Di setiap zaman, manusia selalu menemukan cara baru untuk membungkus ketidakadilan agar tampak mulia. Ada masa ketika penindasan ...
Di setiap zaman, manusia selalu menemukan cara baru untuk membungkus ketidakadilan agar tampak mulia. Ada masa ketika penindasan dilakukan secara terang-terangan melalui rantai dan cambuk. Ada pula masa ketika manusia dijadikan komoditas yang diperjualbelikan atas nama kekuasaan dan peperangan. Namun peradaban modern menghadirkan bentuk yang jauh lebih halus, lebih elegan, dan sering kali lebih sulit dikenali. Penindasan tidak lagi selalu hadir dengan wajah kasar, melainkan tampil dengan bahasa moral, slogan pengabdian, dan narasi keikhlasan.
Inilah ironi terbesar masyarakat modern: ketika keikhlasan mulai dipakai bukan untuk memuliakan manusia, melainkan untuk membungkam hak-haknya.
Peradaban hari ini tampak semakin religius di permukaan, tetapi sering gagal memahami substansi ajaran agama itu sendiri. Banyak institusi berbicara tentang pengabdian, pengorbanan, dan loyalitas. Namun pada saat yang sama, masih banyak manusia dipaksa bekerja melampaui batas kemampuannya tanpa penghargaan yang layak. Keikhlasan dijadikan standar moral bagi mereka yang lemah, sementara keadilan justru menjadi sesuatu yang terus ditunda.
Fenomena semacam ini bukan sekadar masalah sosial biasa. Ia merupakan gejala peradaban yang sedang kehilangan keseimbangan antara spiritualitas dan kemanusiaan.
Islam dan Semangat Pembebasan
Jika menelusuri sejarah manusia, praktik perbudakan pernah menjadi bagian gelap dari perjalanan peradaban dunia. Pada masa itu, manusia dapat diperjualbelikan seperti barang. Kehormatan seseorang ditentukan oleh status sosial dan kekuatan ekonomi. Budak dipandang sebagai properti, bukan sebagai manusia utuh yang memiliki martabat.
Di tengah realitas tersebut, Islam hadir membawa semangat pembebasan yang sangat progresif untuk ukuran zamannya. Al-Qur’an tidak menormalisasi penindasan, melainkan secara bertahap mengarahkan manusia menuju penghormatan terhadap martabat sesama.
Allah SWT berfirman:
فَكُّ رَقَبَةٍ
“Yaitu melepaskan budak dari perbudakan.” (QS. Al-Balad: 13)
Dalam ayat lain disebutkan:
وَمَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا خَطَأً فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ
“Barangsiapa membunuh seorang mukmin karena tersalah, maka hendaklah ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman.” (QS. An-Nisa: 92)
Kedua ayat tersebut menunjukkan arah moral yang sangat jelas: Islam mendorong pembebasan manusia dari penindasan. Semangat utama ajaran bukan mempertahankan sistem perbudakan, melainkan mengikisnya secara perlahan dalam struktur masyarakat yang saat itu masih sangat primitif.
Sayangnya, sepanjang sejarah, sebagian manusia justru gagal menangkap pesan besar tersebut. Beberapa kelompok lebih sibuk mempertahankan bentuk-bentuk hukum lama tanpa memahami konteks sosial yang melatarinya. Akibatnya, agama sering dipahami secara kaku, seolah-olah seluruh produk sejarah masa lalu wajib dipertahankan dalam setiap zaman.
Padahal, nilai utama Islam bukan terletak pada pelestarian struktur sosial jahiliyah, melainkan pada perjuangan membangun keadilan dan kemerdekaan manusia.
Perbudakan Modern yang Tidak Disadari
Banyak orang mengira perbudakan telah berakhir seiring runtuhnya sistem perbudakan klasik. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu. Perbudakan modern justru hadir dengan bentuk yang lebih rapi dan lebih sulit dikenali.
Ada pekerja yang diperas tenaganya tetapi dibayar tidak layak. Ada pegawai yang dituntut loyal tanpa batas tetapi hak-haknya diabaikan. Ada guru, buruh, dan karyawan yang diminta terus bertahan atas nama pengabdian, sementara kesejahteraan mereka tidak pernah benar-benar dipikirkan.
Yang lebih menyedihkan, sebagian praktik tersebut dibungkus menggunakan simbol agama dan moralitas. Kata “ikhlas” dipakai untuk menenangkan mereka yang diperlakukan tidak adil. Seolah-olah menuntut hak adalah bentuk kurangnya spiritualitas.
Di titik inilah keikhlasan mulai kehilangan kemurniannya.
Keikhlasan sejatinya merupakan kualitas jiwa yang lahir dari kesadaran batin, bukan alat institusional untuk menekan manusia. Ketika sebuah lembaga terus menuntut pengorbanan tanpa memenuhi tanggung jawab moralnya terhadap para pekerja, maka yang sedang terjadi bukan pendidikan spiritual, melainkan normalisasi ketimpangan.
Agama Tidak Pernah Membela Ketidakadilan
Islam tidak mengajarkan manusia untuk menikmati penderitaan orang lain atas nama kesalehan. Profesionalitas justru menjadi bagian penting dalam ajaran moral Islam.
Nabi Muhammad SAW bersabda:
أَعْطُوا الْأَجِيرَ أَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ
“Berikanlah upah pekerja sebelum kering keringatnya.” (HR. Ibnu Majah)
Hadis ini bukan sekadar anjuran etika biasa. Ia mengandung filosofi sosial yang sangat mendalam: penghormatan terhadap manusia harus diwujudkan melalui keadilan nyata, bukan sekadar pujian moral.
Sayangnya, banyak institusi modern lebih menyukai retorika pengabdian dibanding membangun sistem yang adil. Mereka ingin dihormati sebagai lembaga bermoral, tetapi enggan melakukan evaluasi terhadap ketimpangan internal yang terjadi di dalamnya.
Akibatnya, lahirlah budaya kerja yang melelahkan jiwa. Banyak manusia dipaksa bertahan dalam tekanan ekonomi sambil terus diyakinkan agar merasa bersalah ketika berbicara tentang hak dan kesejahteraan.
Peradaban semacam ini perlahan melahirkan generasi yang kehilangan makna kerja. Manusia tidak lagi diperlakukan sebagai subjek bermartabat, melainkan sekadar alat untuk mempertahankan stabilitas institusi.
Keikhlasan dan Keadilan
Keikhlasan tidak pernah bertentangan dengan profesionalitas. Justru keikhlasan yang sehat hanya dapat tumbuh dalam ruang yang menghormati martabat manusia.
Seseorang mungkin rela mengabdi dengan tulus, tetapi ketulusan itu tidak boleh dijadikan alasan untuk menghapus kewajiban moral institusi terhadap dirinya. Sebab keadilan bukan musuh spiritualitas. Keadilan adalah bagian dari spiritualitas itu sendiri.
Peradaban yang sehat bukan peradaban yang pandai meminta pengorbanan, melainkan peradaban yang mampu menghargai manusia secara layak. Sebab penghormatan terhadap manusia merupakan inti dari seluruh nilai kemanusiaan yang diajarkan agama.
Ketika keikhlasan dipakai untuk membungkam kritik, menunda hak, dan melanggengkan ketimpangan, maka yang sedang terjadi sesungguhnya bukan penguatan moralitas, melainkan kemunduran peradaban.
Pada akhirnya, sejarah akan selalu mencatat satu hal penting: setiap bentuk penindasan mungkin berubah wajah mengikuti zaman, tetapi substansinya tetap sama. Ia selalu berusaha mengambil kebebasan manusia dengan cara yang tampak sah, bermoral, dan terhormat.
Karena itu, tugas terbesar manusia modern bukan sekadar mempertahankan simbol-simbol religiusitas, melainkan memastikan agar nilai keadilan tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Sebab agama kehilangan cahaya sucinya ketika ia dipakai untuk membenarkan ketidakadilan yang sebenarnya dapat dicegah.
“Peradaban yang besar bukan diukur dari seberapa banyak manusia diajarkan berkorban, melainkan dari seberapa serius sebuah masyarakat menjaga martabat orang-orang yang telah berkorban di dalamnya.”
Robby Andoyo adalah penulis reflektif di Blog Kang Robby yang banyak membahas peradaban modern, spiritualitas, kecerdasan buatan (AI), filsafat Islam, budaya digital, dan krisis makna manusia modern melalui pendekatan estetis, filosofis, dan kontemplatif.