Bagaimana kebohongan membentuk realitas manusia? Tafsir QS. Al-An‘ām 112–116 melalui pemikiran Ibn ‘Āsyūr, literasi, spiritualitas
TAFSIR AESTHETIC — EPISODE 11
Ketika Realitas Dibangun di Atas Kebohongan
Oleh: Robby Andoyo
Realitas tidak selalu terbentuk dari sesuatu yang benar. Sebagian realitas justru dibangun dari kebohongan yang diulang, kepentingan yang disembunyikan, dan keyakinan yang tidak pernah diperiksa. Ketika semuanya berlangsung cukup lama, manusia dapat kehilangan kemampuan untuk membedakan antara sesuatu yang benar-benar terjadi dan sesuatu yang sengaja dibentuk agar tampak benar. Pada titik tertentu, kebohongan tidak lagi hadir sebagai penyimpangan dari kenyataan. Ia telah menjadi kenyataan yang dipercaya, dipertahankan, bahkan diwariskan.
Persoalannya menjadi lebih rumit ketika manusia tidak lagi merasa perlu memeriksa apa yang dipercayainya. Ia menerima informasi karena sesuai dengan keinginannya, mempertahankan pendapat karena menguntungkan dirinya, dan menolak kebenaran karena kehadirannya mengganggu kenyamanan. Kebohongan kemudian memperoleh ruang yang jauh lebih luas daripada sekadar ucapan palsu. Ia memasuki cara berpikir, membentuk penilaian, memengaruhi keputusan, dan perlahan menentukan arah kehidupan.
Di sinilah persoalan kebohongan menemukan dimensi spiritualnya. Manusia mungkin masih memiliki kecerdasan untuk mengolah informasi, tetapi belum tentu memiliki keberanian untuk menguji dirinya sendiri. Ia dapat menjelaskan banyak hal, tetapi kesulitan mengakui kesalahan. Ia mampu mengenali kepalsuan pada kehidupan orang lain, tetapi tidak sanggup melihat kepalsuan yang telah tumbuh dalam kehidupannya sendiri.
Al-Qur'an membongkar persoalan ini melalui rangkaian QS. Al-An‘ām [6]: 112–116. Lima ayat tersebut memperlihatkan bagaimana perkataan yang dihias dapat menjadi sarana penipuan, bagaimana hati dapat condong kepadanya, bagaimana wahyu menjadi ukuran kebenaran, dan mengapa banyaknya pengikut tidak dengan sendirinya menjadikan suatu keyakinan benar.
1. Ketika Kebohongan Diberi Wajah yang Indah
Allah berfirman dalam QS. Al-An‘ām [6]: 112:
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا ۚ وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ ۖ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ
Artinya:
“Dan demikianlah untuk setiap nabi Kami menjadikan musuh yang terdiri dari setan-setan manusia dan jin. Sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah sebagai tipuan. Dan kalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak akan melakukannya. Maka biarkanlah mereka bersama apa yang mereka ada-adakan.” (QS. Al-An‘ām [6]: 112).
Perhatian Ibn ‘Āsyūr dalam At-Taḥrīr wa At-Tanwīr tertuju pada ungkapan zukhruf al-qawl. Kata zukhruf berhubungan dengan perhiasan dan sesuatu yang dibuat indah. Ketika disandarkan kepada perkataan, ungkapan tersebut menggambarkan perkataan yang dihias agar menarik dan memperoleh penerimaan.
Di sinilah terdapat persoalan yang sangat tajam. Sesuatu yang membutuhkan hiasan berlebihan terkadang justru sedang berusaha menyembunyikan kekurangan yang terdapat di dalamnya. Perkataan yang pada hakikatnya membawa keburukan dibuat tampak menarik agar orang yang mendengarnya tidak segera menyadari akibat yang terkandung di dalamnya.
Ibn ‘Āsyūr menjelaskan bahwa penghiasan perkataan tersebut merupakan bentuk promosi yang memikat jiwa dan menyamarkan bahaya yang sebenarnya terkandung di dalamnya. Dengan demikian, persoalannya bukan sekadar kebohongan dalam bentuk pernyataan yang salah. Ada proses pembentukan kesan, pengaturan bahasa, dan penyamaran akibat yang membuat sesuatu yang buruk tampak layak diterima.
Namun, ayat ini memiliki konteks khusus mengenai permusuhan terhadap para nabi dan bisikan setan dari kalangan manusia dan jin. Kita tidak boleh menghapus konteks tersebut dengan menjadikannya sekadar teori komunikasi modern. Refleksi kontemporer kita berangkat dari prinsip yang ditunjukkan ayat: perkataan dapat dihias untuk menipu dan mengarahkan manusia kepada sesuatu yang merugikan.
Dalam kehidupan sekarang, mekanisme semacam ini dapat ditemukan dalam manipulasi informasi, propaganda, pencitraan, dan narasi yang sengaja menghilangkan bagian-bagian penting dari kenyataan. Sebuah tindakan dapat dibungkus dengan bahasa kepedulian, padahal tujuan sebenarnya adalah keuntungan. Sebuah keputusan dapat disampaikan dengan istilah kemajuan, padahal akibatnya merugikan banyak orang. Bahkan kebohongan dapat dipoles dengan bahasa moral sehingga orang yang menerimanya merasa sedang membela sesuatu yang baik.
Teknologi memperbesar kemampuan untuk melakukan hal tersebut. Informasi dapat diproduksi dalam jumlah besar, gambar dapat dimanipulasi, suara dapat ditiru, dan video dapat direkayasa. Kecanggihan penyajian tidak menjamin kebenaran isi.
Kebohongan tidak selalu datang dengan wajah yang buruk. Terkadang ia datang dengan bahasa yang paling meyakinkan, penampilan yang paling mewah, dan argumen yang terdengar paling rasional.
2. Ketika Hati Mulai Menyukai Kebohongan
Allah melanjutkan dalam QS. Al-An‘ām [6]: 113:
وَلِتَصْغَىٰ إِلَيْهِ أَفْئِدَةُ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ وَلِيَرْضَوْهُ وَلِيَقْتَرِفُوا مَا هُمْ مُقْتَرِفُونَ
Artinya:
“Dan agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat cenderung kepada bisikan itu, dan agar mereka merasa senang kepadanya, serta agar mereka mengerjakan apa yang biasa mereka kerjakan.” (QS. Al-An‘ām [6]: 113).
Ibn ‘Āsyūr menjelaskan kata taṣghā sebagai kecenderungan atau kemiringan hati. Kata tersebut pada asalnya menggambarkan sesuatu yang condong. Dalam konteks ayat ini, hati tidak hanya mendengar perkataan yang dihias, tetapi mulai memberikan perhatian dan kecenderungan kepadanya.
Rangkaian ayat ini menarik karena tidak berhenti pada proses penyampaian kebohongan. Al-Qur'an juga memperlihatkan bagaimana manusia dapat menerimanya, menyukainya, dan kemudian melakukan apa yang memang telah menjadi kebiasaannya.
Di sinilah kebohongan menemukan ruang yang lebih permanen. Sesuatu yang semula hanya didengar dapat berubah menjadi sesuatu yang disukai. Sesuatu yang disukai dapat menjadi kebiasaan. Dan kebiasaan yang terus dipelihara dapat membentuk cara seseorang memahami kehidupan.
Manusia memiliki kemampuan yang aneh dalam mempertahankan sesuatu yang sebenarnya merugikan dirinya. Seseorang dapat mengetahui bahwa suatu kebiasaan merusak kehidupannya, tetapi tetap mengulanginya. Ia mengetahui bahwa kebohongan membawa akibat buruk, tetapi merasa lebih nyaman ketika mempercayainya daripada menghadapi kenyataan.
Hal ini dapat ditemukan dalam berbagai bentuk kecanduan. Seseorang mungkin ingin berhenti, memahami akibatnya, bahkan berkali-kali berjanji untuk berubah. Namun, dorongan yang telah menjadi kebiasaan membuatnya kembali pada perilaku yang sama.
Demikian pula dengan kebohongan yang telah memperoleh tempat dalam pikiran. Seseorang dapat terus mempertahankan pandangan yang keliru bukan karena tidak memiliki kesempatan untuk memeriksanya, melainkan karena pandangan tersebut telah memberikan kenyamanan psikologis dan keuntungan tertentu.
Tetapi manusia tidak boleh menjadikan kegagalannya sebagai penjara permanen. Ketidakmampuan mengendalikan hasrat pada hari ini tidak berarti bahwa dirinya harus kehilangan kemungkinan untuk bahagia pada hari esok. Kesadaran justru diperlukan agar manusia tetap mampu menatap ke depan, mengakui kelemahannya, dan membangun keberanian untuk berubah.
Tidak semua yang terasa nyaman membawa kebaikan. Tidak semua yang sulit diterima berarti buruk. Terkadang, kebenaran memang menuntut manusia meninggalkan sesuatu yang telah lama disukainya.
3. Ketika Kepentingan Menggantikan Kebenaran
Allah berfirman dalam QS. Al-An‘ām [6]: 114:
أَفَغَيْرَ اللَّهِ أَبْتَغِي حَكَمًا وَهُوَ الَّذِي أَنْزَلَ إِلَيْكُمُ الْكِتَابَ مُفَصَّلًا ۚ وَالَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْلَمُونَ أَنَّهُ مُنَزَّلٌ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ ۖ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ
Artinya:
“Pantaskah aku mencari hakim selain Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan Kitab kepadamu secara terperinci? Orang-orang yang telah Kami beri Kitab mengetahui bahwa Kitab itu diturunkan dari Tuhanmu dengan benar. Maka janganlah engkau termasuk orang-orang yang ragu.” (QS. Al-An‘ām [6]: 114).
Ibn ‘Āsyūr menjelaskan bahwa ayat ini merupakan pengarahan kepada Rasulullah ﷺ untuk menyatakan bahwa Allah adalah hakim yang menjadi rujukan kebenaran, bukan pihak lain yang diminta menjadi penentu berdasarkan tuntutan dan kepentingan kaum musyrik. Al-Qur'an diturunkan secara terperinci dan menjadi dasar yang menunjukkan kebenaran risalah.
Ayat ini membawa kita kepada persoalan yang lebih luas tentang otoritas kebenaran. Siapa yang menjadi ukuran ketika manusia berbeda pendapat? Apakah kebenaran ditentukan oleh kekuatan, keuntungan, popularitas, atau kehendak orang yang memiliki pengaruh?
Dalam kehidupan manusia, persoalan sering kali bukan karena tidak tersedia kebenaran, tetapi karena kebenaran tersebut bertentangan dengan kepentingan yang sedang dipertahankan.
Ketika keuntungan finansial menjadi ukuran utama, seseorang dapat mengorbankan kejujuran. Ketika jabatan menjadi tujuan, prinsip dapat disesuaikan dengan kepentingan. Ketika validasi menjadi kebutuhan, seseorang dapat membangun citra yang berbeda dari kenyataan dirinya.
Pada titik itu, manusia tidak lagi bertanya, “Apakah ini benar?”
Ia mulai bertanya, “Apakah ini menguntungkan saya?”
Perubahan pertanyaan tersebut tampak sederhana, tetapi akibatnya sangat besar. Kebenaran kehilangan kedudukannya sebagai ukuran. Ia hanya dipanggil ketika dibutuhkan untuk mendukung keputusan yang sudah dibuat sebelumnya.
Kita dapat menyaksikannya dalam kehidupan sosial, lembaga pendidikan, dunia usaha, bahkan lingkungan keagamaan. Seseorang dapat berbicara tentang amanah sambil mengkhianatinya. Dapat berbicara tentang keadilan sambil mempertahankan keuntungan yang diperoleh secara tidak adil. Dapat menggunakan bahasa agama untuk memperoleh kepercayaan, tetapi tidak membiarkan nilai agama mengoreksi dirinya.
Di sinilah kebohongan tidak lagi sekadar menjadi persoalan komunikasi. Ia telah memasuki struktur kepentingan manusia.
4. Kebenaran Tidak Memerlukan Persetujuan Manusia untuk Menjadi Benar
Allah berfirman dalam QS. Al-An‘ām [6]: 115:
وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا ۚ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Artinya:
“Dan telah sempurna firman Tuhanmu dengan benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah firman-Nya. Dan Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-An‘ām [6]: 115).
Ibn ‘Āsyūr menjelaskan kesempurnaan firman Allah dalam ayat ini melalui dua dimensi: kebenaran dan keadilan. Al-Qur'an merupakan kitab yang sempurna petunjuknya, kuat hujahnya, benar dalam janji dan ancamannya, serta adil dalam perintah dan larangannya.
Kebenaran tidak berubah menjadi kebatilan hanya karena ditolak banyak orang. Sebaliknya, kebatilan tidak berubah menjadi kebenaran hanya karena memperoleh dukungan yang luas.
Di sinilah manusia membutuhkan ukuran yang melampaui kepentingan dirinya sendiri. Tanpa ukuran tersebut, setiap orang dapat membangun kebenarannya sendiri berdasarkan sesuatu yang ingin diperolehnya.
Namun, ada persoalan yang harus kita hadapi: manusia sering kali lebih mudah menerima sesuatu yang menguntungkan daripada sesuatu yang benar.
Seseorang dapat menganggap suatu keputusan sebagai adil selama dirinya memperoleh keuntungan. Ia dapat menganggap suatu kebijakan sebagai baik selama tidak mengganggu kepentingannya. Bahkan ia dapat menolak nasihat yang benar hanya karena nasihat tersebut datang dari orang yang tidak disukainya.
Kebenaran kemudian diukur berdasarkan hubungan emosional, kepentingan, dan keuntungan.
Padahal, kebenaran tidak kehilangan nilainya hanya karena manusia menolaknya.
Wahyu memberikan ukuran yang tidak boleh ditundukkan kepada hawa nafsu. Manusia tetap memerlukan akal, ilmu, penelitian, dan dialog untuk memahami persoalan kehidupan. Namun, semua itu tidak boleh menjadi alasan untuk menjadikan kepentingan pribadi sebagai hakim tertinggi.
Kebenaran bukan milik orang yang paling keras berbicara. Ia juga bukan milik mereka yang memiliki kekuasaan paling besar. Kebenaran harus dicari melalui petunjuk, ilmu, dan kesediaan untuk mengoreksi diri.
5. Ketika Mayoritas Tidak Lagi Menjadi Jaminan Kebenaran
Allah berfirman dalam QS. Al-An‘ām [6]: 116:
وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ
Artinya:
“Dan jika engkau mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka hanya mengikuti dugaan dan mereka hanyalah memperkirakan secara mengada-ada.” (QS. Al-An‘ām [6]: 116).
Ayat ini sering kali dipahami secara sederhana seolah-olah semua pendapat mayoritas pasti salah. Padahal, penjelasan Ibn ‘Āsyūr jauh lebih teliti.
Ia menerangkan bahwa ayat ini berkaitan dengan keadaan kaum yang berada dalam keyakinan keliru dan kemungkinan mereka menyesatkan orang yang menerima perkataannya. Tidak berarti setiap orang yang termasuk mayoritas secara aktif berusaha menyesatkan orang lain. Ada orang yang berada dalam kesesatan tetapi hanya menjalani kehidupannya sendiri, sementara ada pula yang mengajak orang lain mengikuti kesesatan tersebut.
Ibn ‘Āsyūr juga memberikan penjelasan penting mengenai istilah zhann. Dalam konteks ayat ini, yang dimaksud adalah keyakinan yang dianggap benar oleh pemiliknya meskipun tidak memiliki dasar bukti yang memadai. Makna ini tidak boleh disamakan begitu saja dengan istilah dugaan dalam pembahasan fikih, yang memiliki pengertian teknis berbeda.
Ibn ‘Āsyūr juga membedakan istilah zhann dari khars dalam ayat ini. Jika zhann berkaitan dengan keyakinan yang diwarisi dari para pendahulu dan diterima sebagai sesuatu yang benar tanpa pemeriksaan memadai, maka khars berkaitan dengan perkiraan dan argumentasi yang mereka bangun sendiri untuk membenarkan keyakinan tersebut. Ia menjelaskan bahwa khars merupakan dugaan yang bersumber dari perkiraan dalam pikiran, tetapi tidak bertumpu pada bukti yang dapat diterima bersama oleh orang-orang berakal. Karena itu, makna khars tidak cukup diterjemahkan sebagai kebohongan. Persoalan yang lebih mendasar adalah manusia menganggap perkiraan dan argumentasi yang tidak memiliki landasan memadai sebagai sesuatu yang benar.
Penjelasan tersebut membawa kita kepada persoalan literasi dan pendidikan.
Peringatan ini tidak mencakup orang yang melakukan kesalahan dalam ijtihad pada persoalan yang diperselisihkan di kalangan kaum Muslimin. Ibn ‘Āsyūr menjelaskan bahwa seorang mujtahid berusaha menemukan kebenaran melalui penelusuran dalil, terus memeriksa kemungkinan adanya dalil yang menyanggah pendapatnya, dan bersedia kembali ketika kesalahannya telah terbukti. Sebab, jalan Allah juga mencakup proses penalaran dan perdebatan ilmiah dalam memahami agama.
Manusia dapat menjadi bagian dari sebuah masyarakat yang memiliki banyak informasi, tetapi belum tentu memiliki kemampuan untuk memeriksa kebenaran informasi tersebut. Ia dapat membaca banyak berita, mengikuti banyak perdebatan, dan menyaksikan berbagai peristiwa, tetapi tetap tidak memiliki kecakapan untuk membedakan bukti dari prasangka.
Ketika manusia tidak membuka pikirannya, ia mudah menerima sesuatu hanya karena banyak orang mempercayainya. Ia tidak lagi memeriksa sumber, tidak menguji argumen, dan tidak mempertanyakan kepentingan di balik informasi yang diterimanya.
Pendidikan seharusnya membuka jendela dunia. Literasi mengajarkan manusia untuk memeriksa apa yang dilihat dan didengarnya. Sementara itu, spiritualitas membuka pintu langit, mengingatkan bahwa kehidupan tidak berhenti pada apa yang dapat dihitung, dilihat, atau dipertukarkan.
Jendela dunia tanpa pintu langit dapat membuat manusia luas pengetahuannya, tetapi kehilangan arah kehidupannya. Sebaliknya, spiritualitas yang menolak ilmu dan pemeriksaan dapat membuat manusia mudah terjebak dalam klaim yang tidak memiliki dasar.
Keduanya tidak perlu dipertentangkan. Manusia membutuhkan keluasan pengetahuan sekaligus kedalaman kesadaran.
Sebab, jumlah orang yang mempercayai sesuatu tidak otomatis menjadi bukti bahwa sesuatu itu benar.
6. AI dan Industri Pembentukan Realitas
Persoalan kebohongan memasuki wilayah baru ketika teknologi kecerdasan buatan berkembang semakin cepat. Manusia kini memiliki kemampuan untuk menghasilkan teks, gambar, suara, dan video yang tampak meyakinkan dalam waktu singkat. Batas antara dokumentasi dan rekayasa dapat menjadi semakin sulit dikenali oleh orang yang tidak memiliki kecakapan literasi digital.
AI dapat membantu manusia memahami pengetahuan, mengolah data, menerjemahkan bahasa, dan memperluas kemampuan berpikir. Namun, teknologi yang sama juga dapat digunakan untuk membuat informasi palsu, menyusun propaganda, meniru identitas, atau menghasilkan narasi yang sengaja diarahkan untuk memengaruhi persepsi publik.
Masalahnya bukan semata-mata karena mesin dapat menghasilkan sesuatu yang keliru. Masalah yang lebih besar muncul ketika manusia menyerahkan tanggung jawab berpikir kepada mesin.
Sebuah jawaban yang disusun dengan bahasa sempurna belum tentu benar. Sebuah gambar yang terlihat autentik belum tentu merupakan dokumentasi peristiwa. Sebuah narasi yang memperoleh jutaan tayangan belum tentu memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.
Algoritma juga dapat mempersempit cakrawala seseorang ketika sistem rekomendasi terus menyajikan konten yang sesuai dengan perilaku dan ketertarikannya. Jika manusia tidak berusaha keluar dari ruang tersebut, ia dapat semakin jarang bertemu dengan pandangan yang berbeda. Akhirnya, dunia yang dilihatnya terasa seperti keseluruhan kenyataan, padahal hanya sebagian kecil dari realitas yang tersedia.
Di sinilah QS. Al-An‘ām [6]: 112–116 memiliki relevansi reflektif yang kuat. Perkataan dapat dihias, hati dapat condong kepadanya, dan manusia dapat menerima dugaan tanpa pemeriksaan yang memadai.
Namun, kita harus berhati-hati: AI bukan dengan sendirinya setan atau kebohongan. Teknologi merupakan sarana yang penggunaannya bergantung pada manusia, tujuan, dan tanggung jawab yang menyertainya. Tidak setiap kesalahan yang dihasilkan AI merupakan kebohongan yang disengaja. Akan tetapi, manusia tetap bertanggung jawab ketika menggunakan teknologi untuk menipu atau ketika menyebarkan hasilnya tanpa pemeriksaan.
Kecerdasan buatan tidak dapat menggantikan kejujuran manusia. Bahkan teknologi yang paling maju sekalipun tidak akan menyelamatkan seseorang yang sejak awal tidak ingin mengetahui kebenaran.
Mungkin suatu hari manusia mampu menciptakan realitas digital yang semakin sempurna. Tetapi kesempurnaan simulasi tidak pernah menjadi bukti kebenaran. Dunia yang tampak nyata belum tentu benar-benar mencerminkan kenyataan.
7. Jalan Keluar Dimulai dari Kesediaan Mengubah Diri
Bagaimana manusia dapat keluar dari realitas yang dibangun di atas kebohongan?
Jawabannya tidak cukup dengan meminta orang lain berhenti berbohong. Tidak cukup pula dengan mengganti teknologi, membangun aturan, atau mengubah lingkungan informasi. Semua itu penting, tetapi perubahan yang lebih mendasar harus menyentuh kesadaran manusia sendiri.
Manusia perlu berani memeriksa sesuatu yang paling sulit diperiksanya: dirinya sendiri.
Apakah keyakinan yang dipertahankan selama ini benar-benar memiliki dasar? Apakah keputusan yang diambil lahir dari prinsip atau sekadar kepentingan? Apakah sesuatu yang disebut kebenaran sebenarnya hanya pembenaran bagi keinginan pribadi? Apakah seseorang menolak informasi karena memang keliru, atau karena informasi tersebut mengganggu kenyamanan dirinya?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak selalu menyenangkan. Bahkan, terkadang jawabannya dapat meruntuhkan gambaran yang selama ini dibangun seseorang tentang dirinya sendiri.
Namun, perubahan tidak mungkin tumbuh dari kesadaran yang selalu mencari alasan untuk membenarkan diri.
Allah berfirman dalam QS. Ar-Ra‘d [13]: 11:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
Artinya:
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”
Ayat ini bukan bagian dari lima ayat utama yang menjadi fondasi episode ini. Ia hadir sebagai penguat refleksi tentang tanggung jawab manusia dalam perubahan. Dalam konteks penjelasan Ibn ‘Āsyūr, ayat tersebut merupakan peringatan kepada kaum musyrik yang sebelumnya hidup dalam kenikmatan, tetapi kemudian menjadi sombong, meremehkan orang-orang beriman, dan menyambut dakwah Rasulullah ﷺ dengan ejekan. Allah mengingatkan bahwa perubahan nikmat yang mereka miliki berkaitan dengan perbuatan buruk yang mereka lakukan setelah datangnya peringatan dan dakwah. Karena itu, ayat ini memberikan landasan refleksi bahwa perubahan keadaan manusia tidak dapat dilepaskan dari perubahan sikap dan perbuatannya sendiri.
Mengembalikan manusia dari kebohongan menuju kebenaran tidak dapat dilakukan hanya dengan mengganti apa yang terlihat di luar dirinya. Ia harus bersedia mengubah cara berpikir, memperbaiki kebiasaan, mengoreksi kepentingan, dan menghidupkan kembali kesediaan untuk mendengarkan nurani.
Kesadaran bukan berarti manusia tidak pernah salah. Kesadaran justru membuatnya tidak menjadikan kesalahan sebagai tempat menetap.
Seseorang mungkin pernah tertipu, pernah mempertahankan keyakinan yang keliru, atau pernah membangun kehidupannya di atas sesuatu yang tidak benar. Namun, masa lalu tidak harus menjadi penjara bagi masa depannya.
Ia masih dapat belajar. Masih dapat memperbaiki diri. Masih dapat meninggalkan sesuatu yang selama ini dianggap sebagai bagian dari kehidupannya.
Kebahagiaan tidak harus menunggu manusia menjadi sempurna. Ia dapat mulai tumbuh ketika manusia berhenti membohongi dirinya sendiri dan berani menjalani proses perubahan.
Penutup: Jangan Menjadikan Kebohongan sebagai Rumah
Kebohongan dapat membangun sebuah dunia yang tampak nyaman. Di dalamnya, manusia dapat mempertahankan kepentingan, menyembunyikan kesalahan, memperoleh pengakuan, dan menghindari kenyataan yang tidak disukainya. Tetapi kenyamanan semacam itu memiliki harga: semakin lama seseorang tinggal di dalamnya, semakin sulit ia mengenali jalan keluar.
Al-Qur'an mengingatkan bahwa perkataan yang dihias dapat menipu, hati dapat condong kepada bisikan yang salah, dan banyaknya pengikut tidak menjadikan suatu keyakinan benar. Wahyu memberikan ukuran yang melampaui kepentingan manusia, sementara akal, pendidikan, dan literasi membantu manusia memeriksa kenyataan yang dihadapinya.
Pada akhirnya, tidak semua kebohongan dapat dihancurkan hanya dengan menunjukkan fakta. Sebagian kebohongan bertahan karena manusia yang mempercayainya belum bersedia kehilangan keuntungan, kenyamanan, atau identitas yang dibangun di atasnya.
Karena itu, jalan kembali tidak cukup dimulai dengan menuntut dunia berubah. Ia harus dimulai ketika manusia bersedia mengubah sesuatu yang paling dekat sekaligus paling sering ia abaikan: dirinya sendiri.
Jangan sampai manusia begitu lama membangun kehidupan di atas kebohongan, hingga ketika kebenaran datang mengetuk, ia justru menganggapnya sebagai ancaman.
Rujukan
1. Ibn ‘Āsyūr, Muḥammad al-Ṭāhir. At-Taḥrīr wa At-Tanwīr. Tafsir QS. Al-An‘ām [6]: 112–116.
2. Ibn ‘Āsyūr, Muḥammad al-Ṭāhir. At-Taḥrīr wa At-Tanwīr. Tafsir QS. Ar-Ra‘d [13]: 11.
3. Al-Qur’an al-Karim, QS. Al-An‘ām [6]: 112–116 dan QS. Ar-Ra‘d [13]: 11.
