Tulisan ini masih seputar prilaku sekelompok umat jaman now yang tentunya sangat "menggelikan". Bahkan terkadang membuat kita...
Tulisan ini masih seputar prilaku sekelompok umat jaman now yang tentunya sangat "menggelikan".
Bahkan terkadang membuat kita harus "mengelus dada" karena kejumudan berpikir dan bernalar
mereka yang sempit dan masih memiliki "rasa" kejahilian yang sangat kental. Tidak cukup lama
sebelum saya menulis tulisan ini, Seorang Penceramah yang cukup terkenal mengatakan, salah satu
bentuk perjuangan membela agama adalah; dengan mempilox Ambulan pengangkut orang sakit dengan gambar bulan sabit. Mengherankan bukan? Bagi Penceramah itu lambang salib begitu nyata ada di mobil ambulan itu. Dan hal ini sangat mengganggu kenyamanan akidah seorang muslim.
Apakah benar demikian? Tidak. Seorang muslim akan tetap menjadi muslim yang baik walaupun
hidup dalam lingkaran simbol asing bahkan simbol "Aliens" sekalipun. Inilah yang dinamakan
masih "terpasung" oleh semangat simbol dalam beragama, sehingga melupakan esensi dari nilai
agama yang terpenting; ajaran-ajaran universal yang melintasi setiap peradaban.
Tidak cukup lama juga, Video ceramah dengan tema Hukum Merayakan Ulang Tahun menjadi begitu viral di Internet. Yang menjadi pemicunya adalah sebuah tanggapan seorang Penceramah yang mengatakan,
"merayakan Ulang Tahun adalah betuk "tasabuh" menyerupai budaya sesat orang kafir. Bagi Penceramah itu, tidak berarti bagaimana cara merayakan Ulang Tahun itu dirayakan, yang jelas setiap perayaan Ulang Tahun adalah budaya sesat dari barat yang harus dihindari".
Benarkah anggapan seperti ini? Tidak. Pada dasarnya setiap perayaan apa saja hukum aslinya "mubah" boleh. Yang merubah hukum tersebut dari awalnya "mubah" menjadi "haram" adalah cara merayakannya. Setiap perayaan apa saja itu hanyalah sebuah simbol yang tidak mewakili nilai inti. Jadi, jika perayaan-perayaan itu masih berada pada jalur kepantasan moral (baca: akhlakul karimah) hal tersebut tidak bisa dikatakan "tasabuh" dalam arti negatif, melainkan ini adalah upaya dalam membumikan nilai-nilai religiusitas yang dapat memberikan kemanfaatan bagi kita semua.
Mari kita ambil contoh, Jika dalam merayakan Ulang Tahun, yang kita lakukan adalah mengundang sahabat, kerabat dekat dan saudara-saudara kita, kemudian kita bernyanyi bersama, berbahagia bersama tanpa sedikitpun melakukan perbuatan diluar batas; bermaksiat dan membuat kerusakan.
Hal seperti ini bukan hanya baik dan bermanfaat bagi kita, tapi juga bisa menjadi semacam manifestasi dari ajaran Islam Universal; bersilaturahim untuk perdamaian.
Artinya, Bukan perayaan Ulang Tahun yang harus diharamakan secara membabi buta, Tapi masyarakat harus dididik agar tetap bisa menanamkan nilai-nilai agama dan ajaran Islam pada setiap momen-momen penting yang selama ini mereka rayakan.
Tidak begitu lama, seorang penceramah menjawab pertanyaan salah satu dari jamaahnya tentang hukum prilaku anak-anak jaman now yang mengandrungi film korea. Bukannya menjawab dengan respon yang memicu akal untuk berpikir. Misalnya, dengan mengatakan bahwa sebuah Film adalah karya seni yang tidak bisa lepas dari konteks sebuah masyarakat yang hidup dan memproduksi film tersebut.
Film Box Office Misalnya, yang begitu banyak memperlihatkan kecanggihan teknologi yang mereka miliki sekaligus memamerkan kehidupan barat yang cendrung bebas dan sangat berbeda dengan budaya ketimuran. Begitu pula Film Drama Korea yang tersiar di stasiun televisi Negara itu lebih memuat nuansa percintaan, gejala sosial dan berbagai macam tema-tema yang cukup menarik bagi generasi jaman now.
Karena itu, memproduksi sebuah fatwa tentang hukum menonton film korea tidak cukup memberikan manfaat bagi anak jaman now. Mengapa? karena bagi mereka, para generasi jaman now, aktifitas menonton drama hanyalah sebuah kegiatan yang tidak ada kaitannya dengan nilai-nilai esensial dari sebuah agama. Buktinya, masih ada saja hikmah-hikmah yang dapat dipetik dan selaras dengan suara kebenaran dalam sebuah film; apapun film itu. Walaupun film itu diproduksi oleh orang-orang yang berbeda secara keyakinan dengan kita.
Demikian pula pada video ceramah yang beredar cukup viral itu. Sang Penceramah mengatakan, "tidak perlu kita menonton film-film yang diproduksi orang-orang "kapir". Seperti drama-drama korea yang cenderung memamerkan kisah cinta dramatis. Para artis-artis itu tentu biasa hidup dengan budaya yang berbeda dengan kita. Mereka mempratikkan romantisme tanpa menikah, tidak sunat apalagi mandi junub". Setidaknya inilah narasi utama dari makna yang bisa saya tangkap dari ceramah itu.
Jujur saja, pada zaman now kecenderungan orang untuk berkeperibadian ganda "dalam bersikap" begitu terlihat. Seperti sekelompok orang yang menganggap tontonan; drama korea, film barat, film china dlsb sebagai "perusak" moralitas masyarakat yang hidup dengan nilai agama. Kadang alasan yang mereka buat terlalu dipaksakan. Seperti Aktris dan aktor itu banyak yg tidak menjalani agamanya dengan baik, hidup bebas, pro LGBT, tidak sunat dan tidak mandi junub. Seperti kata penceramah itu. Terus terang, cara berpikir seperti itu sangat rancu dan cenderung merugikan diri kita sendiri.
Artinya apa? Jika mau konsisten dan menjalani ajaran agama seperti yang dipraktikkan manusia pada abad ke-7. Manusia-manusia ini harus rela melepaskan diri dari berbagai instrumen-instrumen kemajuan teknologi yang diprakarsai oleh orang-orang yang mereka katakan "kapir", tidak sunat dan mandi junub. Saya yakin, diantara orang-orang yang senantiasa berteriak terlalu keras dan mengutuk orang-orang berbeda secara keyakinan dengan mereka adalah orang yang saat ini menikmati produk-produk hasil berpikir orang-orang non muslim.
Samsung, Apple, Xiomi dlsb adalah barang-barang yang diproduksi oleh orang yang dianggap "menyimpang" bagi mereka. dan harus dijauhi. Berbeda ketika mereka melakukan "kampanye" anti menonton drama asing. Dalam hal menggunakan telpon genggam mereka tidak lantas berpikir untuk menjauh dari gadget dan smartphone ini. Inilah yang menurut saya sebagai betuk inkonsistensi kelompok yang terlalu banyak "teriak" dan "koar-koar" tapi sebenarnya kurang membaca realitas zaman yang mereka hadapi.
Sebagai penutup, Belum lama ini, Warganet dihebohkan oleh video viral seorang penceramah kondang yang banyak diasumsikan telah menghina seorang aktris yang katanya "gagal hijrah" karena melepas kain penutup kepalanya; jilbab. Pro dan kontra pun terjadi menanggapi fenomena seorang aktris melepas jilbab, ditambah lagi dengan komentar seorang penceramah, "aktris pesek" dan "jelek" buruk itu. Setelah saya amati, banyak dari pendukung penceramah dan aktris itu yang "mati nalar"; saling menjelek-jelekkan, menghina, menyesat-nyesatkan dan berkata kasar. Seolah-olah mereka tidak memiliki agama yang mendidik mereka untuk berkata baik dan sopan santun.
Terlepas dari pro kontra fenomena jilbab aktris itu, tetap saja tidak baik menghina seseorang berdasarkan kekurangan fisik yang mereka miliki. Siapapun orang itu, Ustadz, Pejabat Negara, Gabener, Bupati, Pemimpin Partai dan bahkan Presiden sekalipun. Jika sudah keluar dari lisannya perkataan buruk, menghina orang lain dan merendahkannya. Apapun alasannya tetap salah dan harus minta maaf. Janganlah seperti kebanyakan prilaku umat jaman now dari agama manapun mereka berasal, jika nalar tidak lagi sehat, maka segala tindakannya akan menjurus pada kerusakan yang permanen dan tentunya akan mengancam kenyamanan hidup di dalam masyarakat. Inilah beberapa contoh dari nalar umat jaman now yang masih banyak kekurangan. Dan tugas kita semua untuk membenahi "kesesatan nalar" agar masyarakat kita semakin baik dan berkarakter.
Robby Andoyo