Bagaimana Al-Qur’an menginspirasi peradaban di era artificial intelligence? Refleksi tentang wahyu, akal, tafsir, teknologi, tanggung jawab manusia, d
Ketika Al-Qur’an Menjadi Inspirasi bagi Peradaban
Oleh: Robby Andoyo
Al-Qur’an tidak turun untuk membuat manusia berhenti berpikir setelah menemukan jawaban. Ia justru berkali-kali membawa manusia kembali kepada akal, pengamatan, sejarah, dan kesadaran tentang siapa dirinya di hadapan Allah. Karena itu, menjadikan Al-Qur’an sebagai inspirasi bagi peradaban bukan berarti mencari teknologi modern di dalam setiap ayat, melainkan membiarkan wahyu membentuk manusia yang mampu menghadapi masa depan bahkan ketika masa depan itu belum pernah dibayangkan sebelumnya.
Pada 2017, saya pernah menulis tentang Al-Qur’an untuk peradaban. Saat itu, kegelisahannya sederhana: bagaimana mungkin sebuah umat ingin membangun masa depan jika Al-Qur’an hanya diposisikan sebagai kitab yang harus dibaca, tetapi belum sepenuhnya dihidupkan sebagai sumber inspirasi untuk berpikir, mencipta, dan membangun?
Sembilan tahun kemudian, pertanyaan itu terasa semakin dekat.
Artificial intelligence telah masuk ke ruang kelas, kantor, industri kreatif, penelitian, pemrograman, bahkan ke ruang percakapan pribadi manusia. Mesin dapat menghasilkan tulisan, gambar, kode, analisis, dan percakapan yang semakin menyerupai bentuk komunikasi manusia.
Tetapi pertanyaan yang lebih penting bukan lagi sekadar: seberapa pintar teknologi akan menjadi?
Pertanyaannya adalah:
Manusia seperti apa yang sedang kita bangun ketika kemampuan manusia semakin besar?
Ketika Al-Qur’an Hanya Menjadi Bacaan
Membaca Al-Qur’an tentu bukan persoalan kecil. Membaca adalah pintu pertama.
Tetapi pintu bukanlah seluruh perjalanan.
Al-Qur’an sendiri berkali-kali mengajak manusia menggunakan kemampuan memahami. Dalam banyak tempat, manusia ditegur dengan pertanyaan seperti afalā ta‘qilūn—apakah kalian tidak menggunakan akal?
Pertanyaan itu penting karena wahyu tidak meminta manusia meninggalkan akalnya ketika berhadapan dengan realitas. Justru manusia diminta melihat, memahami, mengambil pelajaran, dan menghubungkan apa yang terjadi dengan kebenaran yang lebih dalam.
Karena itu, persoalannya bukan apakah Al-Qur’an dibaca.
Persoalannya adalah:
Apakah apa yang kita baca mengubah cara kita melihat dunia?
Al-Qur’an yang hanya berhenti di suara mungkin telah selesai dibaca, tetapi belum tentu selesai bekerja di dalam manusia.
Ia baru menjadi inspirasi peradaban ketika ayat-ayatnya mulai memengaruhi cara manusia berpikir, mengambil keputusan, membaca sejarah, mengembangkan ilmu, memperlakukan manusia lain, dan menghadapi sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya.
Wahyu Tidak Mematikan Akal
Salah satu kesalahan paling melelahkan dalam kehidupan intelektual umat adalah membayangkan bahwa semakin serius seseorang terhadap wahyu, semakin sedikit ruang yang tersisa bagi akal.
Padahal Al-Qur’an sendiri menggunakan bahasa yang menantang manusia untuk berpikir.
أَفَلَا تَعْقِلُونَ
“Tidakkah kamu menggunakan akal?”
Dalam pembacaan terhadap ayat-ayat semacam ini, akal bukan ornamen. Ia adalah bagian dari kemampuan manusia untuk memahami tanda-tanda yang dihadapinya.
Namun akal juga bukan tuhan baru.
Inilah keseimbangan yang sering hilang: wahyu tidak mematikan akal, tetapi akal juga tidak menggantikan wahyu.
Manusia berpikir dengan akalnya, membaca dengan ilmunya, mengalami sejarah dengan tubuh dan kehidupannya, lalu kembali kepada kesadaran bahwa dirinya tetap makhluk.
Di sinilah peradaban Islam seharusnya memiliki keberanian intelektualnya.
Bukan keberanian untuk mengatakan bahwa Al-Qur’an telah menjelaskan semua teknologi yang belum ditemukan.
Tetapi keberanian untuk bertanya kepada Al-Qur’an ketika dunia menghadirkan pertanyaan yang belum pernah ditanyakan generasi sebelumnya.
Ketika Label Menggantikan Pikiran
Masalah intelektual umat Islam tidak selalu terletak pada kurangnya pengetahuan. Kadang masalahnya justru terletak pada cara pengetahuan dibatasi sebelum ia sempat berkembang.
Seseorang berbeda sedikit dari kebiasaan berpikir kelompoknya, lalu diberi label.
Seseorang mengajukan pertanyaan baru, lalu dicurigai.
Seseorang membaca teks dengan sangat ketat, lalu dianggap tidak mampu memahami perubahan zaman.
Seseorang membaca sejarah dengan pendekatan yang berbeda, lalu segera ditempatkan ke dalam kotak tertentu.
Liberal.
Konservatif.
Tradisional.
Modern.
Padahal manusia jauh lebih rumit daripada label-label itu.
Yang lebih penting bukan berada di kotak mana seseorang berdiri.
Yang lebih penting adalah apakah ia masih mampu berpikir dengan jujur ketika berhadapan dengan wahyu dan realitas.
Peradaban tidak dibangun oleh manusia yang selalu sepakat satu sama lain. Peradaban dibangun oleh manusia yang mampu berbeda tanpa kehilangan adab, bertanya tanpa kehilangan iman, dan berpikir tanpa menjadikan pikirannya sebagai berhala.
Menghormati Ulama Tanpa Mematikan Pikiran
Di sinilah hubungan kita dengan para ulama perlu diletakkan secara lebih dewasa.
Menghormati ulama bukan berarti berhenti berpikir ketika menemukan nama besar.
Sebaliknya, menghormati ulama berarti bersedia belajar bagaimana mereka berpikir.
Al-Tabari tidak hidup di zaman internet.
Al-Qurtubi tidak hidup di zaman artificial intelligence.
Ibn ‘Ashur tidak hidup di zaman komputer generatif.
Tetapi mereka tidak membutuhkan teknologi abad kita untuk menjadi besar di zaman mereka.
Mereka menggunakan perangkat ilmu yang tersedia bagi mereka untuk berhadapan dengan pertanyaan zamannya.
Maka tidak adil menilai mereka dengan ukuran teknologi yang belum mereka kenal.
Yang justru perlu kita tanyakan adalah:
Jika mereka hidup pada zaman kita, apakah kita mampu mewarisi keberanian intelektual mereka?
Bukan sekadar mewarisi kesimpulan mereka.
Tetapi mewarisi kesungguhan mereka dalam membaca wahyu.
Tafsir dan Pertanyaan yang Terus Berubah
Sejarah tafsir sendiri menunjukkan bahwa umat Islam tidak pernah hanya memiliki satu bentuk pembacaan terhadap Al-Qur’an.
Setiap mufasir datang dengan perangkat bahasa, ilmu, pengalaman, problem, dan horizon intelektual yang membentuk cara ia menjelaskan wahyu.
Karena itu, membaca Al-Tabari, Al-Qurtubi, Al-Razi, Ibn ‘Ashur, dan para mufasir setelah mereka bukan sekadar perjalanan mencari siapa yang paling modern.
Yang lebih menarik adalah melihat bagaimana tradisi ilmu Islam berusaha memahami wahyu ketika berhadapan dengan persoalan manusia yang terus bergerak.
Ibn ‘Ashur menjadi salah satu contoh penting. Dalam At-Tahrir wa At-Tanwir, ia memperlihatkan perhatian besar terhadap bahasa, susunan ayat, tujuan, hikmah, dan dimensi pemikiran dalam memahami Al-Qur’an. Pemikirannya tentang maqasid al-shari‘ah juga menempatkannya dalam perkembangan modern pemikiran maqasid.
Ini tidak berarti tafsir lama harus ditinggalkan.
Justru sebaliknya.
Tradisi tafsir harus diteruskan sebagai tradisi berpikir.
Jika pertanyaan manusia berubah, maka kemampuan manusia dalam berdialog dengan wahyu juga harus mampu menghadapi perubahan itu.
Bukan dengan mengganti wahyu.
Tetapi dengan memperluas pertanyaan manusia.
Ketika Manusia Mulai Membuat Mesin yang Berpikir
Artificial intelligence membuat pertanyaan itu semakin nyata.
Dulu, komputer terutama dipahami sebagai alat untuk menghitung.
Sekarang mesin dapat membantu manusia menulis, menerjemahkan, membuat gambar, menyusun kode, menganalisis data, merangkum pengetahuan, dan berinteraksi melalui bahasa.
Dan kemampuan itu akan terus berubah.
Tetapi semakin besar kemampuan mesin, semakin penting pertanyaan tentang manusia.
AI dapat menghasilkan kalimat.
Tetapi siapa yang bertanggung jawab atas kalimat itu?
AI dapat memberikan rekomendasi.
Tetapi siapa yang menanggung akibat ketika rekomendasi itu salah?
AI dapat membantu manusia mengambil keputusan.
Tetapi siapa yang harus hadir ketika keputusan tersebut menyentuh kehidupan manusia lain?
Di sinilah sesuatu yang sangat sederhana justru menjadi semakin mahal:
tanggung jawab dan kehadiran hati.
Mesin dapat menghasilkan bahasa yang tampak memahami manusia. Tetapi kemampuan menghasilkan bahasa tidak dengan sendirinya membuktikan adanya pengalaman batin seperti yang dimiliki manusia.
Maka semakin kuat teknologi, semakin besar pula kebutuhan manusia untuk memahami dirinya sendiri.
Al-Qur’an tidak perlu menjadi buku manual artificial intelligence agar relevan dengan AI.
Ia relevan karena ia berbicara tentang manusia yang akan menggunakan kemampuan itu.
Jika Suatu Hari Kesadaran Bisa Dipindahkan
Bayangkan sebuah kemungkinan yang hari ini masih berada di wilayah spekulasi.
Suatu hari manusia mungkin mengembangkan teknologi yang memungkinkan aspek tertentu dari pola pikir atau kesadaran manusia direplikasi ke dalam sistem buatan.
Kita belum tahu apakah kemungkinan itu benar-benar akan tercapai.
Dan kita tidak perlu berpura-pura mengetahui masa depan.
Tetapi justru pertanyaan hipotetis seperti itu penting untuk menguji kedalaman cara kita memahami manusia.
Jika tubuh dapat diperbaiki.
Jika kecerdasan dapat diperluas.
Jika ingatan dapat dibantu mesin.
Jika manusia suatu hari mampu membangun infrastruktur teknologi di luar bumi.
Jika suatu hari manusia dapat tinggal lebih lama di antara bintang-bintang.
Apakah semua itu membuat manusia berhenti menjadi hamba Allah?
Tidak.
Justru di situlah letak keindahannya.
Manusia boleh memiliki kemampuan yang hari ini tampak seperti mukjizat teknologi.
Tetapi kemampuan yang semakin besar tidak pernah mengubah hakikat bahwa manusia tetap makhluk.
Ia boleh pergi sejauh-jauhnya.
Tetapi ia tidak pernah menjadi Tuhan.
Ketika Manusia Menatap Langit
Di titik ini, QS. Ar-Rahman ayat 33 sering menarik perhatian manusia modern:
يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانْفُذُوا ۚ لَا تَنْفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ
“Wahai golongan jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus penjuru langit dan bumi, maka tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan.”
Ayat ini memang menggugah imajinasi manusia modern.
Tetapi kita harus berhati-hati.
Ibn ‘Ashur membaca ayat tersebut dalam konteks rangkaian ancaman kepada jin dan manusia, bukan sebagai prediksi tentang perjalanan luar angkasa modern. Karena itu, ayat ini tidak layak dijadikan bukti bahwa Al-Qur’an sedang meramalkan roket, pesawat ruang angkasa, atau teknologi antariksa.
Dan justru di situlah kita belajar sesuatu yang lebih penting.
Kita tidak perlu memaksa Al-Qur’an menjadi modern agar Al-Qur’an relevan.
Manusia memang telah melakukan sesuatu yang dahulu terasa mustahil bagi banyak generasi: terbang, keluar dari atmosfer, mengirim wahana ke berbagai penjuru tata surya, dan melihat bumi dari luar.
Tetapi pengalaman teknologi itu tidak mengubah makna asli ayat menjadi ramalan teknologi.
Yang berubah adalah horizon pertanyaan manusia.
Dulu manusia menatap langit dengan keterbatasan tubuhnya.
Sekarang manusia menatapnya dengan teleskop, roket, satelit, komputer, dan kecerdasan buatan.
Dan mungkin suatu hari manusia akan menatap langit dengan kemampuan yang jauh melampaui imajinasi kita.
Pertanyaannya tetap:
Apakah bertambahnya kemampuan juga membuat manusia bertambah bijaksana?
Teknologi Tidak Otomatis Melahirkan Peradaban
Di sinilah kita perlu membedakan teknologi dari peradaban.
Teknologi adalah kemampuan.
Peradaban adalah apa yang manusia lakukan dengan kemampuan itu.
Sebuah masyarakat dapat memiliki artificial intelligence yang sangat maju, tetapi tetap kehilangan keadilan.
Dapat memiliki robot yang sangat cerdas, tetapi memperlakukan manusia sebagai angka.
Dapat menguasai informasi, tetapi tidak memiliki kebijaksanaan.
Dapat memperbesar kekuatan, tetapi tidak mampu mengendalikan dirinya.
Karena itu:
teknologi tinggi tidak otomatis berarti peradaban tinggi.
Kemajuan teknologi memperbesar kemampuan manusia.
Dan justru karena itu, ia juga dapat memperbesar akibat dari kebodohan manusia.
Jika manusia bijaksana, teknologi dapat memperluas manfaat.
Jika manusia kehilangan arah, teknologi hanya membuat manusia mampu melakukan kesalahan dalam skala yang jauh lebih besar.
Maka pertanyaan peradaban bukan hanya:
“Apa yang mampu kita lakukan?”
Tetapi:
“Manusia seperti apa yang lahir dari apa yang mampu kita lakukan?”
Bahasa Arab, Tafsir, dan Dunia yang Harus Dipahami
Karena itu, generasi muda Muslim tidak cukup hanya belajar membaca Al-Qur’an.
Belajarlah tafsir.
Belajarlah bahasa Arab.
Tetapi jangan berhenti di sana.
Bahasa Arab adalah pintu yang sangat penting untuk mendekati Al-Qur’an. Namun mengetahui bahasa Arab tidak otomatis berarti seseorang telah memahami seluruh kedalaman wahyu.
Ia perlu belajar sejarah.
Filsafat.
Ilmu pengetahuan.
Teknologi.
Ekonomi.
Psikologi.
Dan manusia.
Karena seseorang yang tidak memahami dunia yang sedang berubah akan kesulitan mengajukan pertanyaan yang tepat kepada wahyu.
Inilah yang sering dilupakan dalam pembicaraan tentang Al-Qur’an dan masa depan.
Kita ingin Al-Qur’an berbicara kepada masa depan, tetapi terkadang kita tidak mau mempelajari masa depan itu sendiri.
Kita ingin berbicara tentang AI tanpa memahami AI.
Ingin berbicara tentang teknologi tanpa mempelajari teknologi.
Ingin berbicara tentang peradaban tanpa membaca sejarah.
Ingin berbicara tentang manusia tanpa memahami manusia.
Padahal Al-Qur’an tidak mengajarkan manusia untuk takut terhadap realitas.
Ia mengajarkan manusia untuk membacanya.
Belajar dari Sejarah, Bukan Terpenjara oleh Sejarah
Al-Qur’an berkata:
فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الْأَبْصَارِ
“Maka ambillah pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai pandangan.”
Ayat ini hadir dalam konteks kisah Bani Nadhir. Karena itu, kita tidak boleh mencabutnya dari konteks sejarah lalu mengubahnya menjadi slogan tanpa batas. Tetapi justru dari konteks itulah kita dapat melihat pentingnya membaca kejadian sebagai pelajaran.
Sejarah bukan museum.
Sejarah adalah cermin.
Kita tidak membaca para ulama terdahulu untuk kembali hidup di zaman mereka.
Kita membaca mereka agar belajar bagaimana manusia berilmu menghadapi zamannya.
Itulah sebabnya tradisi tidak seharusnya menjadi rantai yang mengikat kaki.
Tradisi seharusnya menjadi tangga yang membantu manusia melihat lebih jauh.
Al-Qur’an untuk Masa Depan yang Belum Selesai
Pada akhirnya, saya kembali kepada kegelisahan yang pernah saya tulis pada 2017.
Al-Qur’an untuk peradaban.
Hari ini kalimat itu terasa berbeda.
Dulu kita mungkin membayangkan peradaban melalui universitas, industri, laboratorium, buku, dan teknologi.
Sekarang cakrawalanya semakin luas.
Kita berbicara tentang artificial intelligence.
Robotika.
Bioteknologi.
Eksplorasi luar angkasa.
Rekayasa manusia.
Bahkan kemungkinan-kemungkinan tentang kesadaran yang hari ini masih berada di wilayah spekulasi.
Namun semakin jauh manusia berjalan, semakin jelas bahwa persoalan terbesar bukan hanya bagaimana membuat sesuatu yang baru.
Persoalannya adalah bagaimana memastikan bahwa manusia yang menciptakan sesuatu yang baru itu tidak kehilangan dirinya sendiri.
Di sinilah Al-Qur’an tetap menjadi penting.
Bukan karena kita harus menemukan setiap teknologi modern di dalam ayat-ayatnya.
Bukan karena setiap penemuan ilmiah harus dipaksakan menjadi mukjizat yang telah diprediksi sebelumnya.
Dan bukan pula karena wahyu harus mengikuti setiap perubahan zaman agar dianggap relevan.
Al-Qur’an relevan karena ia membentuk manusia yang mampu menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan arah.
Manusia yang berpikir.
Manusia yang belajar.
Manusia yang membaca sejarah.
Manusia yang menghormati ilmu.
Manusia yang tidak takut terhadap pertanyaan baru.
Manusia yang tidak menjadikan label sebagai pengganti pikiran.
Manusia yang tidak menjadikan teknologi sebagai tuhan baru.
Dan manusia yang, ketika kemampuan dirinya semakin besar, tetap sadar bahwa dirinya hanyalah hamba.
Mungkin suatu hari manusia benar-benar akan pergi sejauh-jauhnya.
Mungkin suatu hari mesin akan berbicara semakin mirip manusia.
Mungkin suatu hari batas antara tubuh, pikiran, dan teknologi menjadi semakin sulit dibedakan.
Mungkin manusia akan melihat bumi dari tempat yang hari ini hanya bisa kita bayangkan.
Tetapi ketika manusia akhirnya mampu pergi sejauh-jauhnya, ada satu pertanyaan yang mungkin tetap menunggunya:
Apakah ia masih tahu kepada siapa ia harus kembali?
Karena mungkin itulah makna terdalam dari Al-Qur’an untuk peradaban.
Bukan membuat manusia takut kepada masa depan.
Bukan pula membuat manusia mabuk oleh masa depan.
Tetapi membuat manusia cukup berani untuk membangunnya—dan cukup sadar untuk tidak kehilangan Allah di dalamnya.
Al-Qur’an tidak selesai ketika masa lalu selesai.
Ia terus dibaca oleh manusia yang menghadapi pertanyaan yang belum pernah ada.
Dan mungkin, peradaban masa depan baru benar-benar dimulai ketika manusia tidak lagi hanya bertanya apa yang dapat ia ciptakan, tetapi juga bertanya untuk apa ia diciptakan.
Rujukan
1. Al-Qur’an, QS. Ar-Rahman [55]: 33. Baca ayat.
2. Ibn ‘Ashur, Muhammad al-Tahir. Al-Tahrir wa al-Tanwir, tafsir QS. Ar-Rahman [55]: 33. Baca tafsir.
3. Al-Qur’an, QS. Al-Hasyr [59]: 2. Baca ayat dan konteksnya.
4. Nabil Amir, Ahmad, dan Tasnim Abdul Rahman. “Konsepsi Maqasid Syari’ah dalam Tafsir Al-Tahrir wa’l-Tanwir Karya Muhammad Al-Tahir Ibn ‘Ashur.” MIM: Jurnal Kajian Hukum Islam, 3(1), 2025, hlm. 20–40. Baca artikel.
5. UNESCO. Recommendation on the Ethics of Artificial Intelligence. Diadopsi pada 23 November 2021. Baca dokumen resmi.
6. Smithsonian National Air and Space Museum. “1903 Wright Flyer.” Keterangan sejarah penerbangan pertama Wright Flyer pada 17 Desember 1903. Baca sumber.
