan.
Tetapi sebuah kesalahan membutuhkan banyak pembiaran untuk berubah menjadi kewajaran.
Dan ketika yang salah mulai terasa wajar, yang sedang berubah bukan hanya perilaku manusia.
Yang sedang berubah adalah ukuran yang digunakan manusia untuk menilai dirinya sendiri.
Mungkin pada akhirnya pertanyaan paling penting bukan, “Seberapa sering kesalahan itu terjadi?”
Melainkan:
Masihkah hati mampu merasa terusik ketika seluruh lingkungan sudah menganggapnya biasa?
Karena ketika rasa terusik itu benar-benar hilang, manusia tidak hanya kehilangan keberanian untuk meninggalkan kesalahan.
Ia mungkin telah kehilangan kemampuan untuk mengenali bahwa dirinya sedang berada di dalam kesalahan.
Ekosistem Kesadaran Spiritual; ketika yang salah mulai terasa wajar, kesadaran tidak mati sekaligus. Ia mati sedikit demi sedikit—setiap kali sesuatu yang keliru dibiarkan tanpa lagi terasa mengganggu.
Daftar Referensi:
Al-Qur’an al-Karim; Tafsir Al-Mishbah, M. Quraish Shihab; Tafsir Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, Al-Qurtubi; Sunan At-Tirmidzi; Sunan Ibnu Majah; riwayat sahih tentang Ka‘b bin Malik dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim.
Ekosistem: Kesadaran Spiritual; Etika; Filsafat Islam; Pendidikan; Integritas; Nurani; Peradaban.
Oleh: Robby Andoyo
Robby Andoyo adalah penulis reflektif di Blog Kang Robby yang mengeksplorasi peradaban modern, spiritualitas, AI, filsafat Islam, budaya digital, dan krisis makna melalui pendekatan estetis, filosofis, dan kontemplatif.